Rabu, 16 November 2011

Oleh: Rony Ardiansyah Kehidupan Bintang Berawal dari Dukhan


11 November 2011 - 09.45 WIB > Dibaca 48 kali


SEPERTI halnya manusia, bintang pun memiliki siklus kehidupan. Ia lahir, berkembang, dewasa, tua dan mati. Semuanya terjadi karena bintang pun merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Setiap detak kehidupannya terikat dengan hukum-hukum yang telah digariskan. Ia hadir sesuai kehendak-Nya. Ia menjalani hidup sesuai ketetapan-Nya. Ia pun mati sesuai skenario yang telah diatur-Nya.

Marilah kita ikuti perjalanan sang bintang bersama Tauhid Nur Azhar & Eman Sulaiman dalam bukunya: Ajaib bin Aneh. Sejak awal mula dilahirkan, ukuran atau massa bintang mengalami perkembangan. Berdasarkan massanya, para bintang dikelompokkan menjadi bintang bermassa sangat kecil, kecil, sedang, dan besar. Uniknya, hidup matinya para bintang ini sangat dipengaruhi oleh kapasitas massanya. Semakin kecil massa bintang, semakin lambat waktu yang ditempuh dari awal kelahirannya sampai akhir masa kehidupannya. Sebaliknya, semakin besar massa bintang, semakin cepat pula akhir massa hidupnya.

Sesungguhnya, proses kelahiran sebuah bintang adalah gambaran dari proses terciptanya alam semesta. Sebuah bintang berawal dari proses yang terjadi di materi antar bintang (MAB) yang berupa awan, gas dan debu. Para astronom menyebut dengan nama nebula, sedangkan Alquran menyebut dengan kata “dukhan”. Ikatan antar molekul mulai terbentuk akibat adanya gaya tarik gravitasi. Mereka semua ber-thawaf, ber-spin. Dari proses semacam ini, lahirlah sebuah bintang kecil yang akan terus berlatih menjalankan reaksi fusi yang sempurna. Ia akan terus membangkitkan energi nuklir yang ada di pusatnya. Jika reaksi telah sempurna, bintang pun akan menjadi sosok cemerlang. Cahayanya menerangi lingkungan sekitarnya. Ukuran kecermerlangan sebuah bintang dilihat dari seberapa banyak ia menghadirkan cahaya yang bisa menerangi lingkungan sekitarnya.

Konsep ini mirip dengan konsep terbaik sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW. Menurut beliau, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sekitarnya. Ada sebuah teori dari Hertzprung Russel yang menggambarkan bagaimana sebuah bintang mengakhiri hidupnya. Sebuah bintang besar yang kehabisan atom hidrogen di intinya, biasanya akan menggunakan persediaan hidrogen yang ada dilapisan lebih luar, demikian selanjutnya. Pada saat-saat menjelang kematiannya, bintang tersebut tampak menggelembung serta bersinar sangat cemerlang. Setelah fase ini usai dengan memberikan yang terbaik, ia akan mengempis dan menjadi sebuah bintang kecil berwarna putih serta bergrafitasi tinggi (berbobot). Bintang tersebut menjadi sumber nilai yang bijaksana, sederhana suci, dan sangat berbobot namanya adalah katai putih.

Dapat dibayangkan sebagai seorang yang menjadi tenang, dan bijaksana. Sebaliknya, sebuah bintang megalomania yang berukuran sangat besar, akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang berbeda. Bintang super raksasa ini seolah ingin mengakhiri hidup dengan cara spektakuler. Ia meledak dengan sangat dahsyatnya dan mengundang segenap perhatian seisi alam semesta. Ledakan dahsyat ini bernama supernova, sebagai pentas terakhir sang mega bintang. Saat terjadi ledakan supernova, materi di pusat bintang mengalami keruntuhan dan memampat. Bagian luarnya terlempar dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per detik. Dan hasilnya, pusat bintang yang mampat ini akan menjadi bintang yang disebut bintang neutron alias lubang hitam dengan jari-jari sekitar 10 Km, namun massa menyerupai massa matahari yang berjari-jari 700 ribu Km.
Jika supernova menghasilkan bintang neutron alias lubang hitam (black hole), bintang neutron akan menyerap semua elektron kulitnya kedalam inti. Ia menarik kembali seluruh cahaya yang dipancarkannya dan akan menarik materi dari sekitarnya, sehingga sebagian meteri akan tersedot ke dalamnya. Adapun sebahagiannya lagi, akan mengorbit mengelilinginya dengan kecepatan tinggi. Akibat tarikan tersebut suhu di sekitar lubang hitam akan meningkat sangat tinggi sehingga terpancarlah sinar X. Sinar inilah yang diamati oleh astronom di bumi.

Apakah makna semua ini? Kekosongan hati diganti dengan kesenangan-kesenangan semu. Akhirnya bintang neutron hanya bisa memancakkan cahaya membentuk sebuah garis (ke luar ke dalam, atau ke kiri ke kanan), seolah hanya memikirkan dirinya sendiri, pribadi yang sangat egosentris, sedangkan lubang hitam lebih mencemaskan lagi menyedot semua energi dan materi yang ada di sekitarnya. Dalam ukurannya dan proporsinya, setiap unsur di alam semesta teramat bijak dan cerdas dalam memaknai perannya. Marilah kita lihat salah satu bintang terdekat dengan bumi kita, yaitu matahari. Ia terus bersedekah dengan memberi potensi energi yang dimilikinya untuk menjamin kehidupan makhluk lain di tempat-tempat yang jauh jaraknya. Ia tidak pernah mengeluh. Ia terus berproses mereaksikan hidrogen secara fusi untuk menghasilkan atom ringan helium hingga menghasilkan sekumpulan elektron energi.

Lihat pula bulan yang teguh dalam fungsinya sebagai satelit yang mengorbit. Dengan patuh, ia mengekor ke mana saja planet induknya pergi. Ia pun terus berusaha memantulkan kebaikan matahari. Keteraturan orbital serta cahaya yang dipantulkannya menjadi penunjuk jalan, arah, serta patokan penanggalan tahun Kamariah. Posisinya mengakibatkan pula terjadi proses pasang surut di permukaan bumi. Tak heran, jika pada malam purnama terjadi hal-hal aneh pada manusia dan hewan. Darah yang naik ke kepala akibat gravitasi akan memunculkan aktivitas kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofisis, sehingga manusia lebih mampu meningkatkan arus impuls dan menimbulkan pusaran logika. Pada keluarga cumi-cumi, kondisi ini akan merangsang hormon-hormon produksi yang mendorong mereka menjadi lebih aktif bereproduksi. Marilah kita menjadi saksi laksana pribadi matahari yang ikhlas, serta menjadi pribadi bulan yang memantulkan kebaikan. Semoga.***

Rony Ardiansyah
Peminat Sains Quran/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

0 komentar:

Posting Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.