This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 16 November 2011

Angin matahari


Plasma pada angin matahari bertemu di heliopause

Angin matahari adalah suatu aliran partikel bermuatan (yakni plasma) yang menyebar ke segala arah dari atmosfer terluar matahari yang dikenal dengan korona. Kecepatan alirnya sekitar 400 km/dt, dengan waktu tempuh dari matahari ke bumi selama 4-5 hari.

Angin matahari tersusun terutama oleh elektron ber-energi tinggi dan proton(sekitar 500 keV), yang mampu melepaskan diri dari gravitasi sebuah bintang karena energi termal nya yang sangat tinggi.

Banyak fenomena yang diakibatkan oleh angin matahari, termasuk badai geomagnetik, aurora (cahaya utara), sebagai penyebab mengapa arah ekor komet selalu menjauhi matahari, serta formasi bintang-bintang jauh.

Angin bintang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Angin bintang adalah aliran gas, netral maupun bermuatan, dari bagian atas atmosfer bintang. Angin bintang memiliki perbedaan karakteristik dengan aliran bipolar yang lebih terkolimasi, meskipun angin bintang tidak selalu simetris sferis.

Bintang dengan kelas yang berbeda memiliki type angin yang berbeda pula. Bintang-bintang pasca-deret utama, yang sedang berada di penghujung hidupnya, seringkali melontarkan angin dengan kecepatan rendah (v = 10 km s − 1), tetapi dalam jumlah yang besar (\dot{M} > 10^{-3} massa matahari per tahun). Termasuk dalam jenis ini adalah bintang raksasa merah, maharaksasa merah, dan yang berada dalam cabang raksasa asimptotik. Angin bintang type ini di”tiup”kan oleh tekanan radiasi pada debu-debu yang terkondensasi di atmosfer bagian atas bintang.

Bintang-bintang kelas G, seperti Matahari, memiliki angin yang di”tiup”kan oleh korona mereka yang termagnetisasi dan panas. Angin matahari kebanyakan terdiri dari elektron dan proton berenergi tinggi (sekitar 1 keV) yang dapat lepas dari pengaruh gravitasi matahari karena mendapatkan cukup energi kinetik dari tingginya temperatur korona.

Bintang-bintang masif berkelas O dan B, memiliki angin dengan laju kehilangan massa yang lebih rendah (\dot{M} < 10^{-6} massa matahari per tahun), tetapi memiliki kecepatan sangat tinggi (v > 1 − 2000 km s − 1). Angin type ini di”tiup”kan oleh tekanan radiasi pada garis-garis serapan resonansi unsur-unsur berat seperti karbon dan nitrogen.[1] Angin berenergi tinggi seperti ini menghembuskan gelembung angin bintang.

Meskipun selama masa deret utama angin bintang tidak begitu memengaruhi evolusi bintang, namun pada masa pasca-deret utama, kehilangan massa melalui mekanisme angin bintang dapat menentukan nasib akhir sebuah bintang. Banyak bintang dengan massa menengah menempuh akhir hidup sebagai katai putih daripada meledak sebagai supernova hanya karena mereka kehilangan begitu banyak massa melalui mekanisme angin bintang

Angin bintang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Angin bintang adalah aliran gas, netral maupun bermuatan, dari bagian atas atmosfer bintang. Angin bintang memiliki perbedaan karakteristik dengan aliran bipolar yang lebih terkolimasi, meskipun angin bintang tidak selalu simetris sferis.

Bintang dengan kelas yang berbeda memiliki type angin yang berbeda pula. Bintang-bintang pasca-deret utama, yang sedang berada di penghujung hidupnya, seringkali melontarkan angin dengan kecepatan rendah (v = 10 km s − 1), tetapi dalam jumlah yang besar (\dot{M} > 10^{-3} massa matahari per tahun). Termasuk dalam jenis ini adalah bintang raksasa merah, maharaksasa merah, dan yang berada dalam cabang raksasa asimptotik. Angin bintang type ini di”tiup”kan oleh tekanan radiasi pada debu-debu yang terkondensasi di atmosfer bagian atas bintang.

