This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label TASAWUF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TASAWUF. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

AL-QUR’AN DAN TAFSIR SUFI

Sesungguhnya Al-Qur’an itu ada [makna] lahir dan ada batinnya. Untuk setiap batin ada batinnya, sampai tujuh lapis [makna] batin.
— Hadis

Al-Qur’an adalah landasan pokok seluruh ajaran Sufi. Sesuai dengan ciri utama Tasawuf yang lebih menekankan kepada dzauq (rasa) dan aspek esoteris (ruhani, batiniah), maka tafsir Sufi atas Al-Qur’an tak jarang amat berbeda dengan tafsir yang biasa kita kenal. Kadang tafsir Sufi disebut juga ta’wil. Tafsir Sufi banyak berhubungan dengan “rahasia-rahasia” di balik teks lahiriah (literal) yang maknanya tak aus oleh dinamika perubahan-perubahan dalam sejarah.

Menurut Sufi, kemampuan seseorang dalam memahami makna Al-Qur’an amat bergantung kepada derajat dan kualitas keruhanian. Imam Ja’far as-Shadiq mengatakan bahwa Kitab Allah meliputi empat perkara: ibarat, isyarat, lathaif dan haqaiq. Ibarat adalah bagi orang awam, isyarat adalah bagi orang khusus, lathaif adalah bagi para Wali Allah, dan haqaiq adalah bagi para Nabi.

Ibn Mas’ud mengatakan, “Siapa ingin memperoleh ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, hendaklah ia membaca Al-Qur’an.” Seorang sufi mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an terhimpun semua ilmu yang ada di dunia. Ini sejalan dengan keterangan Al-Qur’an sendiri, yakni al-Qur’an adalah “penjelasan bagi segala sesuatu” (Q.S. 6:6) dan “Tidak Kami lewatkan dalam al-Kitab sesuatupun” (Q. S. 6:38). Maka, tak heran jika dikatakan bahwa mu’jizat terbesar dari Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an. Tentu saja pencapaian ilmu macam ini tidak bisa diperoleh dengan tafsir lahiriah atau akal/rasio. Dalam kasus pengetahuan Wahyu Ilahi, agar bisa memahami dan menguraikan pesan-pesan yang dikandungnya, kita mesti membersihkan diri kita; atau, dalam bahasa Islam, kita harus menjadi “buta huruf” (ummi). Pada dasarnya kita tidak mempunyai kemampuan sendiri untuk memahami wahyu; kita hanya bisa menempatkan diri kita sepenuhnya dalam kekuasaan Wahyu. Maka, agar makna terdalam dari Wahyu bisa dipahami, kita mesti menghentikan pemikiran dan refleksi intelektual atau akal, sebab dalam dirinya sendiri akal adalah terbatas dan pemikiran rasional boleh jadi dipengaruhi oleh kondisi jiwa yang kurang bersih. Sedangkan kebenaran Wahyu adalah suci dan tak terbatas, karena ia dari dan merepresentasikan Tuhan Yang Maha TakTerbatas ilmu-Nya. Yang terbatas mustahil menguasai yang tak terbatas. Jadi, Ketika hati sepenuhnya aman dari pemikiran reflektif dan lintasan-lintasan pikiran, maka ini adalah keadaan “buta huruf” dan siap menerima anugerah petunjuk Allah secara sempurna — inilah makna mistis dari fakta bahwa “Muhammad adalah Nabi yang buta huruf.”

Di sisi lain, perkataan Aisyah bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an secara tersirat menyatakan bahwa sesungguhnya Al-Qur’an tak lain adalah diri kita sendiri. Yang dimaksud oleh Sufi dalam hal ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an sesungguhnya sudah berada dalam diri kita sendiri. Setelah Allah menciptakan Adam, Dia mengajarinya “nama-nama segala hal” (Q.S. 2:31). Penamaan karenanya menjadi bagian dari sifat manusia, karena Allah mengajari manusia bahasa pada saat penciptaannya. Nama-nama yang diajarkan Allah kepada Adam adalah pengetahuan-Nya, yang “disimpan” dalam “tubuh” Adam. Jadi setiap bagian tubuh kita mengandung aspek tertentu dari nama-nama Ilahi. Dengan kata lain, realitas tubuh manusia adalah nama-nama yang memantulkan Citra-Nya: “Allah menciptakan Adam sesuai dengan Citra-Nya.” Setiap tubuh memantulkan nama-nama yang berbeda. Jadi kita membeda-bedakan realitas melalui diri kita, karena kita adalah citra yang beragam dari satu Tuhan. Dengan cara yang sama, kita membedakan segala sesuatu dengan memberi nama (misalnya, kita membedakan tempat duduk dan tempat tidur dengan memberinya nama kursi dan ranjang). Menurut pandangan Sufi, masalahnya adalah kita melupakan bahwa Allah telah mengajari kita nama-nama segala hal ini sejak awal penciptaan kita. Karena itu, untuk mengetahui “nama-nama” ini dan mengungkapkan hakikatnya, kita harus tahu nama-nama itu persis sebagaimana Allah mengajarkannya kepada kita, bukan sebagaimana yang kita pikirkan sendiri. Hal ini hanya bisa dicapai dengan mencintai Allah. Mencintai Allah, dalam ajaran Islam, hanya bisa dicapai melalui peniruan perilaku dan mengamalkan ajaran Rasulullah Muhammad. Maka, dengan mencintai Rasul, kita akan mencintai Allah, dan Allah akan mencintai kita dan melalui lantaran cinta inilah Allah akan mengingatkan kita kembali tentang “nama-nama segala hal” dan kita akan memandang sesuatu sebagaimana adanya (hakikat), bukan sebagaimana yang kita pikirkan.

Jadi, ringkasnya, dengan menjadikan diri kita “buta huruf,” dan mengikuti suri tauladan akhlak Nabi Muhammad, yakni akhlak Al-Qur’an, pada akhirnya akan membuat kita mendapat petunjuk untuk memahami makna terdalam dari al-Qur’an — “maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya; ikutilah [akhlak] Nabi [Muhammad] agar kamu memperoleh petunjuk” (Q.S. 7:158).

Kemudian, menurut Sufi, Al-Qur’an turun pada “Malam Kemuliaan” (Q.S. 97:1) dalam bentuk pengetahuan Allah yang utuh tak terbedakan, sebagai “totalitas kalimat” (jawami’ al-kalim) yang “dipatrikan” ke dalam hati Rasulullah. Wahyu tidak turun melalui “pikiran” Nabi, tetapi ke dalam seluruh keberadaannya, atau dalam “tubuh” Nabi yang dipercaya untuk melaksanakan dan mengamalkan titah Allah; seperti kata Aisyah, “Rasulullah adalah Qur’an yang berjalan.” Wahyu turun pada “malam,” yang melambangkan kerahasiaan yang tersembunyi, seperti kegelapan menyembunyikan sesuatu, dan juga malam adalah suasana yang menebarkan aroma misterius, seperti ada khazanah tersembunyi yang mesti diungkap agar diperoleh manfaatnya. Malam (Layla) dalam tafsir Sufi juga melambangkan “Zat Tuhan” yang tersembunyi dari pengetahuan siapapun. “Kegelapan” misteri haruslah diterangi dengan “Cahaya” yang terangnya “melebih seribu bulan,” yakni cahaya yang amat terang tetapi tak menyilaukan seperti matahari, sebab cahaya matahari justru membutakan. Dan dengan “cahaya seribu bulan” itulah tersibak apa-apa yang tersimpan dalam rahasia ayat-ayat Al-Qur’an. Tentu saja yang bisa menerangi misteri Ilahi hanyalah cahaya Ilahi saja. Maka, manusia harus meraih anugerah cahaya ilahi ini, yang bisa diakses oleh manusia melalui pensucian jiwa, melalui zikir, sebab seperti kata Syekh Athaillah As-Sakandari, “Zikir adalah cahaya yang menerangi.” Tazkiyat an-nafs (penyucian jiwa), karena itu, adalah kunci pertama dan utama dalam membuka rahasia Al-Qur’an.

Tetapi jelas pula bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan hanya kepada golongan elit spiritual seperti Nabi dan Wali Allah, tetapi juga kepada seluruh manusia yang bertingkat-tingkat kedudukan ruhaninya. Karena manusia dalam dirinya sendiri adalah “terbatas” dan memiliki banyak kekurangan, maka Allah berkenan mengejawantahkan Wahyu, yang tak lain adalah representasi Tuhan itu sendiri, ke dalam bentuk yang bisa dipahami manusia, agar manusia bisa mengenal Tuhannya melalui sarana Wahyu itu. Jadi, sebagaimana kita lihat sekarang, Al-Qur’an diajarkan dalam bentuk kalimat, yang tersusun dari kata, yang tersusun dari huruf. “Kalimat adalah dari huruf, dan huruf adalah dari udara, dan udara adalah dari Nafas al-Rahman.” demikian kata Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi. Untuk memahami kalimat ini manusia memerlukan kehadiran dari al-Rahman, yakni Tuhan, karena hanya karena Dia-lah yang bisa menghidupkan apa-apa yang menjadi kandungan dari kalimat-kalimat itu.

Karena, seperti telah disinggung di atas, Al-Qur’an, atau “Kalimat Allah,” tak lain adalah makhluk termasuk manusia, maka unsur penyusun dari seluruh ciptaan tak lain adalah “huruf” dari tiupan “Nafas al-Rahman.” Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam tubuh manusia, yakni tiupan rahmat, maka kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam Diri-Nya dihidupkan. Jadi, huruf-huruf dihidupkan, dihubungkan dan dibentuk menjadi makhluk atau kalimat-kalimat. Setiap huruf, seperti ditunjukkan dalam ilmu fonetik modern, adalah tempat di mana nafas berhenti atau dibelokkan. Kombinasi huruf menjadi kalimat, dan kalimat menyampaikan makna dari si pembicara, yakni Allah SWT. Karenanya dikatakan bahwa barangsiapa ingin bercakap dengan Allah hendaklah ia membaca al-Qur’an.

Jadi, Al-Qur’an adalah kitab yang hidup, kitab yang diturunkan dari aras kesucian, dan karenanya, agar kita bisa “menghidupkan” ayat-ayatnya, maka kita harus menghubungkan ruh kita dengan “ruh” Al-Qur’an. Hal ini hanya bisa terjadi apabila hijab hawa nafsu yang mengalahkan ruh kita telah diangkat, atau setidaknya dibuat tak berdaya sehingga cahaya ruh kita yang telah suci bebas dari cemar nafsu bertemu dengan cahaya Al-Qur’an. Dalam hadis dikatakan bahwa tidak akan menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci dari hadats, yakni seseorang tidak akan “menyentuh” makna hakiki Al-Qur’an sebelum ia suci dari hadats hawa nafsu. Kita ingat riwayat bahwa sebelum Muhammad menjadi Nabi, beliau adalah “yang terpercaya” (al-amin) dan “buta huruf” (ummi) dan, sebelum menerima wahyu, dadanya telah dibedah oleh malaikat untuk disucikan hatinya.

