This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Caping TEMPO INTERAKTIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caping TEMPO INTERAKTIF. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Hayy

Senin, 09 Mei 2011

SEMAKIN ramai agama dalam percakapan, semakin terasa pentingnya orang menemukan kembali gua yang hilang. Saya kira itulah yang saya temukan dalam membaca kisah Hayy Ibnu Yaqzan, yang ditulis Ibnu Tufayl, pemikir Spanyol abad ke-12 itu.

Di dalamnya kita bersua dengan seorang anak yang dibuang ibunya yang ketakutan ke laut. Bayi itu terdampar di sebuah pulau di khatulistiwa. Di pulau tanpa manusia itu ia dirawat seekor kijang betina. Ia disusui, dan ketika sudah bisa berjalan, diantar ke pohon-pohon buah, dan bila haus, dibawa ke tempat air.

Pelan-pelan, anak itu juga belajar perbedaan dan makna suara-suara hewan. Kemudian ia mulai menyadari beda tubuh dan kemampuan dirinya dibandingkan dengan binatang-binatang yang mengelilinginya. Ia menambah pengetahuannya tentang dunia. Pada umur 21 tahun ia sudah membuat pakaian, rumah (juga gudang penyimpanan), dan juga senjata.

Berangsur-angsur, pengalaman hidup membuatnya berpikir terus, dengan rasa ingin tahu yang intens hingga ia sampai pada keyakinan adanya Wujud yang jadi sebab pertama dari segala yang ada.

Dari cerita fiksi ini yang terus-menerus disela lapisan paragraf yang membahas pelbagai soal yang diamati dan direnungkan dari hidup kita dibawa ke suatu kesimpulan: iman, bahkan dalam bentuk tauhid, bisa dicapai sendiri oleh seseorang yang terbuka pikirannya dan tekun. Hasilnya akan tak berbeda dengan iman yang datang dari wahyu dan diyakini orang ramai. Itu terjadi karena ”mata hatinya terbuka, nyala pikirannya bersinar”, hingga ”ajaran akal budi pun akur dengan ajaran tradisi”, demikian tertulis dalam Hayy Ibnu Yaqzan.

Dengan kata lain, Ibnu Tufayl yang hidup di masa cemerlang sastra dan filsafat Islam Spanyol ingin menunjukkan bahwa agama wahyu, khususnya Islam, punya dasar yang universal. Tapi justru dengan demikian, tauhid yang tanpa wahyu atau keimanan di luar Islam juga tak berbeda nilainya.

Kesimpulan itu tentu membuat agama punya peran yang nisbi: ia perlu, tapi tak mutlak harus ada.

Dalam kisah yang dibawakan Ibnu Tufayl, ada dua tokoh lain. Salaman, seorang penguasa, lebih dekat ke makna harfiah dari ajaran. Ia memilih ”Percakapan”. Ia tak hendak menyendiri. Ia masuk ke dalam kehidupan sosial. Ia ikut serta dalam keimanan sebagai cara meramaikan komunitas, celebration of community, ketimbang cara menyatakan dalamnya keyakinan, jika kita pakai hasil pengamatan Ernest Gellner.

Sebaliknya Asâl: ia lebih mencari ke dalam batin, lebih bersentuhan dengan makna mistik hal-ihwal dunia. Ia memilih menghidupkan iman yang dibentuk kesendirian.

Maka ia pun datang ke pulau tempat Hayy hidup. Mereka bertemu. Asâl mengajari Hayy bahasa manusia. Mereka saling berkisah dan Asâl bercerita tentang kehidupan beragama dan berTuhan di masyarakat muslim dari mana ia datang.

Hayy heran. Ia tak mengerti kenapa Rasulullah menyampaikan ajarannya dalam pelbagai perumpamaan yang menyebabkan umatnya menggambarkan Tuhan dalam citra mirip manusia. Tuhan yang seperti itu akan bersifat terbatas. Ia tak mencegah manusia mengejar omong kosong: kekayaan, misalnya. Memang ada aturan tentang zakat dan amal, tapi itu justru membuka pintu bagi hasrat yang menganggap milik dan kekayaan itu barang yang tak sia-sia.