Bintang-bintang kelas G, seperti Matahari, memiliki angin yang di”tiup”kan oleh korona mereka yang termagnetisasi dan panas. Angin matahari kebanyakan terdiri dari elektron dan proton berenergi tinggi (sekitar 1 keV) yang dapat lepas dari pengaruh gravitasi matahari karena mendapatkan cukup energi kinetik dari tingginya temperatur korona.

Bintang-bintang masif berkelas O dan B, memiliki angin dengan laju kehilangan massa yang lebih rendah (\dot{M} < 10^{-6} massa matahari per tahun), tetapi memiliki kecepatan sangat tinggi (v > 1 − 2000 km s − 1). Angin type ini di”tiup”kan oleh tekanan radiasi pada garis-garis serapan resonansi unsur-unsur berat seperti karbon dan nitrogen.[1] Angin berenergi tinggi seperti ini menghembuskan gelembung angin bintang.

Meskipun selama masa deret utama angin bintang tidak begitu memengaruhi evolusi bintang, namun pada masa pasca-deret utama, kehilangan massa melalui mekanisme angin bintang dapat menentukan nasib akhir sebuah bintang. Banyak bintang dengan massa menengah menempuh akhir hidup sebagai katai putih daripada meledak sebagai supernova hanya karena mereka kehilangan begitu banyak massa melalui mekanisme angin bintang

Angin bintang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Angin bintang adalah aliran gas, netral maupun bermuatan, dari bagian atas atmosfer bintang. Angin bintang memiliki perbedaan karakteristik dengan aliran bipolar yang lebih terkolimasi, meskipun angin bintang tidak selalu simetris sferis.

Bintang dengan kelas yang berbeda memiliki type angin yang berbeda pula. Bintang-bintang pasca-deret utama, yang sedang berada di penghujung hidupnya, seringkali melontarkan angin dengan kecepatan rendah (v = 10 km s − 1), tetapi dalam jumlah yang besar (\dot{M} > 10^{-3} massa matahari per tahun). Termasuk dalam jenis ini adalah bintang raksasa merah, maharaksasa merah, dan yang berada dalam cabang raksasa asimptotik. Angin bintang type ini di”tiup”kan oleh tekanan radiasi pada debu-debu yang terkondensasi di atmosfer bagian atas bintang.

Bintang-bintang kelas G, seperti Matahari, memiliki angin yang di”tiup”kan oleh korona mereka yang termagnetisasi dan panas. Angin matahari kebanyakan terdiri dari elektron dan proton berenergi tinggi (sekitar 1 keV) yang dapat lepas dari pengaruh gravitasi matahari karena mendapatkan cukup energi kinetik dari tingginya temperatur korona.

Bintang-bintang masif berkelas O dan B, memiliki angin dengan laju kehilangan massa yang lebih rendah (\dot{M} < 10^{-6} massa matahari per tahun), tetapi memiliki kecepatan sangat tinggi (v > 1 − 2000 km s − 1). Angin type ini di”tiup”kan oleh tekanan radiasi pada garis-garis serapan resonansi unsur-unsur berat seperti karbon dan nitrogen.[1] Angin berenergi tinggi seperti ini menghembuskan gelembung angin bintang.

Meskipun selama masa deret utama angin bintang tidak begitu memengaruhi evolusi bintang, namun pada masa pasca-deret utama, kehilangan massa melalui mekanisme angin bintang dapat menentukan nasib akhir sebuah bintang. Banyak bintang dengan massa menengah menempuh akhir hidup sebagai katai putih daripada meledak sebagai supernova hanya karena mereka kehilangan begitu banyak massa melalui mekanisme angin bintang

Kelahiran dan Kematian Bintang

“Ada langit, di atas sana, keseluruhannya berbintikkan bintang-bintang, dan kami biasa berbaring tertelentang sambil menatap ke atas kepada mereka, dan memperbincangkan tentang apakah mereka dibuat, atau sekedar ada. (Mark Twain, Huckleberry Finn)

Seperti juga manusia, bintang pun mengalami evolusi -lahir, berkembang dan mati. Nah, bagaimana bintang dilahirkan?

