This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label tokoh sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh sufi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Ibn Arabi Tokoh Kontroversial

Menarik sekali membahas tokoh yang satu ini, yang sejak dahulu selalu menuai kontroversi. Tulisan ini hanya merangkum dari berbagai nara sumber, hanya untuk mengetahui siapakah sebenarnya tokoh yang satu ini, yang sering mendapat tuduhan murtad, dan penganut agama lainnya.

Ibn Arabi – nama lengkapnya Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad Ibn Arabi Al Thai Al Hatimi – adalah seorang tokoh sufi – filsuf kontroversial dari Andalusia, lahir 560 H/1165 M – 638H/1240M. Karya-karyanya dikenal memadukan antara syariat, rasio dan intuisi (dzauq). Diantaranya Futuhat Al Makiyyah (Penyingkapan Mekah), buku yang berisi 560 bab, berisi ajaran dari banyak topik, Fushus Al Hikam (Permata Kebijaksanaan) – berisi tentang sabda kenabian – keragaman – kesempurnaan yang mewujud pada masing-masing 27 nabi besar, Al Tadbirat al Illahiyah Fi Ishlah al Mamlakah al Insaniyah (Menata diri Dengan Tadbir Ilahi), Kunh Mala Budda Al Murid (Selamat Sampai Tujuan), Risalah al Anwar fi ma Yumnah Shahib Al Kalwah Min Al Asrar (Risalah Kemesraan, berisi panduan menjalani khalwat), Ruh al Quds (Jiwa Yang Suci), Al Durrat al Fakhrah (Butiran Permata Keagungan).

Ibn Arabi dipandang sebagai tokoh terbesar muslim dalam menyusun doktrin-doktrin metafisis, sehingga disebut sebagai Syeikhul Akbar yang artinya Syekh Yang Agung. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Belerang Merah” (al Kabrit Al Ahmar) sebuah term kimiawi yang mengandung pengertian bahwa Ibn Arabi mampu mencipta suatu pengetahuan terlepas dari ketidak tahuannya sebagai belerang yang mampu membentuk kuning emas dari sebuah timah.

Tuduhan Murtad

Banyak kaum salafi yang menuduh bahwa dirinya adalah murtad dan pengikut Nasrani, apakah benar demikian? Lalu, kenapa sampai bisa dtuduh sedemikian rupa, adakah alasannya?

Tulisan Ibn Arabi banyak yang mengandung pengertian ganda, dan berapa corak kemusyrikan telah ditemukan didalam pemikirannya yang melahirkan bentuk keyakinan yang berlebihan. Karenanya, ia sering dituduh sebagai orang pantheisme. Hanya saja disini ada keanehan, andai kata saja ada kesalahan dalam pemikirannya Ibn Arabi, tetapi para pengikutnya mempertahankan dan tetap mempraktekannya, bahkan menolak untuk kompromi.

Tuduhan bahwa dia adalah penganut Nasrani karena konsep kesatuan hakikat agama. Menurutnya hakikat agama adalah sama atau satu, hanya saja bentuk luarannya yang berbeda-beda. Ia menjelaskan panjang lebar tentang hal itu, yang mana pada posisi tersebut ia memiliki sifat-sifat sebagaimana yang dimiliki Yesus.

Didalam syairnya pada kitab “Tarjuman Al Asywaq”, Ibn Arabi mengungkapkan sebagai berikut :

Hatiku terbuka untuk segala macam bentuk;

ia bagaikan padang rumput untuk kawanan rusa, dan bagaikan biara bagi pendeta-pendeta Kristen,

Bagaikan candi untuk sebuah berhala, dan sebagai Ka’bah untuk menjalankan perjalanan haji,

bagaikan lembaran Taurat dan sekaligus kitab suci Al Quran.

Milikku adalah agama cinta, kemanapun kabilah Allah bergerak, agama cinta akan tetap menjadi

agama dan keyakinanku.


Rasanya, syair di atas lah yang dijadikan rekomendasi oleh kalangan para Salafi, untuk menuduh bahwa Ibn Arabi adalah Nasrani.

Lalu, bagaimana dan alasan apa sampai dituduh bahwa Ibn Arabi itu SESAT dan Menyesatkan, terutama dengan konsep Kesatuan wujudnya (wahdatul wujud)?

Ibn Arabi merumuskan tentang konsep kesatuan wujud atau non dualitas, yang merupakan konsep Islam tentang Advaita Vedanta dan semakna dengang konsep Tao. Konsep itu menyatakan bahwa tidak ada satupun eksistensi yang terwujud melainkan hanya Allah.

Ajaran Ibn Arabi tentang wahdatul wujud ini meluas, dan menjadikan ajaran wahdatul wujud ini sebagai ajaran metafisika sufisme, pada masanya ajaran ini menyebar di mana saja, bahkan sampai ke Indonesia.

Setelah Ibn Arabi memunculkan konsep Wahdatul Wujud, kemudian diikuti oleh beberapa sufi lainnya yang terlibat dalam meng-estafetkan ajaran ini, sehingga seolah-olah Ibn Arabi ini menjadikan penghubung antara tradisi Sufi Spanyol-Maroko dengan tradisi sufi timur Mesir –Siria melalui muridnya Shadr Al Din Al Qunawi (1210). Di Persia atau Iran ajaran Ibn Arabi ditebarkan melalui Qutb Al Din Asy-Syaerazi, sehingga mempengaruhi tasawuf Persia secara umum. Ajaran sufi ini dilanjutkan oleh Abdul Karim Al Jilli, seorang pemimpin tharekat Al Syadzili, dan oleh Jalaluddin Rumi. Nah, pada jaman kemajuan pemikiran intelektualitas Islam ini, ajaran ini merebak sampai Aceh – Indonesia, nama Ibn Arabi dengan muridnya Ibn Athaillah cukup dikenali dengan baik. Menurut saya, ajaran Ibn Arabi ini ke Indonesia merebak melalui Tharekat Al Sadziliyah, yang mana Tharekat ini didirikan oleh Imam Syadzili, dan dilanjutkan oleh Ibn Athaillah(W.1309), putra salah seorang seorang sufi. Ibn Athaillah ini semula seorang fuqoha pengikut mazhab Malikiyah, dia seorang pengajar di Al Azhar Kairo, dan perguruan Al Manshuriyah tetapi waaupu dia putra seorang sufi tapi justru fikirannya berlawanan, bahkan memerangi tasawuf, terutama ditujukan kepada sufi Abu Abbas Al Mursi (w. 1288), tetapi pada tahun 1276 M, Ibn Athaillah mendatangi Al Mursi, dan menyatakan dirinya menjadi murid tharekat Al Shadziliyyah, bahkan Ibn Athaillah menulis sebuah karya besar dalam bidang Tashawuf, yakni Kitab Al Hikam yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran spiritual di kalangan murid-murid tasawuf. Kitab Al Hikam ini sangat populer di kalangan pecinta tasawuf di Indonesia.

Jadi benar, semula Ibn Athaillah melawan ajaran tasawuf tetapi selanjutnya dia justru berbalik, bahkan menjadi pecinta tasawuf dan mengembangkannya melalui berbagai karya tulisnya.


Kesimpulan :

Tuduhan para fuqoha (ahli fiqih), kaum salafi yang memegang teguh ajaran ajaran nabi hanya Al Quran dan al Hadits, dan kalangan Wahabi yang tidak mengakui keabsahan otoritas pandangan dan praktek setelah tabiin dan menganggapnya inovasi (bid’ah) yang tidak mendasar secara teoretis, walaupun dalam praktis tidak demikian, yang menjelaskan bahwa ajaran Ibn Arabi adalah sesat dan menyesatkan, tetap tidak terpecahkan, dalam arti kata masing masing memiliki ajarannya. Kalau boleh dimisalkan, itu seperti minyak dan air dalam satu wadah, walaupun tidak akan bersatu tetapi sebenarnya satu dan saling melengkapi, bisa jadi tasawuf dengan keaneka ragamananya adalah kekayaan Islam di ranah spiritual.

Adapun tentang wahdatul wujud, adalah merupakan ekpressi sufistik yang bisa dijangkau atau dipahami secara transendental yang umumnya tidak sembarangan dipaparkan di kalangan awam, biasanya pengajaran ini melalui suatu tharekat yang mengajarkan tahap demi tahap (maqamat) sampai memahami dan merasakan (dzauq). Untuk memahami ilmu hakikat, biasanya di awali dari Syariat, Tharikat, Hakikat sampai memahami akan makrifat (gnostik).

