This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah peradaban islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah peradaban islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

LINTASAN SEJARAH ISLAM (13)

SISTEM PEMERINTAHAN PADA MASA UMAYYAH

DAN TRAGEDI KERBELA

Abdul Hadi W. M.

Ketika mulai menjalankan pemerintahannya Daulah Umayyah menghapuskan dasar-dasar syurayang telah dilaksanakan pada masa Khalifah al-Rasyidin. Tampuk pemerintahan dan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan raja. Sistem pemerintahan yang sentralistik dan monolitik ini didukung oleh kekuatan militer, politik dan diplomasi yang terorganisir rapi. Umayyah meniru sistem Rumawi dan Byzantium, yang sistem pemerintahannya sentralistik dan monolitik, serta otoriter dan hegemonik dalam pelaksanaan.

Sebagai akibat dari perubahan sistem pemerintahan itu maka organisasi politik (al-Nizam al-Siyasah) mengalami perubahan pula. Perubahan asasi terlihat dalam sistem khilafah. Kepala pemerintahan (khalifah) tidak lagi dipilih berdasarkan musyarawarah, melainkan diangkat berdasarkan keturunan. Pemerintahan dengan demikian berada di tangan raja.Penyelewengan dan KKN semakin mudah berkembang.

Dalam menjalankan pemerintahan khalifah dibantu oleh Dewan Sekretaris Negara (Diwan al-Khitabah) dan Dewan Kepegawaian (Diwan al-Hijabah). Diwan al-Khitabah dipimpin oleh seorang ketua dibantu lima orang khatib masing-masing: (1)Khatib al-Rasa’il, untuk urusan surat menyurat kerajaan; (2)Khatib al-Kharraj, untuk urusan pajak dan keuangan; (3) Khatib al-Jund, untuk utusan ketentaraan; (4) Khatib al-Syurthalik, untuk urusan kepolisian; (5) Khatib al-Qadhi, untuk urusan kehakiman.

Umayaah membagi kerajaan ke dalam lima wilayah besar: (1). Hejaz, Yaman dan Najd, yaitu wilayah pedalaman Jazirah Arab. (2) Iraq Arab, yaitu bekas wilayah kerajaan Babylonia, Assyria dan Iraq Persia, termasuk juga Oman, Bahrayn, Karman, Sajistan, Kabul dan Khurasan, serta sebagian wilayah Punjab di India. (3) Mesir dan Sudan. (4) Armenia, Azerbaijan dan Asia Kecil.. (5) Afrika Utara, Libya, Andalusia (Spanyol dan Portugal), Sisilia dan Sardinia.

Tiap wilayah ini diperintah oleh seorang Amir al-`umara (gubernur jendral) dibantu oleh beberapa amir (gubernur). Jabatan amir al-`umara dan `amir diberikan kepada orang Arab. Dalam perkembangannya kemudian pemerintahan Umayyah membentuk organisasi pos dan kepolisian Organisasi pos memainkan peranan penting sejak zaman Mu`awiyah disebabkan luasnya wilayah kerajaan yang harus dihubungkan melalui jaringan komunikasi atau surat menyurat yang baik. Organisasi Kepolisian (syurthah) pada mulanya berada di bawah lembaga kehakiman (al-qadhi), namun kemudian dipisahkan. Lembaga ini pada mulanya bertugas melaksanakan keputusan pengadilan, namun kemudian bertugas mengawasi masalah kejahatan dan keamanan. Sebuah lembaga kepolisian yang sangat penting di antaranya ialah yang disebut nizam al-ahdas, yang tugasnya mirip dengan brigade mobil.

Organisasi Tata Usaha Negara. Lembaga-lembaga yang berlindung di bawah organisasi tata usaha negara )al-nizam al-idar) ialah :al-dawwiin, al-imarah alal buldan, barid dan syurthah. Al-Dawawin adalah lembaga yang mengurus tata usaha pemerintahan. Terdiri dari empat:

(a) Dewan Tata usaha pajak dan keuangan (diwan al-kharraj); (b) DewamTata Usaha Surat Menyurat(diwan al-rasa’il); (c) Dewan Urusan Surat-surat Lamaran, penerangan, dan lain-lain disebut diwan al-khatim: (d) Sebuah lagi lembaga Diwan al-Mushtagaghilat al-mutanauwi’ah.

Organisasi Keuangan atau al-Nizam al- Mal. Organisasi keuangan terutama mengurus penyaluran uang dari kas kerajaan untuk gaji pegawai dan biaya negara. Di dalamnya terdapat pula lembaga yang mengurus keluar masuknya keuangan serta sumber darimana uang itu diperoleh. Misalnya lembaga yang disebut al-dharaib, yaitu kewajiban yang harus dibayar oleh seriap warga negara kepada negara. Bagi warga negara yang belum memeluk agama Islam dikenakan pajak khusus yang lebih tinggi.

Sedangkan lembaga yang mengurus keuangan negara dan biayaan pemerintahan disebutMasharif Bait al-Mal. Lembaga ini mengurus penyaluran keuangan atau biaya negara untuk pos-pos seperti:( 1) Gaji pegawai, tentara dan biaya administrasi negara. (2) Biaya pembangunan tanah pertanian, termasuk irigasi dan penggalian beberapa terusan. (3) Biaya untuk penjara dan tawanan perang. (4) Biaya angkatan perang dan perlengakapan tentara. (5) Hadiah-hadiah negara untuk para sastrawan, cendekiawan, ilmuwan dan ulama. (6) Biaya dinas rahasia.

Gaji tentara dan dinas rahasia termasuk tinggi. Tentara terdiri dari angkatan darat

dan angkatan laut. Kemahiran orang Arab dalam pelayaran dimanfaatkan utnuk membangun angkatan laut yang kuat. Pemerintahan Umayyah memiliki banyak kapal perang yang terhitung paling modern pada zaman itu. Karena kekuatan angkatan lautnya inilah mereka dapat menaklukkan Spanyol yang kemudian disebut Andalusia. istem ketentaraan Uamyyah meniru sistem Persia. Undang-undang wajib militer diterapkan untuk mendpatkan personil militer yang banyak.

Organisasi Kehakiman Organisasi kehakiman dibagi ke dalam tiga badan: Pertama, al-Qadha, yaitu qadhi yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan agama.Kedua, al-Hisbah, kepalanya disebut al-muhtasib, bertugas menyelesaikan masalah-masalah perdata dan pidana yang memerlukan waktu cepat. Ketiga, al-nazar fi’l-mazalim. Mahkamah tinggi atau mahkamah banding.

Tugas seorang hakim ialah memutuskan perkara menurut ijtihadnya karena pada

waktu itu bekum ada madzab fiqih yang diakui. Sebab itu hakim memiliki kebebasan memutuskan perkara , khususnya dalam mengadili petugas pajak yang menyeleweng. Mahkamah banding dibantu oleh lima orang pejabat dan dua lembaga pengadilan banding. Biasanya keputusan banding dilakukan di masjid. Kelima pejabat mahkamah banding itu masing-masing dibantu oleh: Pengawal yang kuat, hakim atau qadhi yang ahli. Fuqaha (ahli fiqih) yang tugasnya memberi nasehat hukum agama kepada hakim, para sekretaris dan saksi ahli.

Syura dan Tragedi Kerbela

Syura adalah sistem pemilihan seorang pemimpin melalui musyawarah yang diikuti oleh kelompok-kelompok yang ada dalam komunitas Muslim. Pada masa Ali dan Mu’awiyah berseteru, bentuk syura yang diadakan ialah tahkim, yaitu pemilihan yang dilakukan oleh sebuah dewan hakim yang ditunjuk oleh pihak-pihak yang bersaing. Tradisi syura ini dihapuskan oleh Mu’awiyah ketika menetapkan putranya Yazid menjadi penggantinya di tampuk pemerintahan. Tidak mengherankan apabila golongan Khawarij melancarkan penentangan dengan mencetuskan berbagai pembrontakan. Akibat lain ialah kekecewaan golongan Syiah, yang mengharapkan syura diadakan, sebab mereka yakin bahwa pemimpin mereka Husein ibn Ali merupakan calon kuat pengganti Mu’awiyah. Selain itu mereka menganggap Yazid tidak memiliki kemampuan menjadi pemimpin. Tragedi Kerbela yang menyebabkan gugurnya Husein dalam pertempuran yang tidak adil dan tidak seimbang, telah menyebabkan kian parahnya perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Setelah wafatnya Husein, pengikut faham Syiah semakin bertambah dan gerakan mereka pun semakin kuat.

Tragedi Kerbela. Husein ibn Ali adalah imam golongan Syiah ketiga. Dia adalah adik kandung Hasan dan cucu Nabi Muhammad s.a.w. yang saleh dan cerdas. Ketika Mua’awiyah wafat dan Yazid ditunjuk sebagai penggantinya, Husein yang berada di Madinah. Yazid memerintahkan gubernur Madinah agar menyerukan seluruh penduduk Madinah memberi ba’at (menyampaikan sumpah setia) kepadanya. Husein dan para pengikutnya menolak memberikan bai’ah kepada Yazid, juga menolak undangan agar dia menghadap Yazid. Sebaliknya bersama karib kerabat dan keluarganya dia pergi ke Mekkah untuk menenangkan diri dan menemui para pendukungnya di Hejaz.

