Rabu, 15 Juni 2011

MENGAPA BABI ITU HARAM

Masalah kenapa babi diharamkan dalam Islam selalu mengundang kebingungan, kenapa allah swt nampaknya begitu emoh dengan mahluk ciptaannya sendiri yang bernama babi. Dan tanpa alasan yang jelas kenapa islam begitu alergi dengan babi. Bahkan dengan mudahnya umat Islam membabi-babikan pihak lain yang bersebrangan keyakinannya dengan kita. Seakan-akan babi itu an sich / pada dirinya sendiri adalah kutukan. Jikalau Islam mengharamkan minuman keras, itu jelas alasannya. Minuman keras, bila diteguk secara berlebihan, membuat si peminum kehilangan control dan dapat melakukan apa saja yang berbahaya di luar kesadaran si pelaku. Begitu pula dengan larangan judi, itu jelas bikin orang malas, tidak mau kerja keras. Tapi kalau dengan babi, apanya yang salah dengan babi? Kita mencari-cari alasan bahwa babi mengandung cacing pita, dan kadar kolestrol yang tinggi. Tahukah anda bahwa kadar kolestrol yang tinggi tidak dikandung dalam jeroan babi, tapi dari telur puyuh? Dan masalah penyakit dalam babi, toh sama saja dengan penyakit yang ada dalam sapi, unggas dsb yg dianggap halal untuk dimakan. Ada pemikir2 islam yang enteng saja menjawabnya,” Allah swt melarang kita makan babi bukan karena daging babi itu ada apa-apanya, tapi karena ia sayang kepada kita.” Ah, itu kan alasan yang mengada-ada dari ketidaktahuan saja. Kalau sesuatu itu dilarang, kita berasumsi karena sesuatu itu berdampak buruk atau mengandung keburukan dalam dirinya sendiri. Maka dari itu babi / daging babi layak diperiksa secara medis. Analisa medis atas daging babi menyarankan bahwa daging babi sama saja seperti halnya daging lain, sama-sama ada kebaikan dan keburukannya. Apakah daging babi membawa prilaku buruk pada pemakannya? Tidak. Sama sekali tidak ada. Makan babi atau pun tidak makan babi – manusia yah sama saja ada yang agresif ada yang lembut, ada yang malas ada juga yang pekerja keras, seperti orang cina. Daging babi sama sekali tidak mempengaruhi sifat manusia. Jadi apa yang membuat islam mengharamkan daging babi? Inilah jawabannya. Islam is Judaism-minded in Law and Half Christian Form in rites. Agama islam adalah agama yang dibentuk dari cara berpikir yahudi dan ritual nasrani. Begitu sedikit orang yang tahu bahwa islam mengambil ritual shalat dari Kristen ortodoks suriah, hal ini dikarenakan wajah nasrani yang kita lihat pada umumnya bukanlah nasrani dimana umat islam awal bersentuhan, tapi nasrani katolik roma dan protestan. Dan sebenarnya, Siriah adalah rahim dimana teks-teks islam awal ditulis pada abad ke-9 M, 200 tahun setelah apa yang kita kira jaman kelahiran Muhammad. 1 00 azma allah swt itu diambil abis dari nasroni siriah. Dari gaya bahasa dan bentuk penulisan aramik-suryani inilah kisah-kisah dalam alquran dan hadist nabi ditulis. Maka dari itu orang arab sendiri kesulitan memahaminya dan berdalih alquran itu adalah ‘firman yang tak terselami oleh otak’. Lha iyalah lha wong itu bukan orsinil arab. Dan sebenarnya Kristen ortodoks suriah ini melakuan ritualnya mengambil bentuk dari ibadah yahudi yaitu shemma. Kata shalat kemungkinan berasal dari kata ‘sela’, yang dalam bahasa ibrani berarti sujud. Orang yahudi sujud menghadap yerusalem 7 kali dalam sehari. Dan ini ditiru oleh orang Kristen suriah yang nantinya ditiru lagi oleh islam dan