Selasa, 28 Februari 2012

Ikan Interseksual Kali Surabaya Dipicu oleh Pil KB

suarasurabaya.net| Ditemukannya ikan interseksual atau berubahnya ikan jantan menjadi betina disebabkan banyaknya bahan pencemar di Kali Surabaya. Terdiri dari estrogen sintetis dan bahan kimia.

Prigi Arisansi Direktur Eksekutif Ecoton menjelaskan estrogen sintetis berasal dari urin manusia yang menggunakan pil kontrasepsi. Selain itu juga akibat penggunaan hormon dalam pakan ternak untuk penggemukan dan pembiakan ikan, ayam, sapi dan lainnya.

Bahan kimia yang diduga kuat menyebabkan ikan interseksual adalah nonylphenol ethoxylates(NPE) yang merupakan turunan minyak bumi dan banyak digunakan dalam pembuatan deterjen, kertas dan bahan pemadam api. Biasanya bahan-bahan itu merupakan limbah rumah tangga, hotel dan rumah sakit.

Pestisida berupa chytrid (anti jamur) dan atrazine (anti gulma) yang berasal dari limpasan air hujan dari lahan pertanian. Senyawa logam berat yaitu limbah dari industri logam dan elektronik serta platicizer limbah industri plastik.

Sedangkan beberapa obat kimia penyebab ikan interseksual adalah pil kontrasepsi mengandung hormone estrogen sintetis 17α-ethinylestradiol, obat anti kejang carbamazepine, dan obat penenang fluoxetine.

"Jika terkena bahan-bahan itu, ikan interseksual akan mengalami gangguan reproduksi, sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan kepunahan jenis-jenis ikan di sungai," kata Prigi seperti yang terungkap dalam rilis pada suarasurabaya.net, Minggu (30/10/2011).

Penelitian Ecoton Juli hingga Agustus 2011 menunjukkan bahwa 84 persen dari total jumlah ikan yang ditangkap di sepanjang Kali Surabaya dari Mlirip hingga pintu air Gunung Sari, memiliki alat kelamin betina. Tujuh jenis ikan terbanyak yang berhasil ditangkap di Kali Surabaya selama Juli-Agustus 2011 adalah Ikan Sapu-sapu sejumlah 245 ekor, Ikan Bader Putih dengan 149 ekor, 119 ekor Ikan Bader Merah, 88 ekor Ikan Jendil atau Wakal, Ikan Rengkik dengan 47 ekor, Ikan Keting 35 ekor dan Ikan Nila 22 ekor.

Kali Surabaya selama hampir 30 tahun terakhir menjadi saluran pembuangan limbah kimia industri, tempat sampah besar dan WC Umum yang bebas dibuangi kotoran manusia, air kencing dan sampah.

Dalam inventarisasi sarana sanitasi tercatat 243 WC helikopter yang ada di bibir sungai, model WC helicopter ini memungkinkan orang bisa buang hajat langsung ke Kali Surabaya, 7000 bangunan pemukiman di bibir sungai juga memberikan kontribusi limbah domestik dan industri sebesar 75 ton limbah cair industri dan 5 ton tinja yang bebas digelontorkan ke Kali Surabaya. Belum lagi buangan tinja ternak sapi yang banyak ditemukan di bantaran Kali Surabaya.

Ecoton merinci komposisi sampah padat yang mengapung di Kali Surabaya didominasi oleh sampah tanaman seperti ranting pohon, dedaunan dan sampah sayuran dengan 44 persen. Diikuti kemudian 27 persen sampah plastik seperti bungkus mie, minuman, sampo, deterjen dan lain-lain. Kemudian 15 persen popok bayi dan pembalut sekali pakai, 7 persen tinja manusia, 4 persen bangkai hewan dan jeroan serta 3 persen lain-lain diantaranya bola lampu, kain, styrofoam.

Dengan temuan-temuan termasuk limba yang terkandung di dalam Kali Surabaya, Prigi meminta Pemerintah mengkaji ulang pemanfaatan Kali Surabaya yang selama ini menjadi bahan baku air minum PDAM Surabaya. Padahal air itu dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Surabaya dan sekitarnya.(git)

0 komentar:

Poskan Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.