This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label manusia dalam pandangan sufisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia dalam pandangan sufisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

Bagaimana Tingkatan Alam Menurut Para Sufi? 11 Mar 2011

"Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadiannya), dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". (QS al-Hijr 29).

Jika para ulama fikih hanya membagi dua alam, yakni alam sya-hadah dan alam gaib, para sufi membagi alam ke dalam berbagai tingkatan. Pembagian besarnya tetap sama, hanya dibagi pada alam syahadah mutlak dan alam gaib mutlak. Di antara dua alam mutlak itu ada alam antara (bar-zakh).

Alam barzakh sesungguhnya sudah masuk wilayah alam gaib. Hanya saja alam ini dibagi dua. Pertama, alam gaib mudhaf, yakni alam gaib yang relatif masih lebih dekat ke alam syahadah. Ibnu Arabi menyebutnya alam mitsal, sedangkan al-Ghazali menyebutnya alam hayal, yang keduanya diartikan the imaginal world oleh William C Chittik (alam ini akan dibahas secara khusus).

Kedua, alam gaib lainnya, ialah yang lebih dekat dengan alam gaib mutlak, yaitu alam malakut, alam jabarut, sampai ke alam wahidiyat dan alam ahadiyat yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi disebut alam. Sebab, tidak masuk lagi dalam kategori ma siwa Allah, sebagaimana telah dibahas dalam artikel minggu lalu.

Para sufi seolah tidak mengenal alam gaib dalam arti alam yang di luar kemampuan kognitif manusia untuk memahaminya atau alam yang yang tak teridentifikasi (uni-dentifying world). Alam gaib oleh para sufi bukan sesuatu yang amat asing. Alam gaib bagi mereka ialah alam yang berada di balik hijab.

Manakala hijab sudah terbuka (mukasyafah), hilanglah kegaiban itu. Kalaupun masih ada-, yang terwujud hanyalah entitas tetap (al-ayan al-tsabitah). Ini pun sudah diidentifikasi dalam dua kategori, yaitu entitas wahidiyat yang masih bisa dikenali melalui nama-nama (al-asma)-Nya dan ahadiyat yang sudah tidak teridentifikasi atau disebut alam gaib mutlak (asrar al asrar/the sacred of the sacred).

Berbeda dengan para fukaha yang seolah memberi wilayah alam gaib amat luas, yaitu selain yang masuk dari kategori alam syahadah, alam dunia yang kita huni ini. Para sufi tidak mendikotomi-kan antara alam syahadah dan alam gaib. Ibnu Arabi termasuk di antara-sufi yang berpendapat seperti itu.

Bagi Ibnu Arabi, alam syahadah tidak murni alam fisik karena ia hanya elemen dasar dari rangkaian tingkatan alam yang terdiri atas tanah, air, udara, dan api. Alam syahadah mutlak disebut juga alam dunia (dari akar kata dana,.berarti rendah). Alam dunia ini juga terdiri atas alam mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan sebagian unsur manusia.

Alam mineral pun juga masih dapat diidentifikasi dengan batu-batuan dan logam, lalu logam masih dibedakan dengan logam biasa, seperti tembaga, besi, tembaga, perak, dan logam mulia berupa emas. Emas juga dapat dibedakan ber-1 dasarkan karetnya, dari karat rendah sampai 24 karat.

Di atas alam mineral ada alam tumbuh-tumbuhan yang memiliki daya untuk tumbuh sendiri {growth), makan (nutritive faculty),dan kemampuan reproduksi. Di atasnya masih ada alam hewan yang lebih kompleks karena sudah memliki selain apa yang dimiliki oleh alam mineral dan alam tum-buhan-tumbuhan.

Dunia hewan memiliki berbagai kemampuan, antara lain kemampuan penginderaan (sensation) dan gerak (harkah, locomotion), termasuk imajinasi sederhana, kekuatan khayal, dan me-mori-memori sederhana lainnya. Alam hewan juga sudah mengenal imajinasi (mutakhayyilah) dan indera-indera batin lainnya yang sesuai dengan tingkatannya.

Alam hewan sudah memiliki kemampuan pergerakan dan mobilitas secara vertikal dan horizontal yang tidak dimiliki alam mineral dan alam tumbuh-tumbuhan. Di atas alarf mineral dan alam tumbuh-tumbuhan ialahalam manusia. Manusia secara biologis menghimpun semua potensi yang dimiliki tiga alam di bawahnya.

Manusia sering disebut sebagai binatang yang diberi kemampuan lebih (al-hayawan al-nathiq). Keunggulan manusia tak hanya terletak pada kesempurnaan jasmani dan jenis-jenis indera yang dimilikinya, tapi manusia juga diberi keistimewaan khusus yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu roh.

Roh oleh para filosof kadang disebut akal (intellect) kadang disebut jiwa rasional. Keberadaan roh di dalam diri manusia, baik dalam proses maupun dalam substansi, dibahas secara luas oleh para sufi dan filsuf. Dalam kitab-kitab tafsir sufi (Tafsir Isyari), roh digambarkan sebagai unsur suci (malakut/lahut) yang ada pada diri manusia.

Itu yang membuat para malaikat dan makhluk lainnya tunduk (taskhir) dan bersujud, serta mengabdi kepada manusia, kecuali iblis yang kemudian membuatnya ter-kutuk. Keutamaan yang dimiliki manusia inilah menjadikannya sebagai khalifah Tuhan di bumi (khalaifal-ardl).

Ketika manusia masih dalam struktur sederhana, yang baru tersusun dari unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewani, belum ada perintah sujud dari Allah SWT kepadanya. Nanti setelah unsur suci itu di-install ke dalam diri Adam, barulah perintah sujud itu muncul (fasjudu li adam fa sajadu illa iblis).

Unsur ekstra, atau istilah khalqan akhar dalam Allah pada QS al-Muminun, membuat menu-sia sebagai makhluk istimewa. Manusia bisa tampil sebagai makhluk paling utama (ahsan taqwim) yang bisa menembus alam puncak (sidrah al-muntaha) namun bisa juga membuatnya tersungkur jatuh ke lembah paling bawah (asfala sa-/i//).Transformasi dan transmu-i manusia menuju ke alam berikutnya sangat ditentukan oleh setiap individu. Jika mampu menggunakan potensi indera batinnya untuk menembus wilayah barzakh, manusia bisa melakukan transformasi itu. Ada orang yang menunggu kematian untuk memasuki alam barzakh. Namun, ada juga orang yang mampu bolak-balik memasuki wilayah barzakh dan berko-munikasi dengan para penghuni barzakh lain atau alam-alam gaib di level lebih tinggi.

Kalau di alam syahadah, mutlak seperti alam-alam dunia mengalami proses evolusi untuk mencapai derajat utama. Misalnya, mineral yang berupa tanah, batu, logam, perak, sampai kepada logam mulia seperti emas yang nilainya pasti lebih tinggi dibanding mineral lainnya dalam alam tumbuh-tumbuhan, alam hewan, dan manusia demikian pula adanya.

Untuk menjadi logam mulia, sudah tentu harus melalui proses panjang. Demikian pula untuk menjadi batu permata juga harus melalui perjuangan panjang. Inilah analogi transmutasi evolusioner benda-benda alam syahadah yang pernah diungkap oleh seorang sufi sekaligus ahli kimia bernama Jabir bin Hayyan.

Penyair besar dan sufi Muslim Jalaluddin Rumi juga menjelaskan bahwa hubungan Al-Haq (Allah SWT) dengan alam-alam tersebut adalah hubungan cinta. Menurut Rumi, sebagaimana dikutip Prof Mulyadi, pergerakan, perputaran, dan tawafnya alam raya ini adalah reaksi dari pesona gelombang cinta Tuhan.

Mereka berputar laksana Sang Pencipta mabuk kepayang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Mungkin ini yang menginspirasi Rumi menciptakan tarian sufi yang dikenal dengan Whirling Darvesis. Dalam level alam manusia juga mempunyai logika yang sama jika ia ingin mencapai martabat utama (maqaman mahmuda), sebagaimana disebutkan dalam Alquran

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu men-gangkatmu ke tempat yang terpuji". (QS al-Isra 79).

Manusia juga harus menempuh diri dengan berbagai riyadhah dan mujahadah hingga mencapai posisi jiwa yang bersih (illuminated), selanjutnyaa mampu menembus batas-batas hijab. Jika hijab sudah tersingkap, mukasyafah terjadi. Jika itu terjadi, wilayah alam gaib menjadi berkurang karena alam barzakh sudah dapat diakses. Rupanya, inilah rahasia hadis Nabi Mutu qabla antamutu (matilah sebelum kalian mati yang sebenarnya).

Akal (Intelek) Dalam Pemikiran Al-Attas: Suatu Uraian Singkat*

Akhmad R. Damyati, MA**


Akal merupakan bagian terpenting dalam diri manusia. Karena akallah manusia berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Karena akalnya ia diberikan amanah dan kewajiban oleh Sang Pencipta. Namun, tidak sedikit orang memahami akal secara sempit dan distortif. Maka tidak heran apabila ketidakadilan dalam pemikiran kerap mewarnai kehidupannya. Tulisan ini mencoba mengulas akal dari sudut pandang al-Attas.

Pembahsan ini meliputi beberapa isu penting, yakni: pertama, seluk-beluk akal dalam Islam; kedua, posisi akal dalam diri manusia; ketiga, perkembangan akal manusia; keempat, beberapa aspek akal; dan kelima, akal sebagai sumber ilmu.

