This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label TOKOH DALAM FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH DALAM FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Ibn Sina dan " Kitab suci" kesehatan

0

Oleh Agus Kurniawanibnu sina Ibnu Sina dan Kitab Suci Kesehatan


Al Qanun 11 al-Tibb yang di Barat dikenal dengan Canons, boleh dikata merupakan ‘kitab suci’ ilmu kesehatan pada masanya. Tanpa merujuk ke buku tersebut, ilmu obat-obatan dan farmakologi dirasakan tidak akan sempurna. Tidak heran bila Ibnu Sina, pengarang buku tersebut begitu dihargai kejeniusan dan kontribusinya dalam ilmu kedokteran, sampai sekarang. Bahkan potret Ibnu Sina, hingga kini menjadi salah satu pajangan dinding besar gedung Fakultas Kedokteran Universitas Paris.

.

Ibnun Sina yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hussein Ibn Abdallah, lahir di Afshana dekat Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 981. Pada usia sepuluh tahun, dia telah menguasai dengan baik studi tentang Al Quran dan ilmu-ilmu clasar. Ilmu logika, dipelajarinya dari Abu Abdallah Natili, seorang filsuf besar pada masa itu. Filsafatnya meliputi buku-buku Islam dan Yunani yang sangat beragam.

.

Kemampuannya dalam bidang pengobatan sudah begitu mumpuni di usianya yang masih belia. Bahkan ketika usianya baru tujuhbelas tahun, dia sudah berhasil menyembuhkan penguasa Bukhara, Nun Ibn Manshur. Padahal sebelumnya para pakar kesehatan kerajaan sudah menyerah, tak satu pun yang mampu mengatasi penyakit sang raja.

.

Atas jasanya itu, Manshur bermaksud memberinya hadiah. Namun Ibnu Sina justru lebih memilih izin dari sang raja untuk diperkenankan meggunakan perpustakaan kerajaan yang dikenal memiliki koleksi buku-buku yang unik.

Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina merantau ke Jurjan, dan bertemu dengan Abu Raihan al-Biruni, yang kala itu sangat termashur. Setelah itu dia pindah ke Rayy, dan melanjutkan perjalanan ke Hamadan, tempat yang memberinya inspirasi untuk bukunya yang terkenal, Al Qanun 11 al-Tibb.

Di Hamadan dia juga menyembuhkan sang penguasa, Syams al-Daulah, dari penyakit perut yang akut, sebelum melanjutkan lagi perjalanannya menuju Isfahan (kini Iran) untuk menyelesaikan karya-karyanya yang monumental.

Al Qanun fi al-Jibb

Al Qanun fi al-Tibb atau Norma-norma Kedokteran adalah sumbangan terbesar Ibnu Sina yang di Barat dikenal dengan Avicenna, ilmu pengetahuan. Karya yang matnpu bertahan selama enam abad ini ke Latin oleh Gerard dari Cremena pada abad ke-12. Sejak saat itu Qanun menjadi buku wajib di sekolah-sekolah medis di Eropa. Pada abad ke-15 buku ini mengalami cetak ulang sebanyak enam belas kali. Lima belas cetakan dalam Latin, satu cetakan dalam Yahudi. Sedangkan pada abad , Qanun mengalami cetak ulang sebanyak dua puluh kali.

Cameron Gruner pada tahun 1930 menerjemahkan sebagian isi buku itu ke Inggris dengan judul Risalah atas Norma Medis Avicenna. Dan selama lebih dari lima abad, Qanun menjadi pemandu bagi ilmu kedokteran di Barat. Tidak heran bila Dr. William Osier, penulis buku Evolution of Modern Science, bahwa Qanun telah menjadi semacam ‘kitab suci’ kesehatan yang bertahan lebih lama dibanding karya mana pun.

Qanun boleh dikata merupakan Pengobatan yang sangat lengkap. Buku ini menelaah ulang pengetahuan kedokteran, baik dari sumber Islam maupun sumber-sumber kuna. Ibnu Sina tidak hanya menggabungkan pengetahuan yang telah ada tapi juga menciptakan karya-karya orisinal yang meliputi beberapa pengobatan umum, obat-obatan (760 macam), penyakit-penyakit mulai dari kepala hingga kakl, khususnya Patologi (ilmu tentang penyakit) dan Farmakopeia ().

Di antara beberapa kontribusinya yang merupakan besar adalah identifikasinya sifat-sifat penyakit menular seperti Pththsis dan Tuberculosis (TBC), penyebaran penyakit melalui air dan tanah, dan interaksi antara ilmu psikologi dan kedokteran. Ibnu Sina pula yang pertama kali menjelaskan tentang (radang selaput otak) serta memberi penjelasan yang padat tentang anatomi, ginekologi, kesehatan anak, serta menemukan perawatan untuk Lachrymal Fistula, disusul dengan penyelidikan medis saluran pembuluh darah.

Hingga kini Qanun masih menjadi acuan para pakar untuk penyelidikan anatomi, karena buku ini mampu menjelaskan deskripsi secara gratis maupun penjelasan rinci mengenai Sclera, Kornea, Koroid, Iris, Retina, Lensa, Urat syaraf, juga Optic Chiasma. Dalam mendalami anatomi, Ibnu Sina menentang sikap praduga atau prakiraan. Dia mengimbau para pakar ilmu fisik dan ilmu bedah untuk kembali mendasarkan pengetahuannya pada studi tentang tubuh manusia. Dia mengamati bahwa Aorta sebenarnya terdiri dari tiga saluran yang terbuka saat darah mengalir dari dan di dalam jantung selama kontraksi, dan tertutup selama relaksasi, sehingga tidak akan terjadi luapan aliran darah ke dalam jantung.

Dia juga menegaskan bahwa otot dapat digerakkan karena adanya syaraf yang terdapat di dalamnya. Demikian pula rasa sakit yang dirasakan pada bagian otot, juga disebabkan adanya urat syaraf yang menerima rangsangan rasa sakit tersebut.

Lebih jauh dia mengadakan observasi dan menemukan bahwa ternyata di dalam organ hati, limpa dan ginjal, tidak ditemukan urat syaraf. Sebab urat syaraf justru tertanam pada lapisan luar organ-organ itu.

Karya-karya Lainnya

Selain ilmu pengobatan dan kesehatan, Ibnu Sina juga menyumbangkan pemikirannya pada ilmu matematika, fisika, musik, dan bidang-bidang lain. Penyelidikannya dalam bidang astronomi membuatnya berhasil merancang perangkat semacam Vernier yang meningkatkan ketepatan pengukuran suatu alat. Di bidang fisika, sumbangan pemikirannya mengenai bermacam bentuk energi, kalori, cahaya, mekanika, konsep gaya, ruang hampa udara, dan bilangan tak terhingga.

Dalam bidang kimia, Ibnu Sina adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak percaya pada transmutasi kimia logam. Pandangan ini ditentang secara radikal pada masa itu. Risalahnya mgngenai mineral merupakan salah satu sumber utama geologi yang digunakan oleh para ensiklopedis Kristen pada abad ke-13.

Penemuannya di bidang musik merupakan perbaikan dari karya Farabi (al-Pharabius), yakni dengan menemukan suatu rumus bahwa jika serangkaian konsonan dirumuskan (n + 1) / n, maka telinga tidak dapat membedakan konsonan tersebut pada n – 45. Lebih jauh dia , penggandaan satuan seperempat dan seperlima pada konsep ini merupakan langkah benar menuju sistem harmonisasi.

Karya Ibnu Sina dalam bidang filsafat yang terkenal adalah Al-Najat, Isyarat, dan al-Shifa (buku yang berisi tentang penyembuhan penyakit) merupakan ensiklopedi filosofis. Di dalamnya berisi jangkauan pengetahuan yang luas, dari filsafat hingga ilmu pengetahuan. Filsafat Ibnu Sina merupakan penggabungan tradisi Aristotelian, pengaruh Neoplatonic dan teologi Islam.

Ibnu Sina mengelompokkan seluruh bidang ilmu ke dalam dua kategori besar, yakni: pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis. Pengetahuan teoritis meliputi fisika, matematika, dan metafisika, sedangkan pengetahuan praktis meliputi etika, ilmu ekonomi, dan ilmu politik.

Jenius yang satu ini tidak pernah berhenti mengembara, baik secara fisik maupun secara batin. Secara fisik, dia terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, untuk memuaskan rasa ingin tahunya segala hal, serta untuk dapat belajar, belajar, dan belajar. Karena terlalu banyak memeras otak dan diperparah oleh gejolak politik pada masa itu, kesehatannya semakin memburuk. Akhirnya, pada tahun 1037 dia kembali ke Hamadan, dan meninggal di sana. (amanah)

IBNU SINA : “Bapak Kedokteran Dunia”

Abu Ali al Husain ibn Abdallah ibn Sina adalah nama lengkap Ibnu Sina, yang lebih dikenal sebagai “Aviciena” oleh masyarakat barat. Dia adalah salah seorang tokoh terbesar sepanjang zaman, seorang jenius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Dia lah pembuat ensiklopedi terkemuka dan pakar dalam bidang Kedokteran, Filsafat, Logika, Matematika, Astronomi, musik, dan puisi.

Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 980 M / 370 H di Afshinah, sebuah desa kecil tempat asal ibunya, di dekat Bukhara. Ayahnya, Abdullah, adalah seorang Gubernur Samanite yang kemudian ditugaskan di Bukhara. Sejak kecil ia telah memperlihatkan intelegensianya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima pendidikan, ia telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun.