Merasa pandangannya lebih benar, Hayy berniat berdakwah. Bersama Asâl ia naik perahu ke pulau di mana Salaman dan orang-orang lain hidup. Di kota itu diwejangnya khalayak.

Tapi ia tak dimengerti. Ia terus tak dipahami.

Akhirnya Hayy sadar, manusia tak berani mencari kebenaran dengan menempuh jalan yang tanpa pemandu, dengan keyakinan bahwa ada nalar yang bisa mencapai dan menemukan kebenaran yang universal.

Hayy kecewa. Tapi ia tak melihat semuanya dengan pahit. Ia malah mengakui, Rasulullah benar: dengan menggunakan perumpamaan, dengan menggunakan citra manusia untuk membicarakan Tuhan, dengan hukum yang menyederhanakan soal, manusia mudah ditertibkan.

Tapi jika iman berarti ketertiban sosial, sangat mungkin Tuhan hanya dihadirkan sebagai komandan sebuah kamp. Tiap kamp ada perbatasan. Tiap kamp adalah indikasi bahwa ada ”kita” dan ”mereka”, ada ”Tuhan kita” dan ”Tuhan mereka”. Dalam kamp itu, orang cenderung tak mengakui ada yang universal dalam iman tak mengakui bahwa ada yang mempersatukan manusia yang berbeda-beda.

Mungkin sebab itu Hayy tak bersedia ikut. Ia sejak dulu lebih cocok dengan keadaan yang jauh dari ”Percakapan”. Di akhir cerita, ia pun kembali ke pulaunya. Ia kembali ke guanya.

Gua, dalam kisah ini, bukanlah alegori ketertutupan yang gelap. Justru sebaliknya: gua, seperti dalam Gua Hira, ketika Rasulullah menerima wahyu pertamanya, adalah proses pencarian ke dalam batin, proses dari gelap ke terang.

Di luar gua, suara batin umumnya lenyap dalam ”Percakapan”. ”Percakapan” mengasumsikan adanya jalan dua jalur yang lurus dan jelas, sementara bahasa bukan itu. Bahasa selalu punya bagian yang gelap dan licin dan membuat kita tergelincir. Bahasa selalu mengandung suara gaduh orang ramai yang ikut membentuknya.

Di antara ketidakpastian itu, agaknya Hayy mendahului apa yang dikatakan Raymond Panikkar ketika ia menunjukkan tak perlunya kita heboh dengan wacana tentang Tuhan dan iman. Kita justru perlu melihatnya sebagai ”a discourse that inevitably completes itself again in a new silence”.

Goenawan Mohamad

Ahimsa

Ahimsa

Senin, 28 Februari 2011

Lapangan Tahrir, sebelum Mubarak lengser. Ketika malam menutupi Kairo, para pemuda yang ikut protes bergeletakan berbaring. Ada yang tidur, ada yang membaca. Sebuah cerita di BBC menyebut, di bawah bayang-bayang tank tentara yang menjaga alun-alun itu, seorang demonstran membaca buku Gene Sharp.

Sejak itu Sharp disebut di BBC dan The New York Times sebagai pengilham gerakan yang meletus di Mesir dan Tunisia.

Mengagetkan juga. Lelaki 89 tahun ini tampak kuno banget. Di rumahnya yang sederhana di East Boston, ia tak tahu Facebook atau Twitter; bahkan ia harus diberi petunjuk untuk memakai e-mail.