Bintang-bintang baru lahir setiap saat. Pada malam hari, coba arahkan pandangan kita ke langit. Apa yang terlihat? kegelapan yang sangat luas dan menakjubkan, ditaburi bintang-bintang yang bercahaya gemerlapan. Di antara bintang-bintang itu ada sebuah daerah yang sangat gelap, tempat di mana tak satupun bintang bersinar. Di sanalah tempat awan raksasa ruang angkasa berdiam, bukan awan yang ada di langit, seperti yang bisa dilihat kasat mata dari bumi atau ketika kita naik pesawat udara. Awan raksasa itu terbentuk dari partikel-patikel yang sangat kecil (bisa atom, molekul, dan lainnya dan tentu saja energi) yang mengambang di dalamnya. Partikel-partikel kecil itu bergerak-gerak, sebagian di antaranya berkumpul dan menyatu membentuk gumpalan materi yang sangat besar. Materi itu apa?

Materi adalah sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa. Massa adalah sesuatu yang dipengaruhi gravitasi. Gravitasi adalah salah satu dari 4 energi dasar yang mempengaruhi massa. Singkatnya, materi, ruang, waktu, dan energi saling mendefiniskan. :)

Gumpalan-gumpalan besar itu berputar, menarik lebih banyak lagi partikel. Namun gumpalan yang berputar itu tidak semakin besar, justru sebaliknya mengerut semakin kecil. Penjelasan sederhananya seperti ini. Misalkan kamu menarik temanmu. Apa yang terjadi? Jarak kamu dan dia semakin pendek, atau semakin mengecil, bukan?

Bersamaan dengan semakin mengecil ukurannya, bola itu semakin panas dan semakin terang cahayanya. Kemudian meledak dan melontarkan lapisan luarnya yang terdiri dari gas-gas yang panas membara ke semua arah. Sisanya berubah menjadi sebuah bintang. Dan hei, bisa jadi itu matahari (matahari adalah sebuah bintang juga, bukan?).

Namun tidak ada yang abadi, pun bintang yang kita lihat. Di akhir kehidupannya, bintang itu akan meledak, yaitu ketika tidak ada lagi partikel-partikel kecil untuk digabungkan menjadi partikel-partikel besar. Bintang akan mengembang semakin besar dan besar, sampai mencapai ukuran yang tak seorangpun sanggup membayangkannya. Kemudian meledak serta melontarkan semua atom-atom besar yang telah dibentuk oleh bintang itu di dalam perutnya ke angkasa, menyisakan sebentuk awan baru yang sangat indah, penuh dengan warna-warni dan materi-materi baru. Awan-awan tersebut akan bercampur dengan awan-awan lain, dari bintang-bintang lain yang juga telah meledak. Setelah mendingin, semua gas dari awan-awan itu akan membentuk awan raksasa, yang kelak menjadi tempat lahirnya sebuah bintang baru.

Btw, tahukah kamu bahwa elemen-elemen yang membentuk tubuh kita adalah berasal dari bintang? Hmm, ingin tahu? Minggu depan ya

Dunia Niels Bohr

Komik tentang penggagas fisika kuantum ini langsung memincut perhatian saya. Suatu kebetulan yang menarik, karena saya memang sedang mencarinya :) .

Berawal dari rasa penasaran, yang disebabkan oleh obrolan-obrolan ringan kami (siapa lagi? ya dengan 2 orang itu lah) yang seringkali menyinggung nama fisika kuantum membuat saya bertekad mencari tahu. Deuh, terdengar seperti tentara yang siap maju perang aja ;)

Jadi, apa itu kuantum? Kuantum itu asal katanya kuanta, artinya partikel cahaya. Nah, lucu nih, sebelum lebih jauh membahas kuantum, partner minta saya baca ini dulu. Ah, apa hubungannya kopi dengan fisika kuantum? Nah, sudah baca artikel yang di link-itu? Dan, seperti itulah cahaya. Cahaya dikeluarkan dalam bentuk gelombang-gelombang. Gelombang yang dikeluarkan ternyata tidak sembarang, namun dalam paket ukuran tertentu. Seperti kopi tadi hanya bisa dijual dalam ukuran 100 gr, 200, dstnya. Tidak bisa 80 gr misalnya. Nah, itulah yang dimaksud dengan kuantum, paket.

Nah, apa yang membedakan fisika kuantum dengan teori fisika lainnya?