diaku- aku sebagai hasil tawar menawar nabi kita dengan tuhan, karena allah meminta umatnya shalat 1000 kali sehari, maka Muhammad menawar sampai hanya 5 x sehari saja. Bisakah anda merasakan kejanggalan mitos ini? Mosok ada tuhan yang gila hormat sampai musti dipuji2 manusia 1000 kali dalam sehari dan mau tawar menawar dengan manusia? The bottom line adalah akar dari islam itu adalah agama yahudi. Kita mengambil tauhid mereka, kita mengambil cerita2 mereka dan mendamprat mereka sesuka hati karena mereka tidak mengakui kenabian Muhammad. Lha iya lah islam mengajar yahudi itu ibarat anak itik yang baru bisa berenang petantang – petenteng di depan ikan hiu. Yahudi jauh lebih memahami apa itu kenabian, apa itu sasta dalam kitab-kitab dsb. Dan cara berpikir yahudi itu sudah lebih mapan ribuan tahun dari pada islam. Jadi bagaimana mungkin mereka mau tunduk terhadap islam dalam tauhidnya? Terhadap arogansi Kristen yang bombastis itu saja yang mengaku ada tuhan jadi manusia mereka tidak mau menyerah koq? “Tuhanmu itu cuman seorang nabi dari ratusan nabi dalam agama kami”, demikian kata orang yahudi kepada orang nasrani. Dari agama yahudi inilah kepercayaan tentang haram dan halal itu berasal. Pada mulanya adalah mitos. Menurut taurat bangsa israil berasal dari trah nabi Ibrahim dari tanah Sumeria yang kemudian berkelana ke daerah Kanaan. Lalu Ibrahim menetap di kanaan dan mempunyai anak Iskak, yang menjadi leluhur bangsa israil dan ismail yang menjadi leluhur bangsa moab dan midian, bangsa yang kita sebut yordania saat ini. Dari Iskak maka lahirlah yakub dan cucunya yang berjumlah 12 orang yang salah satunya Yusuf dijual ke orang mesir, yang nantinya menjadi perdana mentri di mesir. Pada suatu masa tanah kanaan ini dilanda kekeringan sehingga yaqub dan anak cucunya minta perlindungan ke mesir. Dan di saat itulah Yusuf diberi ijin oleh firaun untuk menampung kaum duafa ibrani ini sebagai balas jasa firaun kepada Yusuf yang telah menjadi penasihat logistic mesir di masa paceklik. 300 tahun kemudian seorang firaun baru muncul dan menjadikan bani israil ini sebagai budak-budaknya untuk membangun piramid2 di Giza. Dan dari sinilah muncul Musa as, saudara angkat dari firaun yang sebenarnya adalah seorang dari bani israil. Ia memberontak terhadap firaun dan memintanya membebaskan saudara-saudaranya dari perbudakan menuju tanah terjanji di kanaan itu. Dan musa inilah yang mengajarkan bani israil tentang apa yang baik dan buruk, halal dan haram yang tertulis dalam kitab torat. Begitulah cerita itu dipercaya oleh ketiga agama besar yang katanya dituntun oleh tuhan yang sama. Anehnya allah swt / Yahweh / tuhan / abbaitu sendiri, beserta jibril sang kacung, tidak sadar bahwa cerita itu sendiri adalah kebohongan belaka. Kenapa baik awloh, jibril, para nabi yahudi, yesus dan Muhammad tidak sadar akan kebohongan cerita itu sampai-sampai para sarjana yahudi sendiri menjungkir balikan kepercayaan semu ini? Jawaban saya sederhana. Karena tuhan dan agama itu cuman konsep doang. Halal – haram itu cuman konsep doang. Tidak ada musa as, tidak ada Ibrahim as, dan tidak ada adam as. Semua itu tokoh fiktif. Yang ada adalah Lutfi as yang buah pikirannya sedang anda baca. Cerita sebenar-benarnya Berdasarkan kajian ilmiah antar disipliner yang melibatkan ahli teologi nasrani (kalamulah), socio-antropolog, ahli kepurbakalaan, banyak situs2 digali di Israel sejak pertengahan abad 19 sampai sekarang. Dan banyak kesimpulan mengejutkan didapatkan. Kesimpulan umum menyatakan bahwa : Bangsa Israel dan kerajaannya di kanaan adalah bangsa asli daerah tersebut. Bukan pendatang dari sumeria yang seperti dalam kisah Ibrahim. Dan tidak pernah ada kejadian eksodus, dimana musa as membawa bani israil dari mesir setelah sebelumnya Yahweh atau awlohnya orang ibrani ini menulahi firaun dengan tulah2 bombastis yang diakhiri dengan terbelahnya laut teberau. Semua itu kibulan belaka. Buktinya? Temuan2 arkeologi menyatakan bahwa kerajaan mesir terbentang dari hulu sungai Nil (yang sekarang Sudan) sampai ke Suriah. Jadi kanaan atau daerah Israel itu adalah provinsi jajahan dari Mesir. Dan tidak pernah ada satu artefak pun di mesir yang menceritakan tentang tulah2 luar biasa, eksodus bani Israel, dan terbelahnya laut teberau. Bagaimana mungkin ada yang disebut eksodus dari mesir ke kanaan, lha wong kanaan itu wilayah protektorat mesir sendiri? Memang benar bangsa kanaan ini membebaskan wilayahnya dari penjajahan mesir – tapi jelas tidak ada eksodus, karena dari awalnya mereka, bangsa yang disebut bangsa Israel ini, memang penduduk asli daerah itu. Sama pribuminya dengan bangsa2 midian, moab, beduin, dsb. Jadi dari mana cerita itu dikarang-karang? Dalam buku The Bibel Unearthed, adalah para sarjana Yahudi sendiri spt Flinkenstein dan Liebermann yang dengan meyakinkan berkesimpulan bahwa bangsa israil adalah bangsa yang lahir dari itikad politik para raja-raja kecil di sekitar kanaan yang bersatu untuk menjadi suatu bangsa berkerajaan yang nantinya disebut kerajaan Israel. Mengapa raja-raja kecil ini beritikad untuk bersatu? Alasannya karena secara demografis letak kanaan ini sangat potensial, ia menjadi jembatan ekonomi, politik dan peradaban antara dua kerajaan besar, mesir dan sumeria. Begitu pula karena letaknya dipinggir laut mediterania menjadikan daerah kanaan ini subur karena mendapatkan angin munson. Karena itulah maka bangsa-bangsa besar di sebelah seperti bangsa midian dan filistin sering menyerang dan menjarah hasil pertanian bangsa kanaan. Untuk itulah bangsa2 kanaan ini, yang mungkin berjumlah 12 kerajaan kecil (city state) bersatu. Kita bisa berasumsi angka 12 karena angka ini menjadi symbol dari 12 suku dari bani israil. Baik pada jaman dahulu maupun jaman sekarang, spirit perjuangan itu mendapatkan komunikasi politik yang efektif dalam bentuk agama. Jika pemimpin mau berkuasa, kuasailah agamanya - maka rakyatpun akan menurut. Maka dari itu diciptakan cerita2 kepahlawanan tentang asal-usul leluhur mereka yang berasal dari Sumeria, bangsa dengan peradaban tertinggi saat itu, dan bahwa leluhur mereka pun pernah menetap di Mesir, bangsa dengan peradaban tertinggi di sebelah selatan. Serta pemimpin mereka , Musa, adalah pangeran yang berpengetahuan tinggi. Dan lewat agitasi politik ini maka terbentuklah semangat kebathinan bersama dalam wujud agama – hukum. Yang diantaranya mengurus tentang apa yang patut disembah, apa yang patut dimakan dsb. Karena kepatuhan kepada agama, adalah kepatuhan kepada pemimpin. Bagi suatu bangsa yang baru muncul, semangat seperti itu sangatlah dibutuhkan. Dan agitasi ini tidak terjadi dalam satu generasi melainkan lewat