This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Pembelaan Terhadap LGBT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelaan Terhadap LGBT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

Ups...Gay-Lesbian Muslim AS Perjuangkan Hak atas Nama Tuhan

�LOS ANGELES — Seperti Aminah Wadud yang meyakini seorang wanita boleh mengimami shalat, satu Muslim asal AS, Ani Zonneveld juga mengambil sikap kontroversial yang membuat tidak populer di kalangan pemeluk Islam di Amerika.Ani Zonneveled, pendiri organissi Muslim untuk Nilai Progresif yang memperjuangkan hak-hak Muslim lesbian, gay, biseksual dan transgenderIa tak hanya menjadi imam dalam shalat dengan jamaah laki-laki, tetapi juga juga menyuarakan pembelaan terhadap Muslim gay, biseksual... [Read Post]
25 Oct 2011, 15:48 | flag share on facebook twitter
�TAMBUN SELATAN – Aliansi Islam Bekasi (Alibi) mengecam keras yayasan yang melakukan upaya permutadan di tiga Sekolah Dasar (SD) wilayah Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Pihaknya meminta, kepolisian dapat menindak tegas masalah ini, mengingat ranah hukum yang memproses masalah ini belum ada.
25 Oct 2011 15:46
TRIPOLI - Runtuhnya rezim Muammar Qaddafi mengungkap banyak rahasia yang selama ini terpendam. Selain soal gaya hidup keluarganya, banyak tokoh dunia yang ternyata terhubung secara 'dekat' dengan Sang Kolonel, julukan lain Qaddafi.�Baru-baru ini, dari salah satu istananya, ditemukan surat priba...
25 Oct 2011 15:45
Total utang pemerintah Indonesia hingga September 2011 mencapai Rp 1.754,91 triliun. Dalam sebulan jumlah utang itu naik Rp 10,57 triliun dibanding posisi Agustus 2011 yang sebesar Rp Rp 1.744,34 triliun.Jika dibandingkan dengan jumlah utang di Desember 2010 yang sebesar Rp 1.676,85 triliun, jumlah...
25 Oct 2011 15:20
Para pemimpin baru Libya pada Senin memulai tugas berat untuk membentuk satu pemerintahan sementara yang menyatukan kekuatan-kekuatan politik di negara itu setelah 42 tahun kekuasaan tangan besi Muamar Gaddafi.Mereka menjanjikan satu sistem hukum Islam. “Hari ini, kami mulai menyiapkan fase baru�...
25 Oct 2011 15:20
Di dunia industri, setiap minggunya ada 66 anak di bawah usia lima belas meninggal akibat penganiayaan fisik atau penelantaran. 27 di antaranya meninggal di Amerika Serikat. Dan ini merupakan jumlah tertinggi di antara semua negara. Di Amerika Serikat setiap lima jam seorang anak meninggal karena pe...
25 Oct 2011 15:19

Gereja Katolik Roma dan homoseksualitaspembe

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Dalam agama Katolik Roma, aktivitas homoseksual adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam dan penuh dosa, sementara keinginan dan nafsu homoseksual adalah suatu kelainan (namun hal ini sendiri belum sepenuhnya dosa). Gereja Katolik Roma menganggap perilaku seksual manusia sebagai sesuatu yang suci, hampir penuh keilahian di dalam intisarinya, ketika dilakukan secara benar. Kegiatan-kegiatan hubungan seksual anal dan homogenital dianggap penuh dosa karena perilaku seksual pada dasarnya ditujukan untuk suatu kesatuan dan penerusan keturunan (meniru kehidupan Trinitas pribadi Tuhan). Gereja juga memahami kebutuhan saling melengkapi antara jenis kelamin yang berbeda untuk menjadi bagian dalam rencana Allah. Tindakan-tindakan seksual sama-jenis tidak sejalan dengan pola rancangan ini:

"Tindak-tanduk homoseksual bertentangan dengan hukum alam. Tindakan-tindakan ini menutup unsur pemberian kehidupan dalam perilaku seksual. Mereka tidak berasal dari sebuah tindakan saling mengisi secara seksual dan secara penuh kesih sayang yang tulus. Di dalam situasi apapun tindakan-tindakan ini tidak bisa disahkan." [1].