Nama Ibnu Sina semakin melejit tatkala ia mampu menyembuhkan penyakit raja Bukhara, Nooh ibnu Mansoor. Saat itu ia baru berusia 17 tahun. Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, setidaknya sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Namun Ibnu Sina menolaknya dengan halus. Sebagai imbalan ia hanya meminta izin untuk menggunakan perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Tujuannya adalah mencari berbagai referensi dasar untuk menambah ilmunya agar lebih luas dan berkembang. Kemampuan ibnu Sina yang cepat menyerap berbagai cabang ilmu pengetahuan membuatnya menguasai berbagai macam materi intelektual dari perpustakaan Kerajaan pada usia 21.

Setelah ayahnya wafat, ia meninggalkan Bukhara karena gangguan politik dan pergi ke kota Gorgan, yang tekenal dengan kebudayaannya yang tinggi. Dia diundang dengan tulus oleh Raja Khawarizm, pelindung besar kebudayaan dan pendidikan. Di Gorgan ia membuka praktek dokter, bergerak dalam bidang pendidikan, dan menulis buku. Setelah itu, Ibnu Sina melanjutkan lagi perjalannya, antara lain ke Kota Ravy dan Kota Hamadan.

Sampai kini ilmunya yang ditulis dalam buku “Al Qanun Fi al-Tib” tetap menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan dunia. Karena itu Ibnu Sina menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu kedokteran dunia. Bukunya “Al Qanun” “” menjadi “The Cannon” oleh pihak Barat, yang kemudian menjadi rujukan banyak ilmuwan abad pertengahan. Buku itu diantaranya berisi eksiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Bahkan diperkenalkan penyembuhan secara sistematis dan dijadikan rujukan selama tujuh abad kemudian (sampai abad ke-17).

Ibnu Sina meninggal pada tahun 1073, saat kembali di kota yang disukainya, Hamadan. Walau ia sudah meninggal, namun berbagai ilmunya sangat berguna dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang kini diderita umat manusia. (An)

LINK :
- http://www.nlm.nih.gov/hmd/arabic/E8.html

BIOGRAFI IBN KHALDHUN

ibnu khaldun1 Biografi Ibnu Khaldun

.

Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.

.

Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.

.

Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,
Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. , masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih , ilmu nahwu , , dan matematika.

Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.

SETELAH keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.

ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan
Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.

Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of
Aberdeen, dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini.

Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.

Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan ke
lima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.

Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.

ADA beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.

Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”

Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan
Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M.***