TAFSIR SUFI

Penafsiran Sufi atas makna rahasia (batiniah) atas Al-Qur’an didasarkan pada perlambang, yang hanya bisa diungkap melalui kesucian. Tafsir sufi tidak terbatas hanya pada aspek lahiriah dan batiniah dari teks surat secara keseluruhan, ayat per ayat, tetapi juga menukik hingga ke tafsir atas huruf. Karena Al-Qur’an adalah Wahyu Allah, yang boleh dikatakan “merepresentasikan” segala Ilmu Allah, maka setiap huruf adalah ayat tersendiri yang melambangkan maksud tertentu. Rahasia-rahasia Al-Qur’an, mulai dari rahasia surat hingga ke rahasia huruf tak bisa diketahui melalui penalaran, tetapi melalui jalur lain, yakni mujahadah (jihad akbar) sampai seseorang mencapai mukasyafah dan musyahadah (kesaksian atas kenyataan batin).

Imam Ja’far as-Shadiq mengatakan bahwa “Awalnya terbersit ‘pikiran’ dalam diri Tuhan, sebuah niat, sebuah kehendak. Obyek dari pikiran ini, atau niat dari kehendak ini, adalah huruf-huruf yang menjadi prinsip segala hal; menjadi ‘indeks’ dari segala sesuatu dalam ciptaan. Dari huruf-huruf inilah segala sesuatu diketahui.” Rasulullah bersabda, “Semua ayat Al-Qur’an mengandung makna lahir dan batin. Setiap hurufnya memiliki makna tertentu, dan setiap huruf menyatakan secara tak langsung tempat kedudukannya (matla’).”

Al-Tirmidhi menyatakan bahwa semua ilmu ada dalam huruf-huruf karena asal-muasal ilmu sesungguhnya berasal dari Asma Agung Tuhan, yang melahirkan penciptaan dan pengaturan. Allah mengajari Adam pengetahuan dan akar pengetahuan. Pengetahuan itu terdiri dari “nama-nama”; akar pengetahuan adalah 28 huruf abjad [Arab]. Bahasa berakar pada huruf. Maka makna pengetahuan bukan hanya ditemukan dalam kalimat atau kata. Dua puluh delapan huruf Arab, menurut Muhyiddin Ibn ‘Arabi, adalah artikulasi (perwujudan) dari prinsip tunggal, yang masing-masing terkait dengan Nama Ilahi. Jadinya setiap bentuk dasar huruf mengindikasikan makna.

Allah meletakkan pengetahuan ma’rifat “nama-nama” ke dalam hati Adam. Tempat di mana nama-nama itu mengambil bentuk (taswir) adalah di dada. Kemudian mereka diterjemahkan [ke dalam bentuk suara] melalui tenggorokan dan bibir. Dalam huruf-huruf itu tersimpan pengetahuan pengetahuan primordial (ilm al-bad’), pengetahuan Asma Agung Allah, juga ilmu pengaturan oleh Allah (ilm al-tadbir) yang meliputi ilmu dari Nabi Adam sampai Hari Kiamat. Nama adalah penanda atas sesuatu, sedangkan sifat (atribut) adalah penjelasan yang datang dari sesuatu itu. Nama adalah untuk bahasa, sifat adalah untuk penglihatan dan pemahaman.

Tetapi jika Allah adalah tersembunyi, tak bisa disentuh, dilihat, dirasakan, dicium atau dipahami, maka bagaimana mungkin manusia bisa mengetahui atau melihat sesuatu itu? Allah tidak bisa dipahami dengan perasaan, sentuhan, penglihatan dan sebagainya, karena Dia adalah “Perbendaharaan Tersembunyi” yang Maha Gaib. Oleh karenanya, sebelum Dia menciptakan dunia, Dia memperlihatkan sifat-Nya demi kepentingan hamba-Nya. Setiap sifat ini kemudian diekspresikan dalam kombinasi huruf-huruf yang menjadi Asma al-Husna. Nama yang berasal dari atribut/sifat dan Allah bisa dideksripsikan karena ada sifat yang memancar ini (lihat Bab 2). Nama dan sifat hadir agar lidah bisa mengucapkannya hingga menjadi suara. Nama dan sifat, sebagai bentuk penjelasan, adalah seperti “cahaya yang menerangi langit dan bumi” sehingga segala sesuatu yang ada dalam ciptaan menjadi jelas — “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

Melalui huruf-huruf inilah Allah menampakkan diri kepada hamba-Nya, seperti dinyatakan oleh Imam Ja’far: “Allah memperlihatkan Diri-Nya kepada hamba-Nya dalam kitab-Nya, namun mereka tidak melihat-Nya,” yakni memperlihatkan Diri-Nya dalam rahasia di balik huruf-huruf Kitabullah. Dengan demikian, untuk mengenal-Nya (ma’rifat), kita mesti membaca Al-Qur’an dalam pengertian mistis ini. Jadinya, Iqra’, bacalah, yakni siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan Asma-Nya, ia laksana menyambungkan cahaya pengetahuan dari lidahnya ke Sumbernya. Dalam analisis terakhir, ada hubungan penting antara pensucian jiwa, membaca Al-Qur’an, dan pengetahuan Allah: Seseorang yang telah mensucikan diri dari segala hawa nafsu, ia akan “mengalirkan” khasanah Ilmu Allah ke dalam dirinya melalui perantaraan Al-Qur’an. Ia akan dikaruniai pengetahuan tentang makna lahir dan batin dari Al-Qur’an. Karena itu, dapat dipahami jika Nabi dan Wali Allah memiliki pemahaman tentang Al-Qur’an yang tidak dipahami oleh manusia biasa. Karenanya, menurut Al-Hakim al-Tirmidhi, salah satu tanda Wali Allah adalah ia menguasai ilmu huruf. Ilmu huruf ini dianggap kunci bagi semua ilmu lainnya.

Turunnya Wahyu Al-Qur’an dalam bentuk huruf-huruf adalah semacam transformasi dari dunia yang “tak diciptakan” atau tak dapat dipahami menjadi dunia yang “terciptakan” atau dapat dipahami. Abjad Arab — yang merupakan bahasa Al-Qur’an — terdiri dari 28 huruf, yang terbagi menjadi dua bagian, 14 huruf-huruf yang jelas dan 14 huruf-huruf yang tersembunyi (dalam ilm tajwid ini dinamakan huruf syamsiyyah dan qamariyyah). Huruf yang berkaitan dengan dunia “yang tak terciptakan” adalah huruf-huruf misterius yang menjadi awal dari 29 surat. Huruf-huruf itu tidak “divokalkan” – misalnya ayat pertama surat al-Baqarah dibaca alif, lam, miim dibaca tanpa harakat (penanda vokal). Semua ayat Al-Qur’an bisa “dibaca” karena divokalkan, kecuali huruf-huruf pembuka beberapa surat, yang hanya bisa “dieja.” Huruf-huruf misterius ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para Sufi.

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq pernah mengatakan bahwa rahasia dalam Al-Qur’an terkandung dalam huruf-huruf fawatih atau muqatta’at (huruf-huruf yang misterius artinya yang ada di ayat pembuka beberapa surat Al-Qur’an). Interpretasi esoteris (mistis) atas huruf Arab tidak bisa dilakukan kecuali dengan menyertakan aritmologik (nilai numerik atau angka pada setiap huruf). Syekh Ahmad al-Buni dalam Kitab Syams al-Ma’arif al-Kubra menjelaskan: “Rahasia-rahasia Tuhan dan obyek Ilmu-Nya … adalah dua macam, yakni huruf dan angka. Angka adalah realitas tertinggi yang berbasis spiritual, sedangkan huruf berasal dari alam material dan malakut. Angka adalah rahasia kata, dan huruf adalah rahasia tindakan.” Dengan kata lain angka melambangkan dunia spiritual dan huruf melambangkan dunia jasmaniyah. Nilai numerik dari masing-masing huruf itu adalah sebagai berikut:

Menurut para Sufi, huruf-huruf misterius yang “tak bermakna” itu dianggap mengandung ilmu-ilmu Allah yang diturunkan secara langsung dengan sangat cepat sehingga bahkan malaikatpun tak sempat memahami artinya. Dalam riwayat diceritakan ketika Jibril menurunkan ayat pertama Surat Maryam, Kaaf, haa, yaa, ‘ain, shaad, Nabi berkata, “Aku tahu artinya,” tetapi Jibril bertanya, “Bagaimana engkau tahu sesuatu yang aku tak tahu?” Melalui ilmu huruf dan angka ini para Sufi melahirkan pandangan yang eksotis tentang Al-Qur’an.

Misalnya, huruf-huruf awal awal surat Maryam ditafsirkan sebagai perlambang dari Asma al-Husna:
Kaaf = al-Kafi
Haa = al-Hadi
Yaa = al-Yaqin
‘Ain = al-‘Alim
Shad = as-Shadiq

Karenanya, huruf-huruf ini mengandung makna dan “berkah” tertentu dari khasanah Asma-Nya, yang hanya bisa diketahui oleh para ahli-kasyaf. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib menggunakan huruf-huruf ini sebagai wasilah untuk berdoa: Wahai Kaaf, Haa, Yaa, ‘Ain, Shaad, aku berlindung kepada-Mu dari dosa yang menyebabkan murka-Mu … Ya Allah tolonglah aku melawan diriku sendiri.” Demikian pula Sayyid Abu Hasan as-Syadzili berdoa dengan menggunakan huruf-huruf: “Qaaf, Jiim, adalah dua rahasia bersama-Mu. Keduanya menunjukkan kepada selain-Mu. Maka, dengan rahasia yang menyeluruh yang menunjukkan kepada-Mu, janganlah Engkau biarkan aku menuju selain-Mu. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Rahasia huruf dan angka ini juga dipakai untuk menentukan jumlah bacaan zikir. Misalnya, dalam Tarekat Qadiriyyah, murid pemula dianjurkan setiap hari membaca asma “Allah” sebanyak 66 kali, yang dianggap sebagai “dosis” yang pas, karena jumlah numerik “Allah” adalah 66 (alif = 1, lam, lam = 2 x 30, dan h = 5).

Sebagai ilustrasi, berikut sedikit contoh tentang tafsir oleh para Sufi. Pertama kita ambil contoh ayat awal Surat Al-Fatihah yang merupakan induk Al-Qur’an, yakni ayat bismillahi ar-rahman ar-rahim. Untuk contoh pertama, di bawah ini hanya akan disajikan sedikit saja contoh tafsir kalimat “bismillah” disebabkan oleh keterbatasan tempat dalam buku ini.

Surat ini oleh Al-Qur’an sendiri (Q.S. 15:87) disebut “Tujuh yang diulang” (sabt al-matsani) sebab Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam shalat. Dalam al-Fatihah terdapat seluruh huruf kecuali tujuh huruf:

za, kho, dzho, tsa’, syin, jim, fa

Sebagian Sufi menyatakan bahwa Asma Paling Agung (Ism al-Adzam) Allah terkandung dalam huruf-huruf ini.

Dalam sebuah tafsir lain dikatakan bahwa semua yang tercantum dalam Al-Qur’an ada dalam Al-Fatihah, dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam bismillahi ar-Rahman ar-Rahim (kalimat basmalah), dan semua yang ada di dalam kalimat basmalah itu ada dalam huruf ba’, dan huruf ba’ itu sendiri terkandung di dalam titik yang berada di bawahnya. Titik adalah asal-usul dari segala huruf. Menurut suatu riwayat, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib mengisyaratkan tafsir ini dalam ucapan saat beliau mengalami fana: Anaa nuqtatu ba–i bismillah (Aku adalah titik huruf ba’ dalam bismillah).

