This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah kehancuran kaum terdahulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kehancuran kaum terdahulu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

KEHANCURAN KAUM TERDAHULU

By: admin in Uncategorized

Kehancuran sebuah kaum itu disebabkan adanya percampuran metode antara yang haq dengan yang bathil. Padahal kebathilan itu akan menyebabkan kerusakan. Kesyirikan dan pengabaian akan hukum Allah menyebabkan peradaban menjadi jauh dari kedamaian, keteraturan, ketentraman, kema̢۪muran, dan kebahagiaan. Kesyirikan dan pengabaian hukum Allah akan menyuburkan peradaban jahil, biadab, rusak dan sengsara.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui? (Q.S. Ali Imran: 71)

Berapa banyak kaum yang mengalami kehancuran disebabkan mereka mengabaikan dan mengingkari ajaran Allah? Berapa banyak pribadi-pribadi yang binasa disebabkan mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil? Maka dari itu, untuk meraih kesuksesan yang diharapkan, kita harus membersihkan hati dan diri kita dari niat dan metode yang bathil.

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al-An̢۪am: 82)
Â

KEHANCURAN BANGSA SHODDUM

Rusaknya bangsa Shoddum adalah disebabkan mereka melakukan homosex. Hal itu adalah perbuatan yang sungguh keji. Perbuatan seperti itu sangatlah tidak sesuai dengan keadaan tubuh manusia. Hubungan sex seperti itu dapat menimbulkan penyakit dan mengurangi pertumbuhan populasi manusia. Jika perbuatan ini dilakukan semua manusia, maka manusia dapat mengalami kepunahan.

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (Q.S. Al-A’raf: 80-81)

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Q.S. Al-A̢۪raf: 84)
Â

KEHANCURAN BANGSA MADYAN

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (Q.S. Al-A’raf: 85)

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu`aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di
kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu`aib mereka itulah orang-orang yang merugi.
(Q.S. Al-A̢۪raf: 91-92)
Â

KEHANCURAN BANGSA MESIR

Bangsa Mesir pada masa Pharao Ramses II mengalami kehancuran yang telak. Hal itu disebabkan pemerintahan yang bathil dan zhalim. Mereka menjadikan Pharao (Fir̢۪aun) sebagai Tuhan atau dewa. Fir̢۪aun lebih ingkar dibandingkan Iblis. Sebab Iblis saja tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Anfal: 54)

TAKHYUL

Takhyul merupakan keyaqinan yang tidak berdasar pada kebenaran. Keyakinan takhyul itu tidak memiliki bukti yang dapat diterima aqal, tidak logis. Contoh keyaqinan takhyul ini adalah perkataan orang yang menyatakan bahwa alam ini terbentuk dengan sendirinya tanpa diciptakan, tanpa mengalami ketiadaan, dan akan tetap ada. Ini adalah takyul orang-orang Yunani yang dihidupkan kembali oleh Charles Darwin dan para pendukungnya. Adapun Islam adalah ajaran yang logis, dapat diterima aqal. Islam itu sesuai fitrah. Walau Al-Qur`an bukanlah kitab pengetahuan, tetapi di dalam Al-Qur`an ada ‘cetak biru’ dari penciptaan segala makhluq. Barangsiapa ingin mengetahui tentang alam semesta bacalah Al-Qur`an, barangsiapa yang ingin mengetahui hukum yang berlaku pada alam semesta, bacalah Al-Qur`an, barangsiapa yang ingin selamat dunia akhirat, bacalah Al-Qur`an.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Q.S. Al-Baqarah: 170)
Â

HEDONISME

Dahulu ada sebuah kota/polis di Yunani yang bernama Hedon. Penduduk polis tersebut begitu gemar dengan kesenangan duniawi. Bahkan mereka tidak pernah menyembah dewa mereka. Mereka begitu asyik dengan kehidupan berhura-hura. Mereka tidak terlalu memperhatikan kehidupan religius. Dalam fikiran mereka hanya ada hura-hura dan kesenangan duniawi belaka. Itulah sebabnya gaya hidup yang cenderung kepada hura-hura dan kesenangan duniawi belaka biasa disebut hedonisme.