Akar Istilah Akal

Sebagai seorang ahli filologi, al-Attas sangat teliti menggunakan suatu istilah yang biasanya ia sebut dengan “istilah kunci”. Melalui buku Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, ia betul-betul kembali menegaskan pentingnya istilah kunci ini. Dalam Islam, tegasnya, ada istilah-istilah kunci (technical terms) yang sudah mapan yang dihasilkan oleh kesepaduan akliah dan ruhaniah umat Islam, melalui pemahaman mendalam terhadap al-Quran dan Sunnah sebagai rujukan utama umat ini. Mereka (baca: istilah-istilah kunci) merupakan kesepaduan dalaman, batin, yang tersimpan dalam ’rupacita’ akal fikiran yang menjadi asas kepada kesepaduan luaran, lahiriyah manusia, yang kemudian terbentuk rapi dan saling punya keterkaitan maknanya antara satu dengan yang lainnya, dan kesemuanya menentukan bentuk kepahaman mengenai hakekat dan kewujudan semesta yang dipancarkan olehnya.[1]

Akal, misalnya, adalah salah satu terminologi kunci dalam Islam. Ia diambil dari akar bahasa Arab ’a-q-ldari ’aqala ya’qilu ’aqlan wa ma’qulan. Secara literal, ia mempunyai beberapa makna; bermakna menahan, mengencangkan dan menguatkan (habs, ta’yid, tasydid), mengumpulkan (jam’); berketetapan (tathabbut), mengerti (fahm) dan mengikat sesuatu (diambil dari ’iqal al-ba’ir : pengikat unta).[2] Sementara pengertiannya secara teknis dapat ditelusuri dalam al-Ta’rifat-nya al-Jurjani, dimana al-Attas merujuk kepadanya, yang diantaranya menyatakan bahwa ia merupakan substansi yang terpisah dari materi namun aktifitasnya bersamaan dengan materi tersebut. Ia merupakan “jiwa yang berbicara” (al-nafs al-natiqah) yang ditunjukkan oleh seseorang dengan mengungkapkan kata “saya”.[3]

Terkait dengan hal ini al-Attas menyebutkan bahwa pada dasarnya kata ’aql ini menunjukkan suatu jenis ikatan (binding) atau belenggu (withholding), yang menunjukkan suatu properti dalaman yang mempunyai kemampuan mengikat obyek ilmu dengan kata-kata. Al-Attas menulis,

The term ’aql itself basically signifies a kinds of ’binding’ or ’withholding’, so that in this respect ’ql signifies an innate property that binds and withholds the objects of knowledge by means of words.[4]

Dengan demikian, sebagaimana Ibn Manzur, menurut al-Attas, dengan pengertian di atas, ’aql sebenarnya sinonim dengan qalb, di mana keduanya sama-sama merupakan organ spiritual kognisi manusia yang disebut hati (qalb). Dengan organ sipiritual ini manusia mampu dan mengenali yang mana yang benar dan salah, hak dan batil. Sehingga, diri manusia itu akhirnya disebut dengan “jiwa yang rasional” (al-nafs al-natiqah). Kata rasional (natiqah) tidaklah merupakan rasio yang ditunjukkan Barat. Sebab, menurutnya, dalam sejarah intelektual Barat, konsepratio telah mengalami banyak kontroversi dan telah menjadi problem. Sedangkan para ulama Islam dahulu tidaklah memisahkan rasio dari apa yang dikonsepsikan intellectus.[5]

Al-Attas menegaskan bahwa problem rasio di Barat dikarenakan konsep ratio itu sendiri telah terpisah dariintellectus yang diakibatkan dari proses sekularisasi dalam masa yang sangat panjang, sejak masa Yunani Kuno dan Romawi dahulu. Dalam Islam and secularism, misalnya, al-Attas membeber habis betapa proses sekularisasi ini betul-betul mengubah Barat dari berbagai sudut. Intinya, sekularisasi telah memisahkan yang bersifat spiritual dari dunia nyata. Tidak hanya memisahkan, bahkan Barat menolak yang transenden dari semua aspek kehidupan.[6]Akal, misalnya, yang asalnya mencakup yang imajinatif-intuitif, yang direpresentasikan oleh kata intellectus di Barat, setelah tersekulerkan menjadi tidak lebih dari sekedar daya nalar hayawani belaka. Dalam Risalah untuk Kaum Muslimin, Al-Attas menyatakan:

“Mereka (baca: orang-orang Barat) menegaskan bahawa bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan hidupnya tiada perlu dia mengetahui dan mengenali perkara-perkara yang ghaib yang tiada dapat diyakini, bahkan memadahilah manusia mengetahui dan mengenali perkara-perkara yang zahir sahaja, atau yang dapat diperhatikan oleh ilmu-ilmu zahiri falsafah menerusiratio atau akal hayawani”[7]

Di bagian akhir dari buku Risalah-nya ini, berkaitan dengan rasio yang sempit ini, al-Attas memberikan empat poin kesimpulannya, yakni: pertama, pada umumnya, dalam kebudayaan Barat itu, ilmu merupakan kumpulan bahan-bahan alam zahir atau alam luaran serta penisbahan dan renungan yang berlaku mengenainya;kedua, cara yang sesuai bagi memperoleh ilmu adalah dengan pendekatan yang dilakukan oleh ratio, yang berdasar kepada pengalaman dan pemerhatian, pengkajian dan pemerikasaan dengan menggunakan pancaindera sebagai alat-alat penerima kenyataan luaran. Cara ini, menurutnya, sebagai suatu rencana selain dari rasionalisme, dekenali juga dengan nama empirisme; ketiga, akal tidak mungkin mencapai ilmu yang yakin mengenai alam dalaman dengan empirisme; keempat, kepercayaan mengenai hakekat-hakekat dalaman, mengenai alam batin, alam ruhani, hanya dapat dibentuk menerusi pandangan akal nazari, yang menganggapnya sebagai teori atau dugaan belaka, yang kebenarannya tiada dapat diyakini.[8]

Sains kontemporer, menerusi rasionalisme, empirisme dan pragmatisme, telah berupaya memberi penjelasan tentang akal ini sekongkret mungkin, mengikuti cara pandang “kebendaan” mereka.[9] Lihat saja perkembangan kajian akal kebendaan ini dalam psikologi modern yang dikenal dengan Cognitive Psychology, telah disederhanakan menjadi konsep yang tidak bisa dilepaskan dengan sains kognitif, yang semuanya tertakluk kepada proses informasi mekanik, seperti Neuroscience yang mempelajari Neoron (sel saraf). Baik filsafat pikiran (the philosophy of mind), komputer sains, Neuroscience, semuanya ada di bawah payung sains kognitif dalam psikologi modern. Contoh lain seperti tes IQ (Intellectual Quotient Test), di mana tes meliputi Stanford-Binet, Raven's Progressive Matrices, The Wechsler Adult Intelligence Scale[10] dan the Kaufman Assessment Battery for Children[11]. Semua itu merupakan tes kemampuan rasio manusia yang dalam bahasa lainnya disebut mind.[12]

Itulah sebabnya mengapa al-Attas menyatakan telah terjadi pemisahan antara ratio dengan intellectus di Barat, dimana hal itu tidak terjadi dalam Islam. Intelek adalah ‘aql yang mencakup ratio dan intellectus sekaligus dalam perspektif Islam. Dengan akal inilah manusia mempunyai kemampuan berbicara (natiq). Kemampuan berbicara pada manusia menunjukkan ianya sebagai rasional, sebab ia ada kemampuan mengungkapkan gagasan, ide, makna, memberi hukum, diskriminasi, dan klarifikasi. Dengan kata lain, manusia disebut juga sebagai “makhluk hidup yang berakal”.[13] Untuk penjelasan lebih mendalam tentang komprehensivitas akal (ratio danintellectus) dalam Islam, perlu sekiranya dijabarkan lebih mendalam tentang akal dalam jiwa manusia. Seperti apa akal, di mana posisinya dan apa saja fungsinya? Bagian berikut ini akan menjelaskan hal itu.

Akal dan Jiwa Manusia

Manusia mempunyai dua hakekat, yakni badan (body) dan jiwa (soul). Yang pertama berupa fisik (aspek luaran) dan yang kedua non-fisik (aspek dalaman), yakni spirit. Dalam psikologi manusia, sebagaimana dijelaskan oleh sarjana-sarjana Islam awal, seperti Ibn Sina dan al-Ghazali, yang dirujuk oleh al-Attas, semuanya bersepakat dengan dualitas hakekat manusia ini. Dari aspek badan manusia, panca indera-lah yang menjadi representasi perbincangan, mungkin karena kesannya yang secara langsung dirasakan oleh manusia sehingga menjadi perhatian untuk dibahas. Panca indera ini menangkap pesan-pesan partikular yang kemudian disajikan kepada aspek dalaman yang siap dikesan oleh akal menjadi bentuk-bentuk universal. Itulah aspek dalaman manusia. Dan para ilmuan awal dahulu menganggap aspek terakhir ini lebih penting diperhatikan. Hal itu karena inti manusia pada dasarnya ada pada aspek dalamannya, bukan luarannya.[14] (Lihat skema tentang jiwa manusia di bagian akhir tulisan ini)

Dalam pandangan psikologi Islam, al-Attas menyatakan bahwa akal merupan salah satu aspek saja di antara beberapa aspek jiwa. Aspek-aspek itu meliputi hati (qalb), diri (nafs ), ruh (ruh) dan akal (’aql) itu sendiri. Semuanya merupakan aspek-aspek jiwa yang satu namun berbeda fungsinya. Kesemua aspek itu merujuk kepada dua entitas, entitas fisik dan non fisik.[15] Senada dengan hal ini, al-Ghazali memberi garis perbedaan yang tegas di antara aspek-aspek itu, sebagaimana berikut.