Kalam Ilahi dimulai dengan bismillahi — “Dengan menyebut Nama Allah” — yang diawali bukan oleh huruf alif (yang bernilai 1) tetapi oleh huruf ba’, yang bernilai 2. Kalimat bismi asalnya adalah bi-ism, yakni ada alif di antara ba’ dan sin. Alif, yang bernilai 1, melambangkan Zat yang Maha Esa dan Tak Terpahami (Transenden). Alif, perlambang Zat Maha Gaib dan wujud primer (wujud al-awwal) “disembunyikan” dalam huruf ba’ yang melambangkan manifestasi atau perwujudan (zuhur) atau eksistensi kedua (wujud al-tsani). Yang Gaib yang dihijab dalam huruf ba’ ini dimunculkan kembali melalui “nama” Allah, yakni nama yang menunjukkan Zat Yang Maha Gaib. Jadi Bismillah adalah pertemuan antara yang “tak diwujudkan” dengan “yang maujud,” yang lahir dan batin, yang tampak dan yang gaib. Ini adalah perlambang hubungan Tuhan dengan ciptaan-Nya, yang menyimbolkan imanensi atau “keserupaan” (tasybih) sekaligus transendensi atau perpisahan (tanzih): “Allah meliputi segala sesuatu” dan “tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya.” Maka dalam konteks eksistensi, ini melambangkan hubungan halus antara al-Khaliq dan makhluq: “Dia adalah engkau; engkau adalah engkau dan Dia adalah Dia” (al-huwa anta; wa anta anta wa huwa huwa). Jadi huruf ba’ adalah kinaya, metafora, yakni sesuatu yang menyembunyikan sesuatu yang lain. Ketika ba’ “divokalkan” menjadi bi, ia berarti “Dengan Aku,” yakni Aku Ilahi atau Allah sendiri. Menurut Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi, melalui Aku Ilahi ini, terdapat perbedaan antara bentuk hakiki dari Tuhan (al-sura al-haqiqiyya) dan bentuk citra-an atau metaforis (al-sura al-majaziyya), di mana melalui bentuk yang disebut belakangan inilah Dia menciptakan manusia — “Allah menciptakan manusia sesuai dengan bentuk atau citra-Nya.” Yang dimaksud adam di sini adalah insan kamil (Manusia Sempurna), yang memanifestasikan pola dasar keruhanian insan dalam gambaran-Nya. Jadi ba’ adalah bentuk pertama yang “mengejawantahkan” alif. Ba’ adalah pola dasar dan dapat dikatakan melambangkan adam dalam arti manusia di bumi. Karena manusia sempurna adalah cermin dari Bentuk Majazi-Nya, maka dialah yang diangkat menjadi khalifah-Nya dan memerintahkan malaikat untuk sujud kepadanya. Karena manusia diberi amanat kekhalifahan di muka bumi, maka Allah menjadikan manusia sebagai perwujudan yang kelihatan dari al-Batin. Ini berarti bahwa tercipta pula “pemisah” (hijab) antara Tuhan (Yang Maha Gaib) dengan manusia (manifestasi dari Yang Gaib).
Jadi, sejak awal huruf Kitabullah ini, pembaca Al-Qur’an telah diingatkan bahwa segala sesuatu selalu terkait dengan Allah, sebab “la maujuda illa Allah.” Setiap wujud selalu terkait dengan satu “nama” yang mengantarkan pada Zat-Nya, dengan kata lain pada hakikatnya hanya ada satu Wujud — Kesatuan Wujud (wahdat al-wujud). Tetapi, Kesatuan Wujud ini, sebagaimana Kitabullah, memuat prinsip diferensiasi (lihat kembali Bab 2). Jadi, membaca Al-Qur’an dengan benar akan membawa pembacanya pada visi atau pengalaman kesatuan wujud, tanpa mengacaukan aspek tanzih (transenden) dan tasybih (imanen).

Kata “Allah” dalam kalimat basmalah juga mengilustrasikan urutan persatuan dan perpisahan, tasybih dan tanzih. Setelah mengucapkan bismi, pembaca al-Qur’an akan bertemu dengan asma Allah — bismillah, yakni dengan menyebut asma “Allah.” Kata ini terdiri dari empat huruf, alif, lam, lam, dan ha. Kata ini amat istimewa. Jika dari kata “Allah” ini kita hilangkan huruf alif, maka kita akan mendapatkan kata “lillah”; jika lam pertama kita singkirkan, maka kita akan mendapatkan kata “lahu”; jika lam kedua kita singkirkan, kita akan mendapatkan kata “hu” — Semua itu merujuk kepada “Allah.” Huruf alif dalam kata “Allah” yang bernilai 1 melambangkan Diri Tuhan dan Keesaan-Nya. Huruf lam pertama adalah alam malakut (kerajaan langit). Huruf lam kedua adalah alam mulk (kerajaan dunia bumi). Dan Hu adalah tak ada sesuatupun selain Dia.

Ringkasnya, segala sesuatu adalah ada karena Allah dan “beserta” Allah. Kelangsungan hidup makhluk bergantung pada ruh yang “ditiupkan” ke dalam makhluk-Nya. Inilah tiupan rahmat, Nafas al-Rahman. Jadi, terwujudnya semesta, termasuk manusia, adalah lantaran Kasih-Nya. Allah disebut “ar-Rahman” selama Dia memancarkan “Wujud-Nya” yang tak terbatas, yang merupakan akar primordial dari semesta (kosmos). Karenanya, dalam satu pengertian, “Allah” dan “ar-Rahman” adalah identik sebab keduanya “mencakup segala sesuatu” — “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu” (Q.S 7: 156). Keidentikan ini juga diisyaratkan dalam ayat “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman” (Q.S.17:10). Sampai di sini dapat dikatakan bahwa alif yang “tersembunyi” diejawantahkan atau dimanfestasikan dengan ba’, dan pengejawantahan ini adalah karena dan beserta “Allah,” dan manifestasi dipelihara dan dijaga dengan Rahmat-Nya yang tiada terbatas.

Akan tetapi ciptaan tak pernah sama dengan Pencipta, dan karenanya ciptaan akan berakhir. Tujuan akhir dari manusia adalah keselamatan dan kenikmatan di sorga. Inilah rahmat yang lebih khusus, ar-Rahim, yang dimanifestasikan dengan jelas di dalam surga. Dan di dalam surga inilah terdapat tujuan tertinggi manusia—“melihat” wajah Allah atau bertemu (liqa’) dengan Allah—sebuah pertemuan yang membahagiakan di mana sang hamba kembali “menyatu” dengan-Nya. Bertemu dengan Tuhan adalah bertemu dengan diri sendiri yang sejati — “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Sosok yang paling mengenal dirinya, dan karenanya, mengenal Tuhannya, tak lain adalah Insan Kamil (Manusia Sempurna), dengan perwujudannya atau personifikasinya yang tertinggi dan paling sempurna di dunia ini adalah Nabi Muhammad SAW. Kedatangan Muhammad sebagai Penutup Kenabian dan Kerasulan, sebagai Insan Kamil, adalah “kesimpulan” dari semesta.

Jadi, secara garis besar, di satu sisi dapat dikatakan lingkaran eksistensi manusia muncul pertama kali dengan bismi, yang diawali oleh Adam yang menerima “nama-nama segala hal” dari Allah, ar-Rahman, dan diakhiri oleh ar-Rahim, yang dengan Asma ini Muhammad menyatukan kembali hal-hal yang “dipisahkan” oleh bismi. Tauhid Rasulullah adalah menyatukan kembali signifikansi Tauhid, tanzih-tasybih, rahasia dari makna “Dia-lah Yang Mahaawal dan Mahaakhir, Yang Mahazahir dan Mahabatin” (Q.S. 57:3). Namun, di sisi lain, dalam konteks azali (sebelum ada alam), segala sesuatu berasal dari Muhammad yang, menurut salah satu riwayat hadis, diciptakan “2000 tahun sebelum penciptaan Adam” (lihat Bab 3). Dengan demikian “yang akhir” kembali ke “yang awal,” dan lingkaran tujuan penciptaan semesta pun telah paripurna: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Jadi, dari contoh tafsir di atas, yang hanya serba sedikit, tampak bahwa tafsir para sufi benar-benar memperhatikan detail hingga ke huruf-hurufnya. Dari mana datangnya pengetahuan tafsir simbolis semacam ini? Sufi As-Sady mengatakan, “Ketika Allah hendak menjadikan seseorang sebagai Wali, Dia akan mengajarinya ilm ladunni, dan ilmu ini tidak bisa diperoleh dengan penelitian rasional atau akal-budi” — ilm ladunni ini hanya bisa diperoleh melalui karunia dan pertolongan Ilahi setelah manusia mau berusaha untuk mensucikan hatinya dengan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari sudut pandang lainnya, yakni dari segi “pragmatis,” maka kandungan Al-Qur’an bukan hanya ilmu pengetahuan lahir dan batin, tetapi juga mengandung aspek pragmatis untuk membantu manusia menghadapi hidup, dan bahkan juga bisa melahirkan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan manusia. Al-Qur’an bisa memunculkan “keajaiban” jika diamalkan dengan cara tertentu, baik untuk tujuan keruhanian maupun keduniawian. Menurut para sufi, setiap surat dan ayat atau bahkan setiap kata dan huruf ada “khasiat” atau fadhilah (keutamaan) tertentu. Ilmu tentang rahasia khasiat ini juga termasuk dalam ilm ladunni. Misalnya, Rasulullah bersabda “Fatihah terbuka untuk segala maksud kaum mukminin” dan “Fatihah itu obat dari segala penyakit, kecuali kematian.” Tentunya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana khasiat ini bisa direalisasikan. Inilah yang dimaksud dengan ilmu rahasia khasiat dan fadhilah, yang hanya bisa diketahui melalui ilm ladunni. Banyak Sufi yang dikaruniai pengetahuan gaib tentang cara-cara pengamalan agar manfaat Fatihah ini bisa terealisasikan. Sebagian dari pengetahuan gaib itu telah ditulis dalam banyak kitab. Misalnya, agar mendapat perlindungan dari segala bencana dan wabah, dianjurkan dibaca secara rutin 40 kali sesudah shalat subuh; atau untuk memudahkan rezeki, menurut Syekh Ahmad al-Ghazali, Fatihah dibaca 100 kali setiap hari, atau dibaca sesuai dengan jumlah hurufnya, yakni 125 kali. Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan Fatihah bisa memudahkan terkabulnya hajat jika dibaca secara rutin 40 kali selepas shalat maghrib; atau dibaca sebanyak bilangan pejuang badar, 313 kali, untuk membuka keberkahan dan menutup keburukan; dan masih banyak lagi cara lainnya. Wali Allah wanita yang bernama Fathimah biti ibn al-Mutsanna, memiliki kemampuan menguasai surat al-Fatihah. Beliau pernah berkata, “Aku diberi surat al-Fatihah dan aku bisa menggunakan kekuatannya untuk apa saja yang kuinginkan.” Dalam sebuah kisah, beliau memerintahkan al-Fatihah untuk membawa kembali seorang suami yang minggat dari rumahnya, meninggalkan istrinya untuk kawin lagi. Contoh lainnya, untuk bertemu dengan 4000 Wali Allah, kata Syekh Majduddin, seseorang dianjurkan mewiridkan “ayat lima” setiap hari (yakni Surat al-Baqarah: 246; Surat ali-Imran: 181; an-Nisa: 77; al-Maidah: 27; dan ar-Ra’du: 16).