Tataran wahdatul wujud ini sudah masuk ke pemahaman makrifat, yang mana sudah tidak lagi menggunakan nalar atau akal fikiran, tetapi melalui peningkatan kesadaran. Kalau di ibaratkan, nalar adalah bumi, sementara makrifat adalah langit, tentunya membahas suatu langit kita harus berimijinasi dan berempathi tentang langit terlebih dulu, tidak semerta-merta menolak karena langit bukanlah bumi, atau mudah memurtadkan orang karena itu adalah kepicikan diri yang tak mampu mencerap, karena hakikat kebenaran adalah milik Yang Haq, dan yang memiliki hak prerogatif itu adalah Sang Haq itu sendiri.

Tetapi memahami Wahdatul Wujud ini memang sulit karena akan menjerumuskan di kalangan awam, banyak martir yang digantung oleh karenanya, tengoklah Al Hallaj di Baghdad atau Syekh Siti Jenar dengan konsep Manunggaling Kawula Gustinya di Nusantara ini.


Salam

Rabu, 02 November 2011

Sohbah Istimewa Buat Habib Ali Al-Jufri

by MADADULHAQQ on MAY 22, 2011

in ARTIKEL

Sohbah Istimewa Buat Habib Ali Al-Jufri

Sohbah Istimewa Buat Habib Ali Al-Jufri

Sohbah Istimewa Buat Habib Ali Al-Jufri

Sulthan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil qs

Lefke Cyprus, 23 November 2010

A’uzubillah himinash shaitan nirrajeem. Bismillah-hir Rahman-nir Rahim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Suhbah ini khusus diberikan kepada yang mulia Habib Ali Al Jufri, ketika beliau mengunjungi Maulana di Lefke. Maulana memberikan Suhbah mengenai Sultanul Arifin, Sayyidina Abu Yazid Al Bistami (QS), Syekh Agung yang merupakan Mursid ke enam dari urutan Thariqat Naqshbandi, yang Maqamnya berada di Damascus, meski sebagian orang berkata bahwa maqam beliau berada di Iran.)

Maulana Syaikh Nazim qs: Setiap manusia pasti merasakan ketakutan dan cemas akan Hari Pembalasan. Siapakah yang tidak merasa gentar saat diadili di hadapan Tuhan Yang Maha Esa pada Hari itu. Hati Sayyidina Abu Yazid Al Bistami qs (semoga Allah selalu meninggikan kedudukan beliau dan memelihara rahasia beliau) selalu mengharap-harap akan tibanya Hari tersebut.

Beliau berkata,”Aku selalu menanti Allah memanggil namaku pada Hari itu! “Oh Aba Yazid!” Tuhanku akan memanggil namaku pada Hari itu, apalagi yang lebih aku inginkan? Setelah Dia memanggil namaku, bahkan jika Dia melontarkanku ke neraka selepas itu, tidak mengapa, aku tidak akan takut akan api neraka, sebagaimana aku tidak akan merasakan kebahagian bahkan bila Dia memberiku seluruh syurga dibandingkan dari kenikmatan yang aku alami saat Dia memanggil dan menyebut namaku.

“Adalah satu kehormatan luar biasa, sungguh nekmat dan indah, bagiku ketika mendengar Dia menyebut namaku! Dan ketika Dia mengadiliku, Dia akan bertanya, apa yang aku perlukan setelah ini, aku akan menjawab,”Aku tidak memerlukan apapun, kenikmatan ini sudah cukup Yaa Allah dari zaman azali (pra keabadian) hingga keabadian, mendengar Tuhanku menyebut namaku.’ Karena Allah, Zat Nya, Kalam Nya, adalah abadi di telingaku, dan aku akan selalu mendengar Dia menyebut namaku. “Oh! hamba KU, oh! hamba KU, oh! hamba Ku, oh! Aba Yazid.” Hanya itu yang aku perlukan, aku tidak menginginkan syurga, aku tidak takut api neraka, cukuplah mendengar Tuhan ku yang Maha Esa menyebut namaku sementara aku bukanlah siapa-siapa….”

Kedudukan semacam apa ini, Maqam seseorang yang hanya menginginkan Allah? Wahai hamba Allah, selalulah bersama Allah, kemudian Allah akan mendukungmu.

Habib Ali Jufri : Kami memohon ampunan dan ketulusan.

Maulana Syaikh Nazim qs : Siapalah saya ini (untuk mengabulkan sesuatu)? Tidakkah kita mempunyai Nabi (SAW) (sehingga engkau meminta ini dariku?) Apakah Allah swt tidak akan membahagiakan Rasulullah (SAW) (dengan memberikan pengampunan dan perlindungan pada umatnya)? Sungguh, Rasulullah (SAW) akan bersedih bila beliau bahkan hanya kehilangan satu umatnya karena dilempar ke dalam neraka, jadi akankah Dia mencampakkan salah seorang hamba Nya ke dalam neraka?

Habib Ali Jufri : Benar, Allah telah menjanjikan Rasulullah (SAW) untuk tidak mengecewakannya. Saya memohon keridhoan dan ampunan karena saya malu terhadap Allah.

Maulana Syaikh Nazim qs : (menjawab dengan lembut) Apakah kita benar-benar merasa malu (dalam segala realitas)? Kesopanan telah lama disingkirkan dari muka bumi (tatkala Jibril (AS) datang untuk menyingkirkan Haya (Rasa malu) dari bumi, orang-orang dahulu malu untuk berbuat dosa di hadapan Allah, namun kini tidak lagi orang-orang malu berbuat dosa

Habib Ali Jufri : Kami memohon (pengetahuan dan bimbingan), ya Syekh.

Maulana Syaikh Nazim qs : Rasulullah (SAW) pernah bertanya pada Allah,”Kurniakan aku Umat ini,” dan Allah menjawab,”mereka adalah Ummat yang diampuni, diselubungi dengan rahmat. Aku telah menganugerahkanmu Ummatmu, wahai Nabiku yang tercinta (SAW).” Kita adalah umat yang dicintai, umat yang diampuni. Jika kamu punyai empat puluh anak, apakah kamu dapat menerima bahkan bila salah satunya diambil oleh Sultan? Apakah hal tersebut dapat memberikan ketenangan dihatimu?

Habib Ali al Jufri : Tidak.

Maulana: Rasulullah (SAW) adalah Rahmat bagi semua ciptaan, Allah akan menganugerahkan beliau sehingga hatinya puas. Allah akan berkata kepada Rasulullah (SAW),”Hingga hatimu berasa amat puas, hingga hatimu rela, katakan apa saja yang engkau maukan, wahai kekasihku Ku!” (dan Rasulullah (SAW) tidak akan berasa puas sehingga kesemua orang beriman, diselamatkan oleh Allah.)

Habib Ali al Jufri : Allah berfirman dalam Kitab Suci Al Quran

وَلَسَوۡفَ يُعۡطِيكَ رَبُّكَ فَتَرۡضَىٰٓ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (Surah Ad-Duha 93:5)

Maulana Syaikh Nazim qs : Siapakah kita ini? Kita ini hanya semut di mata Allah. Jika semut berbuat salah/silap, apakah kita marah dan terganggu karenanya? Apakah hal itu membebani kita?

Habib Ali Jufri : Tentu saja, tidak!.

Maulana Syaikh Nazim qs : Karenanya pahami ini, karena ini adalah jalan menuju kepada kebahagiaan. (ya itu, kita harus gembira memiliki Tuhan yang pengampun, kita tidak boleh berputus harapan pada rahmat dan ampunan Allah, Dia selalu mengampuni orang beriman yang bertobat, karenanya kita harus gembira.)

Habib Ali al Jufri : Syekh (Maulana) adalah pintu bagi kami menuju kebahagiaan. Dalam sebuah hadis, Nabi saw berkata,”Kabarkan kebahagiaan dan rahmat, untuk membahagiakan hati manusia.” (Maulana selalu membuat orang bahagia, beliau berkata, sudah terlalu banyak kesedihan di muka bumi, bawalah kebahagiaan pada hati mereke dan sembuhkan sakit mereka.)

Maulana Syaikh Nazim qs : Bukankah Allah yang maha pengampun? Siapa yang Dia ampuni? Apakah ampunan itu untuk Nabi (SAW)? Tentu sahaja tidak. Ampunan Nya adalah buat pendosa! (Makanya siapa-siapa yang berbuat dosa tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Nya, karena Allah berfirman,”Rahmat Ku lebih luas dari kemurkaan Ku.”)

إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحً۬ا مُّبِينً۬ا. لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ ۥ عَلَيۡكَ وَيَہۡدِيَكَ صِرَٲطً۬ا مُّسۡتَقِيمً۬

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus (Surah Al-Fath 48:1-2)

Maulana Syaikh Nazim qs : Dosa-dosa di masa lampau dan masa depan, telah diampuni (bagi siapa-siapa yaang benar-benar bertobat). Apakah kamu mengira seseorang dapat melalui pengawasan dan pengadilan Allah? Tidak seorangpun pantas berdiri di hadapan Nya dan diadili! (maka carilah ampunan sebelum menghadapi Nya.)

Habib Ali al Jufri : kami gembira andaikan kami menjadi seperti Anda dan bersama anda (Maulana) di dunia ini dan di akhirat kelak. Ini telah diatur sejak Hari Alastu birrabbikum, Hari Perjanjian! (setiap orang Suci punya murid, dan akan menemani murid-murid mereka menuju Keabadian, jadi Habib merasa nyaman bersama Maulana, karena setiap domba harus bersama gembalanya agar aman dari serigala.)

Maulana Syaikh Nazim qs: Qalu bala! Alhamdulillah! Ini telah ditetapkan sejak Hari Perjanjian. Kami adalah hamba padaNya, kami adalah hambaNya. Dia tidak akan melemparkan kami ke neraka, bersyukurlah pada Allah karena hal itu. Tetapi kita harus berwaspada akan satu hal. Nabi bersabda,”Allah telah mengajarkanku dengan adab yang terbaik.” Jadi barang siapa yang memiliki adab terbaik, akan berada di hadapan Allah, namun siapa-siapa yang beradab buruk, dengan sikap seperti hewan, akan ditempatkan dimana mereka dapat memenuhi nafsu badani, makan dan minum. (Jadi meskipun semua umat Muhammad pada akhirnya akan diselamatkan, ada beberapa jenis syurga yang berbeda untuk mereka, ada yang dekat dengan Allah, yang lain, jauh. Nabi SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, kita tidak boleh puas hanya dengan melakukan ajaran-ajaran paling minimum dalam Islam, kita harus berusaha menjadi yang paling depan dalam keimanan, yang terbaik dari semua orang beriman! Karena orang-orang beriman jenis ini yang nanti paling dekat dengan Allah, selamanya).

وَكُنتُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا ثَلَـٰثَةً۬ (٧) فَأَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ مَآ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَيۡمَنَةِ (٨) وَأَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ مَآ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡمَشۡـَٔمَةِ (٩) وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلسَّـٰبِقُونَ (١٠) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلۡمُقَرَّبُونَ (١١

Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman,merekalah yang paling dulu (masuk syurga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepadaAllah). (Surah Al-Waqi’ah 56:7-11)

Maulana Syaikh Nazim qs: Semua orang tahu bahwa binatang tidak akan diadili. Bayangkan bila anda seorang petani. Bila seekor binatang tersesat di ladang lalu memakan tanaman, anda tentu akan mengadu ke hakim tentang apa yang terjadi, agar mendapatkan ganti dari kerugian. Akankah sang hakim meminta sang binatang untuk dibawa menjadi saksi dan memberikan kesaksian di pengadilan?

Habib Ali al Jufri : Tentu tidak.

Maulana Syaikh Nazim qs: Jadi, siapa yang akan dibawa ke pengadilan? Pemilik binatang, sang gembala. Begitu banyak manusia seperti binatang (ternak) bila dilihat dari kelakuan/atribut/sifat. Binatang ternak tidak pernah diberi tanggungjawab. Manusia sekarang mempunyai sifat seperti binatang, sekarang ini, setiap orang hidup tanpa akal sehat, tanpa tanggungjawab-sepertinya binatang! (Jadi kita harus mencari gembala, seorang ‘pengacara’ yang dapat membela kita di pengadilan Tuhan,kita harus mencari seorang Pembimbing! (Barang siapa yang tidak punya seorang Syekh, akan mengambil ego/syahwatnya sebagai pembimbing mereka.)

أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَڪِيلاً. أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَڪۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَ‌ۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ‌ۖ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلاً

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (Surah Al-Furqan 25:43-44)

Habib Ali al Jufri : Jadi kita bukan siapa-siapa melainkan binatang, ya Syekh!

Maulana Syaikh Nazim qs : Jika kita bisa berubah, menanggalkan sifat binatang kita, kita tidak akan lagi menjadi binatang, kita akan dapat mencapai tempat kita di syurga, kita menjadi bagian dari manusia malakuti, manusia surgawi. Jadi kita harus menyingkirkan kelakuan buruk kita, kita harus berusaha menjadi baik. Seseorang tanpa kelakuan baik seperti binatang, tidak dapat memegang tanggung jawab. (Orang yang berkelakuan buruk ditempatkan di kandang kuda jauh dari Istana. Namun orang yang bersih, berkelakuan baik, akan diizinkan masuk istana, duduk bersama Raja!)

Al-Fatihah.

Wa min Allah at Tawfiq

kiriman dari Haqiqat Al huda (Sy. Erawan Yusron)

Kata-Kata Mutiara Maulana Syaikh Nazim


Kata-Kata Syekh Nazim QS

Tentang Keesaan Tuhan Yang Khas, Syekh Nazim QS mengatakan bahwa mustahil adanya kemajemukan:

- Keesaan yang unik dari Dzat-Nya; Dzat-Nya tidak berlipat atau tidak merupakan gabungan dari dua bagian atau lebih, dan tidak ada yang mirip dengan Dzat Ilahiah-Nya.

- Keesaan akan Sifat-Sifat-Nya, artinya Allah SWT tidak memiliki dua sifat yang mewakili sesuatu yang sama. Sebagai contoh, Dia tidak mempunyai dua Kehendak. Dia Satu dalam segala sifat-Nya.

- Keesaan dalam segala Tindakan-Nya; berarti Dia-lah Sang Pencipta dari Kehendak-Nya sendiri dan dari Takdir-Nya sendiri atas segala yang nampak di jagad raya ini. Seluruh ciptaan-Nya baik itu dari substansi, alasan ataupun perbuatan, adalah hasil kerja-Nya yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya.

******************************************************************************************

Jika cinta itu benar, maka si pecinta harus menjaga kehormatan dan bertingkah laku yang seharusnya, bagi Dia, Yang dicintainya.

Keyakinan tertinggi dari kebenaran adalah ketika Syekh memuji hadirat-Nya di dalam mata kalian dan membatasi hal-hal lain selain Allah SWT.

*****************************************************************************************
Ada 3 naga besar yang dapat merusak manusia:

1. tidak toleransi dan tidak sabar dengan orang-orang di sekitar kalian,

2. menjadi terbiasa dengan sesuatu yang tidak bisa kalian tinggalkan,

3. dan dikontrol oleh ego kalian.

Meraih kehormatan di dunia ini adalah tindakan memalukan. Kehormatan adalah meraih kehidupan akhirat. Saya heran pada mereka yang memilih memalukan diri sendiri demi kehormatan.

Bila Allah SWT membuka esensi Cinta Ilahiah-Nya, semua orang di bumi ini akan mati karena cinta itu.

***************************************************************************

Kita harus selalu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. merenungkan ayat-ayat Allah SWT dalam kitab suci al-Qur’an dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat menjadikan cinta berkembang dalam hati kita.

2. Memikirkan segala janji dan pahala-Nya yang bisa membuat kita makin merindukan-Nya.

3. Memikirkan ancaman dan hukuman-Nya akan membuat kita makin malu pada-Nya.

****************************************************************

Allah SWT berfirman, “Siapapun yang sabar dengan kami maka akan berhasil mendekati Kami.”

Jika takut akan Allah SWT tertanam dalam hati, lidah tak akan mampu berkata-kata yang tidak ada manfaatnya.

Sufisme adalah penyucian terus-menerus menuju Hadirat Allah SWT. Esensinya adalah meninggalkan kehidupan materialistik ini.

Suatu saat Junayd QS melihat iblis dalam ‘penglihatannya.’ Setan itu telanjang. Junayd QS berkata, “Wahai setan yang terkutuk, tidakkah kamu malu terlihat telanjang oleh manusia?”Jawab setan, “Mengapa aku harus malu, sedang manusia pun tidak malu pada dirinya sendiri.”