Kedatangan Husein di Mekkah menggelisahkan Abdullah ibn Zubair, seorang tokoh politik yang licik dan berambisi menjadi penguasa Hejaz. Seperti Husein Abdullah bin Zubair menolak memberikan bai’ah kepada Yazid. Kedatangan Husein jelas merupakan rintangan baginya untuk memenuhi ambisinya itu, sebab ketokohan Husein lebih menonjol dibandingkan dirinya. Dia mulai mengatur siasat untuk menyingkirkan Husein, yaitu dengan menyarankan agar dia pergi Kufa dan meninggalkan Mekkah. Tidak lama setelah Husein berada di Mekkah ratusan surat berdatangan kepadanya dan memintanya pergi ke Kufa untuk dibai’ah oleh para pendukungnya menjadi imam mereka. Abdullah ibn Zubair menganjurkan Husein pergi ke Kufa memenuhi permintaan para pendukungnya itu. Tetapi tokoh lain, Abdullah bin Abbas, menganjurkan Husein tidak meninggalkan Mekkah dan memberi isyarat bahwa semua itu adalah tipu muslihat belaka untuk menyingkirkan dirinya.

Tetapi Husein tidak mengacuhkan saran Abdullah ibn Abbas. Dia mengutus dua orang pembantu dekatnya, Muslim ibn `Aqil dan Hani’, pergi ke Kufa. Tugasnya ialah melihat keadaan para pendukungnya di Kufa. Ketika penduduk Kufa mendengar utusan Husein tiba, mereka berkumpul di masjid dan menyatakan dukungan penuhnya kepada Husein. Tetapi tidak lama kemudian tiba-tiba mereka lenyap.

Ketika itu gubernur Kufa ialah Nu’man ibn Basyir. Yazid ibn Muawiyah sudah lama tidak senang kepada Nu’man, karena menurut laporan bukan orang yang setia kepada Umayyah. Ketika utusan Husein tiba di Kufa, pada saat itulah Nu’man dipecat dari jabatannya sebagai gubernur. Sebagai penggantinya dia mengangkat gubernur Basra, Ubaidillah ibn Ziyad sebagai penggantinya. Sejak saat itu provinsi Kufa dan Basra digabung menjadi satu.

Setelah pengangkatannya itu segera Ubaidillah pergi ke Kufa membawa pasukan besar untuk mengamankan keadaan. Dia sudah diberitahu bahwa Muslim ibn `Aqil berada di Kufa menghimpun para pendukung Husein. Rencana kedatangan Ubaidillah telah didengar oleh penduduk Kufa. Mereka segera pergi menghilang dan meninggalkan Muslim ibn `Aqil dan Hani’ di istana gubernur Nu’man. Melihat kenyataan ini Ubaidillah tidak membuang kesempatan. Kedua pembantu Husein itu dibunuh di istana Kufa.

Di Mekkah Husein mulai berpikir untuk menggabungkan diri dengan Muslim ibn `Aqil. Ketika itulah dia dinasehati oleh Ibn Abbas agar tidak pergi ke Kufa. Tetapi nyatanya dia lebih mendengar saran Abdullah ibn Zubair. Demikian pada akhirnya Husein berangkat dengan diiringi anggota keluarga, karib kerabat dan para pendukungnya. Di tengah perjalanan dia berjumpa Farazdaq, seorang penyair terkenal, yang bersimpati kepadanya. Penyair ini datang dari Kufa. Husein bertanya tentang keadaan penduduk Kufa ketika dia meninggalkan kota itu. Farazdaq menjawab: ”Hati mereka bersama Anda, tetapi pedang mereka bersama Umayyah. Namun ketentuan ditetapkan dari langit dan Allah bertindak sesuai kehendak-Nya.”

Malangnya Husein hanya ingat kata-kata terakhir, Maka bersama rombongannya dia meneruskan perjalanan menuju Kufa. Kemudian berjumpa seorang pemimpin suku Arab, Muthi’ al-Adawi, yang mengingatkan bahwa orang-orang Bani Umayyah berencana membunuhnya. Husein disarankan agar tidak meneruskan rencananya ke Kufa. Tetapi Husein tidak mengindahkan saran itu dan meneruskan perjalanan bersama rombongannya. Dalam perjalanan berikutnya dia berjumpa Baqir al-Tsa’labah yang baru kembali dari Kufa. Baqir bercerita bahwa dua pembantu Husein yang diutus menyelidiki keadaan di Kufa, yaitu Muslim ibn `Aqil dan Hani ibn `Urwah, telah dibunuh secara keji oleh pasukan Ubaidillah, gubernur Kufa yang baru. Kedua kaki masing-masing diseret ke tengah pasar. Al-Tsa’labah meminta Husein mengurungkan niatnya untuk pergi ke Kufa dan memohon agar pulang kembali ke Madinah.

Namun sayang, orang-orang Bani `Aqil yang menyertai rombongan itu, mendesak Husein melanjutkan perjalanan dengan tujuan membalas kematian pemimpin mereka. Husein lantas berkata, ”Yang ingin kembali ke Madinah, silakan kembali! Yang ingin melanjutkan perjalanan, mari lanjutkan perjalanan! Kami tidak mau memaksa kalian!” Mendengar perkataan itu, sebagian besar anggota rombongan itu membubabarkan diri, terutama mereka yang baru bergabung dengan Husein di tempat yang dilalui Husein dalam perjalanannya. Yang tetap setia mengikuti Husein hanya sebagian kecil, lebih kurang 100 orang.

Di Zu Huzum, sebuah desa kecil tidak jauh dari Kerbela, rombongan Husein ditemui oleh Al-Hurr ibn Yazid beserta pasukannya. Karena saat itu waktu salat tiba. Huur meminta Husein memimpin salat dan menyampaikan pidato seusai salat. Tanpa mempedulikan bahwa yang dihadapi adalah musuh-musuhnya, Husein menyampaikan pidato singkat. Dia menyerukan agar mereka memberontak terhadap Umayyah karena pemerinntahannya zalim dan diskriminatif.

Setelah turun dari mimbar, pasukan al-Hurr mengepung Husein. Al-Hurr sendiri berdiri dengan pedang terhunus di depan Husein. Dia meminta Husein tidak pergi ke Kufa menemui para pengikutnya. Husein setuju dan memutuskan untuk pergi ke Kerbela. Ketika Husein sedang dalam perjalanan ke Kerbela, al-Hurr mengirim surat kepada Ubaidillah. Di Kerbela, Husein dan pengikutnya diserang oleh ribuan tentara Ubaidillah. Pertempuran segera meletus. Tetapi karena pasukan musuh juah lebih besar dan kuat, akhirnya pengikut Husein kalah. Tidak ada seorang pun yang selamat, semuanya tewas. Husein sendiri tewas secara mengenaskan. Usianya ketika itu 55 tahun. Dia ditikam dengan tombak, kepalanya dipotong dan tubuhnya diinjak-injak atas perintah panglima Ibn Ziyad, orang kepercayaan Ubaidillah. Seperti dalam keadaan mabok dia menyanyikan sebuah syair ketika tubuh Husein telak remuk dan terpisah dari kepalanya. Syair yang dinyanyikan ialah sebagai berikut:

Untamu sarat dengan emas dan perak

Raja yang dijaga ketat telah kubunuh

Telah kubunuh orang terbaik di kalangannya

Orang yang ibu dan ayahnya tergolong bangsawan

Kepala Husein kemudian dibawa kepada Yazid di Damaskus. Ikut dalam rombongan itu tujuh sanak saudara Husein yang selamat. Isak tangis, ratapan dan raungan bergema di istana Damaskus ketika mereka menyaksikan potongan kepala Husein yang dibawa oleh pasukan tentara Ubaidillah dari Kufa. Yazid dan keluarga Bani Umayyah sangat menyesalkan peristiwa itu. Sejak itu gerakan orang-orang Syiah semakin keras, semakin gigih dan tersebar luas. Hari kematian Husein diperingati setiap tahun dengan upacara besar-besaran dan ini menumbuhkan semangat teersendiri di kalangan pengikut Syiah.

Kematian Husein di Kerbela mengguncangkan Bani Hasyim. Karena trauma dengan kejadian itu, mereka untuk sementara waktu berusaha menenangkan diri dengan tidak melakukan berbagai gerakan.

Tetapi Abdullah ibn Zubair berbeda. Dia menyambut gembira kematian Husein itu. Kini kesempatan untuk menjadi khalifah telah terbuka baginya, sebab saingan utamanya telah tiada. Dengan memanfaatkan kematian Husein oleh pasukan Umayyah, dia bisa menghasut penduduk Hejaz bersatu menentang Umayyah. Demikianlah kemudian dia memproklamirkan diri sebagai Khalifah dan memaklumkan pembrontakan terhadap Umayhah. Dia mendapat banyak pengikut dalam waktu cepat dan gerakannya segera tersebar luas ke penjuru jazirah Arab. Ahli sejarah al-Thabari meriwayatkan bahwa dalam sebuah kesempatan Abdullah ibn Zubair menyampaikan pidato. Dalam pidatonya dia memuji-muji Husein dan mengecam kezaliman Umayyah. Dengan cara demikianlah Abdullah ibn Zubair menghimpun dukungan. Pembrontakan dan gerakan ibn Zubair baru dapat dihentikan pada masa pemerintahan Abdul Malik. Ibn Zubair sendiri terbunuh pada tahun 73 H atau 692 M.