Senin, 11 April 2011

TOKOH FILSAFAT TIONGKOK HINGGA PRA KONG ZI

> TOKOH FILSAFAT TIONGKOK JAMAN PURBA HINGGA PRA KONG ZI
>
> Daftar isi :
> 1. Prakata
> 2. Perkembangan filsafat masa purba
> 2.1 Dari mitos hingga materialisme filsafat alam
> 2.2 Tokoh-tokoh dinasti Zhou hingga pra Kong Zi
> 3. Penutup
> 4. Daftar Pustaka
>
> Prakata
> Dalam membahas masalah filsafat Tiongkok, tentunya juga harus membicarakan
> masalah bahasa. Bahasa mandarin walau dikatakan dipersatukan dan tidak
> mengalami perubahan selama 2000 tahun, tetap hingga kini merupakan kendala
> dalam membaca teks-teks klasik. Di dunia ini ada 2 jenis bahasa yaitu
> bahasa berdasarkan bunyi dan tulisan. Awalnya adalah bahasa gambar yang
> menjadi tulisan kemudian berubah menjadi bahasa yang berdasarkan bunyi,
> seperti bahasa Inggris. Tiongkok tidak pernah mengganti bahasanya menjadi
> bahasa bunyi karena alasan persatuan. Kita bisa lihat bahwa bahasa bunyi
> bisa berubah-rubah ditempat lain. Tapi bahasa tulisan tidak akan berubah.
> Kata Dao 道 dengan nada bunyi ke 4 bisa saja berbeda-beda cara
> membacanya tapi tulisannya tetap. Itulah ciri bahasa mandarin yang berbeda
> dengan bahasa lain di dunia yang mayoritas menggunakan bahasa bunyi.
> Feng Youlan mengatakan bahwa masalah bahasa adalah rintangan terbesar
> dalam mempelajari filsafat Tionghoa. Kendala terbesar dalam bahasa
> mandarin adalah satu kata bisa mengandung beberapa makna, apalagi mengkaji
> kitab klasik. Apalagi ketika diterjemahkan kedalam bahasa lain, tentunya
> bermasalah. Sebagai contoh adalah kata wu wei 無為 atau yang
> sering diterjemahkan sebagai non action, hal ini membuat suatu kerancuan
> luar biasa bagi mereka yang mempelajari Taoism terutama ketika membaca
> tentang wu wei atau non action. Chen Yaoting dalam seminarnya yang
> diselenggarakan di Singapore pernah mengatakan bahwa wuwei tidak selalu
> berarti non action, wu wei 無為bisa berarti non intention,
> non selfish, natural.
>
> Dalam tulisan ini terdiri dari bagian yang menerangkan perbedaan antara
> mitologi Yunani dan Tiongkok, walau tidak secara lengkap seperti misalnya
> peperangan Gong Gong 共工 dan Zhu Rong 祝融 yang
> mengakibatkan banjir, Nv Wa 女媧menciptakan 6 binatang dan
> manusia, peperangan antara Huang Di 黃帝dengan Chi You
> 蚩尤 dan sebagainya. Selain itu juga membahas sedikit tentang
> Di 帝 dan kemudian pandangan para filsuf. Dan apa yang diutamakan
> adalah para filsuf pra Kong Zi 孔子sebagai landasan yang
> mempengaruhi pandangan para filsuf nantinya yang menjadi mahzab-mahzab
> filsafat Tiongkok. Dalam tulisan ini saya tidak membahas Guan Zi
> 管子, karena sudah ada tulisan yang menyangkut kitab Guan Zi
> 管子.
>
> 2.Perkembangan filsafat purba
>
> Sebelum memasuki ranah filsafat, pertama yang perlu diketahui adalah bahwa
> mitos orang Tionghoa berbeda dengan mitos-mitos yang umum berkembang. Pada
> umumnya mitos Tiongkok tidak terlihat lengkap seperti adanya penciptaan
> yang diciptakan oleh mahluk adikodrati, terjadinya alam dan sebagainya.
>
> Secara umum, ketika membahas mitos Tiongkok yang menceritakan terjadinya
> alam semesta, yang dibahas adalah masalah Pan Gu 盤古
> memisahkan langit dan bumi. Sebenarnya mitos penciptaan yang dikaitkan
> dengan Pan Gu adalah mitos yang berumur muda, mitos itu timbul pada
> periode Tiga Negara 三國 (220-280 AD)dalam buku
> SanWu LiJi 三五曆記 yang ditulis oleh Xu Zheng
> 徐整 yang menjabat sebagai pejabat
> ritual太常卿 pada kerajaan Wu 吳. Walau umurnya
> kisan Pan Gu masih muda dibandingkan dengan mitos-mitos lainnya, tapi
> mitos ini tetap merupakan mitos mengenai terjadinya alam semesta.
>
> Qi Liang 啟良 berpendapat "bahwa mitos adalah suatu cara
> manusia mengekspresikan sejarah purbanya, terutama dalam menjelaskan
> segala sesuatunya dan asalnya. Dalam mitologi Yunani, manusia mencari
> sejarahnya adalah dengan menggunakan mitos. Misalnya adalah Prometheus
> yang memberikan manusia banyak keahlian. " Qi Liang berpendapat demikian,
> karena dalam mitos Yunani, Promotheus adalah pencuri api dan mengajarkan
> manusia menggunakan api, sedangkan dalam mitos Tiongkok adalah Sui Ren
> 遂人 yang menemukan api dengan menggosokkan kayu. Promotheus
> adalah dewa sedangkan Sui Ren adalah manusia biasa. Selain Sui Ren, adalah
> You Chao 有巢 yang mengajarkan manusia untuk membuat gubuk,
> Shen Nong 神農 mencobai tanaman dan rumput untuk mengetahui
> khasiat tanaman tersebut bagi tubuh, Fu Xi 伏羲 menemukan cara
> membuat jala dan sebagainya.
>
> Bahkan dalam menghadapi banjir besar, terlihat perbedaan menyolok antara
> mitos dan legenda bangsa lain dengan bangsa Tiongkok. Misalnya kisah
> Gilgamesh dan Nuh dibandingkan kisah Nv Wa 女媧dan Da
> Yu大禹 ( Yu yang Agung ). Dalam kisah Gilgamesh dan Nuh
> diceritakan bahwa banjir adalah bencana dari mahluk adikodrati dan mereka
> tidak berbuat apapun kecuali membuat kapal kotak besar dan menunggu banjir
> surut.Dalam legenda Tiongkok, Nv Wa mencari cara mengatasi banjir dengan
> menambal langit yang bolong dengan menggunakan batu pancawarna yang
> dilebur. Dan Da Yu 大禹membangun kanal, membuat kolam
> penampungan air.Dari dua legenda itu tentunya terlihat perbedaan dalam
> menyikapi bencana yang terjadi.
>
> Dengan berangkat dari mitos yang berbeda, terutama masalah-masalah proses
> terjadinya peradaban, maka kita bisa melihat cara orang Tiongkok purba
> dalam memandang Mahluk Adikodrati itu yang akan mempengaruhi filsafat
> mereka. Saya beranggapan bahwa dengan mitos-mitos orang Tionghoa, terlihat
> bahwa terjadinya peradaban melalui proses evolusi yang bertahap dengan
> dimulainya adalah Sui Ren kemudian You Chao hingga Shen Nong, Fu Xi, Nv Wa
> sampai dengan Xuanyuan Huangdi軒轅黃帝 . Dalam
> banyak gambaran mitos mereka, You Chao dan lain-lain digambarkan sebagai
> manusia yang berpakaian daun atau kulit binatang sedangkan Huang Di sudah
> berpakaian seperti manusia biasa. Gambaran proses peradaban itu terekam
> dalam mitos-mitos Tiongkok yang berbeda dengan mitos Yunani. Artinya
> mereka orang Tiongkok tidak menganggap bahwa alam semesta ini ada harus
> ada penciptanya, dan apa yang mereka jalani itu adalah proses alam dari
> suatu peradaban pra sejarah purba hingga sampai pada satu peradaban yang
> menemukan tulisan adalah proses dari manusia itu sendiri.
>
> Fu Xi sebagai tokoh legenda purba, dilegendakan menemui cara-cara
> peternakan dan perikanan, kemudian ia menggambar tulisan-tulisan sederhana
> yang menjadi cikal bakal tulisan mandarin. Tulisan itu berupa 2 macam
> garis yaitu garis utuh - - dan garis sambung ___ yang disebut yao
> 爻. - - adalah yin yao 陰爻 dan ___ adalah yang yao
> 陽爻, dan gabungan dari ke tiga yao itu disebut gua 卦
> atau triagram. Gambaran dari gua itu membentuk 8 yang disebut
> bagua八卦 dan ada yang disebut jiugong 九宮 atau
> sembilan istana adalah mencakup taiji. Jadi apa yang dimaksud dengan ba
> gua hanya suatu garis sederhana yang merupakan gambaran dari alam semesta
> yang dihamparkan depan mata. Ini adalah suatu mitos bagaimana orang
> Tiongkok purba menggambarkan alam semesta ini adalah perpaduan dari garis
> yin dan garis yang.
>
> 2.1. Dari mitos hingga materialisme filsafat alam
>
> Dinasti Shang 商sudah ada konsep tentang Di 帝 atau Shang Di
> 上帝 sebagai leluhur mereka, dan konteksnya Di 帝adalah
> almarhum raja pendahulu yang memiliki kekuasan absolut yang digunakan
> untuk mengontrol masyarakat. Kondisi masa itu adalah sistem majikan dan
> budak atau yang disebut sebagai era 奴隸時代 (
> era perbudakan ) . Pendapat ini diperkuat oleh Li Shen 李申
> dalam bukunya yang berjudul Zhongguo Rujiao Shi
> 中國儒教史 ( Sejarah Lengkap Agama Ru
> Tiongkok )yang terdiri dari 2 jilid, buku ini bisa menjadi acuan lebih
> mendalam sejarah perkembangan kepercayaan dan filsafatRu Tiongkok. Pada
> masa dinasti Shang, salah satu cara berkomunikasi dengan Di 帝atau
> Shang Di 上帝 adalah melalui penujuman dengan tempurung
> kura-kura atau tulang yang dibakar.
>
> Sejak dinasti Shang商朝, konsep seperti itu melekat erat,
> hingga pada masa berakhirnya era perbudakan dan memasuki era feodalism
> pada masa dinasti Zhou 周朝. Dinasti Shang membuat konsep
> Shang Di 上帝adalah sebagai suatu alasan bahwa di satu negara
> tidak bisa ada banyak penguasa dan seperti itu juga di alam lain harus ada
> satu pemimpin utama atau satu mahluk adikodrati yang tertinggi. Walau
> demikian pada masa dinasti Shang, dewa-dewa ada banyak, dan ritual-ritual
> untuk para leluhur dan dewata dilakukan. Secara etimologi Di 帝
> sendiri adalah yoni, alat kelamin wanita. Dan itu tidak perlu diherankan
> karena awalnya peradaban Tiongkok purba bersifat maternalistik, selain
> para dewi purba seperti Xi He 羲和, Nv Wa 女媧,
> Hou Tu后土, 20 marga tertua di Tiongkok memiliki karakter
> wanita 女 (nv) seperti marga Ji 姬, Yao 姚, Jiang
> 姜,Si 姒. Marga sendiri dalam bahasa mandarin adalah
> xing 姓 yang berarti dilahirkan oleh wanita.
>
> Dinasti Zhou 周朝pada saat menjatuhkan dinasti Shang
> menggunakan slogan bahwa hak memerintah atau mandat yang dimiliki oleh
> dinasti Shang sudah dicabut oleh shang di 上帝atau tian
> 天dan Ji Chang 姬昌 mencabut mandat yang dimiliki oleh
> raja Zhou紂王, raja terakhir dinasti Shang 商 karena
> sewenang-wenang. Inilah konsep pertama tentang masalah mandat langit atau
> hak berkuasa yang bisa dicabut karena tidak becusnya raja dalam
> memerintah. Tapi disisi lain, dinasti Zhou menekankan bahwa mereka
> mendapat mandat dari Langit atau Shangdi dan menggantikan dinasti Shang,
> dan mengutamakan ritual-ritual kepada Shang Di dan Di di kuil-kuil leluhur
> mereka.
>
> Dinasti Zhou memberikan landasan filsafat yang nantinya berkembang pesat.
> Dinasti Zhou 周朝sudah menggunakan konsep yin yang
> 陰陽 untuk menjelaskan perubahan cuaca, musim juga kuat
> lemahnya segala benda yang ada. Mereka beranggapan pada masa peralihan
> musim dingin ke musim semi yang terjadi adalah qi menguap dari bumi naik
> ke atas dengan demikian semua mahluk bisa tumbuh dan berkembang.
> Prinsipnya adalah yang adalah qi yang sifatnya ke atas dan yin adalah qi
> yang sifatnya ke bawah dan harus seimbang selaras, perubahannya harus
> sesuai dengan aturan. Jika tidak sesuai maka bencana akan terjadi.
>
> Tokoh yang terkenal adalah Zhou Wenwang 周文王pada masa
> sekitar 1100an BC yang dipercaya banyak orang adalah tokoh besar dalam
> melakukan kompilasi atau memperbaiki gambar diagram gua yang dibuat oleh
> Fu Xi. Kitab hasil kompilasinya disebut Zhou Yi周易 atau Yi
> Jing 易經 ( kitab perubahan ) yang terdiri dari 64
> gua卦 . Wen Wang melakukan perubahan atas 8 triagram menjadi 64
> hexagram. Beberapa point penting dalam Yi Jing adalah :
> -satu yin dan satu yang adalah Jalan ( keharmonisan)
> -Langit berjalan terus, seorang ksatria selalu bekerja tiada henti
> memperbaiki diri
> -Pencabutan mandat langit
>
> Zhou Gong 周公( 1100an BC ) adalah seorang tokoh yang amat
> dihormati oleh para filsuf seperti Kong Zi 孔子, Meng Zi
> 孟子, Xun Zi 荀子. Salah satu tindakan Zhou Gong
> adalah ketika dinasti Shang jatuh, terjadi perdebatan untuk membantai
> seluruh pengikut dinasti Shang atau mengampuni yang tidak bersalah dan