Pada level yang lebih tinggi, surat-surat dalam al-Qur’an pada hakikatnya memiliki sebentuk “wujud” tersendiri yang bisa diajak berkomunikasi. Al-Qur’an dapat menampakkan diri kepada Wali Allah dalam “modus” atau bentuk tertentu. Surat-surat yang secara kasat mata kita lihat sebagai tulisan dan kita dengar sebagai suara, bagi sebagian Wali Allah dapat muncul dalam bentuk visual. Ini disebabkan eksistensi memiliki empat derajat yang menyediakan wadah bagi makna. Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan:

Segala “sesuatu” dalam wujud ini memiliki empat derajat … Pertama adalah wujud sesuatu di dalam realitas personalnya; yang kedua adalah wujud sesuatu di dalam pengetahuan; yang ketiga adalah wujud sesuatu di dalam suara; dan keempat adalah wujud sesuatu di dalam tulisan — Jika kita mengeja nama Shalahuddien, maka kita memahami maknanya [suara]; jika kita menulis nama Shalahuddien dalam secarik kertas, maka kita memahami maknanya [tulisan]; jika Shalahuddien sendiri muncul di hadapan kita, kita memahami maknanya [realitas personalnya]; dan jika kita mengingat atau membayangkan Shalahuddien dalam pikiran ketika dia tidak hadir di depan kita, maka kita memahmi maknanya [pengetahuan atau bentuk imajinal/al-khayal].

Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi sendiri pernah mengalami “penampakan” langsung dari bentuk-bentuk surat, setidaknya tiga kali. Salah satunya adalah pengalaman ketika surat al-Ikhlas mengungkapkan dirinya secara langsung di Aleppo, di mana dia diberi tahu bahwa surat ini “tak tersentuh oleh jin dan manusia.” Melalui penampakan langsung inilah Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi memahami konsep ikhlas, yang merupakan rahasia Allah yang hanya dipercayakan kepada hati orang-orang yang dicintai-Nya. Syekh al-Akbar juga pernah diselamatkan oleh surat “Yasin” dalam bentuk lelaki yang gagah dan tampan. Isyarat bentuk surat ini juga dikemukakan secara implisit oleh Sabda Rasulullah SAW bahwa surat as-Sajdah memiliki “dua sayap” yang akan menaungi pembacanya di hari kiamat.

Selain itu, Wali Allah bisa menyaksikan atau bercakap langsung dengan makna atau kejadian yang dimuat dalam al-Qur’an. Setiap bentuk kitab atau buku adalah semacam “representasi” dari penulisnya. Dalam hal ini ada hubungan “gaib” antara penulis dengan buku, yakni seolah-olah buku itu menghubungkan si pembaca dengan si penulis. Sebagian Wali Allah dikaruniai kemampuan membaca buku hingga ke tingkat mutalaqqi, yakni ketika mereka membaca kitab, mereka langsung “bertemu” — baik secara ruhaniah atau tidak — dengan penulisnya, bahkan dalam kasus penulis yang sudah meninggal sekalipun. Dikisahkan Kyai Ihsan Jampes, Kediri, setiap beliau menelaah kitab al-Ihya Ulumuddin, maka Imam al-Ghazali akan langsung mendatanginya untuk memberinya penjelasan secara langsung. Penulis pernah bersilaturahmi dengan Wali Allah yang bila ingin memahami isi suatu buku, beliau cukup melihat nama pengarangnya, diam sejenak, lalu ditutup lagi bukunya. Jika ditanyakan kandungan buku itu, beliau bisa menguraikannya. Ada banyak kisah semacam ini dalam dunia Tasawuf.
Hal yang sama juga terjadi ketika Wali Allah membaca Al-Qur’an. Misalnya, ketika membaca ayat dalam surat al-Kahfi yang mengisahkan para “pemuda gua,” Wali Allah bisa jadi akan langsung diberi visi keadaaan para pemuda itu, bagaimana perjuangannya, dan seperti apa keadaannya saat tidur selama 309 tahun. Seorang Wali Allah menceritakan kepada penulis bahwa anjing yang mengikuti tujuh pemuda itu benar-benar patuh bahkan hingga mengikuti gerak-gerik para pemuda gua. Jika, misalnya, para pemuda itu tidur terlentang, si anjing ikut terlentang; dan jika mereka berubah posisi miring, si anjingpun ikut miring. Kemudian beliau mengatakan, ini adalah isyarat bahwa dengan mengikuti dan patuh pada Wali Allah, bahkan seekor anjing pun bisa masuk surga, apalagi manusia. Jadi beliau tidak hanya membayangkan dalam imajinasi kisah itu, tetapi “mengalami” langsung peristiwanya, dan bahkan bisa bercakap-cakap dengan tujuh pemuda gua itu. Contoh lainnya dalam “keanehan” sang Wali ini adalah sebagai berikut: Di ruangannya , yakni di sekitar tempat duduknya, terdapat banyak kitab agama, seperti kitab tafsir, kitab hadis, kitab tasawuf, dan sebagainya. Menurut keterangan, sebenarnya kitab-kitab itu telah dirapikan dan di simpan di kamar belakang. Namun Wali Allah ini kemudian memerintahkan putranya untuk mengembalikan kitab itu di ruangannya, di dekat tempat duduknya. Menurut Wali Allah itu beliau mendengar kitab-kitab itu memanggilnya, dan kitab-kitab itu berkata kepada beliau bahwa mereka tidak ingin jauh-jauh dari sang Wali Allah. Bahkan, dalam kasus pembacaan Al-Qur’an, terkadang Wali Allah ini tak kuat membaca suatu ayat. Dikisahkan oleh seorang putranya kepada penulis, ketika sang Wali membaca ayat yang menerangkan penderitaan Nabi Ayyub, sang Wali ini berhenti membaca dan menangis tersedu-sedu. Belakangan, menurutnya, ketika membaca ayat itu, Nabi Ayyub hadir langsung secara ruhaniah di hadapannya, menceritakan dan menunjukkan penyakit dan penderitaannya kepada sang Wali. Menurut sang Wali, kemampuan seperti ini hanya bisa diperoleh jika seseorang sudah tak lagi “melihat” atau “membaca” hal-hal yang subhat apalagi yang haram — bahkan dalam suatu kesempatan beliau mengatakan kepada penulis bahwa dirinya tak bisa lagi membaca berita koran, karena sudah “diharamkan” baginya.

Selain itu ada “keajaiban” Qur’an dari aspek audionya, yakni dari pelafalan atau pembacaan Qur’an. Kata-kata dan bunyi al-Qur’an diyakini memiliki kekuatan “magis” tertentu yang bersumber dari asal-usul Ilahiahnya Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu ialah orang yang apabila disebut Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah iman mereka karenanya” (Q.S. 8: 2). Dalam pengertian yang luas, membaca ayat al-Qur’an pada dasarnya adalah berzikir pula. Ayat lain yang menunjukkan kekuatan suara bacaan al-Qur’an adalah “Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik [al-Qur’an] yang ayat-ayatnya saling menguatkan dan disampaikan berulang-ulang dan bulu roma orang yang bertakwa kepada Tuhannya pasti bergetar, kemudian kulit dan hati mereka menjadi lembuat karena mengingat Allah [zikirullah]” (Q.S. 39: 23).

Sudah diakui bahwa bacaan ayat Al-Qur’an dengan suara yang jernih dan merdu akan memengaruhi suasana hati. Bacaan al-Qur’an akan lebih berkesan jika dibaca dengan suara yang merdu dan mengikuti kaidah tajwid secara sempurna. Berkah yang paling jelas yang didapat oleh seseorang ketika membaca al-Qur’an adalah turunnya “sakinah” atau “kedamaian.” Rasulullah menyatakan dalam sebuah hadis bahwa orang-orang yang membaca al-Qur’an dan saling membacakan al-Qur’an akan mendapat karunia sakinah, rahmat dan dikelilingi malaikat. Usaid ibn Hudhair ketika sedang membaca al-Qur’an tiba-tiba ia melihat awan putih mengelilinginya. Rasulullah kemudian memberi tahu bahwa awan itu adalah malaikat yang berkumpul untuk mendengarkan bacaannya. Karena begitu banyaknya malaikat yang berkerumun, sampai-sampai mereka tampak seperti awan. Rasululullah menyatakan bahwa awan itu adalah sebentuk sakinah. Dalam pandangan ulama Sufi, setiap ayat, dan bahkan setiap huruf, sesungguhnya ada penjaganya, yakni malaikat. Karenanya, ketika seseorang membaca suatu ayat sesungguhnya ia “menyapa” sang penjaganya. Pada satu titik di mana keadaan pembaca sudah sedemikian tinggi tingkat keruhaniannya, maka “bacaan” itu akan menyatu dengan dirinya, yang berarti pula ia akan selalu diliputi dan dijaga oleh para malaikat dari setiap huruf yang dibaca. Jika al-Qur’an telah “mendarah daging” dalam kehidupan seseorang, maka fadhilah dan khasiat setiap ayat akan terealisasi dengan sendirinya. Karenanya, dalam kehidupan sehari-hari, jika kita melihat ada orang kesurupan, kadang saat dibacakan ayat kursi atau surat al-Falaq dan an-Nas oleh orang yang kualitas spiritualnya rendah atau biasa saja, orang kesurupan itu tidak segera sembuh, tetapi ketika didatangkan “ulama khos,” bahkan belum sempat ia membacanya pun orang itu langsung pulih karena jinnya sudah lari terbirit-birit. Dibutuhkan kualitas spiritual yang tinggi agar manfaat untuk “pengusiran” jin dapat terealisasikan. Orang dengan kualitas ruhani yang tinggi, apalagi jika al-Qur’an telah mendarah-daging dalam dirinya, akan memiliki daya spiritual dan cahaya yang amat kuat, dan bahkan cukup dengan kehadirannya saja akan bisa membakar para jin dan sejenisnya.

Orang yang lidahnya fasih dalam melafalkan huruf Arab dan menguasai tajwid dengan sempurna serta memiliki kualitas ruhaniah yang tinggi — atau cahaya ruhnya telah “bertemu” dengan cahaya ruh Al-Qur’an — akan mampu memengaruhi orang dengan membaca al-Qur’an, dan bahkan dalam beberapa kasus, mampu membuat pendengarnya jadzab. Inilah salah satu kualitas Wali Allah yang menakjubkan. Wali Allah yang sempurna akan benar-benar “menghadirkan” seluruh makna al-Qur’an kepada pendengarnya. Sahabat Rasulullah, Ibn Mas’ud, yang tak diragukan lagi kualitas kewaliannya dan kefasihan bacaannya, pernah diminta oleh Rasulullah untuk membacakan al-Qur’an. Ibn Mas’ud heran dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mestikah saya membacakan al-Qur’an kepadamu, sedangkan al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Rasulullah menjawab, “Benar, tetapi aku suka mendengarkan bacaan dari orang lain.” Lalu Ibn Mas’ud membacakan surat an-Nisa ayat 41. Ketika sampai pada kalimat “Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir) apabila kami mendatangkan saksi [Rasul] dari tiap umat…” Rasulullah berkata, “Cukup.” Lalu air mata beliau bercucuran. Sayyidina Umar ibn Khattab yang terkenal garang pun luluh hatinya setelah mendengarkan bacaan al-Qur’an.