Tapi rupanya, di dunia ia cukup dikenal. Ia, pendiri Albert Einstein Institution, pernah jadi salah satu calon penerima Nobel Perdamaian. Ia menulis satu buku tentang Gandhi dan kemudian menghasilkan satu buku lain, From Dictatorship to Democracy. Risalah tipis ini telah diterjemahkan ke dalam sekitar 30 bahasa, yang menurut The New York Times telah mempengaruhi gerakan prodemokrasi di Bosnia, Burma, Estonia, Zimbabwe, dan kini Mesir serta Tunisia. Sharp juga menulis sebuah manual, 198 Methods of Nonviolent Action, yang memberi petunjuk aksi bagaimana ”mogok makan” sampai bagaimana ”mengenal mata-mata”.

Tapi ia tak pernah ikut dalam pergerakan apa pun. Pada dasarnya ia seorang periset. Maka bisa dimengerti jika Sharp, yang pemalu dan rendah hati itu, tak mau mendaku bahwa apa yang terjadi di Mesir itu akibat pengaruhnya. ”Rakyat Mesir yang melakukan itu,” katanya, ”bukan saya.”

Bagaimanapun, sebuah ide bisa menyeberangi lautan. Ia bisa menyusup ke sebuah situasi yang memang pas untuknya—dan jadi kuat atau menakutkan. Di Venezuela dan Burma, Sharp dianggap biang pembangkangan. Di Teheran ia dituduh ”agen CIA”.

Demikian berbahayakah gagasan Sharp, yang menegaskan prinsip nonkekerasan? Ia sendiri akan menyebutnya sebagai ”gagasan Gandhi”. Pergolakan Mesir, katanya, itu ”datang langsung dari Gandhi”.

Memang Gandhi, yang menolak untuk memakai kekerasan dalam perjuangan antikolonialismenya, sebuah legenda yang mempesona. Salah satu adegan dalam film tentang sang Mahatma yang dibuat Richard Attenborough melekat di kepala saya: sejumlah demonstran tegak tak melawan ketika polisi kolonial Inggris datang menghantam mereka dengan tongkat. Tapi, ketika reportase tentang hal ini tersiar ke seluruh dunia, orang pun tahu mana yang ”biadab” dan mana yang teguh dalam keluhuran budi. Sejak itu penjajahan Inggris kehilangan legitimasinya, juga di Inggris sendiri.

Hari-hari ini kita tahu di Libya Qadhafi juga kehilangan legitimasinya. Selama 42 tahun ia berkuasa dan kini tetap ingin bertahan dengan menembaki ratusan orang penentangnya. Dalam pergaulan dunia ia tak akan dilihat sebagai pemimpin. Ia seorang pembantai, hanya dengan kostum yang teatral: aktor tunggal dalam sebuah teater kekejaman.

Tapi dibutuhkan sesuatu yang lebih hingga runtuh satu legitimasi dan jatuh seorang diktator. Apa gerangan yang akan terjadi dengan Qadhafi: gagalkah ia bertahan dengan ”darah & besi”? Butuhkah ia diakui sebagai seorang yang beradab? Jangan-jangan tidak. Jika ia begitu kuat dan begitu tak peduli, Libya akan tetap ditundukkannya.

Sebab tak semua perlawanan nonkekerasan berakhir bahagia. Apalagi jika yang disebut ”berhasil” bukanlah hanya makzulnya seorang penguasa, tapi hadirnya sebuah kekuasaan lain berdasarkan ahimsa. Prinsip ini memang berakar dari kata ”tak melakukan tindakan yang mencederai”. Tapi ia juga bagian dari sikap yang menampik untuk membenci apa pun, berdusta, dan mengutarakan kata-kata bengis.

Betapa tak gampang….

Dalam perjuangan merebut hak-hak asasi kaum Hitam di Amerika Serikat yang dipimpin Martin Luther King, yang tak gampang itu ternyata berbuah. Sebagaimana Gandhi berhasil. Tapi tak semua berakhir dengan kemenangan, baik dalam kekuasaan maupun dalam nilai-nilai.