Hedonisme merupakan racun yang samar dan mudah merasuki ummat manusia. Sebab, penyebarannya bukan melalui doktrin seperti Darwinisme dan Marxisme yang membutuhkan pemikiran. Hedonisme tidak melibatkan teory-teory, tetapi ia melibatkan emosi dan nafsu. Sudah sifat manusia suka mencontoh dari apa yang ia lihat. Sewaktu yang sering dilihat itu baik, maka tidak mengapa jika ia meniru yang demikian. Tetapi, di zaman teknologi informasi seperti sekarang, kita lebih sering disuguhkan kehidupan bermewah-mewah, berhura-hura, dan kesenangan duniawi. Hasilnya, pemuda muslim terjerembab dalam perangkap Yahudi dan Nashara yang selalu berusaha agar ummat Islam mengikuti cara-cara dan
gaya hidup mereka.

Pemuda muslim yang telah terserang virus hedonisme tidak lagi peduli dengan ibadah dan kehidupan akhirat. Mereka terjebak dalam kesenangan duniawi yang melalaikan. Terjauh dari Allah. Terkikis rasa kehambaan dalam hati mereka. Rasa malu untuk berbuat ma̢۪syiat diganti dengan rasa malu untuk berbuat tha̢۪at. Mereka takut dibilang kolot and nggak gaul jika ketahuan melakukan ibadah ritual. Mereka takut dibilang nggak funky kalau berpakaian yang menutup aurat. Sebaliknya mereka tidak segan untuk masuk ke diskotik hanya untuk disebut anak gaul. Mereka senang jika dibilang
funky disebabkan mengenakan pakaian yang ngablak and ketat.

Rencana Yahudi untuk memanfaatkan TV sebagai alat perang sudah menampakkan hasil yang gemilang. Kini manusia lebih mementingkan pujian manusia daripada pujian dari Allah. Mereka lebih suka bergaul dengan manusia-manusia lalai daripada bermesra dengan Allah. Mereka terjebak dalam cinta nafsu dan terjauh dari cinta suci. Sungguh
malang nasib generasi ini.

Tidak ada jalan keluar, kecuali dengan kembali kepada Allah. Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Meninggalkan kebiasaan dan pergaulan buruk. Kembali kepada ajaran Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah sangat senang menerima taubat hambanya melebihi senangnya orangtua yang menerima kembali anaknya yang telah lama lari dari rumah. Pintu taubat selalu terbuka sebelum matahari terbit dari barat. Pintu taubat masih terbuka sebelum sakaratul maut tiba. Adakah Anda tahu bagaimana cara Anda mati? Adakah Anda tahu ke mana Anda akan ditempatkan? Adakah Anda tahu kapan ajal menjemput? Bisa jadi tulisan ini adalah nasihat terakhir bagi Anda sebelum malaikat maut datang menyapa Anda. Wallahu a̢۪lam.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Q.S. Al-Baqarah: 120)

Letusan Gunung Vesuvius, pada Peradaban Pompeii

http://tymask.files.wordpress.com/2009/05/pompeii_03.jpg?w=491&h=369

Letak Vesuvius

Hari ini hampir 2000 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 24 Agustus tahun 79, terjadi letusan dahsyat gunung Vesuvius tak jauh dari ujung selatan Italia. Konon letusan itu adalah yang pertama setelah gunung api tersebut tertidur lelap selama berabad-abad.

Gunung Vesuvius yang menurut legenda berarti “Putra Ves/Zeus” alias Hercules, terletak di kawasan Campagnia dekat Teluk Napoli, tak jauh dari kota industri dan perdagangan Pompeii yang ketika itu berpenduduk lebih dari 20 ribu jiwa. Tak jauh dari sana juga terdapat kota peristirahatan musim panas, Herculaneum, yang dipenuhi villa, pemandian ala Romawi, dan tak lupa perjudian. Di sekitarnya dapat dijumpai perkebunan anggur yang luas, juga beberapa kota kecil seperti Stabiae.

http://ethnology.files.wordpress.com/2010/04/ve3d-vesuvius_1.jpg?w=500

Letusan pada tahun 79 ini diawali oleh sebuah gempa besar pada tahun 62. Tetapi bangsa Romawi pada masa itu tidak menghubungkan gempa dengan aktivitas gunung berapi. Mungkin ini karena mereka, terutama di Campagnia, sudah terbiasa dengan banyaknya getaran dan goncangan bumi, kecil dan besar.