Kata al-Qalb, merujuk kepada dua makna. Pertama merujuk kepada segumpal daging yang terletak pada bagian kiri dada manusia. Ia merupakan organ yang dimiliki hewan dan oleh karenanya ia tidak khusus bagi manusia. Apabila ia mati, maka seluruh panca indera juga berhenti beraktifitas. Makna ini tidak dibahas dalam perbincangan psikologi al-Ghazali. Menurutnya, ia cukup dibincangkan oleh para dokter. Sedangkan makna kedua adalah substansi yang lembut (latifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyah), dan spiritual (ruhaniyah). Kepada makna kedua ini jasad manusia bergantung. Sebab ia sebenarnya hakekat diri manusia.[16]

Sementara kata nafs, menurutnya lagi, juga mempunyai dua makna. Pertama adalah sesuatu kekuatan untuk marah (ghadb), berkeinginan (syahwah) dalam diri insan. Dua kekuatan ini kalau bagi ibn Sina ada di bawah kekuatan gerak (muhrikah), yakni kekuatan atau daya yang muncul dalam saraf, tulang, daging pada badan, sehingga memunculkan efek baik positif maupun negatif yang nantinya diri manusia bisa memberikan respon dan eksekusi.[17] Selanjutnya makna yang kedua dari nafs adalah sama maknanya dengan ruh yang di atas, hanya, menurut Ghazali, ia punya karakter yang berbeda-beda sesuai dengan kondisinya. Apabila ia menentang kepada syahwat dan dekat kepada Penciptanya, maka ia disebut sebagai al-nafs al-mutmainnah; apabila ia dalam keadaan banyak mencela (talumu) tuannya akibat kelalaian beribadah kepada Sang Pencipta, maka ia disebut al-naf al-lawwamah; dan apabila ia dalam keadaan bersekongkol dengan kehendak syahwatnya dan mengikuti instruksi syaitan juga, maka ia disebut dengan al-nafs al-ammarah bi al-su’.[18]

Sementara kata ruh, menurut al-Ghazali, juga mempunyai dua makna. Pertama, jenis halus (jins latif) yang sumbernya ada pada rongga hati fisik (al-qalb al-jasmani) yang kemudian menyebar ke seluruh lapisan badan melalui urat-urat saraf. Ini yang meluahkan cahaya hidup kepada fisik manusia, dimana panca indera adalah staf-stafnya. Apabila ia berhenti beraktifitas, maka seluruh fisik akan berhenti, karena staf-stafnya juga mendadak berhenti. Inilah makna ruh yang biasa dipakai oleh para dokter. Kedua, maknanya adalah substansi yang lembut, yang mengetahui (al-alimah), mengerti (al-mudrikah). Apabila al-Ghazali menafsirkan ayat tentang cahaya (nur)[19], maka al-Ghazali memberikan peringkat-peringkat pada ruh manusia. Peringkat-peringkat itu meliputi: ruh sensitif (al-ruh al-hassas), yang merupakan tuan dari panca indera, sebagaimana disebut sebelumnya; ruh imajinatif (al-ruh al-khayali), yang ruh yang menyimpan data yang ditranfer dari panca indera luar ke panca indera dalaman dan disiapkan untuk disajikan kepada aql untuk diproses selanjutnya; ruh akal (al-ruh al-aql), yang merupakan aspek yang memproses informasi dari fakultas imajinatif; ruh fikri (al-ruh al-fikri), yakni ruh yang memproses ilmu-ilmu akal murni; dan ruh suci profetik (al-ruh al-quds al-nabawi), yakni ruh yang khusus dimiliki oleh para nabi dan sebagian para wali yang mampu menyingkap yang tersembunyi dalam alam ghaib dan sebagian dari pengetahuan di alam malakut.[20]

Dan terakhir kata 'aql, yang berkaitan dengan dua makna juga. Pertama, digunakan sebagai yang mengetahui hakekat segala sesuatu. Dengan makna ini maka ia merupakan ungkapan sifat ilmu yang letaknya di dalam hati. Kedua, biasanya diungkapkan untuk menunjukkan substansi spiritual yang mengerti macam-macam ilmu. Ini adalah aspek halus dalam diri yang mempunyai kemampuan kongnitif, sama seperti makna qalb yang kedua. Ini juga sama dengan yang dimaksud al-Ghazali pada peringkat-peringkat ruh yang tiga terakhir, sebagaimana disebutkan di atas.[21] Al-Ghazali kemudian menyatakan bahwa sebenarnya makna-makna itu seperti berbeda-beda, tapi mereka bisa dirangkum dengan makna yang satu, yakni bahwa keempat aspek itu adalah: ”substansi halus, yang mempunyai kekuatan mengetahui dan mengerti dalam diri manusia”.[22] Oleh karena itu, wajar sekiranya al-Attas membuat suatu kesimpulan tentang keempat aspek ini, bahwa ketika jiwa itu bergelut dengan tubuh, maka ia disebut ”diri”; ketika ia sedang mengalami pemahaman intuitif, maka ia disebut ”hati”; ketika ia kembali kedunianya yang abstrak, maka ia disebut ”roh”; dan apabila ia terlibat dengan pemahaman dan intelektual, maka ia disebut ”akal”.[23]

Dengan akal, manusia disebut ”jiwa yang rasional” (rational soul). Jiwa rasional ini, menurut al-Attas, mempunyai dua kekuatan (power) yang sama-sama sebagai aspek intelek. Yang pertama adalah disebut ”aktif” (’amilah) dan yang kedua disebut kognitif (’alimah). Yang pertama ini merupakan terusan dari kognitif sebagai prinsip pergerakan (movement) dari badan manusia, sebagai rasio praktikal.[24] Aspek ini juga yang memproduksi ’emosi’ apabila berhubungan dengan kekuatan penggerak (motive power) dari pada jiwa. Namun apabila berhubungan dengan kekuatan memahami (perceptive power) ia sebagai yang mengatur obyek fisik dan menghasilkan skil dan seni pada manusia. Dan apabila ia berhubungan dengan imajinasi rasional, maka ia yang membangkitkan berbagai premis dan kesimpulan.[25] Mungkin ini adalah aspek terendah yang dipahami Barat sebagai akal secara keseluruhan, akal atau pikiran di Barat yang diistilahkan dengan mind. Ia merupakan aspek mengonkretkan yang asbstrak menuju suatu yang empirik, di mana proyek empirikisasi ini adalah cara-cara sains kontemporer mengkongkretkan permasalahan.[26] Sebab, bagi banyak kalangan di Barat kontemporer, kalau sudah namanya experience, apapun bentuknya, mau abstrak atau pun kongkret, semuanya mesti bisa diskreening oleh sains yang saintifik.[27]

Dalam proses abstraksi kognitif, akal memanfaatkan apa yang dicerap oleh panca indera (luar dan dalam) dan menyajikannya menjadi intelligible dalam imanjinasi. Dalam hal ini, al-Attas menyatakan bahwa proses abstraksi dari yang boleh dicerap oleh panca indera hingga sampai kepada yang boleh dicerap oleh intelek mengalami beberapa gradasi untuk mencapai ’makna’. Gradasi yang dimaksud sepertinya merupakan tingkatan-tingkatan data yang berhasil ditransfer melalui alam dunia ini (the world of nature), dan ini yang disebut oleh al-Attas sebagai sensible, kepada fakultas-fakultas imajinatif dan internal manusia hingga sampai kepada intelek dan sudah berupa sesuatu yang bisa dipahami olehnya, yang al-Attas sebut dengan intelligible.[28]

Yang ia sebut sensible sebenarnya adalah bentuk-bentuk pertikular yang diproses dalam fakultas-fakultas dalaman.[29] Fakultas dalaman yang pertama sekali menerima data dari luar ini disebutnya sebagai common sense(Arab: al-hiss al-musytarak), atau disebut juga ”fantasi”. Kemudian bersama fakultas lainnya, yakni fakultas representasi yang bertugas merekam dan menyimpan data dari fantasi, fakultas estimasi yang bertugas menilai, fakultas retentif dan rekolektif yang bertugas menyimpan dan merekol imej yang sudah absen dari panca indera, dan fakultas imajinasi yang bertugas data-data sensible secara sempurna dan siap diabstrak, data sensible itu kemudian sudah siap digunakan oleh jiwa untuk dinilai, diklasifikasi dan dianalisa serta diberikan keputusan-keputusan. Apabila jiwa menggunakan fakultas imajinasi ini sebagai instrumen intelektual, maka ia disebut ’kognitif’. Apabila ia digunakan menurut posisinya yang alamiah, maka ia dipanggil ’imajinasi’.[30]