ratusan tahun. Cerita2 tentang leluhur Israel yang fiktif ini mencapai bentuk yang solid pada jaman pemerintahan raja Yosiah kira-kira 600-500 SM, kelak sekitar 200 tahun kemudian adalah ezra / uzair yang membukukan cerita2 tersebut dipadukan dengan kisah2 dari babel ttg penciptaan, adam, nuh dan banjir besarnya. Jadi jangan pernah bermimpi tentang adanya tuhan yang berfirman di langit kepada para nabi, “demikianlah firman tuhan bla…bla…bla…” semua tulisan kitab itu, termasuk alquran, adalah produk budaya, buatan akal manusia yang tidak pernah lepas dari ruang dan waktu, budaya dan cara berpikir orang pada jaman tersebut. Dari terang pemahaman ini, apakah perlu memutlakan kitab2 agama ini jadi penuntun absolute manusia? Ambil ruh nya berupa penghormatan pada nilai2 kemanusiaan, bukan bentuknya. Elevated Options (pilihan2 yang bertingkat) Kedua belas bangsa kecil itu, yang berasal dari agama dan budaya yang berbeda2, mestilah dibangun kesadaran akan bersatu bangsa, bersatu agama dan bersatu pikiran. Mereka diarahkan mulai dari perkara-perkara real sampai pada perkara abstrak, mulai dari perkara apa yang boleh dimakan dan diminum sampai keyakinan tentang ketuhanan yang monotheistic. Maka diaturlah laku masyarakat sampai ke hal-hal kecil, begitulah syariat mereka berlaku. Kembali kepada masalah babi, sebenarnya yang diharamkan oleh bangsa yang baru bersatu ini bukanlah babi saja, namun semua jenis hewan berkaki empat yang kakinya berjari-jari mirip manusia. Jenis itulah yang tidak boleh dimakan. Jadi tidak hanya babi saja, melainkan, kucing, anjing,tikus, marmot, singa dsb. dan seandainya mereka tahu bahwa di belahan dunia nun jauh di sana ada kangguru dan capibara, jenis hewan inipun haram. Hanya hewan berkuku belah yang boleh dimakan, seperti sapi,kambing, onta dll. Kenapa spesifik kepada babi orang yahudi begitu benci? Jawabannya Pertama, karena tanah mereka yang begitu terbatas maka pertanian adalah penting, maka semua hama haruslah dibasmi, termasuk babi. Kedua, karena cara hidup babi yang kotor dan suka berkubang di lumpur bisa dijadikan analogi ttg cara hidup kaum gentile / kafir yang tak bertuhan, pemalas, sia-sia dan najis. Ketiga, karena kontur tanah mereka yang berbukit2 tidak memungkinkan bagi kawanan babi untuk hidup. Babi hanya bisa ditemukan di daerah utara, dimana daerahnya lebih hijau, yaitu daerah sekitar Samaria, Lebanon dan suriah atau di daerah selatan di tanah mesir yang kaya raya. Jadi apabila penduduk kanaan ingin memakan babi, mereka harus mengimpornya dari negeri2 di utara, atau dari selatan yaitu mesir. Dan prilaku hedonis macam ini yang dilarang oleh negara yang baru lahir itu sebagai sebuah bentuk ketergantungan. Tapi yang lebih mendasari haram halalnya adalah karena pengaruh psikologis. Karena penduduknya kanaan ini masih primitive dan belum dewasa dalam berdialektika, maka opsi yang ada bagi mereka hanyalah A dan B, haram dan halal, terang dan gelap, bani israil versus kafir. Demi kemurnian ras mereka, bani srail tidak boleh memberikan anak-anak perempuan mereka untuk dikawini laki2 dari kaum di sekitar mereka. Namun kaum laki2 israil boleh mengawini perempuan2 dari bangsa2 lain. Nah, bukankah ini namanya politik infiltrasi lewat perkawinan? Dan ini yang dipegang teguh oleh islam karena selalu terobsesi dengan kemurnian ‘iman’. Itulah opsi A dan B yang hanya tersedia. Namun kelak, ketika bangsa Yahudi ini lebih dewasa dan identitas kebangsaan sudah terbatinkan dalam benak mereka, maka opsi menjadi lebih bervariasi ada A, B, C, dan D. contoh: ketika bani israil ditawan oleh bangsa Persia, bani israil mencari perlindungan dengan membikin plot agar seorang putri mereka yang cantik bernama Ester dijadikan gundik seorang raja Persia. Dan Lewat gundik raja inilah bangsa Yahudi terpelihara dari percobaan genosida oleh seorang pejabat Persia yang membenci kaum yahudi. Manuver semacam ini pastilah akan dikutuk oleh leluhur mereka yang hanya berpikir sederhana saja yaitu A dan B. Inilah yang saya maksud dengan elevated options atau pilihan bertingkat itu. Suatu prinsip yang abstrak dijadikan suatu hukum real dan mengikat sebagai cara untuk menginternalisasikan prinsip abstrak itu dalam laku hidup sehari-hari. Kelak ketika kesadaran suatu bangsa ini maju, maka opsi yang baru diperkenalkan dan dialektika semakin kompleks. Suatu saat, seorang yahudi saleh di abad 1 masehi, yang tidak pernah makan makanan haram semacam babi dsb, mendapat ilham bahwa haram dan halal itu hanya konsep bikinan manusia. Semua ciptaan tuhan tidak ada yang haram dalam dirinya sendiri. Yahudi saleh yang saya maksud adalah petrus, murid dari nabi isa. Lewat petrus cs. inilah pengajaran gurunya disampaikan ke bangsa-bangsa diluar yahudi, karena tidak ada bangsa yang kafir, begitu pula tidak ada binatang yang haram. Perlawanan terhadap halal-haram ini dilakukan dalam gerakan anti-sunat. Manusia itu sudah sempurna dari sononya, sunat tidak menambah kesempurnaan manusia. Kalau bersunat ini memang menambah kesempurnaan, kenapa kita tidak terlahir dengan kulit khatan yang sudah terpotong? Inilah pemberontakan Kristen terhadap yudaisme, agama sumber dimana mereka pernah disapih. Islam, suatu agama yang lahir sungsang Ketika islam lahir, ia hanya begitu saja mengambil syariat2 yahudi tanpa memahami filosofis dibalik itu. Agama yahudi yang telah merentang massa ribuan tahun dan begitu pula agama Kristen yang telah berusia setengah millennium membuat mereka memiliki spectrum dalam berkhasanah. Namun tidak demikian dengan islam yang lahir sungsang dan dipioniri oleh kawanan2 padang gurun yang kasar dan berpikir praktis. Mereka hanya mengambil syariat dalam bentuk, bukan dalam semangat dan filosofi. Dan yang sial adalah kita yang hidup dalam dunia modern tapi harus berlaku seperti orang bodoh terhadap para kambing bandot arab yang merasa sok tahu dan sok benar. Bukan hanya tentang halal dan haram, tentang sunat pun kita, agama islam, mencontek begitu saja tanpa mengerti hakekat dibalik sunat itu yang adalah janji allah terhadap bani israil. Kita hanya mencari-cari alasan bahwa dipotongnya kulup kita akan membawa faedah kesehatan dsb. Padahal penjelasan medis yang obyektif tidak membuktikan hal tersebut. Dengan pemahaman elevated options ini kita seharusnya sadar bahwa agama adalah bikinan manusia. Pilihan bertingkat ini adalah bentuk psikologis perjalanan kesadaran si manusia itu sendiri, mulai dari pemikiran yang real-kongkrit A vs B, haram vs halal, kemudian terus berdialeka menjadi C, D, E dan F. dan akhirnya mulai menyadari bawa A, B, C, D, E, dan F dsb hanyalah konsep pendekatan manusia akan realitas hidup. Bukan