Dua tahun setelah Husein wafat, Yazid pun meninggal dunia. Keadaan di negeri Syams menjadi goncang. Pemerintahan Umayyah bukan saja menghadapi pemberontakan Bani Zubair, tetapi juga dari kaum Khawarij dan Syiah. Yang paling genting ialah pergolakan yang terjadi di Kufa. Pergolakan berkelanjutan sehingga akhirnya pemerintahan Daulah Umayyah runtuh dan tunduk kepada Abbasiyah pada tahun 749, dengan meninggalkan negeri yang tercabik-cabik dan umat yang terpecah belah. (BERSAMBUNG)

Masjid al-Aqsa. Dibangun pada masa pemerintahan Umayyah.

LINTASAN SEJARAH ISLAM (12)

PEMERINTAHAN DAULAH UMAYYAH

(41—132 H/ 661-749 M)

Nama Umayyah atau Umawiyah untuk dinasti ini diambil dari Umaiyah ibn `Abdi Syams ibn `Abdi Manaf. Dia adalah salah seorang pemimpin suku Quraisy terkemuka. Umaiyah bersaing ketat dengan pamannya Hasyim ibn Abdi Manaf dalam merebut kepemimpinan masyarakat Quraisy. Setelah agama Islam muncul di tanah Arab hubungan antara Bani Umawiyah dan Bani Hasyim semakin retak dan berubah menjadi permusuhan.

Keluarga Umawiyah baru masuk Islam setelah Nabi Muhammad s.a.w. dan ribuan kaum Muslimin berhasil merebut kembali Mekkah dan berhasil pula mengislamkan seluruh penduduk kota Mekkah, termasuk keluarga Umaiyah serta para pengikutnya. Sebelum masuk Islam keluarga Umaiwiyah merupakan musuh Islam paling gigih dan sengit, terutama di bawah pimpinan Abu Sufyan. Pendiri Dinasti Umawiyah sendiri adalah Muawiyah, putra Abu Sufyan.

Silsilah berikut ini dapat menjelaskan hubungan keluarga Bani Umawiyah dan Bani Hasyim:

Abu Manaf

_________________1___________

! !

Abdu Syam Hasyim

________!_________ !

! ! !

Umaiyah Rabi`ah Abdul Muthalib

______!_____ ____!_____ ______!_______________

! ! ! ! ! ! !

Abu Ash Harb Syaibah `Utbah Abdullah Abu Thalib al-Abbas

___!_____ ! ! ! ! ! !

! ! ! ! ! ! ! !

Al-Hakam `Affan ! Abu Sufyan + Hindun MUHAMMAD `ALI !

! ! ¡ / !

Marwan Usman ! ‘ ______/ !

! / !

MUAWIYAH / ABBASIYAH

SYIAH ALI

Dalam sejarah memang sering terjadi hal yang sebaliknya. Dulunya orang-orang Umawiyah merupakan para penentang Islam yang paling keras, namun setelah masuk Islam mereka menjadi salah satu pembela Islam yang paling keras pula. Tambahan pula pengalaman mereka dalam bidang ketentaraan sangat mendukung. Dalam berbagai medan pertempuran Umawiyah selalu tampil ke depan sebagai pasukan yang dapat meraih kemenangan dengan mudah. Hasrat Umawiyah untuk menjadi penguasa kekhalifatan Islam telah muncul pada masa khalifah Abu Bakar Sidiq dan Umar bin Khatab, dan semakin kuat dengan terpilihnya Usman bin Affan menjadi khalifah Rasyidin yang ketiga. Bahkan dapat dikatakan bahwa terpilihnya Usman adalah berkat dukungan kuat Bani Umawiyah dari mana Usman berasal. Berkat dukungan itulah Usman dapat menyingkirkan saingan utamanya, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Tidaklah mengherankan apabila Umawiyah segera meletakkan dasar-dasar kekhalifatan Umawiyah manakala Usman telah terpilih menjadi khalifah. Mereka mempersiapkan diri menyusun tentara yang kuat dan menjadikan Syam atau Syria sebagai pusat gerakan mereka.

Muawiyah berusia 23 tahun ketika masuk Islam. Kariernya dalam politik dimulai ketika Rasulullah menghendaki agar orang -orang Mekkah yang baru masuk Islam, khususnya para pemimpinnya, mempunyai tali hubungan yangdekat satu sama lain. Terlebih lagi dengan mereka yang telah lebih dahulu memeluk agama Islam. Dengan demikian perhatian mereka terhadap Islam tetap besar dan dapat mengembangkan ukhuwah untuk bersama-sama memperjuangkan tegaknya syiar Islam. Pemuda Muawiyah bin Abu Sufyan dianggat oleh Nabi menjadi salah seorang anggota penulis wahyu. Sementara itu dia terus berlatih dalam bidang kemiliteran. Peluang menjadi panglima tentara terbuka baginya pada masa khalifah Abu Bakar Sidiq. Ketika itu saudaranya Yazid terpilih menjadi panglima salah satu dari empat divisi yang diperintahkan merebut Syams dan Yordania. Manakala Yazid memerlukan bala bantuan tentara dari Mekkah, Muawiyah dipilih menjadi panglima pasukan tentara Muslimin yang dikirim untuk membantu pasukan Yazid.

Ternyata kepiawaian Muawiyah terbukti di medan perang. Tentaranya berhasil menaklukkan kota-kota pantai Syams yang strategis seperti Sidon, Beirut dan lain-lain. Karier Muawiyah naik pada masa khalifah Umar bin Khatab. Sementara Yazid diangkat jadi gubernur Damaskus, Muawiyah diangkat menjadi gubernur Yordania. Tak lama kemudian Yazid meninggal dunia diserang penyakit ta`un. Lantas Usman terpilih menjadi khalifah ketiga. Pada masa Usman inilah wilayah damaskus dan Yordania disatukan menjadi provinsi dan Muawiyah diangkat menjadi gubernur.

Ketika Usman terbunuh dan Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi khalifah, Muawiyah menentang pemilihan itu karena berbagai sebab. Mu`awiyah mencurigai terbunuhnya Usman disebabkan kelalaian Ali. Melalui tahkim, setelah serentetan pepeperangan yang sengit antara pengikutnya dengan pengikut Ali, pada akhirnya dia terpilih menjadi khalifah. Sejak tahun 661 M, resmilah Bani Umaiyah di bawah kepemimpinan Mu’awiyah sebagai khalifah pertama .Bani Umawiyah menetapkan Damaskus sebagai ibukota kekhalifatan dan memegang tampuk pemerintahan selama 89 tahun. Agak banyak kemajuan dicapai di bidang agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan selama Umawiyah sepanjang masa pemerintahan. Umawiyah juga berhasil memperluas wilayah kekhalifatan Islam dengan dukungan kekuatan militer yang tangguh. Walaupun demikian sepanjang pemerintahannya pemberontakan demi pemberontakan terjadi secara beruntun dan menguras tenaga. Selama 89 memegang tampuk pemerintahan itu keluarga Umawiyah bergelimang kemewahan.

Silsilah Daulah Umayyah

UMAYYAH

!

_______________!___________

! !

Harb Abul Ash

! !

! _____ !_________

! ! !

Abu Sufyan `Affan al-Hakam

! ! !

! ! !

1. Muawiyah Usman 4. Marwan

(41-60 H) ! (64-65 H)

! !

! !

2. Yazid (660-64 H) !

! _______________________!__________

! ! ! !

3. Muawiyah II Abdul Aziz 5. Abdul Malik Muhammad

(64 H) / (65-86 H) !

/ ! !

/ ! !

8. Umar ! !

(99-101 H) ! !

! !

! !

_______________________________ !_____ !

! ! ! ! !

6. Al-Walid 7. Sulaiman 9. Yazid II 10. Hisyam !

(86-96 H) (96-99 H) (101-105 H) (105-125 H) !

__!___________ ! !

! ! ! !

12. Yazid III 13. Ibrahim 11. Al-Walid II 14. Marwan

(126 H) (126 H) (125-126 H) (127-132 H)

Catatan: Yang dinilai paling baik dalam menjalankan pemerintahan ialah khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Dia lebih mengutamakan pembangunan ekonomi dan kesejhateraan sosial di atas kegiatan militer. Dia juga sempat memajukan perkembangan ilmu dan agama. Sayang, hanya tiga tahun dia memegang tampuk pemerintahan.

Beberapa Peristiwa Penting

Penguasa-penguasa Bani Umayyah pada umumnya tidak memerintah dalam waktu yang lama, kecuali Muawiyah sang pendiri dinasti ini yang memerintah selama 19 tahun dan khalifah Abdul Malik yang memerintah pada tahun 65-85 H. Banyaknya pemberontakan dan perang penaklukan wilayah mendorong pemerintahan Umaiyah

mengutamakan kekuatan militer. Di sini dapat disebut beberapa peristiwa penting:

Pertama. Sejak awal aliran-aliran politik dan keagamaan bertambah subur. Aliran-aliran ini tidak henti-hentinya mencetuskan pemberontakan sebagai tanda penentangan terhadap Umayyah. Aliran-aliran politik yang kuat ialah: Golongan Syiah (Aliyun), Khawarij dan Murjiah. Pada masa akhir pemerintahan Bani Umayy kekuatan baru muncul yaitu Abbasiyah. Kelak golongan Abbasiyah ini yan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah.