Menjelang tengah hari tanggal 24 Agustus, Vesuvius meledak, menghamburkan gumpalan abu tebal yang bisa digambarkan menyerupai jamur atau pohon cemara. Seperti digambarkan Pliny The Younger, filsuf yang sedang berada di Teluk Napoli pada saat letusan terjadi, dalam suratnya kepada Tacitus, abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi. Tinggi semburan ini diduga mencapai 30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudian, Pompeii seperti dilapisi abu dan kerikil vulkanis setebal beberapa sentimeter.

http://i624.photobucket.com/albums/tt327/deathnotekira77/800px-Vesuvius_from_Pompeii.jpg

Penduduk Pompeii panik dan mulai mengungsi ke luar kota, menyisakan 2000 orang yang masih bertahan dalam lubang-lubang persembunyian menanti letusan gunung berakhir. Tapi selambat-lambatnya pada keesokan harinya, mereka tewas karena keracunan setelah menghirup gas dan abu vulkanis.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBl7_nQ5A497vnsNDOVztg8BXGoHA1-KFHlmbGq91UeEhWz-qJ98O210kp29_0WcTqUwbRBaKk6y93mAxdSsddDKMPNmxh_opkT2qsqbmhnQPlLiXOC7P6-Ybr8xPhKaVTOCgcmWhjfPpk/s1600/pompeii_temple_of_jupiter.jpg

Sementara Herculaneum sementara masih terselamatkan pada fase awal karena angin bertiup dari arah Barat. Tetapi penduduk Herculaneum yang sesungguhnya terletak lebih dekat dengan Vesuvius, tak sempat lega terlalu lama. Gumpalan abu dan gas diikuti oleh letusan lava dan bebatuan menenggelamkan kota itu hingga lebih dari 20 meter. Suhu yang mencapai 400 derajat Celcius membuat benda organik seperti tubuh manusia menghangus, atau bahkan meledak.

Berikut beberapa gambar korban Vesuvius :

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0nYJj-xtbCwQsOduEHToowu0kk5RT5uida-yo4baF_w3Bb3UXUAlEKxCU_V3j1DNgI-ghbXFWL7in_tQvZxcXCUpfphRjKyZOreGkroc6QxOrv1ZAC4maqPZeViXWuSKblgbhUcNZErmS/s320/Pompeii+2.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuDv77KHXqfF1AF_p8TTabsIx5cSG1eEtCBlpS_4J4Ujli2DCAiwU-MbMbW216tquQRIFtaMxsDhkhRpFBL1lyQWde0r38HZZ6j60jbpm_wpBfnMVnuxCmR9qcqhv_NAFhhUi4jQsHDaE/s320/KOrban+Pompeii.jpg

http://misteridunia.files.wordpress.com/2008/09/pompeii.jpg?w=288&h=384

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZOSSZJRYAYG0JDzMK3ioAqLc2H66sBDAvQTnrPFdJ1DmlBRdYjdz3Lhxbu5td2vfMh2W9iy-uySlKMOWB49h_2sbFQhNRGxBV3665R9VsHkuD1QEQmehYJOBeIy-4ESIwcJf6spWqbwlH/s1600/pompeii-dead.jpg

http://www.nationalgeographic.com/history/ancient/images/sw/pompeii-victim-50657432-sw.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigMzXguVau1ngwxRrbEi48Xq2B5oDl49kiqAkvs84OlWFm6oQ20JyZOEIDY-EJ0ajRfqQrQzZ4Qy86RS7qHlUJwF_DbqqdlLy0UKvNZDX-z0JohQuiCVZ2mHCHeIHgiKA6tkXzsp9q5hY/s400/pompeii.jpg

http://www.cosmogirl.co.id/files/teasercontent/teaser__090203135635.jpg

Letusan berlangsung selama hampir 24 jam, di mana Vesuvius melepaskan 4 kilometer kubik kandungannya, terutama abu dan bebatuan. Kawasan yang menderita kerusakan paling parah adalah kawasan di selatan dan tenggara gunung itu. Jumlah keseluruhan korban yang meninggal dunia mencapai 10 ribu orang.

Pompeii dan Herculaneum ternyata tak pernah dibangun kembali oleh para -bekas- penduduknya yang selamat, hingga secara kebetulan ditemukan kembali pada abad ke-18. Tetapi Vesuvius kini masih berdiri tegak. Ia masih sempat meletus puluhan kali hingga terakhir kalinya pada tahun 1944. Walaupun tinggi puncaknya saat ini hanya 1281 meter dari permukaan laut, satu-satunya gunung berapi benua Eropa yang masih aktif ini akan selalu mengingatkan akan ganasnya alam yang dapat memusnahkan sebuah kota.