Jika kalian bertemu dengan seorang pencari di jalan Allah SWT, dekati dia dengan ketulusan, kesetiaan dan kasih sayang. Jangan mendekatinya dengan ilmu. Ilmu akan membuat mereka liar pada awalnya namun kasih sayang akan membuat mereka cepat mendekatimu.

Seorang pencari seharusnya adalah mereka yang telah meninggalkan dirinya sendiri danmenghubungkan hatinya dengan Allah SWT.

Mereka berdiri di hadapan-Nya ketika melaksanakan kewajiban-kewajiban sambil membayangkan Dia dalam hatinya.

Nur Ilahi telah membakar hatinya yang membuat dia kehausan akan minuman ilahiah, membuka tirai matanya dan membuat dirinya melihat Tuhannya.

Jika dia membuka bibirnya, berbuat sesuatu atau menjadi damai itu atas perintah-Nya dan manifestasi dari sifat-sifat-Nya. Dia sedang berada dalam Hadirat-Nya dan bersama-Nya.

Seorang sufi adalah orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi SAW dan berusaha keras meningkatkan dirinya pada tingkat kesempurnaan yaitu Pengetahuan Allah SWT Yang Maha Kuasa dan Maha Agung.

Sufisme adalah sebuah pengetahuan dari mereka yang mempelajari tahapan umat manusia baik dari pujian maupun hinaan. Jika berupa hinaan, dia belajar untuk menyucikannya sehingga menjadi pujian dalam perjalanan-Nya menuju Hadirat Allah SWT.

Buah dari itu semua adalah berkembangnya qalbu akan: Pengetahuan tentang Allah SWT, melalui pengalaman langsung, keselamatan di akhirat kelak, tercapainya kenikmatan Ilahiah dan kebahagiaan abadi, pencerahan dan penyucian sehingga hal-hal luhur itu tersingkap dengan sendirinya, maqam-maqam terkuak dan dia memahami apa yang tidak terlihat bagi orang lain.

Sufisme bukanlah semacam penghambaaan tertentu, namun lebih pada melekatnya hati pada Tuhan. Penyatuan semacam itu tetap mengutamakan standard syariah, maka dia harus melaksanakannya. Itulah sebabnya kita temui para sufi melayani Islam dalam kapasitas yang luas dan beraneka ragam. Ulama Islam harus mendapat pendidikan lebih tinggi lagi akan sufisme.

Prediksi Syaikh Abdullah ad-Dagesthani mengenai Syaikh Nazim

Sebelum Grandsyekh `Abdullah QS wafat (30 September 1973), beliau menulis dalam wasiatnya:

Atas perintah Nabi Muhammad SAW, aku telah melatih dan meningkatkan ilmu penerusku, yaitu Nazim Effendi QSdan memerintahkan dia dalam berbagai khalwat dan latihan, maka aku menunjuk dia sebagai penerusku.

Di masa depan aku melihat dia akan menyebarkan Tarekat ini lewat Timur dan Barat. Tuhan akan membuat berbagai lapisan masyarakat, dari kaya, miskin, ulama dan politikus mendatanginya, belajar darinya dan masuk dalam Tarekat Naqsybandi, yaitu dari akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dan hal ini akan menyebar ke seluruh dunia, tak ada satu kepulauan pun yang terlewat akan manis dan harumnya.

Aku melihatnya mengokohkan dan mendirikan markas-markas besar di London di mana dari situ akan menyebarkan Tarekat ini di Eropa, Timur Jauh dan Amerika.

Dia akan menebarkan ketulusan, cinta, kepatuhan, harmoni dan kebahagiaan di tengah masyarakat. Mereka akan meninggalkan keburukan, terorisme dan politik.

Dia akan menebar pengetahuan akan perdamaian di dalam hati, komunitas-komunitas, dan negara-negara agar peperangan dan persaingan diangkat dari muka bumi dan perdamaian menjadi faktor yang mendominasi.

Aku melihat generasi muda mendatanginya dari berbagai penjuru meminta barakahnya. Dia akan mengajari mereka agar melaksanakan kewajiban agama Islam, hidup sederhana dan hidup damai dengan penganut agama apa pun, dan agar meninggalkan kebencian serta permusuhan.

Agama adalah bagi Allah SWT, dan Dia yang mengadili hamba-hamba-Nya.

Ramalan itu telah terjadi sebagaimana yang diterangkan Grandsyekh `Abdullah QS. Ketika Grandsyekh meninggal pada tahun 1973, Mawlana Syekh Nazim QS mengadakan perjalanan pulangnya yang pertama ke Turki, mengunjungi Bursa lalu ke London. Banyak generasi muda terutama pengikut John Bennet datang menemui beliau. Ketika mulai banyak orang berdatangan ingin mendengarkan nasihat beliau, maka didirikanlah pusat dakwah pertamanya pada tahun 1974.

Beliau melanjutkan kunjungan pertamanya di Inggris dan kepulauannya selama dan setelah masa Ramadan.Tarekat ini menyebar luas, menembus seluruh Eropa, Amerika, Kanada dan Amerika Selatan.

Beliau membuka 3 pusat dakwah di London untuk melatih spiritualitas bagi orang-orang, melenyapkan depresi dan menolong mereka menuju kedamaian di hati masing-masing.

Dakwah beliau berlanjut ke seluruh bagian Eropa, Afrika Utara dan Selatan, negara-negara Teluk, Amerika Utara dan Selatan serta kepulauan India, Asia tenggara, Rusia dan beberapa bagian di China, Australia serta Selandia Bar

Kalian mungkin tidak menemukan negara-negara yang kami sebutkan atau yang belum kami sebutkan di mana sentuhan Syekh Nazim QS belum terasa. Inilah perbedaan antara beliau dengan awliya-awliya lain yang masih hidup dan yang sebelumnya. Kalian akan menemui segala bahasa diucapkan di hadapan beliau.

Setiap tahun di bulan Ramadan, pertemuan besar para pengikut beliau diadakan di London yang dihadiri lebih dari 5.000 orang dari seluruh dunia. Seperti firman Allah SWT, “Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” [49:13]

Pengikut beliau berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Miskin, menengah, kaya, pengusaha, dokter, pengacara, psikiater, astronom, tukang pipa, tukang kayu, menteri, politikus, senator, anggota parlemen, perdana mentri, presiden, raja, dan dari berbagai kesultanan. Semua tertarik akan kesederhanaan, senyum, aura dan spiritualitas beliau.

Syekh Nazim QS terkenal sebagai Syekh multibudaya dan universal. Perkataan-perkataan dan ceramahnya dikumpulkan dan diterbitkan dalam berbagai buku termasuk serial Mercy Oceans dan lebih dari 35 judul lainnya. Ribuan rekaman video dan ribuan jam ceramahnya juga telah didokumentasikan.

Hidup beliau selalu terlihat aktif. Beliau seorang musafir di jalan Tuhan, tidak pernah menetap di rumah, selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Suatu hari beliau berada di Timur, besoknya berada di Barat. Kalian tidak akan tahu beliau akan berada di mana hari ini dan selanjutnya.

Beliau selalu menemui berbagai instansi untuk rekonsiliasi dan pemeliharaan lingkungan alam. Beliau selalumenanamkan benih-benih cinta, kedamaian dan keharmonisan di hati-hati umat manusia. Kami berharap dengan semangat ajarannya, seluruh agama akan berada dalam harmoni dan kedamaian.

Prediksi Syekh Nazim QS tentang masa yang akan datang adalah melanjutkan apa yang diramalkan oleh Grandsyekh `Abdullah QS. Dengan membeberkan kejadian sebelum terjadi, mengingatkan masyarakat dan membawa perhatian mereka akan hal yang akan datang.

Sering beliau mengatakan, “Komunisme akan berakhir, Uni Soviet akan terpecah menjadi negara-negara kecil.”Beliau juga meramalkan bahwa Tembok Berlin akan runtuh.


Rahasia Silsilah Emas Tarekat Naqsybandi berada di dalam tangannya. Beliau menggenggamnya dengan kekuatan yang sangat tinggi. Berkilau di semua tempat.


Semoga Allah SWT merahmati beliau, menguatkan beliau dalam pekerjaan sucinya.

Semoga Allah SWT mengirimkan lebih banyak kedamaian, barakah, keselamatan dan sinar atas Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat. Juga pada semua nabi, awliya khususnya hamba-hamba-Nyayang taat di dalam Tarekat Naqsyabandi dan semua Tarekat Sufi khususnya sahabat Allah SWT pada era kita, Syekh Nazim al-Haqqani QS.