Jika dilihat dari hubungan antara intelek dengan imajinasi, maka al-Attas menganggap bahwa isi dari imajinasi ini adalah yang sebagai potensi (yang disebut dengan potential intelligible), sebagai cikal bakal menjadi aktual (yang disebut dengan actual intelligible). Hal itu terjadi ketika intelek memberikan penilaian terhadap yang potensial tersebut.[31] Ada aktivitas intelek terjadi secara terus menerus di sini. Intelek memanfaatkan data actual intelligible ini untuk sampai kepada makna yang universal. Dengan hasratnya, kesadarannya, intelek membadingkan bentuk-bentuk yang ada dalam imajinasi itu, menganalisanya, membedakan hakekat-hakekat esensinya dari aksidensinya, yang terdapat padanya (being attached), membedakan makna-makna yang berbagai diproses menjadi makna universal yang satu (single universal meaning), dan dari proses itu muncul juga ketidaksamaan menjadi makna-makna yang berbagai (multiple meaning).[32] Aktivitas intelek ini, bagi al-Attas, termanifestasikan dalam tiga formulasi, yakni formulasi devisi-devisi logik, yang meliputi genus, species dandifferentia; formulasi silogisme, yang memungkinkan manusia mencapai suatu kesimpulan; dan formulasi definisi, yang memungkinkan seseorang mendefinisikan apa-apa yang dia pahami.[33]

Perkembangan Akal

Jika dalam realitas eksternal manusia mengalami perkembangan, yakni pada aspek-aspek fisik, sejak ia dalam kandungan hingga lahir kedunia, dari kanak-kanak (infancy) hingga dewasa (maturity), maka aspek internal juga mengalami perkembangan.[34] Menurut al-Attas, ada tiga tahapan perkembangan intelek manusia ini, dilihat dari sudut pandang prioritas (priority) dan non-prioritas (posteriority). Ketiganya adalah: absoute potency (al-isti’dad al-mutlaq), possibel or possessive potency (al-mumkinah dan al-malakah), dan perfection potency (al-kamal).[35]Kesempurnaan kekuatan akal ini (cognitive power) adalah untuk kesempurnaan jiwa; kekuatan aktif akal adalah untuk memenej aspek yang lebih rendah pada jiwa. Apabila sudah terkoordinir dengan baik, maka jiwa manusia akan semakin baik, semakin bersih dan selalu meningkat ke tahapan-tahapan jiwa yang tinggi. Sebaliknya, apabila ia semakin jauh dari koordinasinya, maka ia akan turun ke tingkatan yang serendah-rendahnya.[36]

Tingkatan intelek itu, pertama, adalah tahap yang disebut dengan potensi absolut (Arab: al-isti’dad al-mutlaq). Disebut demikian karena, barangkali, potensi itu sudah sedia ada, merupakan anugerah ilahi, semenjak ia pertama kali dicipta, setelah dihembuskan ruh oleh sang Maha Pencipta. Namun tahap ini belum bisa berbuat apa-apa. Kedua, adalah tahap di mana manusia sudah memungkinkan untuk menggunakan potensi pada tahap sebelumnya. Ini yang disebut dengan possible dan kemudian menjadi kemampaun pada dirinya, yang disebut dengan kapasitas posesif, bakat, malakah dalam bahasa Arab. Ketiga, adalah tahap sempurnanya kemampuan dari bakat sebelumnya. Menurut al-Attas, sempurnanya kemampuan ini ketika kanak-kanak sudah dewasa. Di masa kematangan usia ini kekuatan menjadi teraktualisasi secara sempurna. Ia mampu mengaktualisasikan kekuatannya itu kapanpun ia kehendaki tanpa memerlukan suatu stimulasi. Ia cukup dengan berkeinginan berbuat, maka ia mampu melaksanakannya seketika.[37] Dalam istilah Arabnya, yang pertama disebut quwwah mutlaqah hayulaniyyah, yang kedua disebut quwwah mumkinah wa malakah, dan ketiga disebut kamal al-quwwah.[38]

Untuk lebih jelasnya ketiga tahapan itu al-Attas memberi contoh seperti kekuatan ’menulis’ pada seseorang. Menurutnya, setiap jiwa yang dicipta oleh Allah Swt pada dasarnya sudah diberikan kemampuan dasar menulis. Hanya saja, kemampuan yang ada ini hanya merupakan potensi yang belum aktif atau belum bersentuhan dengan keinginan dan kehendak untuk menulis. Semua manusia mempunyai potensi ini. Inilah potensi pada tahap awal yang disebut dengan potensi absolute (al-isti’dad al-mutlaq). Setelah itu, potensi itu meningkat untuk beraktifitas walaupun masih meraba-raba sifatnya. Dengan proses belajar dan latihan ia akhirnya melalui kemungkinan-kemungkinan dalam menulis. Mungkin ia mulai meniru orang lain dalam menggerakkan tangannya, menyentuh-nyentuhkan tangan dengan obyek yang bisa dibubuhi tulisan. Lalu seterusnya ia mulai mengenal mana kertas, mana tinta, mana alat tulis, dan sudah mulai mengenal apa yang bisa ia tulis. Inilah tahap kedua, yakni tahap kemungkinan dan kebakatan. Sadangkan tahap yang terakhir adalah ketika kemampuan itu sudah betul-betul bisa digunakan kapan saja ia mau tanpa harus dimulai dengan meniru, diberikan stimulasi dan lain-lain, dimana kemampuan itu akan muncul kapan saja ia mau. Inilah yang disebut dengan kekuatan yang sudah sempurna, yaitu kekuatan pada tahap ketiga.[39]

Aspek-Aspek Akal

Berkaitan dengan tiga tahapan di atas, al-Attas menguraikan beberapa aspek intelek yang mengatur tahapan-tahapan perkembangan intelektual manusia mulai potensi yang mendasar hingga kepada pengaktualisasian intelek secara sempurna. Hal ini terkait dengan pola hubungan dan operasi intelek kognitif (cognitive intellect, arab:’alimah) yang disinggung di atas, disamping kognisi yang pertama, yakni intelek aktif (active intellect, arab:’amilah). Al-Attas menyatakan:

The relation and operations of the speculative power of cognitive intellect involve four aspects of the intellect governing the stages of human intellectual development from mere potency to perfect actualization.[40]

Keempat aspek itu meliputi material intellect (al-’aql al-hayulani), possible intellect (al-’aql al-mumkin) dan possible intellect (al-’aql bi al-malakh), intellect-in-action (al-a’ql bi al-fi’l) dan acquired intellect (al-’aql al-mustafad). Keempat formasi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang dijabarkan oleh filosof-filosof sebelumnya. Ia akan didapati dalam pemikiran al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, bahkan al-Ghazali. Hanya saja, sebagaimana al-Ghazali, al-Attas sepertinya tidak pernah mengaitkan formasi akal itu dengan teori emanasi, yaitu tentang terori akal sepuluh yang sangat dikenal pada ilmuan-ilmuan sebelumnya. Walaupun demikian, al-Attas menyakini adanya Akal Aktif atau Active Intellect (Arab: al-Aql al-Fa’al) yang datangnya dari Maha Pencipta yang senantiasa memberi stimulus pada perkembangan akal manusia, sebagaimana di bawah akan dijelaskan.

Aspek pertama adalah intelek dasar, atau dikenal dengan material intellect (al-’aql al-hayulani) yang dimiliki oleh setiap orang. Yakni intelek yang semata-mata hanya potensi yang ada dan itu sifatnya absolut, di mana ianya merupakan anugerah Allah semenjak diciptakannya. Kata hayulani ini, menurut al-Attas, dianalogikan dengan konsep Yunani tentang konsep materi dasar (primary matter), yakni hyle. Konsep materi dasar ini adalah materi tanpa bentuk, namun ia mempunyai kemampuan menerima segala jenis bentuk.[41] Bentuk (surah) menurut Ibn Sina sudah ada di sini. Walaupun demikian, ia masih belum aktif, sebab ia pada tahap persiapan (al-isti’dad).[42]Al-Ghazali malah menyebutkan bahwa bentuk itu (al-Ghazali lebih memilih kata nau’) yang dimiliki setiap orang adalah sama, hanya kekuatan dan potensinya tidak sama. Menurutnya juga, kalangan ahli hikmah (hukama’) berselisih pendapat dalam hal ini.[43]

Aspek yang kedua adalah possible intellect (Arab: al-’aql al-mumkin) atau possessive intellect (al-’aql bi al-malakah). Yakni akal sudah boleh menerima apa yang terdapat pada aspek pertama di atas. Sesuatu yang dicerna oleh apsek ini adalah prinsip-prinsip dasar yang dibangun berdasarkan premis-premis dari data-data yang diterima. Namun yang ia dapat tidak dengan cara deduksi atau verifikasi, tapi dengan ”kemestian” (necessarily), sebagai contoh, fakta bahwa ”semua” lebih besar dari ”sebagian”.[44] Jika intelek dasar mempunyai power namun tanpa aksi, maka pada aspek ini selalu beraksi. Ia sebagai agen untuk membawa apa yang ada dalam akal potensial, setelah menjadi mungkin (possible) dicerna, yang berbentuk prinsip-prinsip pertama (al-ma’qulat al-ula), kepada suatu tahapan yang disebut dengan prinsip-prinsip kedua atau secondary intelligibles (al-ma’qulat al-tsawani).[45]Bentuk-bentuk yang dieksekusi oleh aspek ini tidaklah dinilai, tapi sekedar diambil dan disimpan dalam tempat penyimpanan. Dengan demikian, intelek sudah menjadi sebagai pemilik informasi tadi. Ia sudah memilikinya dan oleh karenanya ia sudah menyiapkannya untuk diproses oleh aspek akal setelahnya. Oleh karenanya, aspek ini juga disebut dengan possessive intellect (al-’aql bi al-malakah). Mungkin ini yang disebut ’bakat’ dalam bahasa Melayu-Indonesia.