Di Cina, para pemuda memprotes Partai Komunis yang berkuasa hanya dengan pengeras suara, patung darurat, dan sikap nekat. Kita ingat potret jurnalistik yang termasyhur itu: seseorang berdiri sendiri di tengah jalan menyetop barisan tank yang menderu ke Tiananmen. Tapi Partai yang berkuasa bersikeras. Entah berapa puluh orang tewas dibabat. Protes punah; kekuasaan tegak, malah makin kukuh.

Contoh lain di Iran. Para demonstran dalam revolusi ini tak menembakkan pistol atau melemparkan granat. Mereka hanya dengan berani berseru-seru. Syah akhirnya jatuh, Ayatullah Khomeini naik. Tapi, setelah itu, kekuasaan yang menggantikannya dengan rajin menghukum mati kawan-kawan revolusinya sendiri. Ahimsa—dikembangkan Gandhi dari tradisi Veda, Jainisme, dan Buddhisme—tak ada dalam tradisi Islam. Ahimsa tak menang di Iran.

Ataukah Gandhi sebuah perkecualian yang mujur? Kaum sosialis dari pelbagai penjuru dunia, dari Jawaharlal Nehru sampai George Orwell, novelis dan esais itu, tak menganggap sang Mahatma begitu suci. Orwell (yang pernah bekerja sebagai polisi kolonial) menulis bahwa pemerintah kolonial Inggris sengaja tak hendak menghancurkan Gandhi. Mereka takut, bila penganjur ahimsa ini lenyap, akan tampil para militan yang lebih menyukai bom. Gandhi sendiri tak selamanya konsisten, kata para pengkritiknya pula. Ahimsa asas yang terlalu luhur bagi dunia yang berdosa.

Tapi jangan-jangan kita berlebihan. Perjuangan politik bukanlah drama moralitas tentang yang ”luhur” dan yang ”berdosa”. Ahimsa sebuah strategi, dan tiap strategi bisa keliru. Jika ada yang tak keliru, itu adalah keberanian untuk berkata ”tidak” kepada yang lalim tapi punya bedil. Di dalamnya ada keberanian untuk gugur dan gagal.

Goenawan Mohamad

Revolusi

Senin, 21 Februari 2011

Revolusi tak bisa difotokopi. Revolusi tak bisa dipesan. Mungkin ini kesimpulan sejak revolusi pertama dalam sejarah modern.

Pada usia 20, Lafayette, aristokrat dari Auvergne, Prancis Selatan, itu berangkat ke Amerika. Ini tahun 1777, ketika belum ada harapan bagi perjuangan orang Amerika untuk membebaskan diri dari penjajahan Inggris. Saat itu Raja Prancis tak mengizinkan siapa pun bergabung dengan revolusi di ”benua baru” itu. Tapi Lafayette punya kenekatan, ambisi, dan cita-cita luhur. Hatinya berkobar dengan keyakinan yang disuratkan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Ia pun berangkat dari pantai Spanyol dengan menyamar sebagai seorang perempuan.

Akhirnya—setelah menyatakan diri tak hendak menerima bayaran sepeser pun—ia diterima bergabung dengan tentara pembebasan yang dipimpin George Washington. Di antara pasukannya yang berpakaian berantakan, Jenderal Amerika itu menyambut pemuda Prancis yang kurus itu dengan hormat: ”Kami harus merasa malu, mempertontonkan diri di depan seorang perwira yang baru saja meninggalkan pasukan Prancis.” Lafayette menjawab: ”Untuk belajar, dan bukan mengajar, saya datang kemari.”

Dan Lafayette memang belajar banyak, melalui perang, luka, intrik politik—dengan gairah yang tak kunjung menciut. Ia kembali ke Prancis setelah empat tahun bertempur. Beberapa tahun kemudian ia terlibat langsung dengan Revolusi Prancis.