Ajaran-ajaran ini tentu saja tidak terbatas pada pembahasan masalah homoseksualitas, namun juga membeentuk dasar filosofi bagi pelarangan Katolik terhadap, contohnya, seks bebas, semua bentuk perilaku seks yang tidak alami, kontrasepsi, pornografi, hubungan seksual anal dan masturbasi.

Sebagian kecil imam Gereja Katolik Roma, termasuk beberapa pejabat gereja seperti Uskup Jacques Gaillot dari Perancis, telah mengritik sikap Gereja ini. Ketidak-puasan atas sikap Gereja ini disalurkan ke dalam sikap penentangan langsung pada ajaran Katolik yang tak berubah mengenai seksualitas manusia.

Pada tanggal 15 Mei 2008, para uskup Katolik Roma di California mengeluarkan sebuah pernyataan menjelaskan penentangan mereka terhadap Mahkamah Agung Negara Bagian California di hari yang sama pada saat pengadilan tersebut memperbolehkan secara resmi pernikahan antar sesama jenis.[2]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting]Penerimaan dan belas kasih

Pihak Gereja telah menyatakan bahwa keinginan ataupun ketertarikan homoseksual itu sendiri belum tentu membentuk sebuah dosa. Mereka dikategorikan sebagai sesuatu yang "menyimpang" dalam artian bahwa mereka memengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berdosa (yakni tindakan homoseksual). Namun, pengaruh-pengaruh yang di luar kendali seseorang tidak dianggap sebagai sesuatu yang berdosa baik dalam pengaruh itu sendiri maupun akibat dari pengaruh tersebut. Atas dasar alasan ini, walaupun Gereja menentang secara tegas usaha-usaha untuk mensahkan perilaku seksual sesama jenis kelamin, pihak Gereja juga secara resmi menekankan sikap hormat dan cinta kasih kepada mereka yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenis. Oleh karena itu, Gereja Katolik Roma juga menentang penganiayaan dan kekerasan terhadap kaum lesbian, gay, biseksual dan transeksual:

"Jumlah pria dan wanita yang memiliki kecenderungan homoseksual yang tersimpan di bagian dirinya yang terdalam bukanlah sesuatu yang sepele. Kecenderungan ini, yang secara jujur merupakan suatu penyimpangan, merupakan suatu cobaan berat bagi kebanyakan dari mereka. Mereka harus diterima dengan rasa hormat, kasih, dan dengan kepekaan perasaan. Setiap tanda diskriminasi yang tidak adil dalam hubungannya dengan mereka harus dihindari. Mereka dipanggil untuk memenuhi keinginan Tuhan dalam hidup mereka dan, apabila mereka adalah umat Kristiani, untuk bersatu di dalam pengorbanan Salib Kristus dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang mereka mungkin hadapi karena kondisi mereka ini".[3]

Bagi mereka yang mengalami ketertarikan kepada sesama jenis, Gereja Katolik Roma menawarkan anjuran berikut:

"Kaum homoseksual dipanggil untuk hidup murni menahan nafsu. Dengan kemampuan untuk mampu mengendalikan diri sendiri yang mengajarkan mereka kebebasan dalam diri mereka sendiri, dengan kadang-kadang didukung oleh persahabatan yang tanpa pamrih, oleh doa dan karunia ilahi, mereka bisa dan seharusnya secara bertahap dan pasti mendekati menjadi sebagai seorang Kristiani yang sempurna"[4].

Harus dicatat bahwa Gereja menganggap panggilan untuk hidup murni menahan nafsu sebagai suatu panggilan bagi semua umat sesuai dengan tahapan dalam hidup mereka.

[sunting]Dukungan sosial dan psikologi

Terence Cardinal Cooke sebagai Uskup Agung New York City melihat adanya kebutuhan akan pelayanan yang membantu para umat Katolik yang tertarik pada sesama jenis untuk mematuhi arahan-arahan Vatikan dalam hal perilaku seksual. Cooke mengundang John Harvey ke New York untuk memulai karya Courage International bersama Benedict Groeschel, seorang biarawan Fransiskan Pembaruan. Pertemuan pertama diadakan pada bukan September 1980 di Makam Suci Bunda Seton di South Ferry.