Aspek ketiga adalah intelek yang beraktifitas atau Intellect-in action (al-’aql bi al-fi’l). Intelek ini adalah al-’aql bi al-malakah yang kesiapannya secara fitrah untuk berpikir dan belajar sudah sempurna. Menurut Ibn Sina, pada tahapan ini al-’aql al-fa’al mencurahkan al-ma’qulat al-tsaniyyah dan oleh karenanya, ianya selalu beraktifitas.[46] Aktifitas yang dimaksud adalah menilai bentuk-bentuk yang sudah tersimpat pada akal sebelumnya di atas.[47] Kapan saja bentuk-bentuk yang tersimpan itu diinginkan oleh aspek ini, maka ia akan langsung bisa diabstrak oleh akal ini.

Aspek keempat adalah yang disebut dengan acquired intellect (Arab: al-’aql al-mustafad), yakni akal yang sudah aktif tadi (al-’aql bi al-fi’l) telah sanggup berpikir secara jernih tanpa perlu daya upaya lagi karena sudah terlatih sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang abstrak selamanya terdapat dalam akal ini. Hal ini terjadi ketika intelek yang potensial itu sudah sampai ke intelek yang aktual absolut dan juga ketika intelek ini sudah selalu beraktifitas dan selalu mengadakan kontak dengan intelek potensial. Menurut al-Attas, intelek potensial mentransfer bentuk-bentuk yang sudah spesifik, agar intelek mendapatkan bentuk-bentuk itu dari luar dirinya sendiri.[48] Yang dimaksud dari luar dirinya disini, barangkali, adalah Intelek Aktif, sebab akal pada aspek dan tahapan ini sudah sanggup menerima pancaran ilmu pengetahuan dari Intelek Aktif (al-’aql al-fa’al). Menurut al-Attas, perkembangan intelek dari potensi absolut hingga ke aktual absolut terjadi secara umum pada manusia. Hanya, menurutnya juga, ada suatu tahapan yang tidak didapati pada manusia umumnya, yaitu ketika intelek posesif betul-betul reflek menggunakan bentuk-bentuk pada dirinya, yakni ketika ia berfikir, dan berfikir pikiran yang sedang ia pikirkan, maka ia sebenarnya telah mencapai tahapan aktualitas absolut dan menjadi akal mustafad.[49]

Intelek Aktif, bagi al-Attas, adalah Ruh yang Suci/Holy Spirit (al-Ruh al-Qudus). Al-Attas mengutip tiga ayat berkaitan dengan Intelek Aktif ini; al-Najm, 53: 5-6, al-Syura, 42: 51, dan al-Takwir, 81: 19-20. Sehubungan ini, al-Attas menyatakan, Intelek Aktif ini selalu aktif memberikan stimulus, yakni yang membantu membangkitkan potensi pada intelek dasar, dari yang keadaannya masih tidur (dormancy), dengan mengaktifkannya bentuk-bentuk universal dan kebenaran yang tetap dalam fikiran, hingga mencapai intelek yang sudah mungkin dimanfaatkan. Hingga di sini pun Intelek Aktif ini terus memberikan stimulus hingga intelek manusia ini mempunyai kemampuan sendiri untuk mengelola intelektulitasnya. Dan intelek ini berkemungkinan kemampuannya selalu meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi. Semua itu berkat stimulasi dari Intelek Aktif.[50] Namun demikian, pada tahapan-tahapan yang dilaluinya, pada tingkatan intelek yang sudah boleh mengatur dirinya ini jenis hayawani dan kemanusiaannya mengalami proses kesempurnaan. Dalam mencapai performa yang tertinggi, setiap manusia ternyata mengalami ketidaksamaan atau gradasi. Performa akal tertinggi ini disebut dengan akal suci (al-'aql al-qudsi). Akal jenis ini hanya dimiliki oleh para nabi, para manusia suci dan saleh dan ulama yang mengamalkan ilmunya. Semua itu sangat bergantung kepada tingkatan kecemerlangannya.[51] Untuk mempermudah, al-Attas memberi peta pikirannya mengenai perjalanan intelek seperti bagan berikut:

Dari uraian di atas, jelas bahwa dalam Islam tidak sama dengan yang dikonsepsikan dalam sains kontemporer saat ini. Pada jiwa manusia paling tidaknya ada dua aspek; animal dan rasional. Akal merupakan aspek yang terdalam dan sangat menentukan kondisi jiwa yang terluar pada manusia. Dengan kedalaman aspek ini, akal manusia bisa mencapai tingkatan yang lebih tinggi dan tambah lebih tinggi lagi mengikuti kualitas diri manusia itu. Dan cara pandang seperti ini sangat rapat dan dipengaruhi nilai-nilai agama. Dengan kata lain, kedalaman pengamalan agama pada seseorang merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari proses naiknya intelek pada dirinya. Penafian aspek-aspek dalaman ini berarti juga penafian agama itu sendiri.

Akal Sebagai Sumber Ilmu

Sebagai sumber ilmu, apabila diteliti lagi dari uraian intelek di atas, maka akan didapati banyak tingkatan dalam pendapatan ilmu. Sebab, pada akal ada sisi-sisi yang terluar dan terdalam. Yang terdalam dari akal erat hubungannya dengan intuisi dan wahyu, dan ilmu yang dihasilkan juga berkaitan dengan hal tersebut. Sedangkan bagian terluar erat hubungannya dengan aspek panca indera manusia yang juga menghasilkan ilmu yang empirik-rasional.

Dilihat dari istilahnya, yakni sebagai kekuatan manusia untuk bernalar, maka akal dalam klasifikasi ilmu yang dikonseptualisasikan al-Attas menghasilkan ilmu-ilmu 'aqli. Menurutnya, ilmu yang berdasarkan akal adalah sains filosofis, rasional dan intelektual, yang meliputi sains kemanusiaan (human sciences), sains tabii (natural sciences), sains terapan (applied sciences) dan teknologi.[52]

Dalam konsep pendidikannya, ilmu-ilmu dalam klasifikasi ini termasuk ilmu yang fardhu kifayah. Artinya, ilmu ini tidak harus masing-masing orang menguasainya. Fardhu kifayah adalah amalan yang wajib dikerjakan namun kewajiban itu akan gugur apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian. Ini bisa diartikan bahwa untuk ilmu-ilmu di bawah akal ini hendaknya manusia berbagi tugas, tidak semestinya seragam. Semakin beragama bidang yang dikuasai masyarakat, maka semakin tinggi kualitas masyarakat itu. Berbeda dengan fardhu kifayah yang cukup diemban oleh sebagian orang saja, ilmu fardhu 'ain harus diemban oleh setiap individu. Ini dalam falsafah pendidikan al-Attas adalah ilmu-ilmu yang dibawah wahyu, yaitu ilmu-ilmu seperti al-Quran, Sunnah, Shariah, Tauhid, Tasawwuf, dan bahasa Arab. Menurutnya, semua orang Islam harus mengerti ini dan hukumnya wajib bagi tiap individu.[53]

Klasifikasi ilmu al-Attas kepada fardhu ain dan fardhu kifayah diambilkan dari skemanya tentang konsep manusia, ilmu dan universitas, sebagaimana berikut: pertama, manusia yang meliputi jiwa dan entitas dalaman (ruh, nafs, qalb, 'aql) dan badan dan fakultas-fakultas fisiknya; kedua, ilmu yang terdiri dari ilmu pemberian Tuhan dan ilmu yang didapatkan oleh manusia; ketiga, universitas yang meliputi ilmu-ilmu fardu ain dan kifayah. Dalam skema itu, posisi The God-given Knowledge berada di atas dan the acquired knowledge berada di bawah. Sepertinya posisi ini penting dalam pandangan al-Attas. Sebab, posisi di atas menunjukkan itu adalah tinggi dan terhormat. Dan menurutnya, posisi yang di atas ini merujuk kepada fakultas dan sensasi spiritual manusia. Sedangkan posisi di bawahnya menunjukkan kepada fakultas dan sensasi fisikal manusia. Menariknya, al-Attas memposisikan intelek ('aql) sebagai penghubung antara bagian fisikal dan spiritual itu. Dengan alasan bahwa 'aqlpada kenyataannya merupakan substansi spiritual, seperti yang dijabarkan sebelumnya, yang memungkinkan manusia untuk mengerti realitas dan kebenaran spiritual.[54]

Penutup

Dari paparan di atas, kini jelas bahwa akal dalam diskursus Islam, dalam hal ini menurut uraian al-Attas, merupakan dimensi dalaman (inner dimension) manusia. Tanpa akal manusia tak ubahnya seperti hewan yang hanya tahu makan, minum, tidur dan lain-lain. Ilmu yang didapat oleh manusia karena ada akal. Tanpa ada media akal, betapa pun sehatnya panca inderanya, manusia tidak bisa mendapatkan ilmu. Begitu juga, walaupun ada wahyu, kalau akal tidak sehat, maka akan sia-sia belakan. Maka bersukurlah mempunyai akal. Namun akal tidak segala-galanya. Ada banyak hal yang tidak terjangkau oleh akal. Maka akal perlu takluk kepada yang lebih tinggi lagi, yakni yang sifatnya spiritual. Di sinilah pentingnya intuisi dan wahyu dalam pemikiran al-Attas.

Tahu pada empat jenis tingkatan akal

1. Akal hajulani
2. Akal milkat
3. Akal bilfili
4. Akal mustafat

Akal ialah hasil analisa statistik yang diupayakan manusia, dan hal ini merupakan jerih payah manusia.
Hadis nabi menyatakan, "Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal".
Oleh sebab itu pendidikan formal di sekolah sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan akal.