hidup itu sendiri. Kebermaknaan hidup ini tidak terletak pada A, B, dan C, dsb, tapi pada pemahaman bahwa kita, manusia, ternyata bisa berubah seiring dengan berubahnya materi2 yang menyertai kita, spt budaya, tingkat pendidikan, kompleksitas hidup dsb. Kita adalah mahluk yang terus berubah dan bergerak. Tidak pernah statis. Dan itu yang perlu disyukuri. Tuhan tidak pernah mau tahu apa yang manusia makan dan minum sepanjang kita mendapatkannya dengan cara2 beradab. Selama milyaran tahun bumi ini tidak pernah mengenal konsep tuhan. Binatang lahir dan mati, makan dan dimakan, tidak ada yang sok-sok tahu mengajarkan tentang apa yang halal dan haram sampai ada suatu saat trah kera besar yang baru melek pengetahuan , yang kita namai homo sapiens-sapiens, dan berdomisili di timur tengah merasa sok tahu bercerita tentang adanya tuhan yang sendirian, tidak beranak dan tidak beribu, yang mengajari kita tentang halal dan haram. Saya tandaskan lagi tidak ada yang haram. Begitu pula tidak ada yang halal. Artinya semua itu diserahkan pada kita untuk menilai, apakah itu bermanfaat, apakah itu merugikan, apakah itu sesuai dengan nilai2 masyarakat dan hati nurani kita. Saya tidak pernah memakai haram dan halal, tapi tidak berarti semua binatang layak dimakan. Saya tidak makan tikus, kecoa, kucing, anjing, paus, sirip ikan hiu, monyet, biawak, kelelawar, dsb. Karena berbagai pertimbangan, baik itu kesehatan, higienitas, dan ekologi. Sangat mungkin bahwa waktu Australia dan Amerika saya tanpa sadar makan makanan yang mengandung babi. Alhamudilah . enak. Dan itu tdk mengubah apapun dari diri saya. Untuk ibu RP. Kalau anda takut salah makan, ya ambil saya yang jelas2 bentuknya, misalnya ayam atau ikan. Toh saudara2 nasrani dari suami andapun pasti bukan orang gila yang suka menipu orang lain mengatakan ini bukan babi padahal babi. Saya tahu orang batak tidak akan seculas itu. Yang haram itu adalah sifat membabibuta: -membabi buta mempercayai sesuatu tanpa bukti empiris. -membabi buta mengkafir-kafirkan orang lain hanya karena tidak berbagai keyakinan yang sama dengan kita. -membabi buta membenci kaum lain hanya karena sentimen yang ditanamkan dalam kitab2 buatan manusia yang penuh dengan bias dan kepentingan politik. -membabibuta menegakan hukum syariah yang jelas2 sudah ketinggalan jaman dan tidak sepadan dengan HAM internasional. Dengan menyadari bahwa adam as. sampai musa as. itu cuman tokoh2 fiktif buatan kaum kanaan yang nantinya disebut bangsa israel, seharusnya kita sadar bahwa baik bangsa Israel, yordania, arab, turki, mesir, adalah bersaudara. Dan memang semua manusia adalah bersaudara, berasal dari trah kera besar yang sama yang tinggal di savannah Afrika Timur jutaan tahun yang lalu. Tidak ada yang disebut bangsa pilihan tuhan, tidak ada yang disebut tanah perjanjian, setiap manusia mempunyai hak hidup yang sama untuk tumbuh dan beraktualisasi tanpa perlu dikungkung oleh agama yang nyata2 membedakan manusia jadi kutub2 ekstrim yahudi vs gentile (yudaisme), umat yang ditebus vs umat yang tidak ditebus (Kristen), mukmin vs. kafir (islam). Demikianlah renungan dari saya, seorang Doktor lulusan universitas terkenal di Australia dalam Kajian Islam Mutokhir alias Advanced Islam Study.
Oleh: Vay Haikal

2 komentar:

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.