> menghukum mati yang bersalah. Zhou Gong menganjurkan agar semuanya
> diampuni, mereka dibiarkan tetap tinggal di tempatnya, dengan tujuan agar
> bisa meraih hati rakyat Shang dan dengan demikan dinasti Zhou bisa
> mendapatkan hati orang-orang Shang yang pintar untuk mengabdi pada
> dinasti Zhou. Zhou Gong menata etika dan menggubah musik
> 制禮作樂 salah satu hal yang mempengaruhi Kong
> Zi. Zhou Gong menata etika sebagai suatu sistem kemasyarakatan yang
> memiliki tata krama dalam kelas-kelas sosial. Selain itu adalah rumus
> Pythagoras , yang sering disebut Zhougong dingli
> 周公定理 atau Shanggao dingli
> 商高定理. Juga kadang disebut gougi
> dingli勾股定理 . Zhou Gong terkenal dengan
> perkataan bahwa "Mandat Langit tidak pernah tidak berubah ( bisa
> dicabut ), hanya dengan menjalankan kebajikanlah cara
> mempertahankannya"天命靡常
> 唯德是辅 (tianming mi chang weide shi bu ).
> 明德慎罚mingdeshenfa bisa berarti berbudi baik
> jelas dalam menilai dan hati-hati memberikan hukuman, yang dikatakan
> bersalah harus diteliti dahulu dalam beberapa hari sebelum dijatuhi
> hukuman. Dengan cara begini maka raja akan tetap mendapatkan mandatnya.
>
> Buku Shang Shu (Buku Sejarah ) bab Hong Fan 尚書
> 洪範 menuliskan bahwa Ji Zi 箕子 dimintai saran
> oleh Zhou Wenwang tentang cara-cara mengatur negara. Ji Zi memberi contoh
> bagaimana Gun 鯀 mengatasi banjir dengan cara menyumbat, sehingga
> mengacaukan hukum pergerakan lima element dasar.Sehingga Tian Di marah
> dan menghukum Gun. Anak Gun, Da Yu mengatasi banjir sesuai aturan alam.
> Atas jasanya, Tian Di memberikan 9 cara mengatur negara. Sembilan itu
> adalah : a. Pergerakan lima unsur yang harus diperhatikan , jika dilanggar
> maka akan mengakibatkan bencana. Pergerakan lima unsur juga membahas lima
> rasa yaitu asin, pahit, pedas, asam dan manis.
> b. lima sikap : sikap yang sopan, berbicara yang benar dan baik, pandangan
> harus baik dalam menilai, mendengar harus dengan jernih, berpikir harus
> bisa luas.
> c.memilih pejabat pengurus negara yang tepat untuk urusan sandang pangan,
> keuangan, ritual, hukum, pendidikan, pekerjaan umum, kemiliteran,
> penyambut tamu ( hubungan luar negri )
> d.memperhatikan pergerakan musim dan kalender agar selalu tepat masa
> e.untuk membangun kewibawaan negara, maka hukum harus jelas dan tegas,
> yang berjasa diberi hadiah dan yang bersalah diberi hukuman.
> f.menggunakan tiga cara untuk mengatur pejabat dan rakyat sehingga bisa
> benar. Untuk mereka yang keras dan tidak bersahabat harus digunakan sikap
> yang tegas dan keras, untuk mereka yang bersikap lembut dan bersahabat
> gunakanlah sikap lembut dan bersahabat, untuk mereka yang bodoh harus
> digunakan sikap memaksa dan tegas.
> g.untuk menghadapi masalah sulit, panggilah pejabat peramalan untuk
> mengetahui tindakan apa yang harus diambil
> h.mencermati lima gejala alam, yaitu hujan, cerah, hangat, dingin, angin
> karena semuanya sesuai siklus. Jika terjadi ketidaksesuaian dengan siklus,
> maka harap berhati-hati karena bisa jadi pertanda keadaan yang akan buruk
> i.lima macam kebahagiaan yaitu : panjang umur, berkecukupan, sehat
> tentram, berbudi baik dan meninggal dengan tenang. Enam hukuman adalah :
> mati muda dengan tidak wajar, sakit, gelisah dan risau, miskin, buruk,
> lemah terhina.
> Dimasa itu sudah ada konsep selain yin yang adalah lima unsur yang saling
> berkaitan sebagai komponen atau element dasar dari seluruh alam semesta
> ini. Yang menarik pada saat membahas lima kebahagiaan, Ji Zi mengatakan
> bahwa salah satu kebahagiaan yang unggul adalah mati dengan baik.
>
> 2.2 Tokoh-tokoh dinasti Zhou hingga pra Kong Zi
>
> Pada dinasti Zhou ini lahir filsuf besar yang bernama Bo Yang fu
> 伯陽父 atau yang dipanggil Shi Bo 史伯 .
> Pandangan filsafat Bo Yang fu ditulis dalam Guo Yu 國語
> tentang element dasar yuanshu 元素yang akan menghasilkan
> element baru jika element dasar lain yang ditambahkan. Dan element dasar
> itu adalah lima unsur yaitu air, api, logam, kayu dan tanah. Bo Yang fu
> menggunakan kata he和(harmonis ) dan tong 同(kesamaan) untuk
> menjelaskan fenomena ini.Yan Ying 晏嬰 ( 578-500 BC ) membuat
> suatu penjelasan sebagai berikut : "Air ditambah air tidak akan berubah,
> rasanya tetap air dan itu disebut , satu nada jika ditimpa nada yang sama
> tidak akan menghasilkan nada baru, ini disebut tong. Jika air ditambah
> ikan, daging dan berbagai bumbu, dan dimasak akan menghasilkan rasa yang
> berbeda dengan air, akan menjadi sop yang kaya akan rasa, musik juga akan
> indah jika nada-nada tinggi rendah, cepat lambat, dalam ringan, digabung
> ". Karena itu kita bisa melihat bahwa yang dimaksud tong adalah secara
> sederhana adalah pengulangan dan yang dimaksud he bukanlah bersatunya dua
> sifat yang berlawanan tapi harmonisnya dua sifat yang berlawanan. Inilah
> yang membedakan lagi dan akan mempengaruhi pandangan keharmonisan dalam
> filsafat Tiongkok, bukan sifat yang saling melawan tapi sifat yang saling
> berharmonisasi. Sama seperti dalam mitos Fu Xi yang membuat dua garis
> berlawanan tapi saling berharmonisasi membentuk suatu yang baru. Bo Yangfu
> beranggapan bahwa gempa bumi bukanlah bencana dari mahluk adikodrati
> sebagai hukuman tapi akibat qi positif yang tertekan, tidak bisa keluar
> sedangkan qi negatif menekan qi positif.
> Ji Liang 季梁 , diperkirakan pada sekitar tahun 800an dan
> 700an BC hidupnya, terkenal dengan ujarnya "Rakyat adalah majikan
> sesungguhnya dari Shen ( tuhan atau dewa)". Para raja adalah anak Tuhan
> atau penerus DI yang mendapat mandat dari Shang Di, tapi kekuasaan mereka
> sebenarnya bukanlah berasal dari mahluk adikodrati tapi berasal dari
> rakyat. Jika raja sewenang-wenang, maka rakyat akan berontak melawan, jika
> raja bertindak arif bijaksana, maka rakyat akan dengan senang hati
> menuruti perintah rajanya. Ji Liang menekankan pentingnya mengurus rakyat
> terlebih dahulu baru melakukan upacara kepada para dewata . Pemikiran Ji
> Liang ini memberikan pengaruh pada para filsuf selanjutnya. Terutama pada
> aliran Ru, seperti Meng Zi dengan konsep tianming dan ge ming serta min
> ben
>
> 子產 (?-552 B), termasuk salah satu filsuf yang juga
> memberikan pengaruh pada Kong Zi juga Xun Zi. Zi Chan beranggapan bahwa
> Jalan Langit jauh dan jalan manusia dekat, jadi utamakan jalan manusia .
> Selain hal itu, Zi Chan melebur tembaga dan membuatnya bejana yang disebut
> bejana penghukuman yang isinya mengenai hukum yang harus dipatuhi tanpa
> panda bulu dan hak-hak bangsawan tidak bisa diwariskan jika keturunannya
> tidak memiliki kemampuan serta membatasi hak-hak kaum bangsawan. Zi Chan
> beranggapan bahwa manusia yang mati tidak enak akan menjadi setan jahat ,
> selain itu ia menjelaskan proses terjadinya setan dengan konsep jing dan
> qi, juga kemungkinan manusia menjadi dewa. Zi Chan mengusulkan agar para
> setan jahat yang karena matinya tidak mengenakkan perlu diberi harkat
> pemulihan dengan memberinya tempat tinggal, makanan, dengan demikian tidak
> akan mengganggu manusia. Pada masa Zi Chan hidup, pada umumnya masyarakat
> tidak akan memberikan upacara penghormatan kepada yang tidak memiliki
> hubungan darah. Zi Chan mendobrak hal itu dengan mengatakan bahwa mereka
> yang berjasa, walau gagal seperti Gun , layak mendapat penghormatan.
>
> Fan Li 范蠡 ( 536-448 BC ) adalah tokoh yang dikenal sebagai
> pedagang besar atau konglomerat pertama, sebelumnya ia adalah pejabat di
> kerajaan Yue kemudian mengundurkan diri dari jabatannya dan menjadi
> pedagang. Fan Li disebut-sebut sebagai peletak dasar sistem perdagangan
> Ru 儒商yang berbicara masalah 5 moral yaitu ren kemanusiaan,
> li etika, yi kebenaran atau keadilan, zhi kebijaksanaan, xin bisa
> dipercaya atau memegang kepercayaan. Buku-buku yang dibuat oleh Fan Li
> antara lain adalah buku siasat perang dan satunya lagi adalah "12 prinsip
> pengelolaan dagang". Fan Li membahas Tian Dao 天道 adalah
> sebagai suatu hukum alam yang beraturan. Misalnya matahari terbit maka
> harus terbenam, bulan penuh, bulan tidak penuh. Ada tiga prinsip yang
> berkaitan dengan tiandao yang diutarakan oleh Fan Li :
> -segala benda memiliki aturan dan rumusan, semua perubahan harus memiliki
> syarat, saat syarat tidak terpenuhi atau tidak matang 成熟 ,
> jangan sembarangan bertindak. Menguasai aturan dan rumusan, mempersiapkan
> dengan baik dan matangnya semua syarat-syarat yang diperlukan maka akan
> berhasil.
> -Kerajinan dan keseriusan manusia serta syarat pengetahuan alam adalah
> hal-hal yang saling terkait. Manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek
> adalah keterkaitan yang tidak terpisahkan. Manusia sebagai subject harus
> rajin dan alam sebagai object harus disertai syarat-syarat ( pengetahuan )
> sebagai dasarnya.
> -Object atau alam juga selalu berubah sesuai dengan kaidah aturannya, saat
> matang bisa menjadi tidak matang, siap bisa menjadi tidak siap, karena
> itu diperlukan adalah ketepatan dan kesigapan mengambil momentum yang
> tepat.
> Tiga point yang diutarakan Fan Li tentang tian dao atau jalan langit yang
> berkaitan dengan tian ming 天命 atau takdir, menjadi suatu
> prinsip bahwa takdir atau tian ming memiliki keteraturannya. Xun Zi
> kemudian membuat konsep tian ming seperti tian dao, artinya mandat langit
> yang diartikan dianggap sebagai hukum alam.
>
> 3.Penutup
> Dengan melihat beberapa pandangan para filsuf pra Kong Zi, kita akan bisa
> melihat bahwa nantinya pandangan filsafat Tiongkok terhadap mahluk
> adikodrati berbeda, juga disudut mitologinya yang memang memiliki landasan
> dan kerangka memandang sejarah masa lampau atau purba yang berbeda dengan
> mitologi Yunani. Tian dalam perkembangannya bisa menjadi Tuhan, atau
> bagian dari dua kutub yin yang, bisa menjadi hukum, bisa menjadi alam. Dan
> terus terang membahas sejarah filsafat kuno pra Kong Zi saja bisa menjadi
> suatu bahan kajian yang mendalam dengan melihat proses para filsuf jaman
> tersebut memandang alam, tian dan lain sebagainya. Jika menilik sekilas
> isi "Filsasat Dari Mitos Tiongkok"
> 中國神話哲學 (Zhongguo Shenhua
> Zhexue )yang dikarang oleh Ye Shuxian葉舒憲, bisa
> diambil kesimpulan bahwa Shangdi pada jaman dahulu adalah para kaisar dan
> raja purba. Tapi dalam perjalanan sejarahnya, mereka diturunkan menjadi
> manusia biasa saja, hanya beberapa yang tetap menjadi pencipta walau dalam
> lingkup yang kecil seperti Nv Wa 女媧 yang menjadi pencipta
> manusia dan enam binatang yang berguna bagi manusia.
> Akhir kata, semoga tulisan yang pendek ini bisa memberi suatu khasanah
> yang lain.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Daftar pustaka :
> Qi Liang 啟良,Sejarah Peradaban Tiongkok
> 中國文明史, cetakan ke 4, 2000, Guangzhou:
> Hua Cheng publisher 花城出版社
> Tang Yijie 湯一介, Zhang Dainian
> 張岱年 dan kawan-kawan, Paper discussion Sejarah
> Filsafat Tiongkok 中國哲學史
> 討論稿, 1973, Beijing : Beijing University fakultas
> filsafat北京大學哲學系
> Wu Shuping 吳樹平 Lai Zhangyang 賴長揚
> editor, Baihua Sishu Wujing
> 白話四書五經 ( Empat Buku Lima Kitab
> dalam Bahasa Modern), 1992, Beijing: Guoji wenhua chubanshe
> 國際文化出版社