Kedua. Muawiyah menghapuskan dasar-dasar syura, pemilihan khalifah secara demokratis, pada saat menunjuk putranya Yazid sebagai penggantinya.

Ketiga. Pada masa pemerintahan Yazid (660-664 H) terjadi peristiwa yang membawa peerpecahan besar dalam tubuh umat Islam, yaitu terbunuhnya Husein ibn Ali di padang Kerbela dalam pertempuran tidak seimbang melawan pasukan Umayyah di propinsi Kufa-Basra pada tahun 660 H. Sejak peristiwa ini golongan Syiah kian membedakan diri dari komunitas Islam selebihnya dengan memberi dimensi keagamaan bagi gerakannya.

Keempat. Dalam menata pemerintahannya Umaiyah meniru sistem Byzantium, yaitu memisahkan kekuasaan agama dan kekuasaan politik. Seperti pemerintahan Byzantium, pemerintahan juga dijalankan secara sentralistik dengan mengandalkan pada kekuatan militer dan diplomasi.

Kelima. Semenjak Mu’awiyah memegang tampuk pemerintahan terjadi diskriminasi dan peminggiran terhadap orang-orang Islam non-Arab, khususnya Persia. Ini menimbulkan kebencian mendalam terhadap Umayyah dan semakin memancing munculnya banyak gerakan oposisi.

Keenam. Bani Umayyah memiliki semangat kesukuan yang tinggi dan mengunggulkan superiotas Arab di lapangan politik, keagamaan dan budaya. Sebagai tandingannya muncul gerakaan Syu’ubiyah, gerakan kebangkitan Persia yang menganggap bahwa kebudayaan Persia lebih unggul dari kebudayaan Arab. Gerakan Syu’ubiyah menjadi dominan ketika pemerintahan berpindah dari Banmi Umayyah ke tangan Bani Abbasiyah.

Ketujuh Falsafah dan ilmu pengetahuan mulai berkembang dengan diperkenalkannya falsafah Yunani oleh sarjana-sarjana Kristen Nestoria dan Monofisit yang dilindungi oleh Umayyah. Kesusastraan juga mulai berkembang pesat dan muncul penyair-penyair terkenal seperti Farazdaq dan lain-lain.

Kedelapan. Penguasa Bani Umayyah mendirikan banyak bangunan seperti masjid dan istana megah. Bangunan-bangunan tersebut dipengaruhi oleh arsitektur Byzantium.

Kesembilan. Kitab suci al-Qur’an mushaf Usman diterbitkan sebanyak-banyaknya dan disebar ke seluruh negeri Islam. Bahasa Arab dijadikan bahasa resmi dan melalui bahasa Arab proses Islamisasi dan Arabisasi dijalankan ke seluruh bagian dunia Islam yang wilayahnya begitu luas.

Usman dan Aristokrasi Arab

Timbulnya banyak pemberontakan dan pembangkangan pada zaman Umayyah memiliki latar belakang panjang. Ahli sejarah banyak mengaitkannya dengan kejadian-kejadian sebelum dan sesudah Usman bin Affan dipilih menjadi khalifah al-rasyidin ketiga menggantikn Umar bin Khattab. Menurut para sejarawan, erpilihnya Usman bin Affan sebagai khalifah pada tahun 644 M ternyata menimbulkan masalah dan menabur benih perpecahan di kalangan umat Islam. Terutama sekali oleh karena Usman mengalahkan saingan ketatnya Ali bin Abi Thalib yang dipandang oleh para pendukungnya dianggap lebih layak memegang jabatan khalifah, dan mampu melanjutkan kebijakan khalifah sebelumnya Umar bin Khatab.

Pertama. Sebagaimana diketahui Usman bin Affan berasal dari garis keturunan keluarga Umayyah. Walaupun Usman telah masuk Islam sejak awal penyiaran agama Islam dan sahabat Nabi yang saleh, namun keluarga Umayyah merupakan penentang Islam yang gigih dan sebagian dari mereka baru masuk Islam setelah penaklukan Mekkah oleh kaum Muslimin pada tahun 630 M, Dalam Perang Badar (624) dan Perang Uhud (625) keluarga Umayyah berperang di pihak musuh. Setelah Usman terpilih sebagai khalifah, maka dia mengangkat pejabat-pejabat penting dari kalangan keluarganya sendiri. Ini membuka peluang KKN.

Kedua. Berbeda dengan dengan Umar bin Khattab yang menjalankan pemerintahan dengan penuh disiplin, Usman sangat fleksibel dan lunak. Ia tidak pernah mengambil tindakan tegas terhadap penyelewengan yang dilakukan para pejabat yang berasal dari keluarga Umayyah. Sebagai salah satu akibatnya ialah berubahnya negeri Hejaz yang semula merupakan pusat keagamaan, menjadi pusat kegiatan hiburan dan bersenang-senang. Para pejabat mulai terbiasa melanggar aturan agama dan tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan.

Ketiga Usman memerintah cukup lama. Ini memberi kesempatan luas bagi keluarga Umayyah untuk memupuk kekuatan dan membangun aristokrasi keluarga yang kuat.Keadaan yang demikian menimbulkan kekecewaan dan rasa tak puas kalangan luas. Beberapa kelompok dan tokoh Islam melakukan penentangan terhadap kebijakan Usman. Mula-mula secara tersembunyi, kemudian berangsur-angsur secara terang-terangan. Di antara pemimpin Islam yang gigih menentang kebijakan Usman ialah Ali bin Abi Thalib, Zubayr dan Talhah. Kebencian terhadap Umayyah kian bertambah setelah orang-orang Umayyah memperlihatkan superioritas berlebihan dan sombong.

Pasa tahun 656 M Usman bin Affan terbunuh. Ketika peristiwa itu terjadi Zubayr dan Talhah, atas jaminan Ali bin Abi Thalib, meninggalkan Madinah dan berada di Mekkah. Oleh karena hanya Ali bin Abi Thalib yang ada di Madinah, peristiwa itu melahirkan berbagai spekulasi dan fitnah di kalangan orang Islam, dilanjutkan dengan timbulnya suasana permusuhan. Ali dan pengikutnya dianggap bertanggung jawab atas terbunuhnya Usman yang terjadi secara misterius.

Karena tidak ada calon lain yang dianggap pantas maka Ali bin Thalib dipilih sebagai khalifah ke-4. Pengangkatan itu dilakukan melalui dewan syura sebagai tradisi yang berlaku sebelumnya. Permasalahan segera muncul setelah Ali bin Thalib melaksanakan kebijakan yang bertentangan dari kebijakan yang ditempuh Usman bin Affan. Ali mengulang cara-cara yang keras dan berdisiplin yang ditempuh Umar bin Khattab dalam menjalankan berbagai kebijakan. Kelompok yang paling terpukul ialah keturunan Bani Hasyim dari garis keluarga Umayyah yang mempunyai pertalian darah langsung dengan Usman bin Affan. Kelompok ini dipimpin oleh Mu`awiyah, gubernur Damaskus yang telah lama menduduki jabatan tinggi. Orang-orang Muawi`yah telah lama merasakan kesenangan dan menikmati kemewahan semasa pemerintahan Usman. Kecurigaan bahwa yang membunuh Usman ialah pengikut Ali semakin mengobarkan semangat penentangan terhadap Ali. Kecurigaan semakin bertambah setelah Ali memindahkan ibukota kekhalifatan Islam dari Madinah ke Kufa, sebuah kota di Iraq di mana jumlah pengikut Ali sangat besar dibandingkan Madinah.

Kebijakan yang dilakukan Ali bin Abi Thalib pada masa awal pemerintahannnya antara lain ialah: (1) Pemecatan kepala aerah yang diangkat Usman dan terlibat KKN serta banyak penyewengan lain. (2) Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan oleh Usman kepada sanak keluarganya dengan cara tidak sah. Begitu pula hibah harta yang pernah diterima oleh para pejabat yang kebanyakan berasal dari keluarga Umayyah, diambil kembali oleh Ali.

Tuntutan membalas kematian Usman semakin keras diserukan oleh para pengikut

Mua’wiyah. Tak lama setelah Ali memegang tampuk pemerintahan, pecahlah Perang Jamal (Perang Onta) dipimpin oleh Zubayr, Talha dan Aisya. Perang ini menimbulkan korban besar dan berlangsung lama. Tidak ada yang kalah dan menang dalam perang ini. Setatahun kemudian pada tahun 657 pecahlah Perang Shiffin. Dalam perang ini berhadap-hadapan tentara Ali dan Mu`awiyah. Secara militer kekuatan Ali dan pasukannya mengungguli kekuatan tentara Mu`awiyah. Setelah beberapa peperangan berlangsung Mu`awiyah sadar bahwa kemenangan mulai berpihak kepada Ali dan pasukannya. Untuk menghindari kekalahan itu Mu`awiyah menawarkan perdamaian dengan mengangkat kitab suci al-Qur`an. Tetapi Ali tetap ingin meneruskan perjuangan, hanya saja para pengikutnya tidak sanggup lagi melanjutkan perjuangan.