Fisika kuantum
adalah perilaku alam pada level atomik (mikrokosmos). Contohnya, masih ingat cerita posisi elektron di sini? Bahwa kita tidak bisa memprediksi posisi elektron. Karena dalam fisika kuantum alam semesta bersifat acak.

Teori fisika lainnya bermain pada level makrokosmos (alam semesta) dan bersifat determinis. Maksudnya semua perilaku alam bisa dijelaskan melalui hubungan aksi-reaksi biasa.

Nah, gambaran berikut dari sobat.
Kehidupan kita sehari-hari di bumi terikat dalam hukum gravitasi Newton. Dalam semesta yang lebih besar (makrokosmos) gravitasi Newton harus minggir dan digantikan oleh teori relativitas Einstein. Tapi dalam semesta yang lebih kecil (mikrokosmos), dalam hal ini level atomik, baik gravitasi ataupun relativitas harus menyingkir dan digantikan teori kuantum.

Untuk ke-3 teori di atas walaupun sama-sama valid namun tidak mampu bergerak dengan keserasian. Karena itulah para fisikawan sekarang sedang mencari apa yang disebut dengan Theory of everything. Maksudnya, mereka mencari ‘sesuatu’ yang dapat menggabungkan gravitasi, relativitas, dan teori kuantum.

Baru bab 1 ini, ya, kita lanjutkan kapan-kapan :) .

dokumentasi: http://www.alltooflat.com/geeky/scientists/?idx=11

Oleh: Rony Ardiansyah Kehidupan Bintang Berawal dari Dukhan


11 November 2011 - 09.45 WIB > Dibaca 48 kali


SEPERTI halnya manusia, bintang pun memiliki siklus kehidupan. Ia lahir, berkembang, dewasa, tua dan mati. Semuanya terjadi karena bintang pun merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Setiap detak kehidupannya terikat dengan hukum-hukum yang telah digariskan. Ia hadir sesuai kehendak-Nya. Ia menjalani hidup sesuai ketetapan-Nya. Ia pun mati sesuai skenario yang telah diatur-Nya.

Marilah kita ikuti perjalanan sang bintang bersama Tauhid Nur Azhar & Eman Sulaiman dalam bukunya: Ajaib bin Aneh. Sejak awal mula dilahirkan, ukuran atau massa bintang mengalami perkembangan. Berdasarkan massanya, para bintang dikelompokkan menjadi bintang bermassa sangat kecil, kecil, sedang, dan besar. Uniknya, hidup matinya para bintang ini sangat dipengaruhi oleh kapasitas massanya. Semakin kecil massa bintang, semakin lambat waktu yang ditempuh dari awal kelahirannya sampai akhir masa kehidupannya. Sebaliknya, semakin besar massa bintang, semakin cepat pula akhir massa hidupnya.

Sesungguhnya, proses kelahiran sebuah bintang adalah gambaran dari proses terciptanya alam semesta. Sebuah bintang berawal dari proses yang terjadi di materi antar bintang (MAB) yang berupa awan, gas dan debu. Para astronom menyebut dengan nama nebula, sedangkan Alquran menyebut dengan kata “dukhan”. Ikatan antar molekul mulai terbentuk akibat adanya gaya tarik gravitasi. Mereka semua ber-thawaf, ber-spin. Dari proses semacam ini, lahirlah sebuah bintang kecil yang akan terus berlatih menjalankan reaksi fusi yang sempurna. Ia akan terus membangkitkan energi nuklir yang ada di pusatnya. Jika reaksi telah sempurna, bintang pun akan menjadi sosok cemerlang. Cahayanya menerangi lingkungan sekitarnya. Ukuran kecermerlangan sebuah bintang dilihat dari seberapa banyak ia menghadirkan cahaya yang bisa menerangi lingkungan sekitarnya.