Rabu, 06 April 2011

Rene Descartes

Meninjau Kembali Kenetralan Metode Skeptisisme Rene Descartes Jun 20, '08 4:55 AM
for everyone

BAB I

PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

Masa pemikiran Barat-Modern, diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad ke-15 dan 16. Maksud pokok yang terpenting dari Renaissance adalah upaya melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani kuno.[1] Usaha demikian merupakan jalan keluar sekaligus jawaban atas problem kebudayaan Barat-tradisional dan Kristiani yang berkembang masa itu.

Problem besar masa Renaissance adalah sebagaimana masa skolastik, yakni sintesa antara agama dan filsafat dengan arah yang berbeda.[2] Pada masa ini muncul kembali pemikiran Plato dan kaum Stoa yang dipahami (diintrepretasikan) dengan cara-cara yang baru.

Pendekatan baru pemikiran Plato dan kaum Stoa kemudian melahirkan karya-karya besar di bidang seni, metodologi-metodologi bagi filsafat, dan ilmu pengetahuan. Pada masa inilah mulai berkembang Ilmu Pengetahuan Alam modern yang didasari pada metode experimental dan matematis.[3] Berbeda dengan masa sebelumnya, pada masa Renaissance[4] tradisi pemikiran Yunani-Aristotelian yang sempat menguasai alam pikiran Barat Abad Pertengahan mulai ditinggalkan.

Puncak masa Renaissance dimulai dengan munculnya pemikiran Rene Descartes (1596-1650). Descartes sangat penting karena ia dinobatkan sebagai “Bapak Filsafat Barat-Modern”.[5] Sebuah tesis yang melekat dan identik dengan Descartes adalah apa yang dikenal dengan Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada).[6] Pernyataan atau tesis ini menjadi sangat masyhur dalam sejarah pemikiran Barat-Modern, karena memiliki pengaruh yang dominan bagi pembentukan dan corak “ke-modern-an” masyarakat Barat.

Dengan demikian, penelitian terhadap Descartes menjadi penting karena tidak hanya sebagai kunci untuk memahami karakteristik masyarakat Barat dewasa ini, tetapi juga sebagai kunci untuk melacak jejak transformasi nilai-nilai dan karakteristik (kemodernan) masyarakat Barat-Modern terhadap masyarakat lainnya di bebagai penjuru dunia. Dalam rangka penulisan miniskripsi ini, tesis Rene Descartes Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada) menjadi inti bahasannya. Cogito Ergo Sum tersebut memiliki konsekuensi lahirnya Rasionalisme. Paham ini dengan jelas sangat mengunggulkan dan mementingkan rasio daripada realitas yang dipikirkannya. Akhirnya, rasiolah yang menjadi indikasi keberadaan (eksistensi) si subyek (aku) yang mengetahui sesuatu.

Bagi Descartes, rasio adalah instansi tertinggi untuk mengetahuai sesuatu. Pengetahuan merupakan jalan, bukti keberadaan (eksistensi) manusia, dan bahkan menjadi ukuran ke-bernilai-an manusia.[7] Berdasarkan konsep tersebut, ukuran atau norma suatu kebenaran adalah suatu pemikiran yang jelas, definitif, analitik, dan “terpilah-pilah”. Di luar kriteria tersebut harus ditolak atau diragukan sebagai ilmu pengetahuan yang absah (benar). Oleh karena itu, bagaimana persisnya proses keraguan (skeptis) dan apa buktinya keraguan (skeptis) merupakan titik tolak yang netral menuju keyakinan dan pengetahuan yang benar? Miniskripsi ini mencoba menguraikannya.



B. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Dalam miniskripsi ini, penulis membatasi bahasan masalahnya pada bagian epistemologi, yakni metode keraguan (skeptisisme) yang dikemukakan oleh Rene Descartes. Epistemologi adalah cabang filsafat yang penyelidikannya mencakup aspek sumber-sumber pengetahuan, susunan, metode-metode, dan keabsahan suatu ilmu pengetahuan (validitas).[8] Selanjutnya, perumusan miniskripsi ini mencakup pula faktor historis pemikiran Descartes secara umum dan melacak dampak atau relevansi metode keraguan (skeptisisme) Rene Descartes pada abad ke-21.



C. Tujuan Penulisan

Penulisan miniskripsi ini bertujuan menjelaskan metode keraguan (skeptisisme) Descartes. Secara khusus miniskripsi ini berusaha menggambarkan metode keraguan (skeptisisme) Descartes sesederhana mungkin dan mencoba membuktikan apakah memang benar, bahwa metode keraguan tersebut dinilai sebagai titik tolak yang netral dalam mendapatkan pengetahuan yang sah (valid).



D. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam miniskripsi ini adalah eksposisi.

Eksposisi adalah tulisan yang berusaha memberi penjelasan atau informasi tentang suatu benda, peristiwa, gejala, pandangan, atau ide pikiran seseorang.[9] Selain itu, metode penulisan miniskripsi ini mengunakan pula metode argumenasi. Argumenasi adalah penulisan yang bertujuan untuk meyakinkan pembaca, membuktikan, dan mengarahkan suatu pendapat atau pikiran seseorang.[10]



E. Sistematika Penulisan

Sistematika miniskripsi ini, secara garis besar dibagi menjadi empat bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Bab ini memuat latar belakang, perumusan dan batasan masalah, tujuan, metode penulisan, serta sistematika penulisan.

Bab kedua, metode keraguan Rene Descartes dinilai sebagai titik tolak yang netral, memuat riwayat hidup Descartes secara singkat dan pemikiran-pemikirannya.

Bab ketiga, meninjau kembali metode keraguan Descartes, berisi kemungkinan latar belakang konteks historis pemikiran Descartes, konsekuensi, dan relevansi atas metode skeptisisme Descartes. Terakhir, bab empat merupakan penutup yang memuat kesimpulan dan saran.

BAB II

METODE KERAGUAN (SKEPTISISME) RENE DESCARTES DINILAI SEBAGAI TITIK TOLAK YANG NETRAL



A. Riwayat Hidup Rene Descartes

Rene Descartes (1598-1650) dilahirkan di Prancis. Ia belajar filsafat pada kolose yang dipimpin pater-pater Yesuit di desa La Fleche. Descartes terkenal sebagai seorang matematikawan dan dinobatkan sebagai “Bapak Pendiri Filsafat Barat-Modern”.[11]

Salah satu karya besar Descartes adalah Discourse on Method (1637) yang ditulis dalam bahasa Prancis dengan gaya penulisan yang menarik perhatian di zamannya. Dalam buku tersebut Descartes menyatakan tidak puas dengan tradisi filsafat dan ilmu pengetahuan, kemudian ia menjelaskan tujuan hidupnya untuk membimbing akal manusia ke arah penemuan kebenaran yang sistematis dan penghapusan kesalahan.[12]

Setelah karya Discourse on Method, menyusulah karya selanjutnya yang menjadi karya utama Descartes, yaitu Meditations of First Philosophy yang diterbitkan dalam bahasa Latin pada tahun 1644. Selanjutnya, segera menyusul seri keberatan-keberatan para penulis disertai jawaban Descartes sendiri pada mereka.[13]

Karya filsafat lainnya ialah The Principles of Philosophy yang terbit tahun 1644, dan Passion of the Soul tahun 1649.[14] The Principles of Philosophy merupakan usaha ambisius Descartes untuk menyusun secara sistematis metode filsafatnya dan dari situ ia menarik suatu dasar bagi pertanggungjawaban dunia fisik. Adapun Passion of the Soul merupakan pengukuhan dari filsafat penalaran.[15]



B. Pemikiran Rene Descartes

1. Tentang Idealisme Rene Descartes

(a) Idea-idea Bawaan

Descartes berpendapat bahwa di dalam diri kita, terutama dapat ditemukan tiga idea bawaan. Tiga idea yang sudah ada dalam diri sejak kita lahir, yaitu:

1) Idea Pemikiran. Justru karena saya mengerti diri saya[16] sebagai makhluk yang berpikir, maka harus diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.

2) Idea Allah sebagai “wujud yang seluruhnya sempurna”. Saya mempunyai idea sempurna. Maka, disimpulkan bahwa mesti ada suatu penyebab sempurna untuk idea itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain daripada Allah. Oleh karena Allah itu sempurna, Dia juga tidak akan terus-menerus memperdaya saya. Dengan demikian juga, objek-objek yang saya lihat selagi sadar pasti sungguh-sungguh ada.