***

Dan kita, penduduk Indonesia, sewajarnya juga mengingat bahwa gunung-gunung berapi di sekitar kita harus selalu diwaspadai aktivitasnya. Terlebih lagi, karena Indonesia masih memegang rekor jumlah korban tewas terbanyak akibat letusan gunung berapi, yaitu letusan Gunung Tambora (Sumbawa, April 1815) yang mengambil 92 ribu jiwa.

Peristiwa Pompeii : Mengulang Sejarah Kaum Terdahulu


“MENGULANG SEJARAH KAUM NABI LUTH AS !!”

Alqur’an mengisahkan kepada kita bahwa tidak ada perubahan dalam hukum ALLAH (sunnatullah):

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah mereka kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu” (QS. Al-Faathir, 35:42-43).

Begitulah, “…sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah…”.

Siapapun yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya akan terkena sunatullah yang sama. Pompeii, yang merupakan simbol dari degradasi akhlaq yang dialami kekaisaran Romawi, adalah pusat perzinaan dan homoseks. Nasib Pompeii mirip dengan kaum Nabi Luth. Kehancuran Pompeii terjadi melalui letusan gunung berapi Vesuvius.

Gunung Vesuvius adalah simbol negara Italia, khususnya kota Naples. Gunung yang telah membisu sejak dua ribu tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Tentunya pemberian nama ini bukanlah tanpa sebab. Adzab yang menimpa penduduk Sodom dan Gommorah, yakni kaum Nabi Luth as, sangatlah mirip dengan bencana yang menghancurkan kota Pompeii.

Di sebelah kanan gunung Vesuvius terletak kota Naples, sedangkan kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut. Lava dan debu dari letusan maha dasyat gunung tersebut yang terjadi dua milenia yang lalu membumihanguskan penduduk kota. Malapetaka itu terjadi dalam waktu yang sangat mendadak sehingga menimpa segala sesuatu yang ada di kota termasuk segala aktifitas sehari-hari yang tengah berlangsung. Aktifitas yang dilakukan penduduk dan segala peninggalan yang ada ketika bencana terjadi kini masih tertinggal persis sama seperti ketika bencana tersebut terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu tidak bergeser dari tempatnya.

Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

Dalam konteks ini, terdapat aspek dari bencana tersebut yang sangat sulit untuk dimengerti. Bagaimana bisa terjadi ribuan manusia tertimpa maut tanpa melihat dan mendengar sesuatu apapun?

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an, sebab Alqur’an secara khusus mengisyaratkan “pemusnahan secara tiba-tiba” ketika mengisahkan peristiwa yang demikian ini. Misalnya, “penduduk suatu negeri” sebagaimana disebut dalam surat Yaasiin ayat 13 musnah bersama-sama secara keseluruhan dalam waktu sekejap. Keadaan ini diceritakan sebagaimana berikut:

“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (QS. Yaasiin, 36:29)

Di surat Al-Qamar ayat 31, pemusnahan dalam waktu yang singkat kembali disebut ketika kehancuran kaum Tsamud dikisahkan:

“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.”

Kematian masal penduduk kota Pompeii terjadi dalam waktu yang sangat singkat persis sebagaimana adzab yang dikisahkan dalam kedua ayat di atas.

Kendatipun semua peringatan ini, tidak banyak yang berubah di wilayah di mana Pompeii dulunya pernah ada. Distrik-distrik Naples tempat segala kemaksiatan tersebar luas tidaklah jauh berbeda dengan distrik-distrik bejat di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat di mana para kaum homoseksual dan nudis (orang-orang yang hidup telanjang tanpa busana) tinggal. Pulau Capri diiklankan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata. Tidak hanya di pulau Capri dan di Italia, bahkan hampir di seantero dunia, kerusakan moral tengah terjadi dan sayangnya mereka tetap saja tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami kaum-kaum terdahulu.

Pelajaran Dari Umat Terdahulu, Kehancuran Umat Nabi : Nuh, Hud, Shalih


PELAJARAN DARI UMAT TERDAHULU


Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi



Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak merubah keadaan suatu kaum yang berada dalam kenikmatan dan kesejahteraan, sehingga mereka merubahnya sendiri. Juga tidak merubah suatu kaum yang hina dan rendah, kecuali mereka merubah keadaan mereka sendiri. Yaitu dengan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarnya kepada kemulian dan kejayaan. Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." [Ar-Ra'd/13:11].