Pada 11 Juli 1789, dialah—yang darah birunya berasal dari kelas bangsawan lama—yang pertama kali mengajukan rancangan ”Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara”: ”Manusia dilahirkan sama-rata dalam hak-haknya, dan tetap demikian adanya….” Dalam dokumen Prancis itu, terasa gema Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang ditulis 13 tahun sebelumnya—gema sesuatu yang kemudian terbukti universal.

Tapi kita tahu, Revolusi Prancis berakhir tak sama dengan Revolusi Amerika. Bung Karno pernah mengatakan, tak ada model revolusi yang ”ready-for-use”. Masyarakat bisa diubah dengan satu desain, tapi tak akan bisa sepenuhnya terpenuhi. Sejarah dan geografi yang berbeda-beda tak mudah diutak-atik. ”Manusia memang membuat sejarah,” demikian kata-kata Marx yang terkenal dari tahun 1851, ”tapi di bawah kondisi yang bukan dipilihnya sendiri.”

Maka Rusia, dengan cita-cita pembebasan universal, tak bisa menyamakan kondisi Cina untuk melihat lahirnya sebuah revolusi sosialis. Jalan Mao berbeda dengan jalan Stalin. Bahkan pada akhirnya keduanya bertentangan. Rusia, Cina, Yugoslavia, Korea Utara, Kuba, dan lain-lain: revolusi tak bisa difotokopi.

Tapi ia bisa menjalar. Di abad ke-20 ia menjalar ke Asia, Afrika, Amerika Latin. Kini, di awal abad ke-21, tampak ia berjangkit dari Tunisia, Mesir, Aljazair, Bahrain, Libya….

Mengapa? Menulis tentang gemuruh yang terjadi di Alun-alun Tahrir, Kairo, bulan ini, Slavoj Žižek menyimpulkan: pemberontakan ini universal. Seperti Lafayette tergerak Revolusi Amerika, ”Semua kita di seluruh dunia dengan segera tak mustahil menyamakan diri dengannya.”

Yang menarik, Žižek melihat kontras pemberontakan di Mesir dengan ”revolusi Khomeini” di Iran. Di sana, kaum kiri harus ”menyelundupkan pesan mereka ke dalam kerangka yang paling kuat, yakni Islam.” Sebaliknya, di Alun-alun Tahrir, ”kerangka itu jelas merupakan satu seruan sekuler yang universal untuk kebebasan dan keadilan.” Justru Ikhwanul Muslimin, kata Žižek, ”menggunakan bahasa tuntutan sekuler.”

Kata ”sekuler” di sini tampaknya sama dengan ”tak didominasi pandangan agama apa pun” dan sebab itu ”universal”, menyentuh siapa saja, di mana saja. Tapi mampukah sebuah revolusi berhasil tanpa seruan yang universal?

Žižek salah. Di Iran, sebenarnya kerangka Islam itu juga punya sifat-sifat universal. Kita menemukannya dalam pemikiran Ali Shariati dan Mehdi Bazargan. Yang tragis ialah bahwa bersama tenggelamnya peran pemikiran Ali Shariati dan tersisihnya orang seperti Bazargan, kian terputus pula pertalian peninggalan Khomeini dengan yang universal: ”Islam” menjadi hanya ”kami”, tak lagi ”kita”.

Tapi apa boleh buat: revolusi bukan sekadar penjelmaan ”ide yang abadi” (kata-kata Žižek) tentang kemerdekaan dan keadilan. Revolusi meletus dari kehidupan yang tak terkait dengan langit. ”Hak untuk mempunyai hak” tak diberikan satu kekuasaan yang ada dari luar sejarah. Hak itu ditegakkan atau direbut mereka yang merasa terjepit.

Itu sebabnya revolusi tak bisa dipesan. Seperti puisi, revolusi punya saatnya sendiri untuk lahir. Ia buah yang panas dari kemarahan yang otentik dan antagonisme yang mendalam.

