This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 19 Januari 2012

Sang Penulis Kitab Al-Hikam, Syaikh Ibnu Aththoillah ra

Kelahiran dan keluarganya

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Iskandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Beliau berasal dari bangsa Arab. Nenek moyang beliau berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarga beliau tinggal dan kakek beliau mengajar. Kendatipun nama beliau hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayah beliau termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadzil iyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya“Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayah beliau adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tashawwuf dan para Auliya’ Sholihin.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang¬terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : Bahwa kakek belau adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari sang kakek. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Syaikh Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang Quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”.

Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.
Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi 3 masa :

Masa pertama
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Masa kedua
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak beliau bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo.Dalam masa ini sirnalah keingkaran beliau terhadap ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, beliau jatuh kagum dan simpati. Akhirnya beliau menjadi pengikut Thariqah Syaziliyyah dan belajar langsung dari guru beliau ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “Apakah seharusnya aku membenci tasawuf? Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi? setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.
Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”. Maka demikianlah, ketika beliau sudah mencicipi manisnya tasawuf hati beliau semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai beliau punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meninggalkan aktivitas lain. Namun demikian beliau tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya thariqah kita. Kemudian ia menghadapiku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu thariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Shiddiqqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Masa ketiga
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahan beliau ke haribaan Yang Maha Kasih pada tahun 709 H.Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Beliau membedakan antara Uzlah dan Kholwah. Uzlah menurut beliau adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri di hadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.

Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya.
Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini beliau emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, beliau bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Syaikh Ibnu Atho’illah berceramah di Al- Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.
Sebagai seorang sufi yang alim Syaikh Ibn Atho’ meninggalkan karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.

Karomah Ibn Athoillah
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-Durriyyah” mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada di antara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Syaikh Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketika mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Ibn Atho’illah wafat
Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.[]


Hikmah no 1
“Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal upayanya, ialah berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi suatu dosa padanya.”

Tambahan dalam buku terjemahan Al-Hikam oleh Ustadz Salim Bahreisy, di hal 10-11:
Kalimat: Laa ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah), berarti tidak ada tempat, berlindung, berharap kecuali Allah. Tiada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang member dan menolak melainkan Allah.
Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, agar tetap bersandar kepada karunia rahmat Allah.

Kalimat: Laa haula wa laa quwwata illa billahi (tiada daya dan kekuatan selain Kekuatan Allah), tak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”(QS. Yunus [10]:59)

Sedang bersandar pada amal usaha sendiri itu berarti lupa pada karunia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayah kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada Iblis ketika diperintahkan bersujud kepada Adam as, ia berkata:”Aku lebih baik dari dia (Adam)”
Juga telah terjadi pada Qarun yang berkata:”Seseungguhnya aku memperoleh kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.” (QS. Al-Qashash[28]:78)

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayah dan karunia Allah.

Sedangkan kita hendaknya meneladani Nabi Sulaiman as. ketika bersyukur mendapat istana Ratu Bilqis.
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.(QS. An-Naml[27]:40)

Nah, sahabat-sahabat….
Mari kita introspeksi diri kita sambil merenungi hikmah di atas. Semoga Allah senantiasa membimbing serta merahmati kita untuk dapat mengerti dan mengamalkannya.

Wallahu a’lam bi shawwab [

Hikmah no 2

“Keinginanmu untuk tajrid, padahal Allah masih menempatkan kamu pada masih dalam asbab/ahli kasab, itu termasuk syahwat khafiyyah. Sebaliknya keinginanmu untuk kasab padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan tajrid, maka keinginanmu tersebut berarti menurun dari himmah al-’aliyyah.

Tajrid adalah melulu beribadah serta mengagungkan Allah karena keyakinan yang kuat terhadap jaminan Allah terhadap kebutuhan hidupnya. Sedangkan yang dimaksud masih dalam asbab/ahli kasab adalah semua perbuatan kita masih dalah wilayah hokum sebab-akibat.

Syahwat khoffiyah adalah cinta duniawi yang tersembunyi/tersamar. Sedangkanhimmah al-‘aliyyah adalah semangat tinggi berma’rifat yang Allah anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia pilih.

Ustadz Salim Bahrisy dalam terjemahnya menambahkan sbb:

Sebab kewajiban kita sebagai seorang hamba, adalah menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan dan yang menyusahkan bagi kita.

Dan tanda bahwa Allah menempatkan diri kita dalam golongan Al-asbab (golongan yang harus berusaha kasab/bekerja adalah bila terasa ringan bagi kita mengerjakan pekerjaan/kasab tersebut, dan hal itu tidak menyebabkan kita meninggalkahn kewajiban-kewajiban agama. Juga dengan hasil kerja itu tidak menambah ketamakan kita pada dunia serta melupakan hak orang lain.