Dalam ayat yang mulia ini terkandung penjelasan, bahwasanya semua perkara di seluruh dunia ini terjadi dengan taqdir dan perintah-Nya. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan sunnah- sunnah kauniyah dan syari'at dalam merubah nasib suatu kaum. Sehingga umat yang menjalankan sunnah-sunnah kauniyah dan syari'at untuk kejayaan, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala merubahnya menjadi jaya. Demikian juga sebaliknya, apabila mereka menjalankan sunnah-sunnah Allah untuk kerendahan dan kehinaan, maka Allah menjadikan mereka hina dan rendah. Hal ini telah terjadi pada umat-umat terdahulu, yang semestinya menjadi pelajaran bagi umat manusia pada zaman sesudahnya.KEHANCURAN UMAT NABI NUH
Manusia hidup beberapa kurun setelah Adam. Mereka bersatu dan berjalan di atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, hingga kemudian terjadi penyimpangan di kalangan mereka. Yaitu mereka melakukan penyembahan kepada patung orang-orang shalih yang bernama Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya'uq dan Nasr. Maka diutuslah seorang nabi ke tengah mereka, yang dikenal dengan kejujuran, sifat amanah dan kemuliaan akhlaknya. Yakni Allah mengutus Nabi Nuh Alaihissalam, untuk mengajak kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah. Allah berfirman :

"Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya adzab yang pedih". Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". [Nuh/71:1-4]

Namun ajakan Nabi Nuh Alaihissalam ini disambut dengan hinaan dan hujatan, bahwa beliau sudah sesat. Diceritakan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat)". Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata". [Al A'raf/7:59-60]

Lalu Nabi Nuh Alaihissalam pun memberikan jawaban, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Artinya: Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun, tetapi aku adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat". [Al A'raf/7:61-63].

Namun mereka tetap mendustakan dan kufur terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala , hingga kemudian Allah selamatkan Nabi Nuh beserta pengikutnya dan tenggelamkan orang-orang yang membangkang. Allah menceritakan dalam firman-Nya :

"Artinya: Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)". [Al A'raf/7:64]

KEHANCURAN UMAT NABI HUD
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Hud Alaihissalam kepada kaum 'Ad yang menghuni daerah al Ahqaf di sekitar Hadhramaut, Yaman. Suatu kaum yang dikaruniani kelebihan dalam hal kekuatan, perawakan dan kekuasaan, namun mereka berbuat syirik dan melakukan kediktatoran, kezhaliman dan menjajah hamba-hamba Allah. Kaum 'Ad berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami". [Fushshilat/41:15]

Allah mengisahkan perdebatan antara Nabi Hud Alaihissalam dengan kaumnya dalam firman-Nya dalam surat al A'raf/7 ayat 65-71 :

"Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal, dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta".

Hud berkata: "Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu".

Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami, maka datanglah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar".

Ia (Hud) berkata: "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenekmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu".

Bahkan mereka menantang didatangkan adzab Allah sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :

"Artinya: Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) ilah-ilah kami? Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar". [Al Ahqaf/46:22].

Setelah itu Allah mendatangkan adzab yang membentang di ufuk pada waktu mereka sangat membutuhkan hujan. Datanglah awan yang mereka anggap sebagai tanda datangnya nikmat hujan yang mereka nantikan, namun ternyata adalah adzab Allah kepada mereka. Allah berfirman :

"Artinya: Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami".(Bukan)! Bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." [Al Ahqaf/46:24-25].

Dalam ayat lain, yaitu dalam surat al Haqqah ayat 6 – 8, Allah menjelaskan keadaan mereka :

"Artinya: Adapun kaum 'Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.

Syaikh 'Abdurrahman as-Sa'di mengatakan, setelah mereka menguasai dunia dan mencapai kemulian, semua kebutuhan hidup terpenuhi, daerah dan kabilah di sekelilingnya tunduk kepada mereka, tiba-tiba Allah mengirim angin yang sangat dingin dan kencang saat hari-hari bencana tersebut agar mereka merasakan kehinaan di dunia, dan adzab akhirat lebih menghinakan lagi. [1]

Kaum Nabi Hud Alaihissalam dihancurkan Allah dengan angin yang sangat kencang dan dingin selama tujuh malam delapan hari, disebabkan kekufuran dan kemaksiatan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.