Penulis pernah mendengar kisah kekuatan ayat al-Qur’an yang dibaca oleh seorang Wali Allah. Menurut seorang santrinya yang pernah disembuhkan sang Wali dari penyakit “gila” yang dideritanya, “ludah sang Wali ini setara dengan 41 al-Qur’an,”; dan seorang tamu lainnya yang ahli kasyaf jika hendak bersalaman dengan beliau, dia selalu berwudhu terlebih dahulu, karena menurut visinya dalam perut sang Wali ini “berisi” al-Qur’an. Penulis beberapa kali bersilaturahmi dengan sang kyai yang sudah menempati kedudukan Wali ini, dan menurut beliau, sampai sekarang beliau tidak mau meludah sembarangan, karena dikhawatirkan air ludahnya yang “setara” dengan al-Qur’an akan diinjak orang. Karenanya, tak mengherankan jika beberapa kyai Wali Allah zaman dahulu selalu punya tempat khusus untuk meludah. Kyai ini juga terkenal karena bacaannya yang membuat orang bisa “lupa daratan.” Dalam sebuah kisah, beliau diundang untuk membacakan ayat al-Qur’an dalam acara pernikahan anak lurah setempat. Sebenarnya beliau tidak mau, namun karena dipaksa akhirnya beliau bersedia. Beliau membaca surat ar-Rahman, namun baru pada ayat ketiga situasi menjadi kacau. Para tamu undangan menangis tersedu-sedu, pak lurah menangis berangkulan dengan istrinya, dan orang-orang di dalam rumah berhamburan keluar — bahkan sang juru masak bersama anak buahnya lari dari dapur sambil membawa kayu bakar yang masih menyala tanpa disadarinya. Akhirnya, seorang kyai sepuh ahli fiqh menghentikan bacaan itu. Sejak peristiwa itu, sang faqih ini menetapkan sang Kyai itu “haram menjadi imam atau makmum shalat.” Sebab jika menjadi iman dalam shalat jahr (isya, magrib dan subuh), para makmum yang mendengar bacaannya lupa diri dan tak membaca al-Fatihah, dan karenanya shalat mereka tidak sah. Tetapi beliau juga tak bisa menjadi makmum karena ada dalil fiqh dalam kitab Fathul Muin bahwa “tidak sah seorang qori (orang yang fasih bacaannya) bermakmum kepada imam yang ummi (yakni tingkat kefasihannya berada di bawahnya).” Pada akhirnya, agar tidak didaulat menjadi imam atau diundang membacakan Qur’an pada acara-acara tertentu, sang Wali ini terpaksa berkorban: beliau dengan sengaja mencopoti seluruh giginya, sehingga bacaannya tidak bisa fasih lagi. Tetapi bahkan ketika sudah ompong sekalipun, setiap kali beliau mengaji kitab, pengaruh ruhaninya luar biasa. Penulis pernah diajak mengaji kepadanya bersama beberapa tamu lain; namun belum lima menit sang kyai memaparkan ilmunya, para hadirin, termasuk penulis, terserang kantuk yang hebat — bahkan putra sang Wali tidur sampai mendengkur. Ketika beliau menghentikan bacaannya, mendadak semua tamu bangun dan hilang pula semua kantuk. Penulis, setelah tersadar dari kantuk yang hebat, merasakan kesegaran yang tidak biasanya. Namun, pada sisi lain, jika sang Wali memaparkan makna mistis dari al-Qur’an kepada orang yang belum siap kapasitas ruhaninya, akibatnya bisa buruk. Pernah pada suatu malam penulis beruntung karena tiba-tiba sang Wali mengajak penulis berbincang dalam waktu yang cukup lama. Beliau kemudian memaparkan beberapa makna al-Qur’an yang tidak lazim, dan sebagian besar tidak bisa penulis pahami. Setelah selesai, beberapa saat kemudian penulis merasa seluruh badan sakit semua dan panas. Sang Kyai kemudian menyuruh penulis untuk istirahat supaya sembuh — dan keesokan harinya kondisi tubuh pulih kembali sedia kala.

Terakhir, beberapa Sufi menemukan keajaiban numerik dalam al-Qur’an yang menjadi dasar dari “struktur” al-Qur’an itu sendiri. Para Sufi merenungkan angka misterius yang dimuat dalam Q.S. 74: 30, “Di atasnya ada 19 penjaga.” Akhirnya sebagian sufi menemukan makna mistis dari angka ini — bahkan beberapa sekte spiritual mengagungkan angka ini, misalnya sekte Baha’iah. “Misteri 19” ini belakangan ditunjukkan melalui bantuan komputer oleh Prof. Rashad Khalifa Ph.D. Penemuannya mengukuhkan kebenaran tafsir mistis para sufi yang telah dikemukakan beberapa abad yang lalu.
Dengan berdasarkan huruf dan nilai numeriknya, Rashad menemukan bahwa struktur al-Qur’an “dijaga dari perubahan” berdasarkan angka 19. Struktur numerik dari ayat dan surat dan huruf diteliti dengan ilmu kriptografi dengan bantuan komputer. Tentu saja akan terlalu luas jika semua temuan itu diuraikan di sini, karenanya berikut ini akan disajikan sedikit contoh dari temuan misteri 19 penjaga itu.

Kalimat basmalah terdiri dari 19 huruf, di mana basmalah disebut 114 kali (19 x 6), di mana 114 adalah jumlah surat al-Qur’an. Semuanya ada di awal surat, kecuali di surat ke-9; namun kalimat basmalah muncul di salah satu ayat di surat 27 ayat 30, sehingga totalnya tetap 114. Kata “Allah” dalam al-Qur’an muncul sebanyak 2.698 kali, atau 19 x 142. Jumlah total ayat yang mengandung kata “Allah” adalah 118.123, yang merupakan hasil dari 19 x 6.217. Surat pertama, yang berada diurutan no. 96 dalam mushaf, terdiri dari 19 ayat. Ayat-ayat pertama yang turun adalah 5 ayat dengan jumlah kata 19 buah, 76 huruf (1`9 x 4). Total huruf setelah genap 19 ayat adalah 304 atau 19 x 16. Surat 110 yang diturunkan terakhir terdiri dari 19 kata, dan ayat pertama dari surat itu terdiri dari 19 huruf. Contoh lainnya: huruf Qaaf dalam surat Qaaf muncul sebanyak 57 kali, atau 19 x 3. Dalam surat Yaa Siin, huruf Yaa dan Siin muncul 285 kali, atau 19 x 15 — Jumlah kemunculan huruf-huruf muqatta’at lainnya dalam surat yang relevan juga merupakan kelipatan dari 19. Angka 19 juga merupakan nilai gematrikal dari kata “Satu” dalam bahasa Arab, yakni wahid (wawu, alif, ha dan dal), di mana total nilai numerik (lihat tabel numerik di atas) untuk kata ini adalah 19. Angka 619 (yang diambil dari 6 x 19 = 114) adalah deret ke-114 dari bilangan prima; dan kalimat wahdahu la syarikalahu memiliki nilai numerik 619. Sebagai angka prima, ia tidak boleh di-syirkah, diduakan. Demikian segelintir contoh dari struktur numerik al-Qur’an.

Jadi, setelah seluruh huruf dianalisis, pada akhirnya tampak bahwa tak satupun huruf yang bisa ditambah atau dikurangi, sebab melakukan perubahan itu akan menyebabkan strukturnya menyempal dari penjagaan angka 19 — Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pula yang benar-benar menjaganya” (Q.S. 15: 9).

Wa Allahu a’lam bi as-shawab.


Kamis, 26 Januari 2012

MAKRIFAT KEPADA ALLAH


Deskripsi:
MAKRIFAT KEPADA ALLAH

Makrifat kepada Allah swt. adalah makrifat yang seluhur-luhurnya, bahkan yang semulia-mulianya sebab makrifat kepada Allah Taala itulah yang merupakan asas atau fundamen berdirinya segala kehidupan kerohanian. Dari makrifat kepada Allah itulah bercabang makrifat kepada para nabi dan rasul serta hal-hal yang berhubungan dengannya, mengenai kemaksuman, tugas-tugas dan sifat-sifatnya serta hajat umat manusia terhadap diutusnya para nabi, juga yang dimasukkan sebagai persoalan yang erat hubungannya dengan para nabi dan rasul seperti masalah mukjizat, kewalian, kekeramatan dan kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit.

Bahkan dari makrifat kepada Allah Taala itu juga bercabang makrifat dengan alam yang ada di balik alam semesta ini, seperti malaikat jin dan ruh. Juga dari makrifat kepada Allah itu pulalah timbul makrifat perihal apa yang akan terjadi setelah kehidupan di dunia ini berakhir, juga mengenai kehidupan di alam barzakh, kehidupan di alam akhirat yang berupa kebangkitan kembali dari kubur, hisab (perhitungan amal), pahala, siksa, surga dan neraka.

CARA BERMAKRIFAT

Untuk bermakrifat kepada Allah swt. mempunyai dua cara, yaitu:

Pertama: Dengan menggunakan akal pikiran dan memeriksa secara teliti ciptaan Allah Taala yang berupa benda-benda yang beraneka ragam ini.

Kedua: Dengan mengetahui nama-nama Allah Taala serta sifat-sifat-Nya.

Dengan menggunakan akal pikiran dari satu sudut dan dengan memakrifati nama-nama serta sifat-sifat Allah dari sudut lain, seseorang akan dapat bermakrifat kepada Tuhan dan ia akan memperoleh petunjuk ke arah itu.