Syaikh Muhammad Bahaa'uddin Naqshband (qs)

Maulana Syaikh Naqsyaband, Imam ut Thariqah adalah Pir. Pir berarti Imam. Imam berarti Tiang. Dia adalah Tiang utama Tarekat kita. Semoga Allah memberkati Beliau dan memberkati kita semua di dunia ini dan akhirat kelak. Maulana Syaikh Naqsyaband berkata “Thariqathun isthufal khalqa jamii-an”. Kita mencoba mengikut dan menjadi pengikut. Ini adalah cara yang mudah dan enak untuk menuju kekuatan.

Ada suatu mesin yang bekerja di depan rangkaian kereta api. Semua kerja yang berat dikerjakan oleh mesin itu. Dibelakang mesin itu ada beberapa gerbong yang bergabung bersama gerbong lainnya membentuk suatu rangkaian, tapi kekuatan utama berasal dari mesin itu, yaitu mesin yang berada didepan dalam rangkaian kereta api. Karena gerbong yang lain bergabung dengan mesin itu, mereka bergerak sesuai dengan arah dari mesin itu. Kemana saja mesin itu menuju rangkaian gerbong itu mengikuti. Walaupun rangkaian gerbong atau pengikut tidak punya kekuatan sendiri, tapi kemanapun mesin mengarah, mereka dapat menuju kesana juga. Mereka bisa juga berjalan menuju tempat tujuan mesin itu.

Karena itu, setiap Tarekat memiliki seorang Imam Tarekat. Imam-ut-Thariqah (Imam Tarekat) telah dikaruniai kekuatan untuk membawa kita dari asfala safiliina ilaa alaa illiyyiin, dari tingkatan terendah ke tingkatan tertinggi. Kalau hanya mengandalkan kemampuan diri kita sendiri mustahil kita bisa mencapainya. Anda tidak akan bisa terbang tanpa naik pesawat udara. Dengan menumpang pesawat udara Anda bisa menempuh perjalanan bahkan dari satu benua ke benua lainnya. Karena itu, Anda harus menggunakan sarana (tarekat) ini untuk beranjak dari maqam terendah Anda hingga ke maqam tertinggi yang mungkin dicapai.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lahir di desa Qasr al-Arifan dekat Bukhara pada tahun 711 H/1317 M. Beliau dikabarkan telah menunjukkan berbagai keajaiban yang luar biasa sejak masa kecilnya. Ketika Beliau masih muda, Muhammad Baba as Samasi, seorang Syaikh dari Tarekat Naqsyabandi memintanya datang dan untuk memenuhi permintaan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband berangkat ke kota Samas untuk berkhidmat kepada Maulana Syaikh Muhammad Baba as Samasi. Tentang kehidupan Beliau dalam periode ini Maulana Syaikh Bahauddin (ral), mengisahkan:

Bangun dari tidur setidaknya tiga jam sebelum subuh aku mengerjakan rangkaian shalat sunah dan setelah itu ketika dalam keadaan sujud aku memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberiku kekuatan untuk memikul Cinta Ilahiah Nya. Kemudian aku shalat subuh bersama Syaikh ku. Kelihatannya Syaikh mengetahui apa yang kuminta dalam sujudku, karena Beliau mengatakan kepadaku: Kamu harus mengubah apa yang kau minta dalam sujudmu, karena Allah Yang Maha Kuasa tidak suka hambaNya meminta kesukaran. Memang Dia memberi beberapa kesulitan kepada mahlukNya untuk menguji mereka. Hal ini berbeda. Seorang hamba tidaklah boleh meminta untuk diberi kesulitan-kesulitan karena hal ini tidak menunjukkan penghormatan kepada Allah. Karena itu ubahlah permohonan dalam sujudmu dengan berdoa “untuk hambaMu yang lemah ini wahai Tuhanku, karuniakanlah ridhoMu”.

“Sepeninggal Syaikh Muhammad Baba Samasi aku pergi ke Bukhara dan menikah disana. Aku tinggal di Qasr al-Arifan dekat tempat tinggal Syaikh Sayyid Amir Kulal dalam rangka berkhidmat kepada Beliau”. Menurut riwayat lama sebelumnya Syaikh Baba Samasi telah mengatakan kepada Sayyid Amir Kulal untuk mengasuh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband.

Maulana Syaikh Bahauddin (ral) mengisahkan pengalamannya. “Suatu ketika aku sedang melakukan khalwat bersama seorang kawan ketika tiba-tiba surga dan suatu pemandangan yang luar biasa ditampakkan didepanku. Dalam visi itu kudengar suara berkata “Tinggalkan semuanya dan datanglah ke Hadirat Kami sendirian”. Aku mulai gemetar dan lari meninggalkan tempat khalwat ke suatu tempat yang ada sungainya dan melompat ke dalam sungai itu. Aku mencuci pakaianku lalu shalat dua rakaat dengan cara yang aku belum pernah melakukan sebelumnya karena aku merasakan sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi. Terjadi Penyingkapan (futuh) di hatiku dan itu merupakan pembuka atas segala sesuatu. Seluruh alam semesta lenyap dan aku tidak sadar akan apapun selain sedang shalat dihadapan Hadirat Ilahi”.

Ada riwayat luar biasa lainnya yang dikisahkan Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral). Beliau bercerita “Pada tahap awal dari keadaan kertertarikanku aku ditanya mengapa aku menempuh jalan ini. Kujawab supaya aku mendapat kekuatan sehingga apapun yang kukatakan dan kuinginkan akan terwujud. Dijawab bahwa tidak bisa seperti itu, karena sesungguhnya apa yang Kami sabdakan dan yang Kami kehendaki adalah yang akan terjadi. Kujawab lagi bahwa aku tidak setuju dengan hal itu. Aku harus mampu berkata dan berbuat apapun yang kuinginkan, jika hal ini tidak bisa kudapat maka kenapa aku harus menempuh jalan ini? Lalu kuterima jawaban: tidak, sesungguhnya apapun yang Kami kehendaki Kami sabdakan dan apapun yang Kami kehendaki akan terwujud. Kujawab lagi apapun yang kukatakan dan kulakukan adalah jalan yang kutempuh. Setelah itu aku ditinggalkan sendirian.

Selama lima belas hari aku sendirian. Hal ini membuatku tenggelam dalam depresi yang mendalam. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara “Wahai Bahauddin seperti yang kau inginkan maka Kami mengaruniaimu apapun yang kau inginkan”. Aku memohon agar diberi jalan yang bisa langsung menuju Hadirat Ilahi. Lalu aku mengalami visi yang luar biasa dan mendengar suara yang mengatakan bahwa aku telah dikarunia apa yang kuminta”.

Kisah ini luar biasa karena biasanya orang patuh pada Perintah Ilahi dan tidak meminta pemenuhan keinginan mereka sendiri. Biasanya tindakan menolak untuk mematuhi Perintah Ilahi dan memaksa untuk mendapatkan apa yang diingini akan dianggap tidak adab. Walaupun pada awalnya ditolak, permohonan Maulana Syaikh Bahauddin (ral) akhirnya dikabulkan. Permohonannya dikabulkan mungkin karena Beliau memohon untuk kemaslahatan orang banyak dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Ada kisah lain yang tak kalah menariknya kala Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) diuji oleh Syaikh nya. Ini sungguh ujian yang berat. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menuturkan kejadian ini. “Suatu ketika aku berada dalam tarikan Ilahiah yang begitu kuat sehingga aku tidak sadar akan diriku dan berjalan tanpa menyadari apa yang kulakukan. Ketika malam tiba kulihat kedua kakiku berdarah akibat luka sobek dan tertusuk duri. Lalu kurasakan bahwa aku harus pergi ke rumah Syaikh ku, Sayyid Amir Kulal. Malam itu terasa sangat dingin dan gelap tanpa ada bulan dan bintang sama sekali. Untuk melawan dinginnya malam aku hanya mengenakan jubah tua terbuat dari kulit. Ketika sampai di rumah Syaikh ku, kulihat Beliau sedang bersama teman-teman dan para pengikut Beliau. Ketika Syaikh melihatku Beliau memerintahkan pengikutnya untuk mengusirku keluar dari rumah. Syaikh ku tidak suka aku berada di dalam rumahnya. Pengikut Syaikh mendatangiku dan membawaku keluar dari rumah. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.

