This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label sejarah peradapan eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah peradapan eropa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Membongkar nasib wanita di Barat

Meski separuh dari umat manusia adalah kaum wanita, dan sudah banyak wacana yang memperjuangkan tentang hak-hak dan posisi kaum hawa ini, namun harkat dan martabat perempuan masih juga belum ditempatkan pada posisi yang sebenarnya. Parah nya lagi, isu pembelaan terhadap hak-hak perempuan hanya dimanfaatkan sebagai alat politik dan tekanan negara-negara Barat terhadap bangsa-bangsa lain, terutama negara-negara muslim. Barat kerap melihat isu perempuan dengan kaca mata standar ganda sehingga banyak realitas tentang kondisi kaum perempuan di Barat yang tertutupi, sementara di sisi lain mereka sering membesar-besarkan isu perempuan di kalangan negara-negara dunia ketiga. Karena itu, bersamaan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada 8 Maret, menarik kiranya jika kita telisik lebih jauh bagaimana sebenarnya kondisi perempuan di Barat.

Tak kurang dari seabad lalu, hak-hak personal dan sosial kaum perempuan di Barat masih banyak yang dilecehkan. Mereka bahkan tak berhak untuk mempunyai hak milik, kekayaan dan hasil kerjanya sendiri. Seluruh hasil jerih payah kaum perempuan dan kekayaannya dianggap sebagai milik sang suami. Bahkan di masa itu, banyak perempuan di negara-negara Barat tak diperkenankan memiliki hak dasar seperti hak bersuara dan beraspirasi.

Namun semenjak akhir abad ke-19, kaum hawa di Barat mulai bergerak memperjuangkan hak-haknya dan membuka peluang bagi perempuan untuk memperoleh hak-hak materi dan kebebasan. Di masa itu, berkembanglah gerakan feminisme yang dilatarbelakangi beragam ideologi seperti humanisme, liberalisme, dan sekulerisme. Mereka berjuang untuk mendapatkan kembali hak-hak perempuan yang selama ini dikebiri.

Tentu saja tuntutan gerakan feminisme itu bisa mengancam kepentingan kapitalisme. Tak heran jika kemudian puak-puak kapitalis berusaha lebih kompromistis, di satu sisi mereka memanfaatkan isu-isu pembelaan terhadap hak-hak perempuan, namun di sisi lain mereka hanya memberikan kebebasan dan hak-hak lainnya bagi perempuan secara semu belaka.

Menyinggung soal kezaliman sejarah terhadap kaum perempuan, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatollah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menuturkan, "Di Barat, perempuan hanya dilihat dari sisi keperempuanannya bukan sebagai seorang manusia. Kendati Barat gencar melontarkan klaim pembelaan terhadap kaum perempuan, namun perempuan hanya dipandang sebagai alat dan hanya sisi daya tarik seksualnya saja yang sering ditampilkan. Meski dengan mengatasnamakan perempuan, namun dalam prakteknya budaya Barat hanya menguntungkan kaum pria semata. Dengan mudahnya pula mereka mempertontonkan kecantikan perempuan atas nama kebebasan, sampai-sampai kehadiran perempuan di tengah masyarakat kerap dipandang dengan sorotan hasrat seksual. Sehingga hak-hak sosial perempuan pun tercederai. Barat sejatinya banyak berutang kepada kita lantaran di sepanjang sejarah mereka telah begitu sering melecehkan perempuan".