BERMAKRIFAT LEWAT PIKIRAN

Setiap anggota tentu ada tugasnya, tugas akal ialah merenung, memeriksa, memikirkan dan mengamati. Jika kekuatan semacam ini menganggur maka hilang pulalah pekerjaan akal, juga menganggurlah tugasnya yang terpenting dan ini pasti akan diikuti oleh terhentinya kegiatan hidup. Jika ini sudah terjadi, akan menyebabkan pula adanya kebekuan, kematian dan kerusakan akal itu sendiri. Agama Islam menghendaki agar akal bergerak dan melepaskan kekangannya segera bangun dari tidur nyenyaknya kemudian mengajak untuk mengadakan perenungan dan pemikiran. Pekerjaan yang sedemikian ini termasuk inti peribadatan kepada Tuhan. Allah Taala berfirman, “Katakanlah! ‘Perhatikanlah olehmu semua apa-apa yang ada di langit dan bumi." (Q.S. Yunus:101)

Allah Taala berfirman pula, “Katakanlah! ‘Aku hanya hendak mengajarkan kepadamu semua satu perkara saja yaitu hendaklah kamu semua berdiri di hadapan Allah, dua-dua orang atau seorang-seorang, kemudian berpikirlah kamu semua (gunakanlah akal pikiranmu)’" (Q.S. Saba:46)

Barangsiapa yang mengingkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh akal, melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang wujud dan kekuasaan Allah Taala, maka orang semacam itulah yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan. Malah Allah Taala sendiri telah mencela sekali orang semacam itu dengan firman-Nya, “Alangkah banyaknya ayat (tanda kekuasaan Tuhan) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka itu semua membelakanginya saja (tidak memperhatikannya).” (Q.S. Yusuf:105)

Allah Taala berfirman pula, “Tidaklah datang kepada mereka itu suatu ayat dari beberapa ayat Allah melainkan mereka itu membelakanginya saja (tidak memperhatikannya).” (Q.S. Yasin:46)

Menganggurkan akal dari tugas utamanya, akan menurunkan manusia itu sendiri ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. Keadaan seperti itulah yang merupakan penghalang besar bagi umat yang dahulu untuk langsung menembus kepada hakikat-hakikat yang ada di dalam diri, jiwa dan alam semesta.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam itu kebanyakan dari jin dan manusia, yang mempunyai hati, tetapi tidak mengerti dengan hatinya, mempunyai mata tetapi tidak melihat dengan matanya dan mempunyai telinga tetapi tidak mendengarkan dengan telinganya. Orang-orang itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat. Itulah orang-orang yang lalai (dari kebenaran).” (Q.S. Al-A’raf:179)

TAKLID ADALAH PENUTUP AKAL PIKIRAN

Taklid adalah penghalang besar terhadap kemerdekaan akal, kekang utama terhadap kebebasan berpikir. Oleh sebab itu, Allah Taala memuji sekali orang-orang yang dapat menjernihkan hakikat sesuatu menyisihkannya dari benda-benda lain, membedakan dan memurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti dan disaring oleh akal pikirannya, selanjutnya mengambil mana yang dianggap terbaik dan meninggalkan yang lain. Allah Taala berfirman, “Maka berikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti mana-mana yang terbaik dari ucapan itu. Mereka itulah orang-orung yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itu pulalah arang-orang yang mempunyai akal pikiran.” (Q.S. Az-Zumar:17-18)

Allah Taala benar-benar mencela dan mengejek serta menyalahkan orang-orang yang suka mengekor dan mengikuti, yakni ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal pikirannya sendiri. Mereka hanya mengikuti akal orang lain. Mereka betul-betul pasif sebab hanya mengikuti alam pikiran kuno yang sudah terbiasa dan berlangsung sejak dulu di sekitarnya sekalipun yang baru itu sebenarnya lebih tepat, lebih cocok lebih sesuai dan lebih dapat dipertanggungjawabkan karena sejalan dengan petunjuk dari Tuhan. Allah Taala berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah!’ Mereka lalu berkata, ‘Tidak, kita hanya mengikuti apa yang telah kita dapati dari ayah-ayah kita,’ padahal ayah-ayah mereka itu tidak mengerti sedikit pun dan tidak pula mengikuti petunjuk yang benar.” (Q.S. Al-Baqarah:170)

BIDANG-BIDANG PEMIKIRAN

Agama Islam mengajak seluruh umat manusia supaya berpikir dan menggunakan akal, dengan anjuran yang demikian hebat. Tetapi yang dikehendaki bukanlah pemikiran secara tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas yang tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan yang dapat dicapai oleh akal manusia itu. Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk dipikirkan ialah dalam hal ciptaan Allah Taala yakni apa-apa yang ada di langit, di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat manusia dan lain-lain. Tidak ada pemikiran yang dilarang, melainkan memikirkan zat Allah swt., sebab soal yang satu ini pasti di luar kekuatan akal pikiran manusia.

Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Berpikirlah kamu semua perihal makhluk Allah (apa-apa yang diciptakan oleh Allah) dan janganlah kamu sekalian berpikir mengenai zat Allah, sebab sesungguhnya kamu semua sudah tentu tidak dapat mencapai keadaan hakikatnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Naim dalam kitab “Alhilyah" dengan sanad daif tetapi isi dan maknanya sahih. Alquran sendiri penuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk merenungkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tiada terbatas oleh suatu apa pun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya. Allah Taala berfirman, “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu semua, agar supaya kamu suka berpikir tentang dunia dan akhirat.” (Q.S. Al-Baqarah:219-220)

Alangkah luas dan lebarnya dunia yang diperintah oleh Islam untuk dipikirkan itu, tetapi sedemikian luasnya masih belum memadai sedikit pun dari keluasan yang terdapat di dalam alam akhirat.

TUJUAN PEMIKIRAN
Di antara tujuan utama yang dikehendaki oleh Islam dalam memerintahkan berpikir ialah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berpikir merenungkan dan menyelidiki, dengan demikian akan manusia akan sampai kepada petunjuk yang memberikan penerangan sejelas-jelasnya mengenai peraturan-peraturan kehidupan, sebab-sebab wujud alam semesta, tabiat-tabiat keadaan dan hakikat-hakikat segala sesuatu benda. Manakala hal-hal itu sudah terlaksana dengan baik, tentu akan dapat merupakan cahaya terang untuk menyingkap persoalan siapa yang sebenarnya menjadi maha pencipta dan pembentuk semuanya itu. Selanjutnya setelah ini diperoleh maka dengan perlahan-lahan akan dicapai hakikat yang terbesar yaitu bermakrifat kepada Allah Taala. Jadi kemakrifatan kepada Allah Taala yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah daripada akal pikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha pemikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang-benderang.

Inilah salah satu perantaraan yang digunakan oleh Alquran untuk memberikan pembuktian tentang Allah Taala. Alquran telah mendorong akal pikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang ilmu alam yang menjelaskan segala isi dalam dunia semesta ini dengan menggunakan hasil dari pemikiran itu nanti akan terciptalah kemakrifatan kepada Allah Taala. Kemakrifatan ini terdiri dari hal-hal seperti mengenal kesempurnaan sifat-sifat-Nya, keagungan hal-ihwal-Nya, kenyataan dari kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti kesucian-Nya, kelengkapan ilmu-Nya, kelangsungan kekuasaan-Nya dan keesaan-Nya dalam hal menciptakan dan membuat yang baru. Marilah kita semua renungkan baik-baik dalam kalbu dan pikiran kita makna dan ayat-ayat yang tercantum di bawah ini.

“Katakanlah! ‘Segenap puji adalah bagi Allah dan keselamatan untuk hamba-hamba-Nya yang dipilih oleh-Nya. Adakah Allah itu yang lebih baik, ataukah yang mereka persekutukan dengan Allah itu yang lebih baik? Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kepadamu semua kemudian Kami (Allah) menumbuhkan dengan sebab air tadi kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua tentu tidak sanggup menumbuhkan pohonnya. Adakah tuhan di samping Allah? Tetapi mereka itu adalah kaum yang berpaling dari kebenaran. Atau siapakah yang menjadikan bumi untuk tempaberdiam dan menjadikan sungai-sungai di tengah-tengahnya, menjadikan gunung-gunung untuk menjadi pasak dan menjadikan batas antara dua lautan? Adakah tuhan di samping Allah? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang sedemikian itu. Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang yang dipaksa keadaan menderita, apabila memohon kepada-Nya agar menghilangkan penderitaannya itu dan siapakah yang menjadikan kamu semua sebagai khalifah di bumi? Adakah tuhan di samping Allah? Sedikit sekali kamu semua mengingat kepada Allah itu. Atau siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu semua dalam kegelapan di lautan dan di daratan? Dan siapakah yang mengirim angin untuk membawa berita gembira sebelum datangnya kerahmatan Allah? Adakah tuhan di samping Allah? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu. Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk, kemudian akan mengulanginya kembali? Dan siapakah yang memberikan rezeki kepadamu semua dari langit dan bumi? Adakah tuhan di samping Allah? Katakanlah keterangan (alasan)mu, jika kamu semua memang benar!” (Q.S. An-Naml:59-64)

Pikirkanlah baik-baik, apakah ada suatu keterangan yang lebih jelas dari keterangan yang tertera di atas itu, adakah suatu argumen yang lebih kuat daripada argumen di atas?

Jika akal masih juga tidak suka tunduk kepada keterangan di atas, tidak suka takluk pada argumen itu, maka sungguh ia tidak akan tunduk pada keterangan lain dan tidak pula mau takluk pada hujah mana pun, suatu alamat akal yang sesat dan enggan terhadap petunjuk yang benar.

Allah Taala berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka orang itu pun tidak akan memperoleh cahaya apapun.” (Q.S. An-Nur:40)

Seorang penyair berkata: “Hati nurani manusia itu Pasti tidak akan mampu memperoleh sesuatu apa pun Jika ia tetap menuntut bukti Mengapa waktu siang itu terang benderang.”

BERMAKRIFAT DENGAN MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

Jalan lain dalam mencapai makrifat kepada Allah swt. ialah memahami nama-nama Allah Taala yang baik-baik serta sifat-sifat-Nya yang luhur dan tinggi. Jadi nama-nama dan sifat-sifat itulah yang merupakan perantara yang digunakan oleh Allah Taala agar makhluk-Nya dapat bermakrifat pada-Nya. Inilah yang dapat dianggap sebagai saluran yang dari situ hati manusia dapat mengenal Allah Taala secara spontan. Malah itu pulalah yang dapat menggerakkan cara penemuan yang hakiki dan membuka alam yang amat luas terhadap kerohanian guna menyaksikan cahaya Allah swt.

Nama-nama itu adalah yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik.’" (Q.S. Al-Isra:110)

Dengan nama-nama itulah yang kita semua diperintah untuk menyerunya. Allah Taala berfirman, “Bagi Allah adalah nama-nama yang baik, maka serulah dengan menggunakan nama-nama itu.” (Q.S. Al-A’raf:180)

Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (asmaul husna) itu ada sembilan puluh sembilan nama. Imam Bukhari, Muslim dan Tirmizi meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan cinta sekali pada hal yang ganjil (tidak genap).” (H.R. Ibnu Majah)

Imam Tirmizi memberikan tambahan dalam riwayatnya sebagai berikut, “Sembilan puluh sembilan nama Allah Taala yaitu:

1. Allah: Lafal yang Maha Mulia yang merupakan nama dari zat Ilahi yang Maha Suci serta wajib adanya yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain, maka setiap nama itu menunjukkan suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh sebab itu bolehlah dianggap sebagai sifat bagi lafal yang Maha Mulia ini (yakni Allah) atau boleh dijadikan sebagai kata beritanya.
2. Arrahmaan: Maha Pengasih, pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih di dunia.
3. Arrahiim: Maha Penyayang, pemberi kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat.
4. Almalik: Maha Merajai, mengatur kerajaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.
5. Alqudduus: Maha Suci, tersuci dari segala cela dan kekurangan.
6. Assalaam: Maha Penyelamat, pemberi keamanan dan kesentosaan pada seluruh makhluk-Nya.
7. Almukmin: Maha Pemelihara keamanan, yakni siapa yang bersalah dari makhluk-Nya itu benar-benar akan diberi siksa, sedang kepada yang taat akan benar-benar dipenuhi janji-Nya dengan pahala yang baik.
8. Almuhaimin: Maha Penjaga, memerintah dan melindungi segala sesuatu.
9. Al’aziiz: Maha Mulia, kuasa dan mampu untuk berbuat sekehendak-Nya.
10. Aljabbaar: Maha Perkasa, mencukupi segala kebutuhan, melangsungkan segala perintah-Nya serta memperbaiki keadaan seluruh hamba-Nya.
11. Almutakabbir: Maha Megah, menyendiri dengan sifat keagungan dan kemegahan-Nya.
12. Alkhaalik: Maha Pencipta, mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga yang menakdirkan adanya semua itu.
13. Albaari’: Maha Pembuat, mengadakan sesuatu yang bernyawa yang ada asal mulanya.
14. Almushawwir: Maha Pembentuk, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. (Jadi Alkhaalik adalah mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang menakdirkan adanya itu. Albaari’ ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada asalnya, sedang Almushawwir ialah yang memberinya bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluannya).
15. Alghaffaar: Maha Pengampun, banyak pemberian maaf-Nya dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan.
16. Alqahhaar: Maha Pemaksa, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya serta memaksa segala makhluk menurut kehendak-Nya.
17. Alwahhaab: Maha Pemberi, banyak kenikmatan dan selalu memberi karunia.
18. Arrazzaaq: Maha Pemberi rezeki, membuat berbagai rezeki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya.
19. Alfattaah: Maha Membukakan, yakni membuka gudang penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya.
20. Al’aliim: Maha Mengetahui, yakni mengetahui segala yang maujud ini dan tidak ada satu benda pun yang tertutup oleh penglihatan-Nya.
21. Alqaabidl: Maha Pencabut, mengambil nyawa atau mempersempit rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
22. Albaasith: Maha Meluaskan, memudahkan terkumpulnya rezeki bagi siapa yang diinginkan oleh-Nya.
23. Alkhaafidl: Maha Menjatuhkan, yakni terhadap orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri dengan memberinya kehinaan, kerendahan dan siksaan.
24. Arraafi’: Maha Mengangkat, yakni terhadap orang yang selayaknya diangkat kedudukannya karena usahanya yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa.
25. Almu’iz: Maha Pemberi kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya dengan memberinya pertolongan dan kemenangan.
26. Almudzil: Maha Pemberi kehinaan, yakni kepada musuh-musuh-Nya dan musuh umat Islam seluruhnya.
27. Assamii’: Maha Mendengar.
28. Albashiir: Maha Melihat.
29. Alhakam: Maha Menetapkan hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorang pun dapat menolak keputusan-Nya, juga tidak seorang pun yang kuasa merintangi kelangsungan hukum-Nya itu.
30. Al’adl: Maha Adil, serta sangat sempurna dalam keadilan-Nya itu.
31. Allathiif: Maha Halus, yakni mengetahui segala sesuatu yang samar-samar, pelik-pelik dan kecil-kecil.
32. Alkhabiir: Maha Waspada.
33. Alhaliim: Maha Penghiba, penyantun yang tidak tergesa-gesa melakukan kemarahan dan tidak pula gegabah memberikan siksaan.
34. Al’azhiim: Maha Agung, yakni mencapai puncak tertinggi dari keagungan karena bersifat dengan segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan.
35. Alghafuur: Maha Pengampun, banyak pengampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
36. Asysyakuur: Maha Pembalas yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak berarti.
37. Al’aliy: Maha Tinggi, yakni mencapai tingkat yang setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal pikiran siapa pun dan tidak dapat dipahami oleh otak yang bagaimana pun pandainya.
38. Alkabiir: Maha Besar, yang kebesaran-Nya tidak dapat diikuti oleh pancaindera atau pun akal manusia.
39. Alhafiiz: Maha Pemelihara yakni menjaga segala sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya, sehingga tidak akan disia-siakan sedikit pun untuk memberikan balasan-Nya.
40. Almuqiit: Maha Pemberi kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh atau pun makanan rohani.
41. Alhasiib: Maha Penjamin, yakni memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Juga dapat diartikan Maha Menghisab amalan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.
42. Aljaliil: Maha Luhur, yang memiliki sifat-sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
43. Alkariim: Maha Pemurah, mulia hati dan memberi siapa pun tanpa diminta atau sebagai penggantian dari sesuatu pemberian.
44. Arraqiib: Maha Peneliti, yang mengamat-amati gerak-gerik segala sesuatu dan mengawasinya.
45. Almujiib: Maha Mengabulkan, yang memenuhi permohonan siapa saja yang berdoa pada-Nya.
46. Alwaasi’: Maha Luas, yakni bahwa rahmat-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula ilmu-Nya terhadap segala sesuatu.
47. Alhakiim: Maha Bijaksana yakni memiliki kebijaksanaan yang tertinggi kesempurnaan ilmu-Nya serta kerapian-Nya dalam membuat segala sesuatu.
48. Alwaduud: Maha Pencinta, yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh hamba-Nya dan pula berbuat baik pada mereka itu dalam segala hal-ihwal dan keadaan.
49. Almajiid: Maha Mulia, yakni yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan.
50. Albaa’its: Maha Membangkitkan, yakni membangkitkan para rasul, membangkitkan semangat dan kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing kuburnya nanti setelah tibanya hari kiamat.
51. Asysyahiid: Maha Menyaksikan atau Maha Mengetahui keadaan semua makhluk.
52. Alhaq: Maha Haq, Maha Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikit pun.
53. Alwakiil: Maha Memelihara penyerahan, yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka itu.
54. Alqawiy: Maha Kuat, yaitu yang memiliki kekuasaan yang sesempurna-sempurna.
55. Almatiin: Maha Kokoh atau Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah sampai dipuncaknya.
56. Alwaliy: Maha Melindungi, yakni melindungi serta menertibkan semua kepentingan makhluk-Nya karena kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang tidak terbatas pada keperluan mereka.
57. Alhamiid: Maha Terpuji, yang memang sudah selayaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan.
58. Almuhshi: Maha Penghitung, yang tidak satu pun tertutup dari pandangan-Nya dan semua amalan itu pun diperhitungkan sebagaimana wajarnya.
59. Almubdi’: Maha Memulai, yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud.
60. Almu’iid: Maha Mengulangi, yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusaknya.
61. Almuhyii: Maha Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak hidup.
62. Almumiit: Yang Mematikan, yakni mengambil kehidupan (ruh) dari apa-apa yang hidup, lalu disebut mati.
63. Alhay: Maha Hidup, kekal pula hidup-Nya itu.
64. Alqayyuum: Maha Berdiri sendiri, baik Dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya. Juga membuat berdiri apa-apa yang selain Dia. Dengan-Nya pula berdiri langit dan bumi ini.
65. Alwaajid: Maha kaya, dapat menemukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya, maka tidak membutuhkan pada suatu apa pun karena sifat kaya-Nya yang mutlak.
66. Almaajid: Maha Mulia, (sama dengan nomor 49 yang berbeda hanyalah tulisannya. Ejaan sebenarnya nomor 49 Almajiid sedangkan nomor 66 ini Almaajid).
67. Alwaahid: Maha Esa.
68. Ashshamad: Maha Dibutuhkan, yakni selalu menjadi tujuan dan harapan orang di waktu ada hajat keperluannya.
69. Alqaadir: Maha Kuasa.
70. Almuqtadir: Maha Menentukan.
71. Almuqaddim: Maha Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan, selisih waktu atau tempatnya.
72. Almu’akhkhir: Maha Mengakhirkan atau Membelakangkan.
73. Alawwal: Maha Pertama, Dahulu sekali dari semua yang maujud.
74. Alaakhir: Maha Penghabisan, Kekal terus setelah habisnya segala sesuatu yang maujud.
75. Azhzhaahir: Maha Nyata, yakni menyatakan dan menampakkan wujud-Nya itu dengan bukti-bukti dan tanda-tanda ciptaan-Nya.
76. Albaathin: Maha Tersembunyi, tidak dapat dimaklumi zat-Nya sehingga tidak seorang pun dapat mengenal zat-Nya itu.
77. Alwaalii: Maha Menguasai, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya.
78. Almuta’aalii: Maha Suci, terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan.
79. Albar: Maha Dermawan, banyak kebaikan-Nya dan besar kenikmatan yang dilimpahkan-Nya.
80. Attawwaab: Maha Penerima tobat, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang bermaksiat untuk melakukan tobat lalu Allah akan menerimanya.
81. Almuntaqim: Maha Penyiksa, kepada orang yang berhak untuk memperoleh siksa-Nya.
82. Al’afuw: Maha Pemaaf, pelebur kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf pada-Nya.
83. Arra-uuf: Maha Pengasih, banyak rahmat dan kasih sayang-Nya.
84. Maalikulmulk: Maha Menguasai kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi dan sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan kehendak dan iradat-Nya.
85. Dzuljalaali wal ikraam: Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan. Juga zat yang mempunyai keutamaan dan kesempurnaan, pemberi karunia dan kenikmatan yang amat banyak dan melimpah ruah.
86. Almuqsith: Maha Mengadili, yakni memberikan kemenangan pada orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya dengan keadilan-Nya.
87. Aljaami’: Maha Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat yang telah bercerai-berai dan juga mengumpulkan seluruh umat manusia pada hari pembalasan.
88. Alghaniy: Maha Kaya, maka tidak membutuhkan apa pun dari yang selain zat-Nya sendiri, tetapi yang selain-Nya itu amat membutuhkan kepada-Nya.
89. Almughnii: Maha Pemberi kekayaan yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang berlimpah-limpah kepada siapa saja yang dikehendaki dari golongan hamba-hamba-Nya.
90. Almaani’: Maha Membela atau Maha Menolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang saleh dan menolak sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan.
91. Adldlaar: Maha Pemberi bahaya, yakni dengan menurunkan siksa-siksa-Nya kepada musuh-musuh-Nya.
92. Annaafi’: Maha Pemberi kemanfaatan, yakni merata kebaikan yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri.
93. Annuur: Maha Bercahaya yakni menonjolkan zat-Nya sendiri dan menampakkan untuk yang selain-Nya dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
94. Alhaadi: Maha Pemberi petunjuk, yaitu memberikan jalan yang benar kepada segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga kehidupannya.
95. Albadii’: Maha Pencipta yang baru, sehingga tidak ada contoh dan yang menyamai sebelum keluarnya ciptaan-Nya itu.
96. Albaaqii: Maha Kekal, yakni kekal hidup-Nya untuk selama-lamanya.
97. Alwaarits: Maha Pewaris, yakni kekal setelah musnahnya seluruh makhluk.
98. Arrasyiid: Maha Cendekiawan, yaitu memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala peraturan-Nya itu berjalan menurut ketentuan yang digariskan oleh kebijaksanaan dan kecendikiawanan-Nya.
99. Ashshabuur: Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat melaksanakan sesuatu sebelum waktunya.


Dalam kitab Addinul Islami disebutkan sebagai berikut: “Nama-nama Allah yang baik-baik (asmaul husna) yang tercantum dalam Alquran yaitu:

1. Nama-nama yang berhubungan dengan zat Allah Taala, yakni:
a. Alwaahid (Maha Esa)
b. Alahad (Maha Esa)
c. Alhaq (Maha Benar)
d. Alqudduus (Maha Suci)
e. Ashshamad (Maha dibutuhkan)
f. Alghaniy (Maha Kaya)
g. Alawwal (Maha Pertama)
h. Alaakhir (Maha Penghabisan).
i. Alqayyuum (Maha Berdiri Sendiri).