Terasa egoku akan mengalahkanku dan mengambil alih kendali perasaanku dengan mencoba meracuniku dengan menggoyah keyakinanku yang tulus pada Syaikh ku. Bagaimana aku bisa menanggung malu dan rasa terhina seperti ini? Lalu Rahmat Ilahi datang kepadaku sehingga aku mampu menanggung ini semata-mata hanya demi Allah dan demi Syaikh ku. Dengan tegas kukatakan pada egoku bahwa aku tidak akan membiarkan egoku membuatku kehilangan cinta dan keyakinanku pada Syaikh ku.

Lalu kurasakan depresi yang mendalam melandaku. Langsung kuarahkan diriku pada keadaan kerendahan hati, meletakkan kepalaku didepan pintu masuk rumah Syaikh dan berjanji bahwa aku tidak akan bergerak dari keadaan seperti itu sampai Beliau menerimaku lagi. Terasa salju dan angin dingin menyusup tulang yang membuatku menggigil dan gemetar menahan dinginnya malam yang kelam. Bahkan tak tampak cahaya bulan dan bintang sedikitpun pun untuk membuatku sedikit nyaman dan hangat. Tubuhku nyaris membeku. Hanya hangatnya cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kepada Syaikh ku saja yang menghangatkanku.

Aku menanti dengan tetap dalam keadaaan seperti itu hingga pagi hari. Lalu Syaikh ku melangkah keluar rumah dan tanpa melihatku kakinya menginjak kepalaku. Ketika Syaikh melihatku, dengan cepat dibawanya aku masuk ke dalam rumahnya dan dengan telaten serta penuh perhatian Beliau mencabuti duri dari kakiku. Beliau berkata “Wahai anakku, hari ini kau telah dihiasi dengan busana kebahagiaan dan Cinta Ilahi. Busana yang menghiasimu ini belum pernah dikenakan oleh siapapun, baik diriku maupun Syaikh-syaikh sebelumku. Allah dan Nabi Muhammad (sal) telah ridho kepadamu. Demikian juga Para Auliya dalam silsilah Rantai Emas, mereka semua telah ridho kepadamu”.

Sambil mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh luka di kakiku, Syaikh ku menuangkan kedalam hatiku pengetahuan yang belum pernah kualami sebelumnya. Lalu dalam visiku kulihat diriku memasuki rahasia dari Muhammadur RasuluLlah. Ini berarti memasuki rahasia dari ayat yang merupakan Realitas Muhammad. Setelah itu membawaku memasuki rahasia dari la ilaha illaLlah yang merupakan rahasia dari Keesaan Allah. Kemudian membawaku memasuki rahasia-rahasia dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa yang berada dalam rahasia dari Keesaan Allah. Tidak mungkin kata-kata bisa menerangkan keadaan yang kualami ini. Hal ini hanya bisa dialami dengan merasakannya melalui qalbu”.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) dididik oleh Syaikh Baba as Samasi dan Syaikh Sayyid Amir Kulal, keduanya merupakan figur Syaikh terkemuka dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi. Beliau juga dididik langsung oleh Grand Syaikh terkemuka lainnya dari Rantai Emas yang sama (yang hidup tidak sejaman dengan mereka). Kejadian ini dikisahkan oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband dalam tuturan berikut: Pada awal mula langkahku menempuh Jalan Sufi aku biasa berjalan-jalan dimalam hari dari satu tempat ke tempat lain di desa Bukhara. Untuk belajar dari mereka yang sudah meninggal dunia aku banyak mengunjungi kuburan di kegelapan malam dan ini biasanya juga kulakukan di musim dingin. Suatu malam aku pergi mengunjungi makam dari Syaikh Ahmad al Kashghari dan membaca fatihah untuk Beliau. Di makam Beliau kutemui dua orang yang sedang menantiku. Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya. Mereka disertai seekor kuda. Mereka mendudukanku diatas pelana kuda itu dan mengikatkan dua buah pedang di pinggangku, lalu menuntun kuda ke makam dari Syaikh Mazdakhin. Kami lalu turun dari kuda dan memasuki makam dan mesjid dari Syaikh ini dan mulai melakukan meditasi (murakabah).

Dalam keadaan murakabah kulihat dalam dalam visiku tembok yang menghadap Ka’bah runtuh. Seorang laki-laki bertubuh raksasa kulihat sedang duduk diatas singgasana yang sangat besar. Aku merasa sangat familiar dengannya, sepertinya aku telah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Kemanapun aku menghadapkan wajah kulihat orang ini. Disekeliling orang ini ada Syaikh Baba Samasi and Sayyid Amir Kulal berkumpul bersama dengan sekelompok besar orang yang hadir. Aku merasakan rasa cinta yang mendalam kepada laki-laki bertubuh besar ini dan pada saat bersamaan merasa takut padanya. Sosoknya memesona sekaligus menakutkanku dan keindahannya penampilannya menimbulkan rasa cinta dan ketertarikan. Aku bertanya pada diriku sendiri siapa sebenarnya lelaki agung dan bertubuh besar ini. Tiba-tiba kudengar seseorang yang berada disekitar lelaki itu berkata “Orang ini adalah Syaikh mu dan dialah yang menjagamu dalam jalur spiritualmu. Dia mengawasi jiwamu sejak masih berupa sebuah atom di Hadirat Ilahi. Kau telah dilatihnya selama ini. Namanya adalah Abdul Khaliq Al Gujduwani dan kumpulan orang yang terlihat disekelilingnya adalah para Auliya yang membawa rahasia-rahasia besarnya, rahasia-rahasia dari Rantai Emas”. Lalu Syaikh Abdul Khalik mulai menunjuk masing-masing Syaikh yang ada disitu dan berkata “Ini adalah Syaikh Ahmad, ini Arif ar-Riwakri, ini Syaikh Ali ar-Ramitani, ini Syaikh mu Baba as Samasi yang memberimu jubah semasa hidupnya”. Dia bertanya padaku “Apakah kau mengenalnya?”. Kujawab “Ya”. Lalu Beliau berkata “Jubah yang diberikannya kepadamu masih berada dirumahmu dan dengan perkenan Syaikh mu maka Allah Yang Maha Kuasa telah menghapus banyak kesulitan-kesulitan yang semestinya menimpamu”.

Lalu terdengar suara lain yang berkata ”Syaikh yang duduk diatas yang singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang kau butuhkan dalam menempuh jalan sufi ini”. Aku bertanya kepada mereka apakah aku diperbolehkan menyentuh tangan Beliau. Setelah diijinkan aku memegang tangan Beliau. Lalu Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani mulai mengajariku tentang jalan sufi, permulaannya, pertengahan dan akhirnya. Beliau berkata “Kau harus menyesuaikan sumbu hakikat dirimu sehingga cahaya yang tak kasat mata akan diperkuat didalam dirimu dan rahasia-rahasianya menampak. Kau harus menunjukkan istiqomah dan harus menjaga Syariah Suci dari Nabi Muhammad (sal) pada apapun keadaanmu”.

Beliau juga berkata “Kau harus meninggalkan kesenangan hidup duniawi dan menjauhi perbuatan bid’ah dan pusatkan dirimu hanya pada sunah-sunah Nabi Muhammad (sal). Kau harus menghayati dan menyelami peri kehidupan Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Kau harus mengajak orang untuk membaca dan mengikuti tuntunan Qur’an baik siang maupun malam dan menegakkan shalat wajib serta semua ibadah sunah. Jangan sekali-kali memandang rendah bahkan pada hal-hal kecil dari perbuatan dan amal shalih Nabi Muhammad”.

Begitu Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujduwani (ral) menyelesaikan ucapannya, wakil Beliau berkata padaku ”Agar kau yakin bahwa visi yang kau lihat ini benar adanya Beliau akan mengirimu suatu pertanda”. Dijelaskan bahwa hal-hal dan kejadian-kejadian tertentu akan terjadi sebagaimana mustinya terjadi dan pada saat yang telah ditentukan. Demikianlah kejadian-kejadian itu terjadi persis sebagaimana telah dikatakan kepada Maulana Syaikh Bahauddin (ral) yang kemudian juga berbuat persis sebagaimana Beliau diperintahkan, hal ini membuktikan kebenaran visi yang dialami Maulana Syaikh Bahauddin (ral). Beliau juga diminta untuk memberikan jubah Azizan kepada Sayyid Amir Kulal (ral). “Setelah visi itu berakhir aku pulang kerumah dan mencari jubah itu dan bertanya kepada keluargaku dimana adanya jubah itu. Mereka mengatakan kepadaku bahwa jubah itu sudah berada disana sejak lama, sambil membawa jubah itu dan menyerahkannya kepadaku. Aku mulai menangis didalam hati ketika melihat jubah itu”.