Demikianlah genjatan senjata diberlakukan dan kedua golongan yang bertikai itu sepakat untuk mengadakan tahkim, semacam perundingan damai. Masing-masing memilih seorang hakim lantas berkumpul dan berunding, membahas sebab-sebab perselisihan sehingga diperoleh jalan mencapai penyelesaian. Perundingan akhirnya mencapai kesepakatan untuk memberhentikan Ali bin Abi Thalib dan Mu`awiyah sebagai khalifah. Setelah itu musyawarah diadakan untuk memilih khalifah baru. Mu`awiyah ternyata memperoleh suara lebih besar dan terpilih menjadi khalifah.

Peristiwa menimbulkan kekecewaan di antara pendukung Ali, khususnya golongan yang kelak menyebut dirinya Khawarij. Sebagai ungkapan kekecewaannya kemudian Khawarij menentang kepemimpinan Ali, di samping tetap menentang kepemimpinan Mu`awiyah. Mulailah mereka memberontak dan meninggalkan Ali. Alasannya Ali menerima tahkim, sedangkan Mu`awiyah dianggap telah melakukan muslihat yang berbahaya. Demikianlah sejak saat itu pendukung Ali terpecah belah dan kekuatannya semakin lemah.

Namun Ali masih tetap ingin merebut jabatan khalifah yang lepas dari tangannya. Pada tahun 660 M ketika dia sedang bersiap mengirim pasukan untuk menyerang Mu`awiyah, muncullah komplotan Khawarij yang berniat menghabisi nyawa Ali, Mu`awiyah dan `Amr ibn `Ash (hakim yang berhasil menghasut kaum Muslimin agar mengangkat Mu`awiyah pada tahkim tahun 657 M). Komplotan ini terdiri dari tiga orang: Abdul Rahman ibnu Muljam, bertugas membunuh Ali; berikutnya ialah Barak ibn Abdillah al-Tamimi, ditugaskan pergi ke Damaskus membunuh Mu`awiyah; dan terakhir `Amr ibn Bakr al-Tamimi ditugaskan ke Mesir membunuh `Amr ibn `Ash. Dari ketiga orang Khawarij ini hanya Abdul Rahman ibn Muldam yang berhasil membunuh lawan politiknya, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Dengan wafatnya Ali, yang terbunuh di masjid Kufa pada tahun 660, Mu`awiyah muncul sebagai khalifah. Dia dibaiat dan mendapat dukungan luas. Maka pada tahun 661 M Mu`awiyah dinobatkan menjadi khalifah. Damaskus dipilih menjadi ibukota kekhalifatan Islam yang baru. Sejak awal hingga akhir pemerintahannya, pemberontakan demi pemberontakan meletus susul menyusul. Pembrontakan itu silih berganti datang dari pengikut Ali, Khawarij dan aliran-aliran politik serta keagamaan yang lain.

LINTASAN SEJARAH ISLAM (11)

ADAB DAN PENGARUH

AL-QUR’AN TERHADAP SASTRA

Abdul Hadi W. M.

DALAM sejarah Islam, sejak awal sastra dikaitkan dengan atau malahan disebut sebagai adab.Ini karena berturur dalam bahasa yang baik merupakan keharusan bagi orang berada. Sejak awal apa yang disebut adab dikaitkan dengan cara berbuat atau bertindak sesuai aturan sopan santun dan budi pekerti yang dianggap selaras dengan nilai-nilai Islam. Pada mulanya perkataan tersebut diartikan sebagai disiplin jiwa atau pikiran, sifat-sifat terpuji dan tanda seseorang yang menggunakan akal budi dalam setiap tindakannya. Dalam filologi lebih jauh ia diartikan sebagai karya sastra yang mengandung hikmah atau kebijakan falsafah. Dalam lingkup pengertian ini jelas perkataan adab terkait dengan jenjang pendidikan atau tingkat keterpelajaran seseorang.

Adab mulai dikaitkan dengan kreativitas penulisan sastra pada abad ke-8 M. Dalam abad ke-9 M ia dikaitkan dengan disiplin lain baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Penyair Arab terkemuka Mutannabi (915-965 M) mengaitkannya dengan orang yang piawai menulis syair. Pada abad ke-11 M Abu al-`Ala al-Ma`arri (973-1057 M) dalam bukunya Risalat al-Gufran menghubungkan kata adab dengan kemampuan rasional dan intelektual seseorang, termasuk dalam melahirkan karya sastra atau puisi. Namun dalam perkembangan selanjutnya kata adab sering digunakan untuk menyebut karya-karya bercorak didaktis, termasuk karya yang membahas masalah sosial, politik, hukum dan pemerintahan atau ketatanegaraan.

Pada abad ke-10 dan 11 M, ketika dunia intelektual Islam didominasi pemikiran kaum rasionalis (mu`tazila) karya-karya yang digolongan sastra adab biasanya karya yang lebih bercorak intelektual dibanding imaginatif. Karena itu kitab-kitab yang membicarakan masalah psikologi dan etika sepertiKitab al-Bayan karangan al-Jahiz (w. ) dimasukkan ke dalam kelompok sastra adab terkemuka. Begitu pula Kitab al-Ma`arrif karangan Ibn Qutayba (w. 889 M) yang menguraikan persoalan sejarah. Kitab lain yang sejenis ini ialah Kitab al-Aghani karya Abu al-Farraj al-Isfahani (abad ke-10) yang menguraikan kehidupan para penyair, musikus dan penyanyi dengan lagu-lagu dan lirik ciptaan mereka, Kitab al-Buldan (903 M) karangan Ibn al-Faqih; Kitab Muraj al-Dhahad (943 M) karangan Mas`udi yang menguraikan geografi dan sejarah; Kitab I`jaz al-Qur`an karangan al-Baqillani (w. 1103 M); serta Kitab Tawf al-Hamamah karangan Ibn Hazm (w. 1064 M) yang menguraikan masalah cinta.

Kalau karya bercorak sejarah juga dimasukkan ke dalam sastra adab maka lebih banyak lagi jumlahnya. Pelopor penulisan karya bercorak sejarah ialah Muhammad Ibn `Ishaq (w. 767 M), penulis kitab masyhur Sirat al-Nabi`. Kitab ini menjadi sumber rujukan penting dalam penulisan sejarah dan hikayat berkenaan kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad S. A. W.

Dalam perkembangan lebih lanjut, khususnya dalam sastra Melayu, karya-karya yang digolongan sastra adab ialah yang mmbicarakan masalah etika, termasuk politik, hukum dan pemerintahan. Yang terkenal di antaranya ialah Siyasat-namah karangan Nizam al-Mulk, perdana menteri Bani Saljug di Persia pada akhir abad ke-11 M. Nizam al-Mulk adalah sahabat karib Umar al-Khayyami (1048-1131 M) dan hidup sezaman dengan Imam al-Ghazali (w. 1111 M). Pengaruh bukunya sangat besar dalam ilmu pemerintahan dan politik. Dalam khazanah sastra Turki karya adab terkenal ialah Nasa`ih al-Vuzara wa al-Umara` karangan Sari Mehmed Pasha pada abad ke-17 M. Sedangkan dalam khazanah sastra Melayu dapat disebut kitab Taj al-Salatin (1603 M) karangan Bukhari al-Jauhari dan Bustan al-Salatin (1641 M) karangan Nuruddin al-Raniri. Kedua buku itu ditulis pada zaman emas kesultanan Aceh Darussalam.

Walaupun karya itu ditulis beberapa abad yang silam, namun relevansi dan aktualitas masalah yang dikemukakan tidak diragukan lagi berlaku sampai kini. Masalah kepemimpinan wanita dalam pemerintahan yang kini hangat dibicarakan di negeri kita, sudah dibahas panjang lebar dalam Taj al-Salatin. Penulis kitab itu tidak menolak kepemimpinan wanita, lebih-lebih jika terpaksa. Namun ia mengingatkan bahwa fitnah akan lebih mudah merajalela apabila sebuah kerajaan dipimpin oleh seorang wanita. Kitab karangan Bukhari al-Jauhari bukan hanya dijadikan pegangan oleh raja-raja Melayu, tetapi juga oleh raja-raja Jawa.

Sampai abad ke-19 Taj al-Salatin masih diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Pangeran Diponegoro sangat menyukai kitab ini, begitu pula Mangkunegara IV dan menjadikannya rujukan bagi penulisan kitab Wedatama. Karena pengaruh buku inilah maka sejak abad ke-17 M tidak pernah ada raja wanita di kerajaan-kerajaan Jawa.

Karangan bercorak adab terkemuka paling awal yang muncul dalam sejarah kesusastraan Islam dan tetap populer sampai kini ialah Khalilah wa Dimnah gubahan Ibn al-Muqaffa’ (w. 737 M). Walaupun disadur dari kitab India Pancatantra karangan Bidpai, melalui salinan bahasa Persia Lama (Pahlewi), namun karya Ibn al-Muqaffa` dapat dikatakan orisinal, terutama pengolahan kembali cerita dan gaya penuturannya. Dalam buku ini dibentangkan antara lain bahaya yang ditimbulkan oleh fitnah dan tipu muslihat. Berkat karya Ibn al-Muqaffa` ini pulalah fabel-fabel India tersebar dan dikenal luas di Eropah dan dari situ ke seluruh dunia.