2. Nama-nama yang berhubungan dengan penciptaan, yakni:
a. Alkhaalik (Maha Menciptakan)
b. Albaari’ (Maha Pembuat)
c. Almushawwir (Maha Pembentuk)
d. Albadii’ (Maha Pencipta yang baru)

3. Nama-nama yang berhubungan dengan sifat kecintaan dan kerahmatan, selain dari lafal Rab (Tuhan), Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), yakni:
a. Arra-uuf (Maha Pengasih)
b. Alwaduud (Maha Pencinta)
C. Allathiif (Maha Halus)
d. Alhaliim (Maha Penghiba)
e. Al’afuw (Maha Pemaaf)
f. Asysyakuur (Maha Pembalas, Pemberi karunia)
g. Almukmin (Maha Pemelihara keamanan)
h. Albaar (Maha Dermawan)
i. Rafi’ud darajat (Maha Tinggi derajat-Nya)
j. Arrazzaaq (Maha Pemberi rezeki)
k. Alwahhaab (Maha Pemberi)
l. Alwaasi’ (Maha luas)

4. Nama-nama yang berhubungan dengan keagungan serta kemuliaan Allah Taala yakni:
a. Al’azhiim (Maha Agung)
b. Al’aziiz (Maha Mulia)
C. Al’aliy (Maha Tinggi)
d. Almuta’aalii (Maha Suci)
e. Alqawiy (Maha Kuat)
f. Alqahhaar (Maha Pemaksa)
g. Aljabbaar (Maha Perkasa)
h. Almutakabbir (Maha Megah)
i. Alkabiir (Maha Besar)
j. Alkariim (Maha Pemurah)
k. Alhamiid (Maha Terpuji)
l. Almajiid (Maha Mulia)
m. Almatiin (Maha Kuat)
n. Azhzhaahir (Maha Nyata)
o. Zuljalaali wal ikraam (Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan)

5. Nama-nama yang berhubungan dengan ilmu Allah Taala, yakni:
a. Al’aliim (Maha Mengetahui)
b. Alhakiim (Maha Bijaksana)
C. Assamii’ (Maha Mendengar)
d. Alkhabiir (Maha Waspada)
e. Albashiir (Maha Melihat)
f. Asysyahid (Maha Menyaksikan)
g. Arraqiib (Maha Meneliti)
h. Albaathin (Maha Tersembunyi)
i. Almuhaimin (Maha Menjaga)

6. Nama-nama yang berhubungan dengan kekuasaan Allah serta caranya mengatur segala sesuatu, yakni:
a. Alqaadir (Maha Kuasa)
b. Alwakiil (Maha Memelihara penyerahan)
C. Alwaliy (Maha Melindungi)
d. Alhaafizh (Maha Pemelihara)
e. Almalik (Maha Merajai)
f. Almaalik (Maha Memiliki)
g. Alfattaah (Maha Pembuka)
h. Alhasiib (Maha Penjamin)
i. Almuntaqim (Maha Penyiksa)
j. Almuqiit (Maha Pemberi kecukupan)

7. Ada pula nama-nama yang tidak disebutkan dalam nas Alquran tetapi merupakan sifat-sifat yang erat kaitannya dengan sifat atau perbuatan Allah Taala yang tercantum dalam Alquran, yakni:
a. Alqaabidl (Maha Pencabut)
b. Albaasith (Maha Meluaskan)
C. Arraafi` (Maha Mengangkat)
d. Almu’iz (Maha Pemberi kemuliaan)
e. Almudzil (Maha Pemberi kehinaan)
f. Almujiib (Maha Mengabulkan)
g. Albaa’its (Maha Membangkitkan)
h. Almuhshii (Maha Penghitung)
i. Almubdi’ (Maha Memulai)
j. Almu’iid(Maha Mengulangi)
k. Almuhyii (Maha Menghidupkan)
l. Almumiit (Maha Mematikan)
m. Maalikulmulk (Maha Menguasai kerajaan)
n. Aljaami’ (Maha Mengumpulkan)
o. Almughnii (Maha Pemberi kekayaan)
p. Almu’thii (Maha Pemberi)
q. Almaani’ (Maha Membela, Maha Menolak)
r. Alhaadii (Maha Pemberi Petunjuk)
s. Albaaqii (Maha Kekal)
t. Alwaarits (Maha Pewaris).

8. Ada pula nama-nama Allah Taala yang diambil dari makna atau pengertian nama-nama yang terdapat dalam Alquran, yakni:
a. Annuur (Maha Bercahaya)
b. Ashshabuur (Maha Penyabar)
c. Arrasyiid (Maha Cendekiawan)
d. Almuqsith (Maha Mengadili)
e Alwaalii (Maha Menguasai)
f. Aljaliil (Maha Luhur)
g. Al’adl (Maha Adil)
h. Alkhaafidl (Maha Menjatuhkan)
i. Alwaajid (Maha Kaya)
j. Almuqaddim (Maha Mendahulukan)
k. Almu-akhkhir (Maha Mengakhirkan)
l. Adldlaar (Maha Pemberi bahaya)
m. Annaafi’ (Maha Pemberi kemanfaatan)

Dengan nama-nama di atas dirangkaikan pula sifat-sifat:

a. Takallum (Berfirman) dan
b. Iradat (Berkehendak)

ZAT TUHAN DAN KEMUSTAHILAN MENEMUKANNYA

Hakikat dari zat Ketuhanan tidak mungkin dimakrifati oleh akal pikiran dan sudah pasti tidak akan dapat dicapai betapa keadaan yang sebenarnya atau puncaknya. Sebabnya ialah karena pikiran manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut, karena manusia tidak diberi dan tidak ditunjuki pula jalan menemukannya atau wasilah mencapainya. Akal manusia bagaimana cerdik dan pandainya, begitu kuat daya tangkapnya, tetapi tetap terbatas dalam suatu batas yang tertentu dan malah lemah sekali atau belum dapat memakrifati hakikat berbagai benda yang dilihatnya sehari-hari. Manusia sampai saat ini masih belum dapat mengetahui secara benar tentang hakikat jiwa manusia itu sendiri. Bahkan pengetahuan tentang hal jiwa ini hingga sekarang tetap merupakan penyelidikan yang hangat dalam rangkaian persoalan-persoalan yang erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan filsafat.

Manusia itu pun tidak dapat menguraikan hakikat cahaya atau sinar, padahal cahaya atau sinar itu sebenarnya adalah benda yang amat terang dan jelas sekali. Juga belum dapat diketahui hakikat sesuatu benda serta hakikat dari atom yang setiap benda itu pasti tersusun dari himpunan atom-atom itu, padahal semuanya ini adalah yang terdekat sekali hubungannya dengan manusia itu sendiri. Maka dari itu sampai saat sekarang ini pun ilmu pengetahuan modern masih belum mampu menguraikan berbagai hakikat benda yang ada di alam semesta ini. Ringkasnya kata terakhir masih belum dapat dijelaskan, sebagai tanda bahwa hakikat apa yang dicari itu belum terpecahkan dengan memuaskan.

Seorang profesor terkenal bernama Kamyl Flamaryon menulis dalam buku “Kekuatan Alam Yang Belum Dikenal” sebagai berikut: “Kita semua tahu bahwa kita ini berpikir, tetapi apakah sebenarnya makna berpikir itu? Rasanya tidak ada seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan ini. Kita semua mengerti bahwa kita ini berjalan. Tetapi apakah sebenarnya pekerjaan otot itu? Pun tidak seorang dapat mengetahui hakikatnya. Saya menyadari bahwa kehendak saya adalah merupakan suatu kekuatan yang bukan termasuk dalam kebendaan (materi) dan saya menyadari pula bahwa segala sifat khusus diri saya bukan termasuk kebendaan juga. Namun demikian, setiap saya berkehendak mengangkat tangan, saya tahu bahwa kehendak itulah yang menggerakkan benda milikku yakni tangan tadi. Jadi bagaimana hal itu dapat terjadi secara spontan sekali. Apakah kiranya yang menjadi perantara yang berada di tengah-tengah antara kekuatan akal dalam menimbulkan suatu hasil yang mempengaruhi gerakan kebendaan itu? Tentang pertanyaan ini pun belum ada orang yang dapat memberikan jawaban pada saya. Atau secara mudahnya cobalah katakan pada saya dan jawablah ini, ‘Bagaimana urat-urat saraf mata itu dapat memindahkan gambar benda sampai ke dalam akal? Coba jawab pula, ‘Bagaimana akal dapat menerimanya? Lagi pula di mana letak akal tersebut? Bagaimana tabiat pekerjaan otak itu? Cobalah katakan pada saya, hai tuan-tuan (yang dimaksudkan ialah orang-orang yang membantah)..... Tetapi, yah..... cukuplah sudah, cukup..... Mungkin saya dapat bertanya kepada tuan-tuan selama duapuluh tahun, tetapi saya percaya bahwa orang yang paling cerdas di antara tuan-tuan itu pasti tidak dapat mengemukakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang serendah-rendahnya.”

Jika demikian kedudukan akal dalam menghadapi persoalan hakikat jiwa, cahaya dan benda, serta apa yang ada dalam alam semesta ini, baik yang dapat dilihat oleh mata atau pun yang tidak, maka bagaimana akal dapat memakrifati zat Tuhan Yang Maha Menciptakan semuanya itu yang bersifat Maha Luhur keadaan-Nya. Bagaimanakah akal yang lemah itu dapat mencapai zat Tuhan Yang Maha Tinggi itu? Sesungguhnya zat Allah masih jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal atau pun yang dapat dijangkau oleh pemikiran-pemikiran. Oleh sebab itu alangkah tepatnya firman Allah swt., “Allah tidak akan dapat dicapai oleh penglihatan-penglihatan dan Dia dapat mencapai penglihatan-penglihatan itu dan Dia adalah Maha Halus dan Waspada.” (Q.S. Al-An’am:103)

PENGAKUAN KAUM INTELEK MODERN TENTANG WUJUD ALLAH

Pembahasan terakhir dalam bab adalah mengenai dalil akal (bukti rasional) perihal wujud Allah Taala dengan mengutip berbagai keterangan yang diucapkan oleh para sarjana kenamaan.

Prof. Harshell, seorang pakar astronomi dari Inggris berkata, “Semakin luas suatu bidang ilmu pengetahuan, semakin bertambah pula bukti-bukti yang memastikan dan lebih mengokohkan perihal adanya Zat yang Maha Menciptakan, juga Maha Dahulu yang tidak ada batas untuk kekuasaan-Nya dan pula tidak akan ada habis-Nya yakni kekal selama-lamanya. Para pakar geologi, fisika, astronomi dan eksakta saling memperkuat dan bantu-membantu. Mereka semua memberikan jaminan yang mantap perihal seruan ilmu pengetahuan yakni seruan pernyataan kemahaagungan Allah yang Maha Esa.”

Dr. Wets seorang pakar kimia bangsa Perancis berkata, “Jika pada suatu ketika aku merasa bahwa kepercayaanku kepada Allah agak kurang mantap dan agak guncang, maka segeralah aku menujukan arah perhatianku kepada akademi ilmu pengetahuan agar keimanan itu kembali kokoh dan kuat sentosa.”

Voltair secara senda gurau berkata, “Mengapa Tuan-tuan masih juga meragukan akan adanya Allah, padahal andaikata Allah tidak ada, rasanya pasti istriku sendiri akan mengkhianati diriku dan mungkin aku diculik oleh pelayanku.”


Diikutip dari www. al-islam.com

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.