Akal hajulani:
Akal manusia yang belum mendapat pelajaran sekolah.
Ilmunya tidak dapat mengolah angka-angka dan menyimpulannya, sehingga belum ada sistematika di dalam berpikir dan ucapannya.

Akal milkat:
Akal manusia yang telah mendapat pendidikan sehingga dapat mengolah angka-angka statistik dan mampu berbicara sistematis.

Akal bilfili:
Akal yang telah mengetahui hukum alam serta mampu membuka rahasia alam gaib (yang bukan hakiki), seperti penyebab penyakit, datangnya hujan, menemukan listrik, komputer dan sebagainya.

Akal mustafat:
Yaitu akal manusia yang telah mencapai ma'rifat.

Akal itu penting sekali
Hilang agama orang tak berakal
Hidup, bagai terkurung dalam terali
Dikatakan bodoh, sangatlah bebal
Tuntutlah ilmu ke negeri Cina
Inilah hadis Muhammad Rasulullah
Ilmu ditulis memakai pena
Di lembaga bernama sekolah
Jauh berjalan banyak dilihat
Lama hidup banyak dirasa

Aturan dunia sebab-akibat
Masa bodoh hukumnya dosa
Pendapat diri jangan dipaksakan
Tengganglah rasa, pakailah periksa
Tertumbuk biduk agar dibelokkan
Tertumbuk kata supaya dianalisa
Akal hajulani belum diasah
Bicara melantur tidak sistematika
Disuruh menulis sangatlah susah
Saat bekerja naluri belaka
Akal milkat diasah pendidikan
Pengalaman orang lain banyak dibaca
Sistematika dan prioritas selalu dikerjakan
Bila berdagang gunakan neraca
Akal bilfili, akal peneliti
Mampu melihat hal yang tertutup
Atau menjelaskan, keris sakti
Serta gunung,ketika meletup
Walau hanya meneliti kuku
Hasilnya bermanfaat untuk manusia
Tulislah ilmu di dalam buku
Agar diketahui penduduk dunia
Akal makrifat namanya mustafat
Alam dilihat gunakan hati
Ketika berdoa tiada terhambat
Permohonan makbul, selalu terbukti
Kalau sampai kepada makrifat
Alam tampak secara hakiki

Ibarat belajar, dianggap tamat
Mungkin orangnya disebut wali

MA’RIFAT KEPADA ALLAH ADALAH PUNCAK PENGABDIAN SEORANG HAMBA


Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersembunyi (Ghaib), Aku ingin memperkenalkan siapa Aku, maka aku ciptakanlah mahluk. Oleh karena itu Aku memperkenalkan DiriKu kepada mereka. Maka mereka itu mengenal Aku (Hadits Qudsi)

Pendahuluan
Sebelum kita melangkah lebih lanjut dengan pembahasan mengenai Ma’rifat, maka ada baiknya kita memahami dulu apa sebenarnya Tasawuf itu. Karena Ma’rifat sangat erat hubungannya dengan tasawuf.
Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf, Harun Nasution, misalnya menyebutkan 5 istilah yang berkenaan dengan tasawuf, yaitu al-suffah, (orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah), saf (barisan), sufi (suci), sophos (bahasa yunani : hikmat), dan suf (kain wol). Keseluruhan kata ini bisa saja dihubungkan dengan Tasawuf.
Sedangkan dari segi Linguistik (kebahasaan) Tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana.
Sedangkan dari segi istilah Tasawuf adalah upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT.
Tasawuf adalah merupakan bagian dari perkembangan ilmu Islam. Tasawwuf selalu menjadi perbincangan dalam setiap kurun waktu seiring dengan perjalanan sejarah umat Islam itu sendiri.
Tasawwuf adalah fase kelanjutan umat islam dalam pencariannya terhadap Dzat Tunggal. Mereka berupaya mendaki maqam-maqam tasawwuf. Diantara konsep taswwuf tentang maqamat, terma ma’rifat termasuk yang menrik untuk dikaji lebih mendalam.
Ilmu kesufian atau Ilmu Tasawwuf adalah ilmu yang didasari oleh Al-Qur'an dan Hadits dengan tujuan utamanya amar ma'ruf nahi munkar.

Pengertian Ma’rifat
Dari segi bahasa Ma’rifat berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang bisa didapati oleh orang-orang pada umumnya. Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam bathinnyadengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan dan hakikat itu satu dan segala yang maujud berasal dari yang satu. Selanjutnya ma’rifat digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tasawuf. Ma’rifat muncul seiring dengan adanya istilah Tasawwuf, dimana dalam Tasawwuf (dalam hal ini para sufi ‘) berusaha melakukan pendekatan dan pengenalan kepada Allah untuk mencapai tingkat ma’rifatullah yang tinggi. Disaat itulah mulai dikenal istilah Ma’rifat.
Agar tidak terjadi kesalahan persepsi atas ma’rifat, ada baiknya kita mendalami kata ini secara komprehensif menurut pandangan dari sufi pertama yang berbicara tentang ma’rifat yang spesifik tentang tasawwuf yaitu Dzunnun al-Mishri, beliau berpendapat bahwa “Ma’rifat Sufistik pada hakekatnya adalah ‘irfan atau Gnost. Tujuan ma’rifat menurut beliau adalah berhubungan dengan Allah, musyahadat terhadap wajah Allah dengan kendalinya jiwa basyariyah kepada eksistensinya yang inhern, wasilahnya dan mujahadah olah spiritual. Ma’rifat datang ke hati dalam bentuk kasyf dan Ilham.
Dalam arti Sufistik, ma’rifat diartikan sebagai pengetahuan mengenai tuhan melalui hati sanubari. Pengetahuan ini lengkap dan jelas sehingga jiwa merasa satu dengan Allah.
Prof DR Harun Nasution, mengatakan bahwa ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan sanubari. Dalam artian mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati-sanubari dapat melihat Tuhan. Oleh karena itu orang-orang sufi mengatakan :
1. Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanyalah Allah.
2. Makrifat adalah cermin, kalau seorang yang arif melihat ke cermin maka yang dilihatnya hanyalah Allah.
3. Yang dilihat orang arif saat tidur dan bangun hanyalah Allah.
4. Sekiranya Ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihatnya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan dan bentuk keindahannya, dan semua cahaya akan menjadi gelap disamping cahaya keindahan yang gilang gemilang.
Dari beberapa definisi di atas dapat kita fahami bahwa ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah dengan hati sanubari. Tujuan yang ingin dicapai ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia yang terdapat dalam diri Tuhan.
Sebagaimana dikemukakan al-Kalazabi, ma’rifat datang sesudah mahabbah, hal ini disebabkan karena ma’rifat lebih mengacu pada pengetahuan sedangkan mahabbah menggambarkan kecintaan.
Ma’rifat dalam arti harfiah adalah Pengenalan seorang Hamba terhadap Tuhannya, dalam hal ini adalah Allah, karena tujuan utama dari seorang hamba adalah mengenal Tuhannya dengan baik dan berusaha mencintaiNya.
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah). Ma’rifat kepada Allah adalah puncak tujuan seseorang hamba. Maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepada-Nya, tidak usahlah kau hiraukan berapa banyak amal perbuatanmu; meskipun masih sangat sedikit amal kebaikanmu sekalipun. Sebab ma’rifat merupakan suatu karunia pemberian langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya amal kebaikan.
Fitrah manusia mengenal Allah, baik dalam pengertian ‘aam (umum) maupun dalam arti khush (khusus). Yang dimaksud mengenal Allah dalam pengertian umum ialah pengenalan iman kepada Allah, sebagaimana yang dikaji dalam ‘aqoidul iman yang sangat mendasar. Itulah ilmu tauhid yang disebut sebagai inti agama. Atau pokok dari segala yang pokok. Dengan kata lain, tauhid merupakan keyakinan yang paling dasar untuk diajarkan kepada setiap manusia sebelum lebih jauh menjalar pada aspek-aspek lain dalam agama.
Adapun yang dimaksud pengenalan secara khusus ialah mengenal Allah dalam arti Ma’rifatullah (melihat Allah) dengan matahati. Maka ia melihat “Tak ada perbuatan yang bertebaran di alam ini , kecuali perbuatan Allah; Tak ada nama yang melekat pada suatu apapun, melainkan nama Allah; Tak ada sifat yang mewarnai diri, kecuali sifat Allah; Tak ada zat yang meliputi makhluk, melainkan Zat Allah”.
Anugrah Allah kepada hamba yang dikasihi–Nya merupakan lensa ma’rifat yang hakiki kepada-Nya. Sebab bagi orang yang tak dapat anugerah Allah, ia mengenal Tuhan mereka menurut versi angan khayal mereka. Seperti Fir’aun yang menuhankan dirinya, Namrud menuhankan patung batu (arca) dan di zaman kini banyak orang yang menuhankan sesuatu selain Allah, seperti menuhankan kekuatan alam dan teknologi. Mereka itu sebagai contoh orang yang tidak mendapat anugerah ma’rifat dari Allah.
Jika Allah telah menunjukkan kepada hamba-Nya dengan sebagian sebab-sebab sehingga ia menjadi orang yang ma’rifat, kemudian kepadanya dibukakan pintu kema’rifatan yang tetap (sakinah) sehingga ia mendapat ketenangan yang luar biasa. Dan ini merupakan nikmat yang paling besar.
Apabila kamu dibukakan pintu ma’rifat yang hakiki maka janganlah kamu hiraukan amalmu yang sedikit. Sebab di atas telah diterangkan bahwa ma’rifat itu adalah anugerah dari Allah yang datangnya tidak menggantungkan akan banyak atau sedikitnya amal kebaikan.
Ma’rifat adalah anugerah Allah yang didasari kasih Tuhan kepada hamba-Nya. Adapun amal ibadah sebagai persembahan hamba kepada Tuhannya. Dimisalkan; anugerah itu seperti martabat seorang budak yang diangkat oleh raja menjadi perdana menteri. Adapun amal ibadah seumpama upeti rakyat kepada rajanya. Maka betapa sangat jauh perbedaan antara keduanya.
Sesungguhnya maksud dan tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub) dirinya kepada Allah dengan amal itu. Tetapi perlu disadari bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau sedikitnya amal seorang hamba.
Dalam hal ini dapat dimisalkan seperti orang yang sedang menderita sakit, disebabkan penyakit yang dideritanya maka menjadi berkuranglah ibadahnya kepada Allah. Boleh jadi penyakit yang dideritanya itu sebagai sebab dan isyarat terbukanya pintu kema’rifatan kepada Allah.
Oleh sebab itu jangan mempunyai perasaan banyaknya amal ibadah yang tertinggal disebabkan sakit. Dengan sakit yang dideritanya itu bisa merasa dekat dengan Allah. Perasaan lapang dada, luas hatinya dan telah meninggalkan berbagai kenikmatan dunia seraya diiringi oleh rasa cinta negeri akhirat. Juga telah siap tuk meninggalkan dunia nan fana sebelum kematian itu datang. Ini juga sebagai pertanda orang yang telah mendapatkan Nur Ilahi atau anugerah Allah. Kesadarannya bahwa Allah bisa berbuat apa saja menurut kehendaknya, sebagai tanda kearifannya.
Alat untuk Ma’rifat
Alat yang digunakan untuk ma’rifat telah ada dalam diri manusia yaitu Qalbu (hati), qalbu selain alat untuk merasa juga alat untuk berfikir. Bedanya Qalbu dengan akal ialah bahwa akal tak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan. Sedangkan Qalbu bisa mengetahui hakikat dari segala yang ada dan jika dilimpahi cahaya Tuhan bisa mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. Qalbu yang telah dibersihkan dari segala dosa dan maksiat melalui serangkaian zikir dan wirid secara teratur akan dapat mengetahu rahasia-rahasia Tuhan, yaitu saat hati tersebut disinari cahaya Tuhan.
Proses sampainya qalbu pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan dengan konsep takhalli, tahalli, tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri dari akhlak yang tercela dan perbuatan maksiat melalui tobat, selanjutnya Tahalli yaitu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan amal ibadah. Sedangkan Tajalli adalah terbukanya hijab sehingga tampak jelas cahaya Tuhan. Dengan limpahan cahaya Tuhan itulah manusia dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. Dengan demikian ia dapat mengetahui apa-apa yang tidak bisa diketahui manusia biasa. Orang yang sudah mencapai makrifat akan memperoleh hubungan langsung dengan Allah.