Tapi selalu jadi cacat dalam tambo manusia: dalam proses itu, pergeseran dari ”kita” ke ”kami” tak terelakkan. Revolusi harus mengukuhkan batas antara ”kami” dan ”mereka”—dan di situ, ”kita” ditiadakan.

Dengan kata lain, ada pembungkaman yang terjadi, ketika yang universal—kemerdekaan, keadilan, harga diri—dilembagakan dalam program partai, ideologi negara, atau hukum. Kaum revolusioner akan harus menentukan siapa yang masuk kemerdekaan, keadilan, dan harga diri itu dan siapa yang harus dikeluarkan.

Akan demikian jugakah gemuruh di Alun-alun Tahrir itu?

Karim, seorang demonstran muda, menyebut lapangan itu sebuah ”utopia kecil”. Tapi utopia, dalam arti harfiahnya, terdiri atas kata ou dan topos, ”bukan + tempat”. Ia jejak dari satu kejadian yang akan segera hilang. Mereka yang cemas perlu mengerahkan kesetiaan yang besar untuk selalu merebut kembali yang hilang itu.

Maka Lafayette tak berhenti di satu sisi Lautan Atlantik—dan namanya tak tenggelam hanya sampai di abad ke-18. Revolusi tak bisa difotokopi, tapi ia tak pernah selesai.

Goenawan Mohamad

Komunisme

Senin, 24 Januari 2011

Jika komunisme adalah masa lalu, ketakutan kepadanya setali tiga uang dengan nostalgia. Tapi haruskah ide ini hanya disikapi demikian, bila ia adalah impian yang tak pernah lapuk oleh cuaca yang berganti?

Kita bersua dengan Gonzalo: tokoh dalam lakon Shakespeare, The Tempest (diterjemahkan Trisno Sumardjo sebagai ”Prahara”). Ia penasihat Raja Alonso dari Napoli. Di tengah kelicikan dan tipu-menipu politik, orang tua ini tetap baik hati. Sejak awal lakon kita tahu ialah yang menolong Prospero dan putrinya ketika mereka dihanyutkan ke laut. Ia juga yang merayakan perdamaian di antara para bangsawan yang bertikai—orang-orang serakah dan mendendam yang akhirnya bertemu kembali di pulau yang penuh sihir itu.

Tapi yang penting dalam percakapan kita kini: Gonzalo punya sebuah bayangan tentang masyarakat yang dalam wayang purwa digambarkan oleh ki dalang sebagai gemah ripah loh jinawi, thukul kang sarwo tinandur. Di sana alam menghasilkan apa saja yang dibutuhkan dan orang tak berkekurangan:

… nature should produce

Without sweat or endeavour… and should bring forth,

Of its own kind, all foison, all abundance,

To feed my innocent people.

Di sana orang tak perlu bekerja, ”all men [are] idle.” Tak ada perebutan. Tak ada sengketa. Tak ada pengadilan yang menengahi sengketa: ”No name of magistrate.” Dan dengan demikian tak perlu ada raja yang berdaulat yang menjaga agar peradilan efektif: ”No sovereignty.”

Dalam kata-kata Marx dua abad kemudian, itulah masyarakat komunis, masyarakat di mana ”Negara”—sebuah instrumen pemaksaan—tak dibutuhkan lagi, sebab tak ada lagi konflik di antara kelompok sosial. Tingkat komunisme tercapai, kata Marx, bersama dengan saat Negara ”melapuk-lenyap”, der Staat stirbt ab.

Bagaimana menyiapkan keadaan yang seperti itu tak dijelaskan Marx. Ia tak hendak menuliskan ”resep bagi toko masakan masa depan”, seperti dikatakannya dalam pengantar Das Kapital edisi kedua. Memang ada gagasan agar alat-alat produksi dikuasai bersama oleh masyarakat, hingga hasilnya tak terganggu krisis. Tapi haruskah untuk gemah ripah itu manusia mengikuti agresivitas kapitalisme, karena—seperti disebutkan Manifesto Komunis—kaum borjuislah yang terbukti berhasil mengubah dunia?