3) Idea Keluasan. Saya mengerti materi sebagai keluasan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli ilmu ukur.[17]



(b) Ontologi: Substansi-Atribut-Modus

Yang disebut substansi yaitu apa yang berada sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk berada.[18] Substansi yang dipikirkan seperti itu sebenarnya hanya ada satu saja, yaitu Allah. Segala sesuatu yang lain hanya dapat dipikirkan sebagai berada dengan pertolongan Allah. Jadi, sebutan substansi sebenarnya tidak dapat dengan cara yang sama diberikan kepada Allah dan kepada hal-hal lain.

Sambil menyadari perbedaan ini, hal-hal rohani dan bendawi yang diciptakan memang dapat juga dimasukkan dalam pengertian substansi itu. Descartes memang menyimpulkan bahwa selain Allah masih ada dua substansi, yaitu jiwa dan materi.

Selain pengertian substansi, masih ada dua pengertian lain yang dipergunakan Descartes untuk menentukan hakikat segala sesuatu, yaitu pengertian “atribut” dan “modus”. Yang disebut atribut ialah sifat asasi (hakikat). Tiap substansi memiliki sifat asasinya sendiri, yang menentukan hakikat substansi itu. Segala substansi bendawi hakikatnya ialah keluasan, sedangkan jiwa atau roh hakikatnya ialah pemikiran.[19]

Roh dapat dipikirkan dengan jelas dan terpilah-pilah, tanpa memerlukan sifat asasi benda. Ini berarti bahwa, menurut Descartes, jiwa dan materi tidak hanya berbeda secara hakiki tetapi juga terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, secara a priori tidak ada kemungkinan bahwa yang satu mempengaruhi yang lain, sekalipun dalam praktik tampak ada pengaruhnya.

Jiwa telah memiliki pengertian-pengertian yang tunggal tentang substansi bendawi (seperti juga tentang substansi rohani dan substansi yang tiada batasnya, yaitu Allah) sebagai bawaannya. Namun, karena Descartes telah menyangsikan dunia di luar diri saya, sekarang ia mengalami kesulitan untuk membuktikan bahwa idea materi itu juga ada. Artinya idea itu mempunyai eksistensi, tetapi “terwujud” dalam realitas ekstra-subjek.

Bagi Descartes, satu-satunya jalan untuk menerima adanya dunia material adalah bahwa Allah akan menipu saya sekiranya Ia memberi saya idea keluasan, sedangkan di luar diri saya tiada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Tidak mungkin bahwa wujud yang sempurna (Allah) menipu saya. Jadi, di luar saya sungguh-sungguh ada suatu dunia material.[20]



(c) Antropologi

Ajaran Descartes tentang manusia sesuai dengan pandangannya yang dualistis mengenai keterpisahan antara substani rohani dan substansi bendawi. Manusia terdiri dari kedua substansi ini. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keleluasaan. Sebenarnya tubuh tidak lain daripada suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa.



Descartes, dengan memisahkan secara radikal jiwa dan tubuh, menganut dualisme tentang manusia. Ia mendapat banyak kesulitan ketika harus mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara jiwa dan tubuh berlangsung dalam glandula pinealis (sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Akan tetapi, pada akhirnya pemecahan ini tidak memadai bagi Descartes.



2. Tentang Epistemologi: Metode Kesangsian

Untuk dapat memberikan dasar yang kokoh pada filsafat dan ilmu pengetahuan yang ingin diperbaruinya itu, Descartes memerlukan suatu metode yang baik. Selanjutnya, Descartes berpendapat bahwa ia telah menemukan metode yang dicarinya itu, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya. Ia bermaksud menjalankan metode ini seradikal mungkin.[21]

Descartes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan (seperti dalam mimpi atau khayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data inderawi tidak dapat diandalkan. Dia kemudian menguji kepercayaannya kepada Tuhan, tetapi di sini pun dia menemukan bahwa dia dapat membayangkan Tuhan yang mungkin bisa menipu manusia.

Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai kepastian mutlak ini, Descartes meragukan adanya surga dan dunia, pikiran dan badan. Satu-satunya hal yang tak dapat dia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri karena dia tidak dapat meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu. Bahkan, jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia berdalih bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa Latin “Cogito ergo sum“ (saya berpikir, karena itu saya ada).[22]

Mengapa kebenaran ini (saya ada) bersifat pasti sama sekali? Menurut Descartes, hal ini dikarenakan saya mengerti itu dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly).[23] Jadi, hanya hal-hal yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah itulah harus diterima sebagai benar. Dengan demikian, Descartes berkeyakinan bahwa ia telah menemukan norma untuk menentukan kebenaran.[24]

Menurut Descartes, apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Descartes menjelaskan, bahwa suatu benda atau peristiwa yang tampak dan dapat kita amati bukanlah benda atau peristiwa itu sendiri. Adanya benda atau peristiwa kita ketahui dengan rasio atau akal kita. Suatu benda atau peristiwa pada dirinya (das ding an sich) tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda (noumena) melainkan penampakannya (fenomena) saja.

Pengetahuan kita tentang benda atau peristiwa itu sendiri bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan, sentuhan, atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian kita yang terdapat di dalam rasio. Pengetahuan melalui indera adalah kabur. Dalam hal ini kita sama dengan binatang.

Justru karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma ”jelas dan terpilah-pilah”[25]. Jadi, bagi Descartes satu-satunya sumber pengetahuan yang sah adalah rasio. Keraguan awal-total merupakan metode yang membuat pengetahuan menjadi jelas dan terpilah-pilah.

BAB III

MENINJAU KEMBALI METODE KERAGUAN (SKEPTISISME)

RENE DESCARTES



A. Kemungkinan Faktor Sejarah Yang Melatarbelakangi Pemikiran Descartes

Masa hidup Descartes adalah puncak Renaissance. Telah disebut dalam pendahuluan tulisan ini, bahwa Renaissance berarti “kelahiran kembali”. Dalam hal ini, yang dilahirkan kembali ialah “kebudayaan klasik Yunani dan Romawi”. Mengapa kebudayaan tersebut “dilahirkan kembali”? Kedua kebudayaan tersebut dikatakan dilahirkan kembali karena saat itu orang Barat-Eropa sedang bingung mencari solusi dan jalan-jalan baru sebagai alternatif untuk memecahkan problem kebudayaan Barat-tradisional yang diresapi oleh jiwa Kristiani. Dengan demikian, perhatian mereka tertuju pada kebudayaan Yunani dan Romawi yang mereka anggap sebagai akar budaya mereka. Kebudayaan klasik tersebut lalu didewa-dewakan dan dijadikan standar, model dalam segala bidang kultural. Baik dalam kesusastraan, kesenian, lukisan, ukiran, maupun arsitektur.

Suatu perkembangan yang sangat penting pada waktu itu adalah meledaknya aktivitas keilmuan yang didasarkan pada metode eksperimental dan matematis. Selanjutnya, teologi Yudea-Kristiani yang berbaur dengan filsafat Aristotelian (Yunani) yang sempat menguasai alam pikiran Barat-Eropa pada Abad Pertengahan mulai ditinggalkan.

Beberapa tokoh yang dianggap sebagai perintis jalan baru (via moderna) dalam ilmu pengetahuan Barat-Modern ialah Leonardo Da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johanes Kepler (1571-1630), dan Galileo Galilei (1564-1643)[26]. Adapun orang yang meletakan dasar filosofis bagi perkembangan ilmu pengetahuan Barat-Modern ialah Francis Bacon (1561-1623). Ia adalah seorang bangsawan Inggris yang telah melahirkan karya besar Novum Organon, suatu karya yang merevisi filsafat ilmu pengetahuan Aristoteles dalam Organon.

Bacon dan para pemikir yang telah disebutkan di atas merupakan orang-orang yang mempengaruhi pemikiran Rene Descartes, hingga Descartes meneriakkan metode keraguan (skeptisisme) sebagai fundamen baru dalam menggapai pengetahuan tentang dunia..

Metode keraguan sebagai fundamen baru dalam filsafat dan aktivitas keilmuan dinilai sebagai “titik tolak yang netral”. Di sinilah saatnya melepaskan praduga dan prasangka apa pun (termasuk agama atau worldview) dari diri seseorang. Oleh karena prasangka itu membuat seseorang terpenjara dalam kelemahan dan kebekuan pikiran dan ilmu pengetahuan.

Arti penting pemikiran Descartes terletak pada sumbangannya dalam memberikan arah yang pasti kepada pemikir modern. Kesangsian Cartesian mencakup pertimbangan filsafati serius akan segala sesuatu tentang apa kesangsian boleh dimiliki. Dengan demikian, ajaran-ajaran Descartes dapat membantu orang untuk mengerti aliran-aliran filsafat yang timbul pada abad-abad sesudahnya, khususnya idealisme yang mencapai puncaknya pada pemikiran Hegel di satu pihak dan positivisme serta materialisme di lain pihak. Pertentangan antara kedua kutub filosofis abad ke-19 ini sudah didahului oleh pertentangan pada abad ke-17 dan ke-18 antara rasionalisme dan empirisme, yang kemudian disintesiskan oleh Immanuel Kant dengan kritisisme-nya.

Aliran filsafat yang langsung berasal dari Descartes ialah rasionalime yang mementingkan akal[27]. Dalam akal terdapat idea-idea yang dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Dalam aliran ini, terutama ada dua masalah yang diwariskan oleh Descartes. Pertama, masalah substansi, dan kedua, masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Adapun beberapa tokoh rasionalisme setelah Descartes adalah Nicolas Malebranche (1638-1715), Baruch de Spinoza (1632-1670), Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), dan Christian Wolf (1679-1754)[28].