Manfaat dari Ma’rifat
Semua yang ada di alam ini mutlak ada dalam kekuasaan Allah. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepada Allah. Puncak ilmu adalah mengenal Allah (ma'rifatullah). Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin mengenal Allah. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allah.
Mengenal Allah adalah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat kita tidak mengenal Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.
Ciri orang yang ma'rifat adalah laa khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun. Ia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma'rifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma'rifat. Sebab, orang yang ma'rifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah.
Salah satu ciri orang ma'rifat adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup.
 Pertama, Hidup selalu berada di jalan yang benar (on the right track).
 Kedua, memiliki kekuatan menghadapi cobaan hidup. Kekuatan tersebut lahir dari terjaganya keimanan.
 Ketiga, Allah akan mengaruniakan ketenangan dalam hidup. Tenang itu mahal harganya. Ketenangan tidak bisa dibeli dan ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah.
 Keempat, seorang ahli ibadah akan selalu optimis. Ia optimis karena Allah akan menolong dan mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk berbuat. Optimis akan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan fisik, kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan.
 Kelima, seorang ahli ibadah memiliki kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendaraan. Setiap kali akan melakukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tidak terjerumus. Seorang ahli ibadah akan memiliki kemampuan untuk bertobat.
 Keenam, selalu ada dalam bimbingan dan pertolongan Allah. Bila pada poin pertama Allah sudah menunjukkan jalan yang tepat, maka pada poin ini kita akan dituntun untuk melewati jalan tersebut.
 Ketujuh, seorang ahli ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga, penuh hikmah, berwibawa dan setiap keputusan yang diambilnya selalu tepat.
Kemampuan Manusia untuk melakukan Ma’rifat
Allah menciptakan manusia dengan sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yang baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik (QS. Attin: 4-5). Ruh sebagai power untuk menghidupkan seluruh anggota badan, Akal sebagai alat untuk menerima ilmu pengetahuan atau untuk mengetahui hakikat sesuatu secara logis tanpa mempertimbangkan hal-hal yang irasional, anggota tubuh seperti panca indra yang hanya dapat merealisasikan secara indrawi tanpa mempertimbangkan pernghalangnya. Dari semua anggota tubuh manusia hanya Hati yang dapat menerima sesuatu yang mutlak dari Allah yang maha kuasa karena hati adalah sebagai tuan dari anggota tubuh, semua aktivitas anggota tubuh digerakkan oleh hati dan hati adalah Allah yang menggerakkan.
" Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya " (QS.Al Bayyinah:4-6).
" Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi manusia kebanyakan tidak bersyukur " (QS.Al Baqarah:243), (Al Mu'min:61), (Yunus:60).
" Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hamba Nya " (QS.Al Baqarah:90).
Allah telah menyediakan dan memberikan beberapa kelebihan untuk manusia sehingga manusia yang asal mulanya sama diciptakan dari tanah kemudian mempunyai tingkat kelebihan yang berbeda disisi Allah karena ketaqwaan dan usaha mereka untuk mencapai kehadhirat-Nya. Kelebihan Allah yang diberikan kepada manusia diluar adat kebisaan manusia biasa (Khariqul Adat) dan diluar akal manusia, sehingga manusia yang mendapat kelebihan dapat berbuat diluar adat dan akal manusia.
1. Para Rasul
Mendapat kelebihan Mu'jizat dengan jalan mendapat Wahyu dari Allah untuk bekal da'wah menegakkan agama Tauhid dan memberantas kemusyrikan.

Katakanlah: " Sesunggguhnya aku ini ( asalnya ) hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku. Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa " (QS. Al Kahfi:110 ).
"Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan Dia) dan sebagian- sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa Mu'jizat serta kami perkuat mereka dengan Ruhul Qudus " (QS. Al Baqarah:253)

2. Para Nabi
Mendapat kelebihan Irhash dengan jalan mendapat Ilham dari Allah untuk bekal da'wah menegakkan kebenaran dan menghapuskan kejahatan.
" Dan sesungguhnya telah kami lebihkan sebagian Nabi-nabi itu diatas sebagian ( yang lain ) dan kami berikan Zabur kepada Daud " (QS. Al Isra:55).

3. Para Wali
Mendapat Karomah dengan jalan Mujahadah dan Riyadhoh yang tinggi dalam menjalankan pengetahuan tasawuf hingga mencapai Ma'rifat kepada Allah.
Hubungan para wali dengan Allah sudah sangat harmonis sehingga segala kelakuan mereka dalam ketentuan Allah tanpa ada pengaruh syaitan, hawa Nafsu dan keduniaan. Banyak kita temui Karomah para wali dijagat raya ini yang diluar kemampuan akal dan fisik manusia biasa untuk membuktikan keagungan dan kebenaran Allah.
" Ingatlah,sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa " (QS. Yunus:62-63)

4. Para shalihin (orang-orang yang salih)
Mendapat Ma'unah karena ketaqwaan mereka kepada Allah dan Istiqomah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhkan laranganNya.
“ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu " (QS. Al Hujarat:13).
" Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan " (QS.Al Mujadilah:11).
" Dan Allah mempunyai kelebihan ( yang dicurahkan ) atas orang-orang yang beriman " (QS. Ali Imran:152).

5. Orang-orang yang Kafir atau Fasik
Mendapat Istidroj yaitu kelebihan yang luar biasa yang menyalahi adat kebisaan manusia dengan jalan bersekutu dengan syaitan atau Jin kafir sebagai uluran azab Allah karena kekafiran atau kefasikan mereka.
" Dan kami lebihkan mereka (Bani Israil) atas yang lain didunia ini " (QS. al Jatsiyah:16)
Perintah Mencari Kelebihan Allah dengan hati ( Melakukan Ma’rifat)
Hati menurut ilmu kedokteran adalah darah hitam yang beku mempunyai bentuk tersendiri letaknya disebelah kiri dada (Heart) berfungsi sebagai penetral darah. Tetapi Imam Al Gazali tidak berbicara tentang bentuk dan fungsinya menurut ilmu kedokteran hanya berbicara menurut pandangan ilmu kebathinan (Tasauf). Hati menurut pandangan Tasauf adalah unsur halus yang bersifat ke-Tuhanan dan metafisik yang berada pada bentuk hati yang bersifat jasmani.
Kelebihan Allah yang diberikan kepada manusia tertampung dalam wadah yang mulia yaitu hati. Kelebihan Allah yang ada pada hati manusia adalah akal, Bashiroh (Mata bathin), Niat, Pengetahuan Illahi / Hikmah dan yang tertinggi adalah Ma'rifat.
Sesungguhnya Allah memerintahkan HambaNya untuk mencari kelebihannya, salah satunya adalah dekat mendekatkan diri padanya melalui hati sanubari (ma’rifat), sebagaimana ayat-ayat dibawah ini :
" Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari kelebihanNya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu " (QS. Annisa:32).
" Dia akan memberi pada tiap-tiap orang yang mempunyai kelebihan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari qiamat " (QS. Huud:2).