Dengan dalih pembelaan atas hak-hak perempuan, masyarakat Barat ternyata justru menafikan dimensi kemanusiaan perempuan dan menjadikannya sebagai cadangan lelaki. Harvey S Mansfield, seorang professor di Universitas Harvard dalam makalahnya bertajuk Feminisme Baru menulis, "Feminisme begitu ambisius untuk memberikan sifat kelaki-lakian terhadap perempuan hingga memusnahkan kewanitaan. Perlahan kita akan saksikan film-film gangster yang menampilkan seorang perempuan cantik berperan sebagai pembunuh profesional. Mulai dari dekade 60-an hingga sekarang, kita telah terbiasa melihat perempuan melakukan pekerjaan lelaki. Tampaknya dunia sudah menjadi feminin. Namun sebenarnya sampai kini pun dunia masih maskulin bahkan dengan begitu ajaibnya lebih maskulin lagi. Sebab hingga sekarang baik lelaki dan perempuan, keduanya melakukan profesi dan pekerjaan yang banyak mengandalkan sifat-sifat maskulin seperti kenakalan dan keberanian".

Harvey lantas menegaskan bahwa perempuan tampaknya tak lagi merasa bahagia menjadi perempuan. Mereka hanya tahu bagaimana meniru lelaki tapi tak bisa bagaimana harus mempertahankan dan melindungi keperempuanannya. Professor di Universitas Harvard itu meyakini bahwa perempuan telah menjauhi identitas kewanitaannya dan kini tengah terombang-ambing.

Kekerasan terhadap perempuan di Barat kini semakin meningkat. Berbagai hasil studi menunjukkan bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Barat telah mengabaikan jatidiri kaum perempuan. Dorongan dan kampanye atas partisipasi perempuan di lingkungan kerja dan berada di samping kaum lelaki merupakan salah satu isu yang sering digembar-gemborkan oleh gerakan feminisme. Namun kehadiran perempuan di lingkungan bebas dan berbaur dengan lelaki ternyata juga menimbulkan dampak yang tidak sepele. Kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan justru sering muncul di lingkungan seperti itu.

Kondisi hak perempuan dan anak-anak di AS merupakan yang paling tragis. Kasus pelecehan seksual dan tindak kekerasan terhadap mereka di negeri Paman Sam ini begitu tinggi. Berdasarkan data polisi federal AS (FBI) tahun 2003, sekitar 94 ribu perempuan menjadi korban pelecehan seksual. Ironisnya lagi, hingga kini pemerintah AS belum meratifikasi konvensi perlindungan anak-anak dan perempuan.

Kasus diskriminasi gender juga terjadi di Inggris. Menurut laporan PBB tahun 2008, kaum perempuan di Inggris banyak yang menjadi korban kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Masih menurut yang sama, kasus perdagangan perempuan di negara ini masih marak, sementara tindakan pemerintah London sendiri pun begitu lemah dalam menangani masalah tersebut. Di kalangan media massa Inggris, perempuan juga kerap hanya dipandang sebagai alat dan negatif. Kasus hamil diluar nikah dan aborsi merupakan salah satu kasus pelanggaran hakperempuan. Angka bunuh diri dan pengidap gangguan mental di kalangan perempuan imigran dan minoritas di Inggris juga mengalami peningkatan drastis akibat diskriminasi gender.

Jerman merupakan negara Eropa lainnya yang banyak memiliki kasus pelanggaran terhadap hak perempuan. Hal itu bisa kita lacak dari hasil penelitian Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan Tahun 2004. Media-media massa Jerman pun acap kali melihat perempuan sekedar komoditas seks. Angka pengangguran di kalangan perempuan juga meningkat. Selain itu, perempuan juga memperoleh standar gaji yang lebih rendah dan dipekerjakan pada level yang rendah. Laporan komite PBB itu juga mengungkapkan kekhawatirannya atas
maraknya kasus pemanfaatan perempuan sebagai komoditas seks di Jerman.

Berdasarkan laporan PBB tahun 2006, kasus kekerasan terhadap perempuan dan diskriminasi gender di lingkungan kerja di Perancis juga sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan resmi pemerintah Perancis, dua per tiga pekerja rendahan seperti pembantu, pelayan restoran dan hotel merupakan kaum perempuan.