Setelah memenuhi segala hal yang dikatakan dalam visiku, sebagaimana diperintahkan aku membawa jubah Azizan ke Syaikh Sayyid Amir Kulal (ral) dan memberikan padanya. Setelah terdiam beberapa saat Syaikh Amir Kulal berkata padaku “Aku diberitahu tentang jubah Azizan ini semalam yaitu bahwa kamu akan membawa dan menyerahkannya padaku. Aku diperintahkan untuk menyimpannya dalam sepuluh lapis selubung yang berbeda“. Beliau lalu memintaku masuk ke dalam kamarnya dan mengajarkan serta menempatkan didalam hatiku zikir tanpa bersuara. Aku diminta untuk terus menerus berzikir seperti itu siang dan malam. Aku terus mengamalkan zikir ini yang merupakan bentuk tertinggi dari zikir.

Aku juga berguru kepada ulama-ulama lain untuk belajar Syariah dan sunah-sunah Nabi Muhammad (sal) dan juga mengkaji sifat-sifat Nabi Muhammad (sal) dan para sahabatnya. Sejak aku melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dalam visiku, hidupku mengalami perubahan besar. Semua yang diajarkan oleh Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) dalam visi itu bermanfaat bagiku dan membuahkan hasil. Ruh Beliau selalu menyertaiku dan mendidikku. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) adalah salah satu dari beberapa Guru/Syaikh dari Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) walaupun Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) hidup dimasa sebelum jaman Maulana Syaikh Naqsyaband (ral). Hubungan ini dalam dunia sufi dikenal sebagai Hubungan Uwaisy, yang berarti bimbingan dan hubungan spiritual terjadi walaupun masing-masing berasal dari jaman yang berbeda. Syaikh Abdul Khaliq Al Gujduwani (ral) juga merupakan salah satu Syaikh dari Rantai Emas Tarekat Naqsyabandi.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengikuti dan belajar pada Mawlana Arif ad-Din Karani selama tujuh tahun. Setelah itu Beliau mengikuti Maulana Kuthum Syaikh selama beberapa tahun. Beliau juga menyertai seorang darwis bernama Khalil Ghirani yang tentangnya Beliau berkata “Selama menyertai Syaikh Khalil Ghirani banyak pengetahuan baru yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap di hatiku dan Beliau selalu menjagaku, memujiku dan mengangkat derajatku”. Ada Kekasih Allah lainnya yang disebut oleh Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) “Beliau memerintahkanku untuk menolong dan melayani orang miskin dan menolong mereka yang sedang hancur hatinya. Beliau memintaku untuk rendah hati dan bersikap toleran. Beliau juga mengatakan padaku untuk menyayangi hewan-hewan dan menyembuhkan sakit dan luka mereka dan memberi mereka makanan”.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqshband (ral) mengisahkan tentang kejadian lain yang masih berhubungan dengan jubah Azizan. “Suatu hari aku sedang berada di kebunku dan dikelilingi oleh murid-muridku. Aku mengenakan jubah Azizan. Tiba-tiba aku diliputi oleh rahmat dan tarikan surgawi dan kurasakan diriku dihiasi dengan busana sifat-sifat Allah Yang Maha Kuasa. Kurasakan diriku mulai gemetar sedemikian rupa yang tak pernah kualami sebelumnya sehingga aku tak mampu lagi berdiri. Lalu tampak olehku visi yang luar biasa dimana keberadaanku sama sekali lenyap (fana) dan aku tidak melihat apapun kecuali Wujud Tuhanku.

Lalu kulihat diriku keluar dari Hadirat Ilahiah-Nya yang tampak terpantul dari cermin Muhammadur RasuluLlah yang berbentuk sebuah bintang dalam samudra cahaya tanpa batas. Wujud luarku lenyap dan kusaksikan makna sesungguhnya dari la ilaha illaLlah Muhammadur Rasulullah. Kemudian kusaksikan makna sejati dari nama-nama Allah yang kemudian membawaku kepada Yang Maha Ghaib yang merupakan esensi dari nama Allah ‘Huwa” (Dia). Begitu aku memasuki samudra ini jantungku berhenti berdetak dan hidupku berakhir. Aku berada dalam keadaan mati. Semua orang yang berada disekelilingku mulai menangis karena mengira aku sudah meninggal dunia. Akan tetapi setelah kitra-kira enam jam aku diperintahkan untuk kembali ke ragaku. Aku bisa menyaksikan ruhku kembali memasuki ragaku perlahan-lahan dan visi itu berakhir”.

Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) juga mengatakan kalau Beliau menerima rahasia-rahasia spiritual dari berbagai pihak dan khususnya dari Uways al-Qarani (ral) yang memberi pengaruh besar dalam hal meninggalkan keduniawian dan melekatkan diri Beliau kepada hal-hal spiritual (ukhrowi). Beliau berkata “Aku melakukan ini dengan menjaga sunnah dan perintah-perintah Nabi Muhammad (sal) sampai aku mulai menyebarkan hikmah dan dikarunia rahasia-rahasia Ilahiah dari yang Maha Esa yang tidak pernah diberikan pada seorangpun sebelumku”

Ada kisah menarik lainnya yang dituturkan oleh Wali Agung Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) mengenai kekuatan spiritual Beliau. Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) berkata: Suatu hari aku pergi ke gurun bersama salah satu muridku yang tulus yang bernama Muhammad Zahid. Kami mulai menggali tanah dengan menggunakan sebuah beliung (alat untuk menggali) dan pada saat bersamaan juga sambil membicarakan secara mendalam tingkatan-tingkatan pengetahuan. Sambil terus mengayun beliung pembicaraan kami terus berlangsung dan semakin mendalam. Lalu tiba-tiba muridku bertanya “Sampai batas apakah pencapaian ibadah?”. Kujawab ”Peribadatan mencapai suatu tingkatan dimana kau mampu menunjuk pada seseorang dan berkata “Matilah” dan lalu orang itupun mati”. Ketika aku sedang mengatakan itu tanpa sadar sambil telunjukku menunjuk pada Muhammad Zahid. Ketika kukatakan kata “Mati” terjadilah hal yang mengerikanku yaitu muridku jatuh dan meninggal dunia. Waktu terus berlalu dari pagi sampai tengah hari dan muridku masih dalam keadaan mati. Pada saat tengah hari terasa sangat panas dan jenasah muridku mulai semakin memburuk karena panas yang sangat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan merasa takut serta kebingungan. Yang bisa kulakukan adalah membawa jenasahnya ketempat teduh dibawah pohon. Aku lalu duduk mulai berfikir dan merenung akan apa yang harus kulakukan dalam situasi ini. Tiba-tiba muncul Ilham dalam pikiranku dan aku berkata sambil menunjuk pada jenasah muridku “Wahai Muhammad Hiduplah!” tiga kali. Timbul rasa legaku ketika perlahan-lahan nyawanya kembali ke tubuhnya dan secara bertahap muridku kembali ke kesadarannya. Dengan bergegas aku menemui Syaikh ku dan menceritakan kejadian itu. Syaikh ku kemudian berkata “Wahai anakku, Allah Yang Maha Kuasa telah memberimu suatu rahasia yang tak pernah diberikannya kepada siapapun”.

Dihari-hari akhir masa hidupnya Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) lebih sering mengurung diri di kamarnya. Banyak orang yang datang mengunjungi Beliau. Semakin banyak orang yang berkunjung ketika sakit Beliau semakin parah. Saat ajal Beliau makin dekat, Beliau memerintahkan agar dibacakan Surah Yaasin. Selesai dibacakan Surah Yaasin Beliau mengangkat tangan sambil membaca Dua Kalimah Syahadat, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad (sal) adalah Utusan Allah. Dengan Syahadat ruh suci Beliau kembali kepada Allah. Ketika itu tanggal 3 Rabiul Awwal, 791 H/1388 M, pada hari Senin malam. Sesuai permintaannya Beliau dimakamkan di taman miliknya. Mengenai kejadian ini seorang Wali Agung masa itu Abdul Wahab asy-Syarani berkata: Ketika Syaikh dimakamkan di makamnya terbukalah untuk Beliau sebuah jendela ke surga, sehingga makamnya menjadi sebuah taman surga. Dua mahluk spiritual berpenampilan memesona datang dan memberi salam kepada Beliau sambil berkata “Kami telah menanti sekian lama untuk melayani Anda sejak Allah menciptakan kami dan sekarang waktunya telah tiba bagi kami untuk melayani Anda”, terhadap ucapan ini Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral) menjawab “Aku tidak butuh apapun selain Dia. Aku tidak butuh kamu, aku butuh Dia”. Dengan cara seperti itu Beliau mangkat.