Sebaliknya, tanda bahwa Allah SWT telah mendudukkan seseorang dalam golongan Ahli tajrid (hamba yang tidak berkewajiban kasab karena keyakinannya bahwa Allah adalah Ar-Raazak sedemikian kuat Dia tancapkan ke dalam qalb-nya) adalah bila Allah memudahkan baginya kebutuhan hidupnya dari jalan yang tak disangka (min ghairu laa yahtasib), kemudian sekiranya terjadi kekurangan jiwanya tetap tenang karena bersandar kepada ketawakalannya kepada Allah dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya.

Syaikh Ibnu Aththoilah diriwayatkan pernah berkata: “Beberapa kali aku telah meninggalkan pekerjaan kasabku tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang ditinggalkan kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya lagi. Seorang murid merasa, bahwa tak mungkin sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para kekasih Allah dengan cara sibuk dengan ilmu-ilmu syariat lahir serta bergaul dengan masyarakat, lalu ia menghadap Syaikh-nya. Tapi sebelum ia bertanya,Sang Syaikh bercerita,’Ada seorang yang terkemuka dalam ilmu syariat lahir, ketika ia mulai dapat merasakan sedikit dari perjalanan suluk ini, ia datang menemuiku dan berkata,’Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu Guru.’ Syaikh kemudian berkata,’Bukan itu yang harus kamu lakukan, namun tetaplah dalam kedudukanmu semula, sedang apa yang yang akan Allah berikan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu.


Hikmah no 3

“Kekerasan himmah itu, tidak dapat menembus tirai takdir.”

Pengertian himmah

Menurut Ibnu Qoyyim ra., bahwa himmah adalah awal hasrat. Secara khusus, orang-orang mengartikannya sebagai puncak hasrat. Hammu adalah permulaan hasrat, dan himmah adalah puncak hasrat.

Ustadz Salim Bahreisy dalam terjemahnya menambahkan dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran berikut:

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At-Takwir [81]:27-29)

Juga,

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]:30)

Dalam Al-Quran, persoalan takdir Allah firmankan dengan serangkaian ayat-ayat-Nya yang membutuhkan qalb/hati yang suci dari penyakit-penyakitnya serta akal nalar yang memenuhi kaidah mantiq/hukum logika yang tertib. Karena seandainya kita memahami ayat-ayat tersebut sepotong-sepotong dan tidak menganalisis secara nalar dengan paripurna, ditambah kemudian hati kita sedang terkuasai oleh penyakit melampiaskan hawa nafsu diri, maka kita pun akan salah dalam menangkap makna takdir seperti yang Allah kehendaki.

Sekedar menambah wawasan kita tentang takdir dalam Al-Quran, terdapat ayat-ayat yang menerangkan bahwa Allah-lah yang memberi hidayah/petunjuk atau pun menyesatkan kepada kita, misalnya:

“Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir[35]:8)

Namun pada ayat-ayat lainnya disebutkan bahwa kita yang hendaknya mengubah keadaan diri kita.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS.Ar-Ra’d[13]:11)

Dalam memahami persoalan takdir yang nampak rumit namun penting dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita (saya lebih tepatnya) benar-benar memerlukan bimbingan seorang guru yang telah memperoleh kesempurnaan ma’rifatullah.

Nah, dalam hikmah no 3 di atas, Syaikh Ibnu Aththoillah ra., seorang yang qalb-nya telah mencapai kesempurnaan ma’rifatullah menyampaikan bahwa sekuat apa pun himmah kita, hal itu tidak akan mampu menembus takdir diri kita


Hikmah no 5

“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”

Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy (penerjemah) di halaman 15-16:
Firman Allah di QS.Al-Ankabut[29]:60: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. ThaaHaa[20]:132)

Kerjakan apa yang menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yang dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udhon) terhadap Allah. Kedua, yang dituntut Allah maka jangan kita abaikan.

Dalam sebuah hadits yang kurang lebih artinya demikian:

“Mengapakah orang-orang yang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadah, serta yang selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yang sesuai dengan hawanafsu mereka sedangkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan hawanafsunya mereka tinggalkan, padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yang sudah ditentukan, dan rezeki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yang tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala-pahala yang besar dan amal-amal ibadah dan ‘dagangan’ yang tidak akan rusak.”

Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang diamanahkan kepadamu.”

Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.


Hikmah no 6

“Janganlah kelambatan masa pemberian Allah kepadamu, padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkanmu patah harapan. Sebab Allah telah menjamin menerima semua doa, dalam apa yang Dia kehendaki bagimu, dan pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.”