Pada tahun 1997, USCCB (Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat) mengeluarkan semacam brosur berjudul selalu menjadi anak-anak kita yang beberapa pihak menganggapnya cukup berguna. Brosur ini menjelaskan posisi gereja terkini mengenai homoseksualitas, terutama yang berhubungan dengan para orang tua dari anak-anak yang homoseksual.

Namun, beberapa kaum homoseksual yang tetap melakukan hubungan seks sesama jenis mungkin tidak akan menerima komuni suci karena dianggap memasyarakatkan dan melakukan hubungan seks sesama jenis, walaupun hal ini tidak selalu terjadi tergantung bagaimana pandangan uskup lokal dan imam yang memimpin misa suci.

Asosiasi Medis Katolik telah menyatakan bahwa ketertarikan kepada sesama jenis adalah sesuatu yang bisa dicegah dan merupakan sebuah gejala dari masalah-masalah lainnya. Tujuan dari sebuah terapi harusnya adalah "bebas untuk hidup dengan murni menurut tingkatan hidup seseorang".[5]

[sunting]Perdebatan Gereja

Seperti yang telah terjadi di dalam kebanyakan denominasi Kristen, ajaran resmi Gereja mengenai homoseksualitas telah ditentang oleh umat awam Katolik, para teolog penting dan imam terkemuka. Seringkali siapa saja yang mempromosikan suatu bentuk penentangan atau ketidaksetujuan terhadap pendirian Gereja yang telah terbentuk disingkirkan dari posisi pentingnya jika seseorang itu telah ditahbiskan, dan bahkan, dalam beberapa situasi, diekskomunikasikan. Secara umum terdapat cukup banyak perdebatan di dalam Gereja Katolik Roma mengenai relevansi posisi Gereja saat ini tentang homoseksualitas: beberapa pihak berusaha untuk merubahnya, beberapa pihak yang lain berusaha untuk mempertahankannya.

Walaupun demikian, Kuria Romawi bersikukuh untuk tidak berkeinginan memikirkan kemungkinan perubahan terhadap ajaran Gereja saat ini, dan menganggap bahwa pandangan-pandangan lainnya merupakan sebuah penolakan terhadap pengertian gerejawi yang dapat diterima. Sebaliknya, dalam sebuah surat resmi berjudul Rescriptum ex audientia bertanggal 19 Mei 2008 yang dibuat oleh Kardinal Tarcisio Bertone, Kardinal Menteri Luar Negeri, menegaskan ulang sekali lagi bahwa norma-norma yang telah diletakkan oleh dokumen Kongregasi Pendidikan Katolik di tahun 2005 adalah bernilai universal dan tanpa pengecualian.[6]

[sunting]Penolakan terhadap posisi resmi gereja

Beberapa tokoh telah menentang posisi Gereja ini atau telah memasyarakatkan pengertian yang berbeda mengenai keselarasan iman Katolik Roma dengan gaya hidup atau identitas homoseksual. Tokoh-tokoh teolog yang telah secara tajam mengkritisi pernyataan gereja mengenai homoseksualitas antara lain Profesor Charles Curran, seorang mantan imam Katolik Roma, yang sebagai akibatnya dicabut jabatan pengajarnya di Universitas Katolik Amerika. Curran beranggapan bahwa adalah sesuatu hal yang tidak tepat untuk menganalisa moralitas suatu tindakan dari sebuah cara pandang fisik. Ia menulis:

Saya telah menerima pengesahan moral atas persatuan antara dua laki-laki gay atau dua perempuan lesbian ... Saya menolak pengertian gerejawi atas sesuatu yang salah secara obyektif namun tidak berdosa secara subyektif.[7]

Curran juga berkomentar bahwa Kongregasi bagi Doktrin Iman secara sistematis mencoba untuk membungkam para penulis yang juga kritis terhadap ajaran-ajaran gereja tentang homoseksualitas, merujuk kesalahan-kesalahan yang menonjol dalam buku Gereja dan Kaum Homoseksual karya Dr. John J. Mc.Neill.