2 Cara Untuk Memperoleh Kelebihan Allah
1. Wahbi atau Ladunni
Yaitu kelebihan Allah yang diperoleh dengan jalan wahyu atau ilham tanpa ada usaha, mudah dan cepat mendapatkannya karena langsung dari Allah. Seperti, para Rasul dengan wahyu, Nabi dengan ilham.
2. Kasbi atau Ikhtiyari
Yaitu kelebihan Allah yang diperoleh dengan usaha yang keras, sulit mendapatkannya dan dalam waktu yang relatif lama. Seperti, kelebihan orang shalih yang diperoleh dengan istiqomah beribadah atau menjalankan tasauf dengan Mujahadah dan Riyadhoh yang tinggi.Setiap manusia dapat memperoleh kelebihan yang Allah sediakan untuknya asalkan mereka mampu menjalannya dengan baik dan hati yang bersih atau Allah memberikan langsung dengan mudah tanpa usaha melalui wahyu atau ilham.
Dalam usaha memperoleh kelebihan Allah, ada beberapa tingkat perbedaan manusia sesuai dengan akal dan kebisaan mereka.
1. Hati anak kecil yang belum sempurna
Menerima petunjuk Allah, ia dapat mengalami keajaiban Tuhan tetapi tidak dapat mengimpretasikan apa-apa yang dialaminya.
2. Hati yang kotor
Karena berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsu sehingga tidak dapat menerima kelebihan Allah sebelum dibersihkan terlebih dahulu.
3. Hati yang labil
Masih bimbang mencari sesuatu keduniaan walaupun selalu beribadah belum dapat menerima hakikat ke-Tuhanan kecuali ia meninggalkan kesibukan dunia.
4. Hati yang bodoh
Terhadap hakikat keTuhanan ia beribadah tetapi tidak mempelajari tentang hakikat ke-Tuhanan Allah yang sebenarnya atau ia tidak mencari hakikat ke-Tuhanan Allah.
6. Hati yang terhijab
Karena pengaruh pengetahuan atau mengikuti sesuatu ajaran / dogma yang dapat menutup hatinya dari hakikat ke-Tuhanan Allah.

Lima Kelebihan hati yang tidak Ada Pada Anggota Tubuh
1. Tempat persaingan iman dan syaitan untuk menguasai
2. Pengendali gerakan akal dan hawa nafsu
3. Penggerak anggota tubuh
4. Obat untuk memperbaiki hati sangat sulit
5. Banyak penyakit hati
Pengetahuan hati lebih utama dibanding pengetahuan akal atau panca indra, karena pengetahuan akal atau indra obyeknya terbatas hanya bersifat Empiris dan Rasional dan sering tertipu oleh obyek yang sedang diamati atau bersifat Spekulatif yang sering mengundang kontradiksi diantara para ilmuwan.

Pengetahuan hati mempunyai tiga kelebihan
1. Pengetahuan hati tidak terbatas pada sesuatu yang bersifat Empiris dan Rasional tetapi dapat mengetahui sesuatu yang Metafisik dan yang maha Muthlak.
2. Pengetahuan hati dibimbing oleh Ilahi dengan Wahyu, Intuisi dan Hidayah.
3. Hati tempat penilaian Tuhan untuk semua amal manusia.

Keutamaan Ma’rifat
Ma'rifat adalah mengenal yang hak pada segala Asma dan sifatNya dengan sebenar-benarnya. Ma'rifat adalah keistimewaan yang tertinggi yang ada pada hati, karena seseorang yang sudah ma'rifat hubungan antaranya dan Allah sudah sangat dekat dan harmonis hingga dirinya menyatu dengan Allah, sifatnya adalah sifat Allah dan semua aktivitasnya adalah qudrat Allah.
" Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya " (al Hadits). Abu Ali Addaqaq berkata: " Kehidupan orang yang Arif selalu tenang tidak ada rasa takut atau bersedih hati dan tingkah lakunya menunjukkan kehebatan Allah ".

Penghalang Melakukan Ma’rifat
Syaitan selalu berusaha untuk menghalangi usaha manusia dalam mencapai kelebihan Allah (Melakukan Ma’rifat) dengan bermacam halangan agar manusia tidak dipandang oleh Allah dan jauh dari rahmatNya. ”Syaitan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan” (QS.Al Baqarah:268). Ada beberapa penghalang yang berupa dosa yang menghalangi manusia untuk mencapai kelebihan Allah diantaranya dosa-dosa itu adalah:
• Perbuatan Maksiat
• Mengikuti Hawa nafsu
• Cinta pada dunia
• Mengikuti dogma / ajaran yang dilarang agama.

Ma’rifat dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits
Dari uraian diatas telah dijelaskan bahwa ma’rifat adalah pengetahuan tentang rahasia-rahasia dari Tuhan yang diberikan kepada HambaNya melalui pancaran CahayaNya (Tuhan) ke dalam hati seorang Sufi. Dengan demikian Ma’rifat berhubungan dengan Nur (Cahaya Tuhan). Di dalam Al-Qur’an dijumpai tidak kurang dari 43 kali kata Nur di ulang dan sebagian besar dihubungkan dengan Allah. Salah satunya ayat di bawah ini :

و من لم يجعل الله له نورا فما له من نو ر

”Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. Al-Nur 24 : 40)
Ayat di atas berbicara tentang cahaya Allah, cahaya tersebut hanya diberikan Allah kepada hambaNya yang Dia kehendaki. Mereka yang mendapatkan cahaya dengan mudah akan mendapatkan petunjuk hidup, sedangkan mereka yang tidak mendapatkan cahaya akan mendapatkan kesesatan hidup.
Dalam Ma’rifat kepada Allah yang didapatkan orang Sufi adalah cahaya. Dengan demikian ajaran Ma’rifat sangat dimungkinkan terjadi dalam Islam dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Selanjutnya di dalam Hadits kita jumpai sabda Rasulullah yang berbunyi :

كنت خزينة خا فية احببت ان اغرف فخلقت الخلق فتعر فت اليهم فعرفونى

Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersembunyi (Ghaib), Aku ingin memperkenalkan siapa Aku, maka aku ciptakanlah mahluk. Oleh karena itu Aku memperkenalkan DiriKu kepada mereka. Maka mereka itu mengenal Aku (Hadits Qudsi)
Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa Allah dapat dikenal oleh manusia. Caranya dengan mengenal atau meneliti CiptaanNya. Ini menunjukkan bahwa Ma’rifat dapat terjadi, dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

PENUTUP
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. "(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya." (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).
Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imam Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yang tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah
Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah SWT. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, disinilah kita sebagai hamba Allah bisa membuktikan bahwa ma’rifat kepada Allah juga tertanam dalam kalbu kita, berusaha mewujudkannya dalam setiap perbuatan, ibadah dan merealisasikannya dalam kehidupan sehingga kita termasuk dalam golongan ma’rifatullah.

Ibnu Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah dan yang kedua, melihat dan merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah” seperti dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Jelas sudah dari ayat di atas, bahwa Allah tidak melarang bahkan memerintahkan HambaNya untuk mengenal diriNya, Ma’rifat kepada Tuhan tidak bisa ditemukan meskipun dengan menyembahnya secara benar. Ma’rifat dapat ditemukan dengan cara larut dengan-Nya, melalaikan dunia secara total dan terus-menerus berpikir tentang-Nya. Mungkin bagi kita yang hanya sebagai manusia yang tergolong kedalam golongan ma’rifat mukmin menurut Dzunnin al-Mishri masih di kategorikan belum mampu untuk larut dengan-Nya, melalaikan dunia secara total dan terus-menerus berpikir tentang-Nya. Begitu pula yang termasuk ke dalam golongan ma’rifat ……. Mereka adalah para filosof, ahli ilmu kalam, dan para pemikir. Mereka hanya mengetahui Allah berdasarkan data-data empiris melalui penelitian-penelitian.

Mereka tidak mengenal Allah dan mereka tidak mampu membuka hijab Allah SWT karena mereka tidak sepenuhnya memusatkan pikiran dan hidup mereka untuk mengetahui Dzat Allah.

Bagi mereka mengetahui untuk kajian ilmiah sudah cukup membuktikan adanya Allah SWT. Mereka tidak dapat membuka hijab Allah karena mereka belum dapat melalaikan dunia secara total. Sedangkan ma’rifat awliya muqarrab. Mereka adalah nabi, wali, dan sufi yang mempunyai pribadi yang dekat dengan Allah SWT. Hanya mereka yang mampu membuka hijab Allah SWT. Karena mereka sudah mampu untuk larut dengan-Nya, melalaikan dunia secara total dan terus-menerus berpikir tentang-Nya.
DAFTAR PUSTAKA


Harun Nasution, Prof.Dr, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), Cetakan III

H. Abudin Nata, MA, Drs, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 1996

IAIN Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Sumatera Utara, 1983/1984).

Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Bina Ilmu, 1995)

Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), cet XI

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.