Ustadz Salim Bahreisy menambahkan dalam buku terjemahnya halaman 17-19 sbb:

Firman Allah,”Tuhanmu yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka memilih.”

Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui secara paripurna apa yang akan terjadi, mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas-lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Rabb yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana memilihkan baginya sesuatu, hendaknya dia ridho dan menerima pilihan Rabb Yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim serta Maha Mengetahui, Maha Bijaksana sekaligus, meskipun pada lahirnya pilihan itu pahit dan pedih rasanya, namun itulah pilihan terbaik untuknya. Oleh sebab itu, bila kita berdoa kemudian belum tercapai juga keinginan kita, hendaknya janganlah kita terburu-buru putus harapan.

Allah berfirman:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:216)

Abu Hasan Asy-Syadzili ra. ketika mengartikan QS. Yunus[10]:9, berkata, “Maka terlaksananya kebinasaan Firaun yang berarti setelah 40 tahun doa Musa as.”

Syeikh Fadhalla Haeri, ulama yang juga menerjemahkan dan mensyarah (mengomentari Al-Hikam) dalam komentarnya menambahkan:

Allah menjawab doa hamba-hamba-Nya yang penuh kerinduan dan permohonan yang keluar dari hati yang ikhlas memohon pertolongan Allah, yang didorong oleh perintah-Nya untuk kembali kepada-Nya. Jadi waktu dan cara Allah menjawab doa para hamba-Nya tergantung pada Kekuasaan-Nya. Yang menjadi hendaknya kita lakukan sebagai makhluk/ciptaan adalah berdoa, bergantung, dan percaya kepada cara-cara yang sempurna dari Sang Pencipta dan Pengatur yang juga Al-’Alim, karena Dia selalu mengetahui keaadaan kita yang sebenarnya, juga pertolongan serta perbekalan yang paling tepat yang kita butuhkan untuk perjalanan menuju Dia.

——————————————————————————————————————-

Demikianlah sahabats, setiap doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT, sebenarnya pasti Dia kabulkan dalam waktu yang terbaik menurut Dia, serta dengan cara dan bentuk yang terbaik di mata-Nya. Oleh karena itu hendaknya kita terburu-buru patah harapan, sebab bersabar dalam hal itu, pasti akan mendatangkan kebaikan yang lebih utama.

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita. Amiin.

Wallahu A’lam bi shawwab.[]


Hikmah no 7

“Janganlah kamu meragukan janji (Allah), karena tidak terjadinya apa yang telah Allah janjikan tersebut pada waktunya. Karena keraguanmu tersebut bisa menutupi mata-hatimu (bashirah) serta memadamkan nur cahaya batinmu (sirr-mu).”

Ustadz Salim Bareisy dalam terjemahnya di halaman 20:
Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan karunia rahmat-Nya, sehingga manusia jika melihat tanda-tanda ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya, padahal bagi Allah belum memenuhi semua syarat yang dikehendaki-Nya, maka bila tidak terjadi apa yang telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janji Allah.

Sebagaimana yang terjadi dalam Sulhul-Hudaibiah, ketika Rasulullah saw menceritakan impiannya kepada sahabat, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk Mekah dan melaksanakan ibadah umroh dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi saw yang tersebut dalam QS. Al-Fath ayat 27). Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena ditolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penandatanganan perjanjian Sulhul Hudaibiyah, yang oleh Umar bin Khatab dan sahabat-sahabat lainnya dianggap sangat mengecewakan, maka Umar ra mengajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi saw :”Aku hamba Allah dan juga utusan-Nya, dan Dia tidak akan mengabaikanku.”

Firman Allah:
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:216)

Syaikh Fadhalla Hairi, dalam syarah Al-Hikamnya, mengatakan:
Untuk mempertahankan jalan yang tepat menuju pencerahan batin, kita harus membuang semua keraguan terhadap kesempurnaan, keadilan, dan kebijaksanaan Allah di balik terjadinya peristiwa-peristiwa sesuai dengan urutan dan waktunya yang tepat.

Yang terpenting adalah penyerahan diri sepenuhnya dan keyakinan total kita kepada kehendak dan tujuan Allah, meskipun kita mungkin sudah memperoleh ilham yang benar dan penglihatan batin menuju sebuah pencerahan maupun peristiwa, yang tidak terjadi.


Hikmah 8

“Apabila Dia membukakan bagimu suatu untuk ma’rifat (mengenal pada-Nya), maka jangan kauhiraukan soal amal-mu yang masih sedikit, sebab Dia tidak membukakan bagimu, melainkan Dia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma’rifat itu semata-mata anugrah Allah kepadamu, sedang amalmu adalah hadiahmu kepada-Nya. Maka bagaimanahkah perbandingannya antara hadiahmu dengan anugrah-Nya kepadamu?”


Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah dalam terjemahnya halaman 21 sebagai berikut:

Ma’rifat kepada Allah, merupakan puncak keberuntungan (falaha) seorang hamba, maka bila Dia telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepada-Nya, maka tidak usah kauhiraukan berapa banyak amal kebaikanmu. Sebab ma’rifat itu suatu karunia anugrah langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal baik kita.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman:

“Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh kepada orang yang menemuinya, maka Aku lepaskan ia dari ikatan-Ku dan aku gantikan untuknya daging dan darah(diri) yang lebih baik daripada dari semula, dan ia boleh memperbaiki amalshalihnya,sebab yang lalu telah Kuampuni semua.”

Diriwayatkan: Allah telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya. Aku telah menurunkan bala’(ujian) kepada seorang hamba, kemudian ia berdoa, dan tetap Aku tunda permohonannya, akhirnya ia mengeluh, maka Aku katakan kepadanya, ‘Hamba-Ku bagaimana Aku memberikan rahmat-Ku kepada-mu, padahal Aku justru sedang memberimu Rahmat-Ku yang terselubung dalam bala’ tersebut.

Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu engkau tak dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu, maka dengan bala’ itulah engkau dapat mencapai maqam dan hal di sisi-Ku.’

Sedangkan Syaikh Fadhala Hairi dalam terjemahnya halaman 8 mensyarah sebagai berikut:

Kita tidak bisa mengukur seluruh rahmat Allah, atau membandingkannya dengan ilusi-ilusi kita tentang pengorbanan atau amal kebaikan kita. Apa pun yang kita tunjukkan kepada Sang Khaliq tidak sebanding dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada kita, yakni fithrah dan cahaya ruh serta jiwa.

Sesungguhnya, Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu yang di dalam dan di sekitar (diri) kita, baik yang kasat mata/dhohir maupun yang ghaib/tak kasat mata. Kebutuhan-kebutuhan dan amal-amal kita hanyalah tanda dan pendahuluan menuju pembukaan qalbu dan pertolongan, yang sebenarnya sudah ada hanya terhijab dari kita.

Hikmah 9

“Beraneka warna jenis amal, itu karena bermacam-macamnya anugrah(waarid) Allah kepada hamba-hamba-Nya.”


Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah dalam terjemahnya halaman 21 sbb:

Karena itu tiap orang shalih yang menuju ke suatu maqam (tingkat) harus mengerti dalam ibadah yang mana ia merasakan nikmat ibadah tersebut, karena di situlah ‘terbuka’ qalbunya. Apakah dalam shalat, atau shaum, atau ibadah yang lainnya.

Syaikh Fadhalla Hairi ra. dalam terjemahnya halaman 9 mengomentari:

“Suatu perbuatan yang timbul dari hati yang suci dan merdeka tidak sama dengan perbuatan yang termotivasi oleh keinginan-keinginan, ketakutan-ketakutan, dan ambisi-ambisi pribadi. Hasil dari perbuatan juga berbeda-beda sesuai dengan niat dan keadaan hati kita. Perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yang ada dalam hati dan tergantung pada keadaannya. Jadi, seluruh kondisi dan pengalaman eksistensial merefleksikan keadaan hati yang sebenarnya.”

Al Hikam 10

“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh-nya adalah terdapatnya rahasia ikhlas (sirr al-ikhlas) dalam perbuatan itu.”

Ustadz Salim Bahreisy ra. dalam terjemahnya memberikan syarah sbb:
Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya(maqam). Seorang abrar, keikhlasannya telah bersih dari riya’, baik riya’ yang jelas maupuan yang samar. Tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang ikhlas. Hal ini merujuk pada ayat“Iyyaka na’budu.hanya kepada-Mu kami mengabdi/beribadah.” (QS. Al-Fatihah[1]:5), dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam pengabdianku ini kepada sesuatu yang lain.