Kehadiran perempuan di pos-pos kerja pemerintahan, internasional, dan komunitas ilmiah Perancis sangat terbatas. Perbadaan besarnya gaji perempuan dan lelaki rata-rata terpaut 19 persen. Kasus kekerasan di lingkungan keluarga Perancis juga membuat khawatir Komite PBB untuk Perlindungan Perempuan. Setiap tahunnya, banyak perempuan Perancis yang menjadi korban kekerasan suaminya. Selain itu, sebagaimana di negara-negara Eropa lainnya, kasus hamil di luar nikah dan aborsi di Perancis juga sangat tinggi. Sepertiga dari jumlah perempuan hamil, merupakan hamil di luar nikah, dan separuh darinya berakhir dengan aborsi secara suka rela.

Kasus pelanggaran terhadap hak-hak perempuan semacam itu hampir terjadi merata di berbagai negara-negara Eropa lainnya. Hal semacam itu tentu saja bisa menghambat upaya pemberdayaan peran perempuandi lingkungan keluarga dan masyarakat. Tentu saja untuk menangani kasus diskriminasi gender terhadap perempuan, tidak cukup hanya lewat pengesahan konvensi dan aturan saja. Tapi memerlukan gerakan kebudayaan di kancah global dan masyarakat dunia mesti mengetahui betapa berharganya posisi kaum perempuan.(IRIB)

sejarah peradaban eropa awal

Peradaban dimana kita hidup ini sering disebut sebagai peradaban modern. Menurut kamus elektronik Merrian-Webster, kata “modern” berasal dari bahasa latin “modernus”. Kata ini berasal dari kata “modo”. Kata “modernus” berarti “bahwa sekarang adalah”, sedangkan kata “modo” berarti “dengan cara”. Kata latin ini kemudian menjadi kata “modern” sebelum tahun 1585 untuk mendeskripsikan awal suatu era baru.

Perabadaban modern awal meliputi seluruh era Rennaisance. “Rennaisance” berarti kelahiran kembali. Disebut demikian karena pada awal peradaban modern tersebut terjadi kelahiran kembali pemikiran-pemikiran dan bahkan kebudayaan Eropa kuno saat sedang mencapai puncak kejayaan di bawah Yunani dan Rumawi. Awal gerakan rennaisance adalah penterjemahan kembali buku-buku Yunani dan Rumawi kuno yang diawali oleh Giovanni Boccaccio dan Francesco Petrarch. Tema sentral gerakan ini adalah humanisme, pencarian aktif ilmu pengetahuan dan bukan hanya menerima apa yang ada saja, dan keyakinan terhadap cita-cita republik.[1] Gerakan “Rennaisance” ini berawal di Florence Italia, berlangsung antara tahun 1400-1600 Masehi[2]. Karena renaissance bermula dari Italia (Eropa), sedangkan renaissance adalah awal peradaban modern[3], maka Eropa merupakan titik-tolak awal sejarah perkembangan peradaban modern. Indikasi sederhananya, kata “modern” itu sendiri berasal dari bahasa latin, bahasa asli Eropa sejak sekitar tahun 1000 SM.

Pada jaman rennaisance, buku-buku IPTEK banyak yang diterbitkan dalam bahasa masyarakat lokal, sedangkan pada abad pertengahan, buku-buku IPTEK diterbitkan dalam bahasa Latin dan bahasa Yunani sebagai bahasa ilmiah dan bahasa akademis. Penulisan dan penterjemahan teks-teks bahasa Latin dan bahasa Yunani ke dalam bahasa lokal memasyarakatkan IPTEK. Perembesan buku hingga level akar rumput terjadi dengan cepat seiring dengan pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Pada gilirannya, hal ini mengakibatkan munculnya para penemu, penulis buku, pemikir, para ahli berbagai bidang dari golongan rakyat jelata.

Meskipun telah banyak yang dialihbahasakan ke bahasa lokal, namun jejak bahasa latin dan bahasa Yunani sebagai bahasa iptek jaman pra-modern dan jaman modern dapat kita lihat.