Terry Eagleton, yang menyumbangkan satu tulisan yang segar untuk buku The Idea of Communism yang disusun Costas Douzinas dan Slavoj Žižek (terbitan Verso, 2010), mengetengahkan satu paradoks.

Di satu pihak, komunisme menghendaki satu tingkat di mana orang dapat ”memperoleh sesuai dengan yang dibutuhkannya, dan menyumbang sesuai dengan kemampuannya”. Ini berarti satu keadaan sosial yang merupakan, dalam kata-kata Eagleton, ”buah produktivitas yang intensif”. Di lain pihak, komunisme juga merupakan penentang dari desakan produktivitas yang tak sehat (”patologis”) itu: desakan yang kini terbukti merusak alam dan menindas manusia di bawah regimentasi kerja.

Dalam paradoks itu, pemecahan model imajinasi Gonzalo bukanlah melihat manusia sebagai sumber produktivitas. Yang produktif alam. Manusia cuma pasif menampung kedermawanan bumi: ”all men [are] idle” seperti telah dikutip tadi. Manusia yang agresif adalah pangkal kekejian, bukan saja terhadap air, pohon, fauna, udara. Manusia jadi tak peka akan nasib tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Bagi Gonzalo yang lembut hati, manusia yang baik adalah manusia yang ramah dan menghargai momen bermain bersama.

Tapi komunisme semacam itu, seperti dikatakan Eagleton, bukanlah yang dilahirkan kaum pekerja. Komunisme semacam itu hanya diyakini seorang Oscar Wilde, seniman pesolek yang menyukai hidup sebagai keindahan dan keasyikan: komunisme yang berlangsung antara jamuan makan malam.

Sayangnya, sebuah masyarakat senantiasa hidup dalam kondisi keterbatasan, dan dengan itu mengatasi keterbatasan. Di sini Eagleton mengemukakan satu tokoh lain dari Shakespeare: Lear.

Raja ini meninggalkan takhta yang diperebutkan dengan bengis oleh putri-putrinya. Ia mengembara di tengah alam yang dingin, muram, hampa. Di situ, katanya, pengemis yang paling papa pun seakan-akan berlebih, dan hidup manusia demikian murahnya: ”Man’s life is cheap as beast’s.”

Hidup murah di sini berarti hidup yang tak memerlukan banyak. Dari Lear pun kita menyadari makna keterbatasan—bukan dari petuah-petuah agama tentang manusia yang daif dan Tuhan yang Akbar, melainkan dari tubuh yang hampir telanjang, tersisih, tak punya apa-apa.

Dari keterbatasan itu terbitlah rasa bersama. Demikianlah raja tua itu menyeru, anehnya dalam keadaan hampir gila, sesuatu yang menggugah, seakan-akan suara khotbah lain dari bukit: ”Expose thyself to feel what wretches feel”—sebuah seruan untuk solidaritas kepada yang nestapa.

Saya kira lewat kalimat-kalimat dalam King Lear itu Shakespeare berbicara kepada para penonton di teater The Globe, di tepi Sungai Thames, London, di masa ketika ketimpangan sosial awal abad ke-17 begitu tajam. Lewat mulut Lear ia menghujat ”orang yang serba berlebih dan hidup dari nafsu” (”the superfluous and lust-dieted man”). Melalui Lear juga ia mengimbau agar kekayaan yang berlimpah ruah itu didistribusikan, hingga tiap orang berkecukupan:

So distribution should undo excess,

And each man have enough

Jika itu adalah ide ”komunisme”, ia memang lebih tua ketimbang Marx. Dan saya kira, tanpa Marx, seruan Lear dan impian Gonzalo akan berlanjut. Kadang-kadang dengan ketakutan. Kadang-kadang dengan nostalgia.

Goenawan Mohamad

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.