Imam Katolik Roma Dr. James Alison berargumen bahwa pengertian yang diajukan oleh Kardinal Joseph Ratzinger dalam tulisannyaMengenai Pelayanan Pastoral kepada Kaum Homoseksual adalah "tidak selaras dengan Injil" dan menyimpulkan bahwa "ajaran tersebut nyatanya tidak bisa menjadi ajaran Gereja". Menjabarkan pandangannya, Alison mengemukakan bahwa:

Ajaran ini menempatkan dirinya antara penghormatan kepada Kristus dan kesadaran manusiawi diri kita sendiri, dimana menjurus pada penodaan terhadap penghormatan mendasar kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai kita apa adanya, dan, sebagai yang dicintai, kita akan menemukan diri kita sendiri menjadi seseorang yang berbeda. Melainkan ajaran ini mengajarkan kita bahwa Tuhan hanya akan mencintai kita apabila kita memulainya dari suatu tempat lain.[8]

Lebih jauh lagi, di dalam tulisan A Question of Truth, seorang imam Dominikan bernama Gareth Moore mengkritik Gereja atas obsesinya terhadap hal-hal seksual dan 'arti' moralitas sebenarnya dari hal-hal tersebut. Ia berargumen bahwa semua hal seksual tersebut sebenarnya bermakna apa saja yang kita inginkan. Moore menyimpulkan bahwa: "... tidak ada argumen yang bagus, baik dari Kitab Suci maupun dari hukum alam, yang menentang apa yang telah dikenal sebagai hubungan homoseksual. Argumen-argumen yang diajukan untuk menunjukkan bahwa hubungan semacam itu adalah tidak bermoral semuanya merupakan argumen yang jelek".[9]

Terdapat juga beberapa cendekiawan yang telah menerbitkan tulisan yang menentang sikap bagaimana homoseksualitas diperlakukan oleh agama Katolik Roma. Salah satu yang mungkin paling terkemuka adalah Profesor John Boswell yang melalui bukunya Christianity, Social; Tolerance and Homosexuality melancarkan argumen filosofis dan penelitian sejarah dalam usahanya untuk membuktikan bahwa ajaran gereja mengenai homoseksualitas saat ini adalah salah.[10] Dalam lanjutan bukunya, Same Sex Unions in Pre-Modern Europe, Boswell bahkan berargumen bahwa Yesus sendiri menghadiri sebuah perayaan pernikahan pasangan sesama jenis.[11]

Seperti halnya ketidaksetujuan secara ilmiah di dalam Gereja, terdapat juga perselisihan dalam pelaksanaan dan pelayanan atas dasar ajaran Gereja tersebut di tengah-tengah para rohaniwan dan di dalam hierarki Gereja. Salah satu contoh utama dari para umat Katolik yang telah ditahbiskan oleh Gereja dan yang mengundang kontroversi karena kegiatan dan pelayanannya kepada kaum homoseksual adalah Romo Robert Nugent dan Dr. Jeannine Grammick yang mendirikan New Ways Ministry. Mereka berdua diperingatkan dengan keras oleh Kongregasi Doktrin Iman karena terlihat mereka cenderung untuk menjauhkan diri dari ajaran Gereja yang resmi, dan bahkan membimbing para individu yang homoseksual ke arah yang salah. Uskup-uskup Amerika seperti Dr. Thomas Gumbleton dari Keuskupan Agung Detroit dan Matthew Clarke dari Keuskupan Rochester juga dicela atas keterlibatan mereka dengan New Ways Ministry dan atas usaha pemasyarakatan mereka akan konsep teologi Primacy of Conscience (Keunggulan Akal Budi) sevagai sebuah jalan alternatif dari ajaran resmi Gereja.[12] Lebih jauh lagi, kesediaan Uskup Jacques Gaillot, seorang uskup Perancis yang diturunkan secara paksa dari posisi dan kewajibannya di dalam keuskupannya, untuk menyebarkan pesan mengenai homoseksualitas yang bertentangan dengan posisi resmi Gereja dianggap secara luas sebagai salah satu faktor yang menyebabkan dirinya diturunkan dari jabatannya.[13]

Dr. Robert Zollitsch, Uskup Agung Freiburg im Breisgau dan ketua Konferensi Uskup Jerman mengatakan dalam sebuah artikel dari majalah Jerman Der Spiegel bahwa ia menerima persatuan sipil yang diresmikan oleh negara namun ia menentang pernikahan sesama jenis.[14]Seperti halnya dengan hal ini, Dr. Diarmuid Martin, Uskup Agung Dublin, telah memasyarakatkan pandangan-pandangan yang mirip menyusul seruan-seruan untuk memperkenalkan persatuan sipil di negara Republik Irlandia.[15]