Kitab lain yang dapat digolongkan sebagai karya adab terkenal dan unggul ialah Bustan danGulistan karangan Sa`di (w. 1292 M). Buku ini bercorak sufistik dan ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya yang senang mengembara ke berbagai negeri. Penulis-penulis besar seperti Schiller, Goethe dan Emerson sangat mengagumi karya Sa`di ini. Kitab Taj al-Salatin karangan Bukhari al-Jauhari dipengaruhi juga oleh karya Sa`di ini, di samping oleh karya Nizam al-Mulk dan lain-lain.

Tidak lengkap jika kita tidak mengemukakan genre sastra penting lain yang disebut maqamaatau maqamat. Di samping genre prosa lain seperti al-Qisas (kisah) dan al-Tawqi`at (tawqi`), maqamat sangat digemari. Genre inilah yang dipandang sebagai asal-usul cerita pendek Arab dan Persia karena memang boleh dikatakan bahwa maqamat sebagai jenis cerita pendek. Secara harafiah perkataan tersebut mempunyai arti penuturan atau cerita yang disampaikan sambil berdiri tegak di sebuah majelis. Dalam maqamat penulis menyampaikan gagasan, kritik, pemikiran dan sindiran, yang diramu dalam sebuah cerita. Sindiran biasanya diselipkan pada bagian akhir cerita dan ditulis dalam bentuk sajak ringkas.

Himpunan maqamat biasanya menampilkan seorang tokoh yang banyak mengembara dan memiliki segudang pengalaman dan hikmah. Tokoh inilah yang ditampilkan sebagai tukang kisah (al-Rawi) yang menyampaikan berbagai cerita menarik dan ganjil. Cerita-cerita yang disampaikan biasanya melukiskan kepincangan yang terdapat dalam masyarakat, diperkaya dengan kritik dan sindiran yang halus nampun tajam. Pengasas genre ini ialah Ibn Durayd (w. 321 H), namun yang mempopulerkan ialah pengarang terkenal asal Persia abad ke-11 M yang menulis dalam bahasa Arab, yaitu Badi`uzzaman al-Hamadhani. (968-1008 M ) Genre ini mencapai puncaknya pada abad ke-13 M di tangan penulis masyhur Abu Muhammad bin Ali ak-Hariri (1054-1122) Penulis maqamat yang lain ialah Umar bin Makhmud al-Balkhi (w. 597 H).

Tidak perlu diuraikan perkembangan puisi di dunia Islam sejak abad ke-9 sampai abad ke-19 M yang luar biasa kreatif. Yang perlu diketahui ialah kenyataan bahwa perkembangan itu sepenuhnya disulut oleh pengaruh kitab suci al-Qur`an, himpunan wahyu ilahi yang walaupun bukan karya sastra, namun memiliki nilai sastra yang tinggi. Puisi disebut sebagai pengucapan dengan bahasa terikat(manzum), sebagai kebalikan dari prosa yang disebut bahasa longgar (manthur). Lebih lanjut puisi yang berbobot dikiaskan sebagai untaian pertama yang membentuk kalung yang indah. Seorang penyair sering disebut sebagai ahli permata (al-jauhari), dan permatanya ialah kata-kata. Sedangkan dalam tradisi Persia Islam puisi sering diumpamakan sebagai taman atau kebun (bustan) yang penuh pohon rimbun dengan buah lebat dan tersedia pula minuman lezat. Kadang puisi disamakan dengan galeri lukisan (arzang).

Pengaruh al-Qur`an

Sebagai kitab suci yang mengandung nilai sastra tinggi tidak diragukan lagi al-Qur`an memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan kesusastraan. Lebih daripada itu kitab ini mampu membangkitkan perkembangan ilmu bahasa, teori sastra dan puitika yang menakjubkan, yang semua itu dinikmati bukan saja oleh sastra Arab tetapi sastra negeri Islam lain yang dipengaruhi oleh bahasa dan sastra Arab seperti sastra Persia, Urdu, Turki, Melayu dan lain-lain.

Di samping itu al-Qur`an juga mengandung rujukan yang melimpah untuk berbagai cabang ilmu dan di dalam al-Qur`an pula terdapat banyak kisah dengan cara penyajian yang khas dan menarik. Pola penceritaan yang terdapat dalam al-Qur`an itu pada gilirannya mempengaruhi corak naratif kesusastraan Islam.

Keindahan bahasa dan puitika al-Qur`an telah menarik banyak penulis Muslim untuk mempelajari rahasia keindahan seni sastra yang terdapat di dalam kitab itu. Kajian mengenai hal tersebut disebut Dala`il al-Ijaz. Banyak sarjana sastra Arab dan Persia menceburi bidang ini, di antaranya yang terkemuka ialah al-Jahiz, Abu Hasan al-Jurjani, al-Kumani, al-Khattibi, al-Baqillani, Abdul Qahir al-Jurjani dan lain-lain. Tokoh-tokoh sastra penting seperti Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, Jalaluddin Rumi, Hafiz si Penghafal Qur`an dan juga penulis modern Muhammad Iqbal, sangat menguasai ilmu Dala`il al-Ijaz ini. Karena itu tidak mengherankan kalau karya-karya mereka bukan saja merupakan tafsir atau takwil terhadap ayat-ayat al-Qur`an dengan melihat konteks falsafah dan sosilogisnya, tetapi pengucapan puitik mereka juga dipengaruhi oleh puitika al-Qur`an.

Para sarjana terkemuka seperti Ismail al-Faruqi (dalam buku The Cultural Atlas of Islam, 1992) sepakat berpendapat bahwa al-Qur`an memang mengandung unsur-unsur estetik yang kaya. Di antara unsur-unsur estetik itu ialah:

Pertama. Walaupun ayat-ayat al-Qur`an bukan puisi atau prosa berirama (saj`) murni menurut ukuran sastra Arab pada waktu kitab itu diturunkan, malahan dapat dikatakan sebagai prosa mutlak(al-nathir al-mutlaq), namun banyak ayat-ayatnya memiliki persamaan rima dan sajak yang menjadikan ayat-ayat itu sangat indah dengan unsur puitik yang sugestif.

Kedua. Kitab al-Qur`an digubah menggunakan kata-kata dan frasa yang maknanya dapat disesuaikan dengan berbagai konteks persoalan hidup. Apabila dirubah malah janggal. Penambahan dan pengurangan terhadap ayat-ayat itu akan merusak keindahan ungkapan dan makna.

Ketiga. Setiap ayat atau frasa mengimbangi susunan bahasa ayat-ayat yang telah

mendahuluinya. Itulah sebabnya susunan ayat dan bahasa al-Qur`an dipandang rapi (tawazun).

Keempat. Kias dan simpulan bahasa al-Qur`an mengandung konsep atau gagasan serta unsur pengajaran yang berpengaruh besar kepada pembacanya. Di samping itu memberi kesan mendalam terhadap imaginasi pembacanya.

Kelima. Susunan bahasa al-Qur`an yang sempurna itu menjelmakan ayat-ayat al-Qur`an sebagai karya seni yang tinggi, serta memberi ilham bagi lahirnya bentuk-bentuk seni puisi, musik dan seni suara yang unggul.

Keenam. Gaya bahasa al-Qur`an ringkas, tegas dan efektif, langsung menyentuh kesadaran pembacanya. Menurut Jirji Zaidan dalam Kitab al-Adab al-Lughah, banyak penulis Arab meniru keringkasan kata-kata dan ungkapan al-Qur`an beserta balaghahnya. Keringkasan itu juga tampak dalam Hadis Nabi. Nabi malah pernah mengatakan: “Aku dianugerahi kemampuan menggunakan kata-kata yang ringkas tetapi sangat dalam maknanya dan selalu kupilih kata-kata yang padat dan ringkas”. Baik al-Qur`an maupun Hadis telah menyadarkan bangsa Arab bahwa prosa juga dapat dikembangkan menjadi pengucapan estetik bermutu tinggi. Sebelumnya mereka hanya memandang syair atau puisi sebagai bentuk pengucapan yang bermutu sastra.

Ketujuh. Struktur teks al-Qur`an tidak seperti karya sastra biasa. Dalam struktusnya al-Qur`an mencampur aspek-aspek pembicaraan tentang peristiwa yang telah silam, sedang terjadi dan akan atau mungkin terjadi. Setiap ayat merupakan unit yang berdiri sendiri dan sekaligus saling berkaitan dengan unit yang lain.

Selain itu al-Qur`an mengandung banyak kisah atau cerita perumpamaan yang masing-masing disampaikan secara khusus dan menarik, dan ini mendorong timbulnya

genre-genre baru dalam kesusastraan Islam. Ada kisah yang disampaikan secara ringkas, ada yang disampaikan agak panjang dan ada yang sangat panjang. Kisah Nabi Yusuf AS misalnya disampaikan secara panjang lebar dan cukup lengkap dalam sebuah surah. Kisah Nabi Musa AS yang sangat luas konteks hikmah dan moralnya disebar dalam ayat dan surah yang berbeda-beda. Di antara yang konteks hikmah dan moralnya luas ialah kisah Nabi Musa AS dalam Surah al-Kahfi. Di situ Nabi Musa AS ditampilkan bersama guru kerohaniannya, seorang nabi yang kemudian dikenal sebagai Khaidir AS.