KEHANCURAN UMAT NABI SHALIH
Kaum Tsamud adalah satu suku terkenal yang tinggal di daerah al Hajar yang berada antara al Hijaz dengan Tabuk. Mereka adalah kaum setelah kaum 'Ad dan menyembah berhala.

Tempat tinggal mereka terkenal sebagai daerah agraris. Mereka bercocok tanam dan beternak. Mereka betul-betul dipenuhi dengan kenikmatan, sehingga mereka membuat istana-istana yang megah di dataran, dan daerah perbukitan mereka bentuk rumah-rumah yang dipahat dengan indahnya. Namun mereka mengkufuri nikmat tersebut dan menyembah selain Allah. Kemudian Allah mengutus Nabi Shalih yang telah terkenal nasabnya, kedudukannya yang tinggi, kemulian akhlaknya, kejujuran dan amanahnya untuk menyeru kepada tauhid dan meninggalkan sesembahan selain Allah.

Mendengar seruan Nabi Shalih ini, mereka melakukan penolakan terhadap ajakan beliau. Allah menceritakan dalam firman-Nya :

"Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shalih. Ia berkata:

"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabbmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih".

"Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan".

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahwa Shalih diutus (menjadi rasul) oleh Rabbnya?"

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya,"

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu," kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb. Dan mereka berkata: "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". [Al A'raf/7:73-77]

Kemudian Nabi Shalih menjawab: "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan". - [Hud/11 ayat 65]. Mendengar seruan itu, mereka pun berkeinginan membunuh Nabi Shalih sebagaimana membunuh onta tersebut. Allah menceritakan dalam firman-Nya :

"Artinya : Mereka berkata: "Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar". [An-Naml/27:49]

Maka Allah menjawab dengan firman-Nya :

"Artinya: Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezhaliman mereka. Sesungguhnya pada demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui ". [An-Naml/27:50-52]

Allah mengirimkan batu besar kepada orang-orang yang bermaksud membunuh Nabi Shalih, dan menimpa mereka, sehingga mereka semua binasa sebelum kebinasaan kaumnya. Sedangkan kaum Tsamud, mereka menunggu tiga hari setelah peringatan Nabi Shalih, dimulai hari Kamis. Pada pagi hari Ahadnya, mereka bersiap-siap dan duduk menunggu apa yang akan terjadi atas diri mereka pada hari itu.

Ketika matahari terbit, datanglah suara keras mengguntur (halilintar) dari langit di atas mereka, dan digoyang gempa dari bawah sehingga mayat-mayat bergelimpangan di tempat-tempat mereka. Allah berfirman :

"Artinya: Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi" [Al Hijr/15 : 83]

Dan firman-Nya :

"Artinya: Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan ditempat tinggal mereka" [Al A'raf/ 7:78].

Demikianlah nasib umat yang kufur dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mengapakah kita tidak mengambil pelajaran?

PELAJARAN BERHARGA
Dari kisah-kisah umat-umat terdahulu, ternyata bencana dan musibah ditimpakan pada suatu umat karena perbuatan maksiat. Hal ini dijelaskan juga dalam banyak hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya dalam hadits Ibnu 'Umar, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Artinya : Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. (1) Perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) tidaklah dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit tha’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat. (2) Orang-orang tidak mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah. (3) Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. (4) Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka. (4) Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. [2]

Oleh karena itu hendaknya kita semua kembali bertaubat dan meninggalkan semua bentuk kemaksiatan, kembali berpegang teguh dan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah n dan difahami para sahabat, tabi'in dan kaum salafush-shalih. Itulah jalan satu-satunya terhindar dari kehinaan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Maraji`:
1. Taisir al Lathif al Manan fi Khulashah Tafsir al Qur`an, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Cetakan ke-3, Tahun 1414 H, Tanpa penerbit.
2. Shahih Qashash al Anbiya`, Syaikh Salim bin 'Id al Hilali, Cetakan ke-1, Tahun 1422 H, Maktabah al Furqan.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Mabhats, Alamat Redaksi : Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo - Solo 57183, Telp. 0271-5891016]
_________
Footnote
[1]. Tafsir Al-Lathif Al-Mannan Fi Khulashah Tafsir Al-Qur'an, halaman 152
[2]. HR Ibnu Majah no. 4019, Al-Bazzar, Al-Baihaqi dari Ibnu Umar. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 106 Shahih At-Targhib wat-Tarhib no. 764, Maktabah Al-Ma'arif.

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.