[sunting]Pembelaan terhadap posisi resmi

Adalah mungkin bahwa sebagian besar pejabat Gereja dan kaum awam Katolik membela dan memasyarakatkan pengertian resmi homoseksualitas Gereja dan mengkritik mereka yang bersedia untuk memikirkan perubahan akan hal ini. Mereka percaya bahwa perubahan-perubahan akan hal ini adalah bertentangan dengan rencana Tuhan seperti yang terbukti di dalam cerita penciptaan Adam dan Hawa, yaitu sebuah pengertian yang diabadikan di dalam Hukum Alam; juga kemungkinan pembelaan ini didukung oleh berbagai penampakan suci yang memberikan peringatan untuk tidak memperbolehkan kompromi pada beberapa pendirian tertentu, dan hal ini bisa diterjemahkan sebagai salah satu dari pendirian tersebut.

Mayoritas luas para uskup belum mengutarakan ketidaksetujuan apapun dengan ajaran Gereja mengenai homoseksualitas, dan beberapa diantaranya telah memililki reputasi sebagai pihak yang membela mati-matian ajaran Gereja tersebut. Dua tokoh utamanya adalah Dr. George Cardinal Pell dan Dr. Francis Cardinal Arinze yang telah menekankan bahwa keluarga adalah sebuah unit yang sedang "ditertawai oleh homoseksualitas" dan "disabotase oleh persekutuan-persekutuan yang tidak lumrah".[16]

Lebih jauh lagi, setelah menduduki jabatan kepausan, salah satu keputusan yang lebih kotroversial dari Paus Benediktus XVI adalah keputusan KOngregasi Pendidikan Katolik yang melarang lebih jauh siapa saja yang memiliki kecenderungan-kecenderungan homoseksual yang mendalam saat ini atau mendukung apa yang disebut "kebudayaan gay", atau setiap individu yang memiliki "kecenderungan-kecenderungan" tersebut di masa tiga tahun terakhir, untuk masuk ke dalam seminari, dan, konsekwensinya, untuk bisa menjadi imam.[17]Hal ini merupakan sebuah perubahan dari posisi tradisional Gereja yang menyatakan bahwa hanya perilaku homoseksual-lah yang berdosa, dan merupakan bukti dari fakta bahwa perubahan posisi resmi Gereja akan homoseksualitas semakin tidak akan terjadi saat ini. Namun, beberapa uskup terus mentahbiskan imam-imam gay walau mereka mengetahuinya meskipun adanya pernyataan Vatikan yang melarangnya. Juga, beberapa ordo religius kadang-kadang berbeda dalam tingkatan toleransinya terhadap masalah ini.

[sunting]Referensi

  1. ^ Catechism of the Catholic Church, para. 2357 Catholic Church
  2. ^ Statement by the Catholic bishops of CA; for views by individual Catholics opposing the ruling on moral as well as legal grounds see, for example, Patrick J. Buchanan, “Post-Christian America: Marriage ruling another streetlight on our ‘darkening path to perdition,”WorldNetDaily, May 22, 2008; "Judicial Usurpation, California Style," by Robert Struble, TeLL, June 2008.
  3. ^ ibid., para. 2358
  4. ^ ibid., para. 2359
  5. ^ "Homosexuality and Hope". Catholic Medical Association. Diakses pada 29 November 2007.
  6. ^ Vatican says prohibition against gays in seminaries is universal
  7. ^ Loyal Dissent, (Curran, 2006) pg. 72
  8. ^ On Being Liked, (Alison, 2003) pp. 106 - 106
  9. ^ a Question of Truth, (Moore, 2003)
  10. ^ Christianity, Social Tolerance and Homosexuality, (Boswell, 1976)
  11. ^ Same Sex Unions in Pre Modern Europe, (Boswell, 1994)
  12. ^ Bishops Lead Assault on Church Teaching, (Catholic World News, 20 March, 1997)
  13. ^ Bishop's gay conference ban, (BBC News, 2 July, 2000)
  14. ^ Spiegel: Es wäre eine Revolution (german)
  15. ^ Archbishop backs legal rights for gay couples, (The Independent, 16 November 2004)
  16. ^ Arinze Address Provokes Faculty Reaction, (The Hoya, 24 October, 2003)
  17. ^ Instruction Concerning the Criteria for the Discernment of Vocations with regard to Persons with Homosexual Tendencies in view of their Admission to the Seminary and to Holy Orders, (Vatican Website, 4 November, 2005)