Dalam penceritaannya tentang tokoh-tokoh itu al-Qur`an menekankan watak dan kepribadian tokoh, ciri peristiwa yang melibatkan tokoh dan klasifikasi peristiwa yang memiliki makna dan konteks berbeda. Sering kisah disampaikan melalui dialog, seakan-akan al-Qur`an menggunakan seorang pencerita yang arif.

Dalam al-Qur`an terdapat cerita tentang bencana dahsyat yang menimpa sebuah kaum disebabkan kemungkarannya telah melampaui batas, begitu juga kezaliman dan keserakahannya. Misalnya kisah yang menimpa suku Thamud, umat Nabi Nuh AS dan Nabi Saleh AS, serta orang kaya yang kikir dan tamak yaitu Qarun. Mengenai tokoh-tokoh historis seperti Fir`aun, Namrud, Qarun dan lain-lain, dalam perkembangan sastra Islam kelak lantas ditransformasikan menjadi simbol-simbol sosiologis berkenaan kezaliman, egosentisme, kultus individu dan keserakahan.

Ada pula kisah yang menekankan kepribadian dan sifat tokoh yang terpuji, seperti Nabi Ayub AS, untuk menonjolkan kekuatan moral yang tangguh melawan segala bentuk penderitaan disebabkan ketakdilan dan lain-lain. Ada bagian dalam al-Qur`an yang hanya mengisahkan satu peristiwa atau seorang tokoh dengan mengambil bagian awal, tengah atau akhir, dan ada kalanya disampaikan peristiwa itu disampaikan secara keseluruhan. Semua itu dengan tujuan moral dan estetik tertentu. Melekatnya unsur-unsur estetikl dalam penyampaian ayat-ayat al-Qur`an, membuktikan bahwa risalah Islam mengakui betapa estetika, sebagaimana metafisika, logika, epistemologi dan etika, merupakan bagian dari kehidupan spiritual manusia dan kenyataan dari Yang Transenden.

BERSAMBUNG

Naskah kuna memuat karangan Imam al-Ghazali di perpustakaan Universitas Mac Grill, Canada.

LINTASAN SEJARAH ISLAM (10)

SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM

Abdul Hadi W. M.

Telah kita ketahui bahwa sastra Arab telah berkembang sebelum datangnya agama Islam. Namun dengan datangnya Islam terjadi perubahan mendasar. Sebelum Islam sastra Arab berkembang mengikuti tradisi lisan dan sedangkan sesudahnya sastra tulis yang berkembang, kendati tidak dengan senirnya sastra lisan mati.. Pada zaman pra-Islam penyar menyampaikan syair yang mereka karang secara lisan, Hanya beberapa penyair tertentu yang karya-karyanya direkam dalam bentuk tulisan. Syair-syair itu biasanya ditulis atas kulit domba dan unta serta daun papirus yang sudah dikeringkan. Syair-syair yang dituliskan itu pada umumnya merupakan karya penyair besar dan diletakkan di dinding Ka’bah. Sebagian besar syair yang ditulis itu pula tidak lengkap melainkan hanya potongan yang terdiri dari beberapa baris atau bait. Syair-syair yang dituliskan ini disebut mu`allaqat, artinya sajak-sajak yang ditaruh pada dinding Ka’bah.

Penyair-penyair mu`allaqat yang terkenal antara lain ialah Imr al-Qays, Zuhair bin Abu Sulma, Nabiqah al-Zuhyani, Tarafah bin al-`Abd, `Amr bin Kulam, Labid bin Rabi`ah dan Antarah. Beberapa di antara mereka memeluk agama Islam pada masa hidup Rasulullah. Misalnya, yang paling terkenal, ialah Labid bin Rabi`ah. Setelah memeluk Islam, Labid menjadi pembela Islam yang gigih melalui syair-syairnya.

Para penyair Arab sebelum Islam tidak hanya menulis mu`allaqat, tetapi juga bentuk pengucapan sastra lain seperti khotbah, peribahasa, legenda dan dongeng yang tidak kalah indahnya dari mu`alllaqat. Khaliah al-rasyidin pada umumnya menyampaikan pandangannya melalui khotbah atau peribahasa, serta aforisma yang indah. Di antara empat khalifah yang ucapannya sangat indah ialah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Siddiq.

Ciri-ciri karya sebelum Islam itu umumnya seragam. Selain syair-syair kepahlawanan suku, penyair-penyair Arab jahiliyah gemar sekali menulis syair-syair berisi ungkapan kebanggan terhadap kabilahnya dan garis keturunan mereka. Bentuk pengucapan sastra lain yang digemari ialah marasin (elegi),ghazal (sajak-sajak cinta, khususnya cinta berahi), sajak-sajak pemujaan terhadap anggur (khamriyah) dan ungkapan dendam kesumat kepada kabilah musuh.

Mu`allaqat adalah untaian syair panjang dan indah dengan sistem persajakan yang rumit. Yang paling terkenal sebagai penulis mu`allaqat sepanjang sejarah ialah Imr al-Qays. Sajak-sajaknya masih digemari orang Arab sampai saat ini dan dibawakan melalui nyanyian, sebuah tradisi yang tetap hidup sampai kini.

Bentuk syair lain yang digemari ialah qasidah, sajak-sajak pujian yang dinyanyikan. Yang disajikan dalam qasidah pada umumnya ialah pujian terhadap pahlawan suku dan orang yang dicintai seperti pemimpin dan gadis cantik. Jenis sajak cinta juga digemari, antara lain yang disebut nasib.Penulis-penulis Arab masih melanjutkan kegemarannya menulis sajak-sajak warisan lama ini setelah agama Islam datang. Hanya saja tema dan isinya sudah berubah serta diperluas. Pada abad ke-12 M bentuk puisi iini dikembangkan oleh penyair Mesir Syekh al-Busiri menjadi puji-pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w (al-mada`ih al-nabawiya). Karya Syekh al-Busiri yang masyhur hingga kini dan dibacakan hampir dalam setiap perayaan maulid di berbagai pelosok Dunia Islam ialah Qasidah al-Burdah.

Puisi Masa Awal

Penerimaan terhadap agama Islam di kalangan bangsa Arab pada mulanya memang tidak banyak membawa perubahan terhadap perkembangan sastra Arab, juga tidak banyak memberi perubahan terhadap sifat-sifat, watak dan tabiat bangsa Arab. Lagi pula pada masa awal sejarah Islam, kesusastraan berkembang agak lambat. Hal ini terjadi karena banyaknya peperangan yang dihadapi kaum Muslimin yang begitu menguras tenaga kaum Muslimin sehingga tidak memberi peluang bagi kaum terpelajarnya, termasuk penyair, untuk memikirkan masalah-masalah kesenian dan kesusastraan. Pada awal abad ke-7 M, setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinannya diganti oleh khalifah yang empat, satu-satunya bentuk kegiatan penulisan yang berkembang ialah penyusunan dan penulisan mushaf al-Qur’an.

Kendati demikian sebenarnya pada masa ini telah muncul beberapa penyair yang kreatif. Di antaranya ialah penyair-penyair yang disebut golongan mukhdramain, artinya penyair yang hidup dalam dua zaman, yaitu zaman Jahiliyah dan zaman Islam. Di antara mereka telah terdapat penyair yang menulis karya-karya yang dipengaruhi ajaran dan sejarah perkembangan Islam. Syair-syair yang mereka tulis kebanyakannya merupakan rekaman sejarah awal perkembangan agama Islam, khususnya perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Walaupun sikap hidup penyairmukhdramain ini secara umum tidak berubah setelah memeluk agama Islam, namun karangan mereka cukup penting karena nilai sejarah yang dikandungnya.

Di antara penyair mukhdramain itu terdapat orang yang dekat dengan Rasulullah seperti Hasan bin Tsabit, Ka`aab bin Zubair, Ka`ab bin Malik dan Labid bin Rabi`ah. Hasan bin Tsabit misalnya sering mendampingi Nabi dan tampil dalam perdebatan dengan para penyair yang gemar merendahkan dan mengejek agama Islam. Bersama-sama Labid bin Rabi`ah, Hasan bin Tsabit dianggap sebagai perintis penulisan sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad.

Perubahan besar dalam perkembangan sastra Arab terjadi setelah munculnya penulisan mushaf al-Qur’an, yaitu pada masa kepemimpinan khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kegiatan penulisan mushaf al-Qur’an ternyata memberi pengaruh besar dan bermakna bagi perkembangan sastra Arab. Pengaruh langsung dari kegiatan tersebut ialah berkembangnya kajian terhadap teks kitab suci, terutama dari segi bahasa dan sastra. Semenjak itu orang Arab juga mulai giat mengumpulkan puisi lama dan cerita lisan warisan nenekmoyang mereka. Gaya bahasa dan puitika al-Qur’an kemudian semakin menarik perhatian para penyair Arab yang pada gilirannya kelak mempengaruhi corak penulisan puisi dan karangan prosa mereka.