Itulah kisah kebesaran dari Pir atau Tiang dari Tarekat Naqsyabandi yang mulia. Tarekat ini sebelum jaman Beliau dikenal sebagai Tarekat Siddiqiyah. Setelah Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral), tarekat ini dikenal sebagai Tarekat Naqsyabandiyah.

Semoga Allah merahmati Maulana Syaikh Bahauddin Naqsyaband (ral).

Amiin.

siapakah syeikh muhammad nazim



Nama lengkap Maulana adalah Muhammad Nazim ‘Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi al-Salihi al-Hanafi q.s., semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati nenek moyangnya. Kunya (nama panggilan) beliau adalah Abu Muhammad dari nama anak laki-laki tertua beliau selain itu beliau pula adalah ayah dari Bahauddin, Naziha, dan Ruqayya.Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Cyprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tartar. Ayah beliau adalah keturunan dari Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani q.s dan ibu beliau adalah keturunan dari Maulana Jalaluddin ar-Ruumi q.s. Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad s.a.w., dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, r.a dari sisi ibundanya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Cyprus, Maulana melanjutkan pelajarn ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai Sarjana Teknik Kimia. Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh, di bawah bimbingan Syaikh Jamal al-Din al-Alsuni q.s. (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau. Maulana juga belajar tasawwuf dan Thariqat Naqsybandi dari Syaikh Sulayman Arzarumi q.s. (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syam (Syria).Maulana melanjutkan pelajaran Syari’ahnya ke Halab (Aleppo) Hama, dan terutama di Homs. Beliau belajar di zawiyya dan madrasah masjid sahabat besar Sayyidina Khalid ibn Al-Walid r.a. di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syaikh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud q.s. dan Syaikh ‘Abd al-Jalil Murad q.s., dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syaikh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi q.s. Perlu dicatat bahawa yang terakhir adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syaikhul Islam ‘Abdullah Siraj al-Din q.s. (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Maulana Syaikh ‘Abdullah Faiz Daghestani q.s. ketika yang terakhir ini mengunjungi Aleppo di tahun 1959 dan yang memberikan bay’at dalam Thariqat Naqsybandi pada Maulana Syaikh Nazim q.s., ketika Maulana Syaikh Nazim q.s. mengunjunginya terakhir kali di Aleppo di tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn Maulana al-Syaikh Husayn ‘Ali q.s. dari Syaikh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi q.s. yang juga hadir pada peristiwa terakhir itu. Maulana Syaikh Nazim q.s. juga belajar di bawah bimbingan Syaikh Sa’id al-Siba’i q.s. yang kemudian mengirim beliau ke Damsyik setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Maulana Syaikh ‘Abdullah Faiz Ad-Daghestani q.s. ke Syria. Setelah kedatangan awal beliau ke Syria dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Maulana Syaikh ‘Abdullah q.s. tinggal di Damsyik, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs. Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syaikh Sa’id al-Siba’i q.s. yang merupakan pemimpin Madrasah Khalid bin Walid. Syaikh Sa’id q.s. menulis pada beliau (Maulana Syaikh ‘Abdullah q.s.), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang sedang belajar kepada kami.” Maulana Syaikh ‘Abdullah q.s. menjawab padanya, “Murid itu milik kami; kirimkan dia kepada kami!” Murid itu adalah guru kami, Maulana Syaikh Nazim q.s., yang kemudian datang ke Damsyik dan memberikan bay’at beliau pada Syaikh ‘Abdullah Faiz Ad-Daghestani q.s. antara tahun 1941 dan 1943.Pada tahun berikutnya, Maulana Syaikh ‘Abdullah q.s. pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Syria pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syaikh Husayn ibn ‘Ali ibn Muhammad ‘Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syaikhani al-Husayni q.s. (lahir 1336H/1917M)semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati nenek moyangnya di Qasyoun, suatu gunung yang menghadap Damsyik. Maulana Syaikh Nazim q.s. juga membeli sebuah rumah dekat rumah Syaikh ‘Abdullah Faiz q.s. dan bersama Maulana Syaikh Husayn q.s., membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Syaikh ‘Abdullah, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyya Syaikh ‘Abdullah q.s. Kemudian Maulana Syaikh Nazim q.s.tinggal di Damsyik sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil Syaikh ‘Abdullah q,s hingga Syaikh Abdullah q.s. wafat di tahun 1973. Setelah tahun itu, Maulana tinggal di Damsyik beberapa tahun sebelum kemudian balik ke Cyprus.“Ketika seorang Waliyyu-llah yang telah berumur lapan puluh-an di Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aidrus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, mengenakan pakaian yang tak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Maulana dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arabnya yang tidak fasih. Ketika kami memohon doa beliau bagi negeri-negeri kita yang terluka dan bagi penduduk-penduduknya, beliau menjawab, “Ummah ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syaikh Nazim q.s. telah kau dapati kebercukupan!”Setelah kewafatan Syaikh 'Abdullah Faiz q.s., Syaikh Nazim telah mengambil alih tampuk kepimpinan Tariqat Naqshbandi seperti yang telah diwasiyatkan oleh Syaikh 'Abdullah Faiz sehingga sekarang. Beliau sekarang berumur 87 tahun dan masih terus menyebarkan ajaran kecintaan kepada umat manusia. Muridnya berada di seluruh dunia dengan bilangan yang mencecah jutaan orang sehinggakan manusia takut dengan bilangannya. Beliau adalah Sulthon-ul-Awliya zaman ini.

dipetik dari AHLULHAQqANI.blogspot.com

Selasa, 10 Mei 2011

Pengalaman belajar Shayk Junayd Baghdadi

Shaykh Junayd Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya.

Shaykh bertanya bagaimana kabar bahlul yang gila ?

Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?”

“bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan nya.”

Para murid mencari Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Shaykh Junayd kepadanya

Ketika Shaykh Junayd pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah ?)

Shaykh mengucapkan salam

Bahlul menjawab dan bertanya, “Siapakah Anda? ”

” Saya Junayd Baghdadi.”

Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”

“Ya, betul !” jawab Shaykh

Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Shaykh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ”

“Ya!” kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”

“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yan lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”

Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Shaykh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda tidak pun mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi.

Para Murid Shaykh berkata, “O Shaykh! Dia orang yang gila. ”

Shaykh menjawab, Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berucap. dengarkan pernyataan yang benar dari nya.

Setelah mengucapkan Beliau pergi dibelakang Bahlul, dan berkata, ” Saya ada perlu dengan Bahlul.”

Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Junayd mendekatinya.

Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?”

” Shaykh Baghdadi yang pun tidak mengetahui bagaimana cara makan.”

” Anda tidak mengetahui bagaiaman makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?”

“Ya”

” Bagaimana anda berbicara ?”

” Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti. Saya memanggil semua orang di dunia untuk kembali ke Allah dan Nabi (s). Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga semua orang akan bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum.

kemudian dia menggambarkan apapun yang berhubungan dengan Adab dan etika

Bahlul berkata, “Lupakan soal makan, Anda pun tidak mengetahui bagaimana berbicara.”

Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Shaykh dan pergi

Para murid berkata, “O Shaykh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!”

Shaykh berkata, ” Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”

Sekali lagi Beliau pergi setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya.

Bahlul bertanya, “Apa yang Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”

” Ya, saya tahu.”

” Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya

” Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.”

Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama.

Bahlul kemudian berkata : ” Saya mengerti bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”

Dia ingin berdiri, tapi Junayd menangkap memegang pakaian nya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengethuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya.

Bahlul berkata ” Anda mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.”

“Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.”

” Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.”

” Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Shaykh.

Bahlul melanjutkan, Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika itu untuk segala urusan dunya atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah yang terbaik.”

“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunya ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan tidur.

Shaykh Junayd kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.

Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru

====

Moral : Pelajaran nya adalah jika seseorang tidak mengerti tentang sesuatu, seharusnya dia tidakmalu untuk belajar; seperti Shaykh Junayd yang telah belajar Adab makan, bicara dan tidur

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.