[sunting]Pranala luar

Ups...Gay-Lesbian Muslim AS Perjuangkan Hak atas Nama Tuhan


Ups...Gay-Lesbian Muslim AS Perjuangkan Hak atas Nama Tuhan
Ani Zonneveled, pendiri organissi Muslim untuk Nilai Progresif yang memperjuangkan hak-hak Muslim lesbian, gay, biseksual dan transgender
Selasa, 25 Oktober 2011 14:27 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES — Seperti Aminah Wadud yang meyakini seorang wanita boleh mengimami shalat, satu Muslim asal AS, Ani Zonneveld juga mengambil sikap kontroversial yang membuat tidak populer di kalangan pemeluk Islam di Amerika.

Ia tak hanya menjadi imam dalam shalat dengan jamaah laki-laki, tetapi juga juga menyuarakan pembelaan terhadap Muslim gay, biseksual dan transgender. Langkah terkini pada tahun ini, ia berencana meresmikan 'pernikahan Islami' pasangan lesbian yang menurutnya bisa diterima sempurna dengan lantunan Alquran.

"Komunitas yang kita bangun sangat berbebeda dari sebagian besar masjid yang kita masuki," ujar Zonneveld, 49 tahun, penyanyi dan pencipta lagu kelahiran Malaysia. "Kita seharusnya sangat inklusif dengan semua Muslim, termasuk gay, pasangan campuran. Kita juga tak membedakan gender ketika kita beribadah dan kita membolehkan wanita memimpin shalat. Nilai kita adalah egalitarian dan kita hidup dalam nilai itu," ujarnya.

Muslims untuk Nilai Progresif, organisasi yang didirikan Zonneveld pada 2007 dengan temanya seorang Muslim feminis Amerika, Pamela Taylor, mengklaim menjunjung 1 prinsip. Mereka menyatakan menjunjung komitmen terhadap persamaan gender dan juga LGBTQ {lesbian, gay, biseksual dan transgender atau questioning (jenis kelamin yang dipertanyakan)}, penolakan terhadap militarisme dan kekerasan dan kebutuhan untuk 'kritis terhadap teks-teks Islami'.

Beberapa tujuan dari grup adalah bergabung dengan kelompok-kelompok Muslim yang muncul untuk menentang kelompok konservatif yang mereka bilang telah mengkhotbahi mayoritas masjid-masjid di AS.

Posisi homoseksual jelas dinyatakan dalam Alquran mengacu pada kaum Nabi Luth--penduduk Sodom dan Gommorah, yang telah dihancurkan oleh Allah karena praktek penyimpangan seksual dengan sesama jenis. Paling negara-negara mayoritas Islam, homoseksual dianggal sebagai tindak kriminal.

Beruntung, organisasi Muslim paling berpengaruh di AS pun mengambil sikap tersebut, menegaskan bahwa homseksual haram.

"Homoseksual adalah penyimpangan moral, penyakit moral, sebuah dosa dan kejahatan," ujar mantan presiden Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA), Muzammil Siddiqi. "Tak ada satu orang pun yang terlahir homoseksual, seperti tak seorang pun terlahir menjadi pencuri, pembohong atau pembunuh. Orang-orang melakukan kebiasan keji itu karena tak memiliki panduan dan pendidikan," ujarnya.

Namun seorang pemuka Muslim lain di AS, direktur eksekutif Dewan Syura Islami California Selatan--organisasi payung Muslim dengan anggota sekitar 500 ribu orang--, Shakeel Syed, mengatakan pelaku homoseksual tidak berarti harus dikucilkan.

"Islam tak menjauhi siapa pun," ujar Syed. "Tidak ada yang mengutuk mereka, LGBTQ bisa melakukan apa yang mereka pikir benar dengan cara mereka dan kami menghormati itu. Namun bila mereka mengacu pada agama, terlebih terkait sanksi, tentu hasilnya tak sesuai harapan mereka,” ujarnya

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.