Konsep ini mirip dengan konsep terbaik sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW. Menurut beliau, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sekitarnya. Ada sebuah teori dari Hertzprung Russel yang menggambarkan bagaimana sebuah bintang mengakhiri hidupnya. Sebuah bintang besar yang kehabisan atom hidrogen di intinya, biasanya akan menggunakan persediaan hidrogen yang ada dilapisan lebih luar, demikian selanjutnya. Pada saat-saat menjelang kematiannya, bintang tersebut tampak menggelembung serta bersinar sangat cemerlang. Setelah fase ini usai dengan memberikan yang terbaik, ia akan mengempis dan menjadi sebuah bintang kecil berwarna putih serta bergrafitasi tinggi (berbobot). Bintang tersebut menjadi sumber nilai yang bijaksana, sederhana suci, dan sangat berbobot namanya adalah katai putih.

Dapat dibayangkan sebagai seorang yang menjadi tenang, dan bijaksana. Sebaliknya, sebuah bintang megalomania yang berukuran sangat besar, akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang berbeda. Bintang super raksasa ini seolah ingin mengakhiri hidup dengan cara spektakuler. Ia meledak dengan sangat dahsyatnya dan mengundang segenap perhatian seisi alam semesta. Ledakan dahsyat ini bernama supernova, sebagai pentas terakhir sang mega bintang. Saat terjadi ledakan supernova, materi di pusat bintang mengalami keruntuhan dan memampat. Bagian luarnya terlempar dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per detik. Dan hasilnya, pusat bintang yang mampat ini akan menjadi bintang yang disebut bintang neutron alias lubang hitam dengan jari-jari sekitar 10 Km, namun massa menyerupai massa matahari yang berjari-jari 700 ribu Km.
Jika supernova menghasilkan bintang neutron alias lubang hitam (black hole), bintang neutron akan menyerap semua elektron kulitnya kedalam inti. Ia menarik kembali seluruh cahaya yang dipancarkannya dan akan menarik materi dari sekitarnya, sehingga sebagian meteri akan tersedot ke dalamnya. Adapun sebahagiannya lagi, akan mengorbit mengelilinginya dengan kecepatan tinggi. Akibat tarikan tersebut suhu di sekitar lubang hitam akan meningkat sangat tinggi sehingga terpancarlah sinar X. Sinar inilah yang diamati oleh astronom di bumi.

Apakah makna semua ini? Kekosongan hati diganti dengan kesenangan-kesenangan semu. Akhirnya bintang neutron hanya bisa memancakkan cahaya membentuk sebuah garis (ke luar ke dalam, atau ke kiri ke kanan), seolah hanya memikirkan dirinya sendiri, pribadi yang sangat egosentris, sedangkan lubang hitam lebih mencemaskan lagi menyedot semua energi dan materi yang ada di sekitarnya. Dalam ukurannya dan proporsinya, setiap unsur di alam semesta teramat bijak dan cerdas dalam memaknai perannya. Marilah kita lihat salah satu bintang terdekat dengan bumi kita, yaitu matahari. Ia terus bersedekah dengan memberi potensi energi yang dimilikinya untuk menjamin kehidupan makhluk lain di tempat-tempat yang jauh jaraknya. Ia tidak pernah mengeluh. Ia terus berproses mereaksikan hidrogen secara fusi untuk menghasilkan atom ringan helium hingga menghasilkan sekumpulan elektron energi.

Lihat pula bulan yang teguh dalam fungsinya sebagai satelit yang mengorbit. Dengan patuh, ia mengekor ke mana saja planet induknya pergi. Ia pun terus berusaha memantulkan kebaikan matahari. Keteraturan orbital serta cahaya yang dipantulkannya menjadi penunjuk jalan, arah, serta patokan penanggalan tahun Kamariah. Posisinya mengakibatkan pula terjadi proses pasang surut di permukaan bumi. Tak heran, jika pada malam purnama terjadi hal-hal aneh pada manusia dan hewan. Darah yang naik ke kepala akibat gravitasi akan memunculkan aktivitas kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofisis, sehingga manusia lebih mampu meningkatkan arus impuls dan menimbulkan pusaran logika. Pada keluarga cumi-cumi, kondisi ini akan merangsang hormon-hormon produksi yang mendorong mereka menjadi lebih aktif bereproduksi. Marilah kita menjadi saksi laksana pribadi matahari yang ikhlas, serta menjadi pribadi bulan yang memantulkan kebaikan. Semoga.***

Rony Ardiansyah
Peminat Sains Quran/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.