Contoh:

1. Penggunaan bahasa latin dalam biologi

Pada abad pertengahan, ilmu biologi telah berkembang dalam sekolah-sekolah yang disebut gimnasium dengan bahasa pengantar adalah bahasa latin. Ketika memasuki jaman modern, bahasa pengantar ilmu biologi berubah menjadi bahasa lokal, tapi bahasa latin masih tetap digunakan dalam penamaan seluruh makhluk hidup di seluruh dunia. Biologi kuno adalah cabang dari filsafat alam Aristoteles dari Yunani (Eropa). Bahasa latin masih digunakan sebagai bahasa pengantar buku-buku ilmu biologi hingga abad ke-18.

2. Penggunaan bahasa Yunani dalam penamaan ilmu secara umum

Contoh:

- Zoologi: “Zoo” (hewan) + “Logos” (Ilmu)

- Filsafat: “Philia” (cinta) + “Sophia” (hikmat, kebijaksanaan)

- Biologi: “Bios” (kehidupan) + “Logos” (Ilmu)

3. Penggunaan huruf-huruf Yunani dalam Fisika dan Kimia

Fisika dan kimia adalah cabang filsafat alam dalam filsafat Aristoteles dari Yunani (Eropa). Ilmu-ilmu ini populer pada jaman rennaisance seiring peningkatan popularitas buku-buku Yunani kuno dalam jaman rennaisance yang menandai jaman modern.

Kelompok masyarakat yang mencetuskan dan mendorong terjadinya rennaisance adalah golongan wirausahawan atau pedagang besar. Keluarga besar Italia yang dikenal terlibat dalam mengawali renaissance adalah keluarga besar Medici. Mereka membutuhkan banyak pekerja cerdas untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi agar menang bersaing dari kompetitor mereka. Hal itu mengakibatkan mereka mencari orang-orang pintar sebagai pekerja dengan upah yang lebih tinggi daripada pekerja yang tak berpendidikan. Permintaan terhadap pekerja cerdas mendorong masyarakat untuk belajar, agar memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Kebutuhan para wirausahawan terhadap kualitas pekerja yang bermutu menumbuhkan permintaan akan pendidikan, sehingga pendidikan tersebar ke masyarakat luas.

Reformasi Martin Luther turut mempercepat proses ini dengan membawa pendidikan ke tengah-tengah rakyat jelata, sebab mereka punya idealisme bahwa setiap orang harus bisa membaca sendiri, dan untuk itu, maka pengajaran menulis huruf latin dan pelajaran membaca bagi rakyat jelata jadi sangat ditekankan. Idealisme ini mempengaruhi gerakan rennaisance dan bahkan nantinya mempengaruhi jaman modern.

Setelah memasuki jaman modern, IPTEK Eropa berkembang dengan sangat pesat. Ini mengakibatkan peningkatan kekuatan negara-negara Eropa. Ungkapan terkenal jaman renaissance yang menggambarkan pandangan masyarakat Eropa terhadap pengetahuan dirumuskan oleh Sir Francis Bacon (1561 - 1626) dalam bukunya “Religious Meditations, Of Heresies” yang terbit pada tahun 1597, yaitu: “Knowledge is Power” (Pengetahuan adalah kekuatan). Penguasaan IPTEK mendatangkan kekuatan. Hal ini disadari betul oleh negara-negara Eropa pada jaman modern.

Penguasaan IPTEK di bidang militer menghasilkan kekuatan militer. Ketika lawan-lawannya masih menggunakan pedang, negara-negara Eropa telah menggunakan pistol, senapan, dan meriam. Keunggulan militer membuat mereka mempunyai kekuatan untuk menguasai daerah-daerah yang tertinggal dalam bidang IPTEK, semisal kerajaan-kerajaan di Nusantara ini. Kalah di bidang IPTEK mengakibatkan Nusantara kuno jatuh terjajah ke dalam tangan Eropa yang mempunyai kekuatan IPTEK yang lebih unggul.