Dalam tradisi Arab, puisi disebut manzun, yaitu komposisi (nazm) yang bahasanya terikat pada pola rima dan sajak. Prosa disebut mantsur, yaitu gubahan yang bahasanya longgar, tidak terikat pada pola rima dan aturan persajakan tertentu. Dari segi tema, amanat dan coraknya sastra Arab baru ini pun berbeda dari sastra Arab lama. Pada masa ini para sastrawan mulai mengaitkan sastra dengan adab, bahkan menyebut sastra sebagai adab, yaitu sikap dan perbuatan yang didasarkan pada akhlaq dan sopan santun. Adab juga dihubungkan dengan tingginya tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dicapai oleh seorang penulis, serta kedewasaan dan kematangan pandangan hidup mereka. Berdasar pandangan ini maka sastra tidak hanya berisi ungkapan perasaan dan pengalaman hidup biasa sebagaimana kerap diartikan orang, begitu pula sekarang ini. Sastra lebih dari itu. Ia juga merupakan karangan yang menyajikan kearifan dan gagasan-gagasan penting kehidupan termasuk moral, al-hikmah dan spiritualitas.

Perubahan itu juga tampak dalam bahasa yang digunakan. Kaya-karya baru yang dihasilkan oleh penulis Muslim ini lebih halus, sedangkan isinya lebih universal. Puisi karya penyair zaman pra-Islam biasanya kasar dan nadanya sombong. Isinya pun tidak mendalam, sering hanya berkaitan dengan masalah-masalah sensual. Bahkan terdapat syair-syair zaman pra-Islam yang ditulis untuk mengejek kabilah musuh. Biasanya sajak-sajak seperti itu bisa menyulut sengketa dan permusuhan antar kabilah. Beberapa syair sengaja ditulis untuk menghina kabilah musuh. Untuk keperluan itu maka setiap kabilah mesti memiliki penyair andalan, yang setiap diharapkan dapat menulis syair-syair berisi jawaban terhadap syair ejekan dari kabilah lain.

Ali bin Abi Thalib

Apabila pada masa sebelumnya prosa tidak berkembang, karena kecintaan pada puisi yang mendalam, maka setelah agama Islam datang, prosa mulai bertunas dan memainkan peranan yang tidak kecil dalam adab dibanding syair. Tokoh yang dipandang sebagai penulis prosa paling awal dalam sejarah sastra Arab ialah Ali bin Abi Thalib (600-601 M). Dalam sejarah Islam, tokoh Ali bin Abi Thalib merupakan pemuda Arab pertama yang memeluk agama Islam. Dia adalah menanti Nabi dan terkenal sebagai orang yang berani membela Islam dan sangat terpelajar pula. Ketika Rasulullah masih hidup, dia pernah diberi tugas menjadi pengumpul wahyu yang diterima Nabi. Ali bin Abi Thalib menguasai bahasa Arab dengan baiknya, khususnya dialek Hejaz yang dianggap sebagai dialek bahasa Arab yang terindah pada zaman itu. Karya Ali bin Abi Thalib yang masyhur sebagai karangan prosa pertama yang indah dalam sastra Arab ialah Nahj al-Balaghah (Jalan Terang). Kitab ini merupakan kumpulan khotbah, peribahasa, kata-kata mutiara dan surat-surat bernilai sastra. Dia menggantikan Usman bin Affan sebagai khalifah al-rasyidin keempat dan sekaligus khalifah terakhir. Sebuah syairnya dituliskan pada banyak batu nisan makam raja-raja Pasai dan Malaka pada abad ke-14 dan 15 M.

Pada zaman Ali bin Abi Thalib inilah muncul dua penyair wanita terkemuka, yaitu Tumadir bin Amr (lebih dikenal sebagai al-Khansa’) dan Layla al-Akhyaliyal. Keduanya penulis nasarin, yaitu elegi atau sajak-sajak sedih. Kesedihan yang sering mengilhami syairnya biasanya ialah kematian orang yang dekat dengan penyair. Nasarin memang merupakan bentuk syair yang digemari oleh para penyair Arab zaman permulaan. Banyaknya peperangan yang terjadi dalam sejarah awal perkembangan Islam, mendorong lahirnya banyak syair seperti ini.

Ali bin Abi Thalib sendiri menulis sejumlah syair religius yang indah. Salah satu di antaranya ialah yang dipahatkan pada batu nisan makam raja Samudra Paasai di Aceh abad ke-13 M:

Dunia ini fana, tiada kekal

Bagaikan sarang laba-laba

O kau yang menuntut terlalu banyak

Cukupkanlah yang kauperoleh selama ini

Ada orang yang berumur pendek

Namun namanya dikenang selamanya

Ada yang berusia panjang

Namun dilupa sesudah matinya

Dunia ini hanya bayang-bayang

Yang cepat berlalu

Seorang tamu di malam hari

Mimpi seorang yang tidur nyenyak

Dan sekilat cahaya yang bersinar

Di cakrawla harapan

Jenis syair lain yang berkembang pada masa ini ialah syair-syair zuhudyah, yang kaitannya dengan ajaran Islam lebih jelas dibanding banyak jenis syair Arab yang lain. Syar-syair zuhudiyah ditulis oleh penyair yang menyukai tafakkur, ibadah dan amalan yang menjunjung tinggi akhla serta adab. Penyair-penyair zuhudiyah lebih suka memilih hidup dalam kesalehan dan tafakur sebagai bentuk kekecewaan meeka terhadap meluasnya gejala hidup serba mewah di lingkungan masyarakat Muslim. Di antara penyair zuhudiyah yang awal ialah Abul Aswab al-Du`ali (w. 681 M). Dia adalah seorang ulama besar, pakar Hadis dan hukum Islam. Al-Du`ali juga dikenal sebagai orang terpelajar pertama yang menciptakan tanda-tanda baca dan titik dalam al-Qur’an untukk membedakan harakatnya dan memudahkan pembacaannya. Syair-syair al-Du`ali kebanyakan bertemakan ketawakkalan dan kesalehan. Dia sering menyeru pembacanya agar supaya ingat mati dan hari akhirat. Syair-syair jenis lain yang ditulis olehnya terutama ialah hija’ (satire) dan madah, yaitu syair-syair berirama indah yang dibuat untuk dinyanyikan.

Pada akhir abad ke-7 M muncul pula penyair Arab terkemuka yang membawa pembaruan cukup berarti, yaitu Umar bin Abi Rabi`ah (643-712). Dia hidup pada zaman gemilang pemerintahan Daulah Umayyah di Damaskus. Umar bin Abi Rabi`ah berasal dari kabilah Quraysh ban Makhzun. Ayahnya pernah diberi tugas oleh Nabi untuk menyebarkan agama Islam di Yaman. Menjelang akhir hayatnya dia banyak menulis syair-syair zuhudiyah. Gaya bahasanya sangat halus dan ekspresif.

Pada awal abad ke-8 M, sebuah tradisi baru dalam penulisan syair muncul, yaitu penulisan syair-syair untuk dinyanyikan, tetapi berbeda dari madah. Jenis syair baru ini disebut al-sy`r al-ghina(syair pelipur lara). Di antara tema-tema yang digemari oleh para penulis syair al-ghina’ ialah tema-tema erotis dan sensual, serta mujun, yaitu tema-tema yang menyimpang dari ajaran agama dan moral. Pada masa ini pulalah mulai muncul penyair-penyair yang gemar mengembara untuk berdakwah dengan cara membacakan dan menyanyikan syair-syair mereka. Syair yang didakwahkan itu dinyanyikan sehingga menarik perhatian bagi pendengarnya.

Jenis syair lain yang juga digemari dan muncul pada zaman ini ialah al-ghazal al`uzri, yaitu sajak-sajak percintaan muni. Penyair terkenal yang melahirkan banyak jenis syair ini ialah Qays alias Majnun bin Amir. Kisah cintanya yang mendalam kepada seorang gadis bernama Layla, menarik perhatian masyarakat Arab dan diabadikan dalam kisah yang sangat terkenal Layla wa Majnun. Temaghazal a-uzri ialah cinta murni yang didasarkan atas ajaran Islam. Cinta sepertiitu menuntut ketulusan, pengurbanan dan kesucian.

Bentuk syair yang disebut hija’ (sindiran) juga digemari. Melalui hija’ mereka melontarkan kritik atau kecaman terhadap ketimpangan yang berlaku dalam masyarakat seperti ketidakadilan penguasa, penyelewenganyang dilakukan pejabat, pemimpin agama dan politisi.

Biasanya hija’ ditulis untuk mengecam orang-orang yang perilakunya menyimpang dari ajaran agama. Di antara penulis hija’ yang terkenal ialah Farazdaq (w. 728 M). Contohnya ialah syair yang dikarang penyair Khawarij untuk mengejek pengikut Mu’awiyah:

Kau membanggakan dua ribu orang beriman

Berada di belakangmu bukan?

Tak malu, sedangkan mereka itu tewas tersungkur

Di tangan empat puluh perajurit kami di Asak

Kau bohong, mereka pengecut

Tak seperti yang kaubanggakan

Sastra Arab mulai memperlihatkan perkembangan pesat pada zaman Daulah Umayyah.

Madina, kota awal pusat peradaban Islam

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.