B. Konsekuensi dan Relevansi Metode Keraguan (Skeptisisme) Descartes

Metode keraguan Descartes telah melahirkan berbagai konsekuensi. Metode ini telah menempatkan rasionalitas sebagai “standar-nilai” budaya bagi masyarakat Barat[29]. Oleh karenanya masyarakat Barat merasa superior atas masyarakat non-Barat. Masyarakat non-Barat merasa inferior berhadapan dengan masyarakat Barat karena saat ini budaya Baratlah yang memegang kendali (hegemoni) hampir semua segi kehidupan masyarakat dunia. Dengan demikian, masyarakat non-Barat (termasuk Indonesia) cenderung mengadopsi konsep-konsep Barat dalam hampir semua segi kehidupan.

Kebudayaan Barat abad ke-21 merupakan lanjutan dari konsep dan praktik modernitas sejak Rene Descartes. Dalam bidang science, metode keraguan (skeptisisme) Rene Descartes masih dipegang. Merujuk pada Max Weber, inti modernitas adalah Rasionalitas yang mensyaratkan adanya proses sekularisasi[30]. Selanjutnya, merujuk pada David West, dalam bukunya An Introduction to Continental Philosophy tahun 1966, bahwa rasionalisasi selalu dikaitkan dengan proses sekularisasi yang oleh Weber disebut dis-enchantment.

Masyarakat modern memang menempatkan akal (rasio) manusia sebagai penentu kebenaran. Penentu kebenaran bukan lagi agama atau dogma. Masyarakat modern juga menjadikan agama sebagai urusan privat belaka, (The idea of modernity make sciensce, rather than God, central society and at best relegates religious belief to the inner realm of private life).[31]

BAB IV

PENUTUP



A. Kesimpulan

Skeptisisme (keraguan metodis) yang diusulkan Descartes lebih pada “langkah awal” dalam mencari dan mengukur validitas (ke-absah-an) ilmu pengetahuan. Descartes telah menjadikan rasio sebagai satu-satunya kriteria untuk mengungkap kebenaran (rasionalisme). Namun, pada akhirnya kenetralan metode Descartes masih problematik, dan mulai diragukan. Bila kita telusuri argumen “Cogito Ergo Sum” Descartes, akan kita dapati bahwa “keraguan” pun merupakan deviasi sesaat dan akan kembali pada keyakinan (praduga).

Keyakinan “aku ada” yang bagi Descartes mutlak pun masih merupakan “praduga” yang sarat nilai (value ladens) dan bukan netral atau bebas nilai (value free). Bagaimanapun, praduga dalam bentuk apa pun tidak bisa dihapuskan dari metodologi dan aplikasi ilmu pengetahuan. Lagi pula “skeptisisme” Descartes merupakan wujud konkret praduga atau pandangan hidup (worldview) Descartes sendiri. Hal ini berarti ia ingin melepaskan dirinya dari “hegemoni” dogma Kristiani.



B. Saran

Pembacaan terhadap skeptisisme Descartes memang suatu hal yang menarik, karena Descartes memiliki latar belakang yang mencengangkan. Di samping itu, ia adalah pelopor jalan baru (via moderna) bagi perjalanan sejarah masyarakat Barat-Eropa.



Membiarkan perkembangan metodologi, konfigurasi bagunan science, dan aplikasinya dalam bentuk teknologi berkembang begitu saja tanpa kontrol moral bisa menjadi sangat riskan (merusak manusia sendiri). Menyadari krisi ilmu pengetahuan dalam budaya dan peradaban Barat, Nauqib al-Attas menyimpulkan, bahwa ilmu yang berkembang di dunia Barat tidak semestinya diterapkan atau di-adopsi di dunia Muslim.

Mengapa ilmu yang berkembang di dunia Barat tidak semestinya diterapkan atau di-adopsi di dunia Muslim? Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Pertama, ilmu selalu berangkat dari “praduga” dan ilmu bisa saja dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi penyebaran cara (metodologi) dan pandangan hidup (worldview) suatu kebudayaan. Kedua, ilmu terbukti tidak netral atau bebas nilai (value free), karena dari awalnya sampai aplikasinya, ilmu pengetahuan begitu sarat nilai (value ladens).[32]

DAFTAR PUSTAKA



Armas, Adnin. 2007 Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu. Ponorogo : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) – Institut Studi Islam Daruusalam Pondok Pesantren Gontor



Bertens, Kess. 1999. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.



Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern :Dari Machiavelli sampai Nietzche. Jakarta: Gramedia.

Husaini, Adian. 37 Tahun Pembaharuan Islam di Indonesia, Makalah dalam seminar sehari ke-2 Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Muhammad Natsir- Jakarta dengan Tema seminar “Tantangan Da’wah dalam Tataran Pemikiran: Evaluasi Kritis Terhadap 37 Tahun ‘pembaharuan’ Pemikiran Ke-Islaman di Indonesia”, tanggal 15 Muharram 1428/03 Februari 2007.



Kattsoff, Louis O. 2004. PengantarFilsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.



Munir Mulkhan, Abdul. 1991. Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai Pemikiran Imam Al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara.



Scruton, Roger. 1986. Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes Sampai Wittgenstein, alih bahasa: Zainal Arifin Tandjung. Jakarta: PT. Pantja Simpati.



Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.



Utorodewo, Felicia N, dkk. 2006. Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. Depok: UI Press.



[1] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat : Suatu Pengantar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2005), hal : 157.

[2] Prof. Dr. Kess Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1999), hal : 41-42

[3] Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dab Tujuh Jalan Kebebasan : Sebuah Esai Pemikiran Imam Al-Ghazali, (Jakarta : Bumi Aksara, 1991), Hal : 43

[4] Bertens op. cit., 42

[5] Louis O. Kattsoff, PengantarFilsafat, alih bahasa; Soejono Soemargono, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2004), hal : 135

[6] Ibid

[7] Mulkhan, op. cit., 43-44

[8] Kattsoff, op. cit., 74

[9] Felicia N. Utorodewo, dkk, Bahasa Indonesia : Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, (Depok : UI Press, 2006), hal : 62

[10] Ibid

[11] Ada dua alasan mengapa Descartes dinobatkan sebagai “Bapak Filsafat Barat-Modern”. Pertama, karena ia berusaha keras untuk mencari satu-satunya metode dalam seluruh cabang penyelidikan manusia. Kedua, karena ia memperkenalkan dalam dunia filsafat suatu konsep dan argumen yang ia gunakan sebagai pendobrak pemikiran Abad Pertengahan dan sebagai prinsip dasar filsafatnya. Lihat Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes Sampai Wittgenstein, alih bahasa: Zainal Arifin Tandjung, (Jakarta: PT. Pantja Simpati, 1986), hal. 31.

[12] Ibid

[13] ibid

[14] ibid

[15] ibid

[16] Dalam filsafat, konsep saya (aku) mengacu pada setiap makhluk rasional (manusia) sebagai subjek, bukan sekadar si pemikir sebagai individu.

[17] Ibid, hal : 34-40. Tentang Ide-ide bawaan tersebut dapat juga di telusuri pada K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1999), hal : 46.

[18] K. Bertens, op. cit, hal : 46

[19] Ibid

[20] ibid

[21] Ibid

[22] Yang dimaksudkan Descartes dengan istilah “berpikir” adalah “menyadari”. Pikiran memang merupakan salah satu bentuk kesadaran, dan dalam arti itu kesangsian metodis (skeptisisme) tadi disebutnya “saya berpikir“, dan karena saya berpikir, jelaslah saya ada. Itulah kebenaran yang bagaimanapun tak dapat disangkal, Ibid. Perlu ditegaskan disini bahwa makna keraguan metodis (skeptisime) Descartes adalah mengarah pada satu langkah awal/titk tolak yang netral (mengesampingkan semua aspek praduga baik itu budaya maupun agama ) dalam mendapatkan pengetahuan. Dan bukan “skeptisime” yang dikemukakan oleh David Hume, yakni skeptisime bukan langkah awal tapi menjadi langkah ahir/kesimpulan, bahwa kita tidak mungkin mengetahui apapun.

[23] Scruton, op. cit, hal : 35

[24] Ibid, hal : 45

[25] Ibid, hal : 35

[26] Mulkhan, op. cit., 43-44



[27] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern : dari Machiavelli sampai Nietzche, (Jakrta : Gramedia, 2007), hal : 42

[28] Scruton, op. cit, hal : 40

[29] Dalam pandanga Nauqib al-Attas, ilmu pengetahuan Barat-Modern yang di proyeksikan dalam pandanga-pandangan hidupnya, dibangun atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. Menurutnya ada 5 faktor yang menjiwai budaya dan peradan Barat, yaitu :

1. akal (rasio) diandalakan untuk membimbing kehidupan manusia, 2. bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran, 3. menegasakan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular, 4. selalu apologi pada doktrin humanisme, dan 5. menjadaikan drama dan tragedi sebagi unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Lihat-Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu, (Ponorogo : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) – Institut Studi Islam Daruusalam Pondok Pesantren Gontor, 2007), hal : 10-11

[30] Harvey Cox dalam bukunya “The Secular City” , ia menegaskan bahwa sekularisasi merupakan konsekuensi logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah (secularization is the legitimate consequence of the impact of biblical faith on history). Selanjutnya Harvey Cox mengatakan bahwa makna yang terkandung dalam sekularisasi adalah pembebasab manusia dari asuhan agama dan metafisika, perhatian pada “dunia lain” menuju dunia kini dan disini (cecularization is the libration of man from religious and metafhysical tutalege, the turning of his attantion away from other world and towards this one). Lihat, Adian Husaini, MA, 37 Tahun Pembaharuan Islam di Indonesia, (Makalah dalam seminar sehari ke-2 Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Muhammad Natsir Jakarta dengan Tema seminar “Tantangan Da’wah dalam Tataran Pemikiran: Evaluasi Kritis Terhadap 37 Tahun ‘pembaharuan’ Pemikiran Ke-Islaman di Indonesia”, tanggal 15 Muharram 1428/03 Februari 2007), hal: 1.