Penguasaan IPTEK di bidang manufaktur menghasilkan kekuatan produksi. Dengan biaya yang lebih murah, menghasilkan produksi yang lebih banyak dan berkualitas lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat. Kekuataan ekonomi negara-negara yang telah memasuki jaman modern membuat negara-negara lain yang terdesak oleh mereka jadi turut masuk jaman modern pula, baik secara sukarela ataupun dengan terpaksa.

Misal, pemerintah Ottoman Turki yang bertahan menolak modernisasi pada akhirnya dikondisikan untuk masuk jaman modern. Ini dapat dilihat dalam bidang percetakan. Hingga tahun 1450 Masehi, pemerintah Ottoman Turki masih mengikuti fatwa haram kaum ulama yang mengharamkan penggunaan mesin cetak. Mesin cetak disebut sebagai “Temuan setan”. Akibatnya, buku-buku terbitan warga atau pun pemerintah Ottoman kalah bersaing dengan buku-buku dari Eropa yang dicetak dengan mesin cetak. Harga buku-buku Eropa ini lebih murah dan diproduksi masal dengan jumlah yang jauh lebih banyak, sebab diproduksi menggunakan mesin. Turki tertinggal jauh karena masih memproduksi buku dengan disalin tangan. Agar tak tertinggal, akhirnya mesin cetak diijinkan di Turki. Tapi itupun didirikan oleh orang-orang Yahudi, karena mereka tidak menuruti fatwa ulama Turki itu. Modernisasi Turki dibidang percetakan dipelopori oleh orang-orang Yahudi Sefardik pada tahun 1450 Masehi[4]. Tapi percetakan ini dilarang untuk mencetak buku-buku berbahasa Turki dan Arab. Jika melihat buta huruf menyebar di kalangan masyarakat Turki hingga abad 18, sebenarnya pemerintah Ottoman tidak perlu takut dengan mesin cetak. Percetakan Turki baru ada tahun 1729, ditutup tahun 1742, dan dibuka lagi tahun 1784 dengan sensor ketat pemerintah.[5]

Prinsip “Knowledge is power” jaman renaissance masih terus dipegang oleh peradaban modern. Ini bukan hanya dilakukan oleh negara, tapi juga oleh aktor non-negara, seperti Google, inc. Sebagai penyedia layanan mesin pencari online, google mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk mengarahkan informasi yang akan dibaca pembaca. Pengakuan akan kekuatan Google datang saat Barack Obama yang didukung Google menang. Penguasaan IPTEK oleh Google menghasilkan kekuatan politik dalam tubuh pemerintahan Barack Obama.

Ketika Google berkonfrontasi dengan Cina, Google tidak kalah oleh tekanan Cina. Blokir yang diterapkan pemerintah Cina terhadap google tidak mempan karena ada teknologi anti blokir. Jika Cina saja tidak mampu memblokir internet, maka diragukan Indonesia mampu memblokir internet. Faktanya, blokir yang Indonesia terapkan tak ada artinya bagi netter yang melek teknologi.

Kekuatan IPTEK internet untuk menguasai dunia juga dipegang oleh Amerika, sebab internet diciptakan, dikembangkan, dan dimiliki oleh Pentagon Amerika dengan backbone yang juga berada di Amerika. Setiap informasi via internet pasti terdeteksi Amerika. “Internet adalah milik bersama” hanyalah jargon kosong. Penetrasi internet ke setiap kantor, rumah, dan setiap bagian masyarakat memungkinkan pemerintah Amerika untuk mengumpulkan informasi (pengetahuan) hingga level individu, terlebih saat ini setiap individu punya internet dalam telepon genggam dan komputer pribadi.

Prinsip “Knowledge is Power” yang lahir pada jaman Rennaisance dan yang mengawali jaman modern benar-benar diterapkan dalam negara-negara modern sedunia. Ini pun mengindikasikan bahwa titik tolak jaman modern adalah Eropa

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.