[31] Ibid, hal: 2.

[32] Dua pertimbangan di atas dapat ditelusuri pada Adnin Armas, op. cit, hal : 11-12

Ibn Arabi

IBN ARABI Mengusung Tasawuf Falsafi
27 Jan 2010

* Ragam
* Republika

MESKI PEMIKIRANNYA MEMILIKI PENGARUH BESAR, IA PUN TAK SEPI KRITIK.

Ibn Arabi merupakan seorang filsuf yang juga sufi. Ia mengembangkan apa yang disebut dengan tasawuf falsafi. Pemikirannya menarik minat para cendekiawan lainnya. Ia pun tak lepas dari pro dan kontra atas pemikirannya yang terlontar. Menurut Prof Dr Kautsar Azhari Noer dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, dalam Seminar Nasional Filsafat dan Mistitisme Islam, Ibn Arabi dan Mulia Sadra, UIN Syarif Hidayatullah, 16 Januari lalu, sejumlah ulama menyerang pemikiran Ibn Arabi.

Di antaranya, mengenai pemikiran wahdatul wujud yang dikembangkan Ibn Arabi dalam tasawuf falsafinya. Kecenderungan filsafat dalam tasawuf ini membuat sejumlah ulama fikih menyerang pemikiran Ibn Arabi, seperti Ibn al-Jauzi dan Ibn Taimiyah.Serangan ini dapat menimbulkan anggapan bahwa tasawuf falsafi ini tak memiliki sandaran dalam Alquran dan hadis. Pun, tuduhan bahwa kalaupun digunakan, itu hanya sebagai pembenar bagi ajaran-ajaran yang berasal dari luar Islam.kautsar mengungkapkan, Ibn Arabi mengklaim bahwa "pengetahuan yang diperoleh melalui penangkapan, sebenarnya berkenaan dengan makna Alquran. Al-Futuhat al-Makkiyah (Pe-nyingkapan-penyingkapan Makkah), seperti karya lain Ibn Arabi, tak lain merupakan tafsir Alquran.

Seorang pengkaji pemikiran Ibn Arabi, Michel Chodkiewics, mengungkapkan, tak mungkin memahami karya-karya Ibn Arabi tanpa mengingat Alquran karena Alquran selalu hadir dalam hal yang ditulisnya. Meski tak ada kutipan langsung dari kitab tersebut.Ibn Arabi menyatakan bahwa Alquran mencakup secara global segala sesuatu, semua kitab suci yang diwahyukan, semua ilmu dalam kitab-kitab yang diwahyukan. Kitab Alquran ini disebut Ibu Kitab, yang berarti induk seluruh kitab.Sebab, Alquran mengandung akar atau ide segala ilmu dalam kitab-kitab lain yang diturunkan. Alquran, jelas Ibn Arabi, adalah sebuah kitab di antara semua kitab, kecuali ia memiliki pencakupan yang tak dimiliki oleh semua kitab lain.Dia mengatakan, Alquran sebagai Ibu Kitab yang membuatnya berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Perbandingan antara Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa, dan Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, mengukuhkan sifat Alquran tersebut.

Taurat lebih banyak mengandung ajaran-ajaran sosial. Injil lebih banyak mengandung ajaran spiritual. Alquran mengandung dua ajaran ini sekaligus, yaitu spiritual dan sosial. Taurat lebih menekankan lahiriah, Injil pada aspek esoteris, dan Alquran pada keduanya.Selain itu, Ibn Arabi menyatakan pula, Allah adalah cakupan realitas keseluruhan nama-nama Ilahi. Dengan demikian, Allah adalah nama yang mencakup semua nama, sebagaimana penampakan diri-Nya {al-tajalli), memiliki semua bentuk.Menurut Tbn Arabi, semua pencakupan nama Allah yang sering disebut Al-Haqq, secara sempurna tercermin dalam Alquran. Sehingga, ia mengatakan bahwa Alquran merupakan sifat Allah. Ini kemudian ditemukan pada diri Muhammad SAW, sebagai manusia yang sempurna atau insan kamil.

Yaitu, merupakan cermin sempurna dan bening yahg memantulkan semua nama Allah secara penuh dan seimbang. Alquran memanifestasikan dirinya pada pribadi Muhammad sehingga dikatakan bahwa akhlak Nabi Muhammad adalah Alquran.Tentang hal ini, Ibn Arabi mengisahkan, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, Aisyah menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran. Ini karena Rasulullah memiliki akhlak yang unik dan akhlak itu mencakup semua akhlak mulia.Allah SWT, jelas Ibn Arabi, menyifati akhlak itu dengan keagungan (al-azhamah), sebagaimana Dia menyifati Alquran dalam firman-Nya bahwa Alquran agung. Maka, Alquran adalah akhlak Rasulullah. Jika ada umat Muhammad yang tak melihatnya, hendaklah memandang Alquran.

Menurut Ibn Arabi, saat seorang Muslim memandang pada Alquran, tak ada perbedaan antara memandang padanya dan memandang pada Alquran. Itu seakan-akan, Alquran tampil sebagai bentuk jasad yang dikatakan bernama Muhammad.Ibn Arabi juga menuliskan beberapa wasiat kepada umat Islam. Ia meminta umat Islam membaca dan merenungkan (tadabur) kedalaman makna Alquran. Makna merenungkan di sini adalah mempelajari, mengkaji, dan melihat secara mendalam dengan kalbu.Yang tentunya, berimplikasi pada transformasi spiritual dalam perjalanan menuju Allah. Ini akan membawa umat Islam kepada pengetahuan dan kesadaran tentang kualitas-kualitas dan sifat-sifat terpuji yang dimiliki dan sifat tercela yang harus dihindari.

Ibn Arabi meninggalkan wasiat pula bagi umat Islam, untuk berusaha sungguh-sungguh memelihara Alquran dengan menghafal dan mengamalkan ajarannya. Ia mengingatkan pula, tak ada orang lebih pedih siksaannya daripada orang yang menghafal satu ayat Alquran lalu melupakannya.Demikian pula, dengan orang yang menghafal satu ayat Alquran kemudian tak mengamalkannya. Menurut cendekiawan Muslim, Saifuddin Amsir, meski Ibn Arabi tak memiliki aliran tarekat tertentu, ajarannya soal wahdatul wujud telah memberikan pengaruh terhadap banyak sufi.

Pengaruh itu juga menerpa para filsuf setelah Ibn Rusyd. Ibn Arabi juga menjadi sosok penting setelah Al-Ghazali. Di kemudian hari, Ibn Arabi mempunyai julukan al-sheikh al-Akbar. Namun, Ibn Arabi juga tak sepi kritik.Sejumlah cendekiawan juga menudingnya sebagai ahli bidah. Buku-buku Ibn Arabi juga diminta dibakar. Mereka yang menuding dan meminta buku-buku Ibn Arabi dibakar, di antaranya, Abu Hayyan al-Andalusi, Muhammad ibn Nur al-Din, Ibn Taimiyah, dan muridnya, al-Dhahabi. ed ferry
Entitas terkaitAisyah | Allah | Alquran | Futuhat | Ibn | Ibu | Injil | Islam | Jauzi | Kecenderungan | Makkiyah | Makna | Michel | Mistitisme | Muhammad | Mulia | Muslim | Nabi | Nur | Nya | Pemikirannya | Pengaruh | Perbandingan | Rasulullah | Saifuddin | Serangan | Syarif | Taurat | Abu Hayyan | Ibn Arabi | Ibu Kitab | Kitab Alquran | Menurut Ibn | Menurut Tbn | Nabi Muhammad | UIN Syarif | Seminar Nasional Filsafat | Universitas Islam Negeri | IA PUN TAK SEPI | MESKI PEMIKIRANNYA MEMILIKI PENGARUH | IBN ARABI Mengusung Tasawuf Falsafi | Menurut Prof Dr Kautsar Azhari Noer |
Ringkasan Artikel Ini
Kecenderungan filsafat dalam tasawuf ini membuat sejumlah ulama fikih menyerang pemikiran Ibn Arabi, seperti Ibn al-Jauzi dan Ibn Taimiyah.Serangan ini dapat menimbulkan anggapan bahwa tasawuf falsafi ini tak memiliki sandaran dalam Alquran dan hadis. Seorang pengkaji pemikiran Ibn Arabi, Michel Chodkiewics, mengungkapkan, tak mungkin memahami karya-karya Ibn Arabi tanpa mengingat Alquran karena Alquran selalu hadir dalam hal yang ditulisnya. Alquran, jelas Ibn Arabi, adalah sebuah kitab di antara semua kitab, kecuali ia memiliki pencakupan yang tak dimiliki oleh semua kitab lain.Dia mengatakan, Alquran sebagai Ibu Kitab yang membuatnya berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Alquran memanifestasikan dirinya pada pribadi Muhammad sehingga dikatakan bahwa akhlak Nabi Muhammad adalah Alquran.Tentang hal ini, Ibn Arabi mengisahkan, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, Aisyah menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran. Ini karena Rasulullah memiliki akhlak yang unik dan akhlak itu mencakup semua akhlak mulia.Allah SWT, jelas Ibn Arabi, menyifati akhlak itu dengan keagungan (al-azhamah), sebagaimana Dia menyifati Alquran dalam firman-Nya bahwa Alquran agung

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.