Adapun keikhlasan hamba-hamba Allah pada maqam Muqarrabin adalah menerapkan pengertian Laa haula wa laa quwwata illa billaahi (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apa pun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada kekuatan sendiri, semua kekuatan yang kita miliki hanya dari Allah. Kalangan Muqarrabin ini meyakini bahwa semua amal mereka semata-mata hanya anugrah dari Allah, sebab Allah-lah yang memberi hidayah dan taufiq(pertolongan untuk takwa). Hal ini merujuk pada ayat, “Iyyaka nasta’in.. Hanya kepada-Mu kami minta pertolongan..” (QS. Al-Fatihah[1]:5). Hanya kepada-Mu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya.
Amal kalangan abrar disebut amal lillahi, beramal karena Allah. Amal lillahi menghasilkan memperhatikan hukum syariat lahir. Sedangkan amal kalangan Muqarrabin disebut Amal billahi, beramal dengan bantuan karunia anugrah Allah. Amal billahi menembus ke dalam syariat bathin hingga ke rasa qalbu (dzauq).
Seorang guru berkata, “Perbaikilah amal perbuatan kita dengan keikhlasan, dan perbaikilah keikhlasan kita dengan merasa amal itu tidak berasal dari kekuatan kita sendiri, karena semua itu terjadi semata-mata karena bantuan pertolongan dan rahmat Allah SWT.

Syaikh Fadhalla Hairi, mensyarah sbb:
Amal perbuatan adalah perwujudan dari niat dan keinginan kita. Pengalaman-pengalaman lahiriah adalah cerminan dari realitas dan kondisi bathin kita. Usaha-usaha kita akan gagal apabila tidak sesuai dengan tujuan, sehingga kita menjadi bingung. Puncak keikhlasan adalah kesadaran bahwa kita tidak mempunyai kekuatan dan kehendak-bebas (free will). Bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, memahami amr(perintah)-Nya, dan hanya mengharapkan hasil terbaik yang tercelupi Nur-Nya.

Hikmah 11

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”

Ustadz Salim Bahreisy ra. mensyarah:
Tiada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seseorang yang sedang beramal, daripada menginginkan kedudukan dan kemashuran di tengah-tengah masyarakat. Hal ini termasuk dari tipu daya hawanafsu.

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa berendah-hati maka Allah akan memuliakannya, dan barangsiapa sombong, Allah akan menghinakannya.”

Ibrahim bin Adham ra berkata:
“Tidak benar-benar menuju ke Allah siapa yang beramal untuk kemashuran dirinya.”

Ayyub As-Sakhtiyani ra berkata:
“Demi Allah, tiada seorang hamba yang bersungguh-sungguh ikhlas pada Allah, melainkan ia merasa senang jika tidak mengetahui kedudukannya.”

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya riya’ meski sedikit, termasuk syirik. Dan siapa yang memusuhi seorang waliyullah, berarti telah berperang terhadap Allah. Dan Allah menyayangi hamba-Nya yang bertakwa namun tidak terkenal, yang bila tidak ada tidak dicari, bila ada tidak dipanggil serta tidak dikenal. Hati mereka laksana pelita hidayah(petunjuk), mereka terhindar dari segala kegelapan kesukaran.

Abu Hurairah ra berkata, Ketika kami di majelis Rasulullah saw tiba-tiba beliau saw bersabda:

“Besuk pagi akan ada seorang ahli sorga yang shalat bersama kalian. Abu Hurairah berkata, Aku berharap semoga akulah orang yang ditunjuk oleh Rasulullah itu. Maka pagi-pagi aku shalat di belakang Rasulullah saw dan tetap tinggal di majelis setelah orang-orang pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba hitam berkain compang-camping datang dan berjabat tangan pada Rasulullah saw sambil berkata: Ya Nabiyallah, doakan semoga aku mati syahid. Maka Rasulullah saw berdoa, sementara kami mencium wangi kesturi dari tubuhnya. Kemudian (setelah orang itu pergi) aku (Abu Hurairah ra) bertanya: Apakah orang itu Ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya benar. Ia seorang hamba dari bani fulan. Abu Hurairah bertanya lagi: Mengapa tidak kau beli dan kemudian kau merdekakan ya Nabiyallah? Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, bila Allah hendak menjadikan dia seorang raja di sorga. Hai Abu Hurairah, sesungguhnya di sorga itu ada raja dan orang-orang terkemuka. Dan hamba sahaya ini salah seorang raja dan terkemuka. Wahai Abu Hurairah,sesungguhnya Allah mengasihi kepada makhluk-Nya yang suci hati, yang menyembunyikan diri dari masyarakatnya, yang bersih, yang rambutnya terurai (tidak tersisir rapi), yang perutnya kempis kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk istana raja niscaya tidak diperkenankan (karena tampilan lahiriahnya), bila meminang wanita bangsawan tidak diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila meninggal jenazahnya tidak dihadiri.”

Ketika sahabat bertanya: Tunjukkan kepada kami seorang dari mereka ya Nabiyallah..

Nabi menjawab: “Uwais Al-Qarny ra, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, sedang tingginya, selalu menundukkan kepalanya sambil membaca al-Quran, di bumi tidak dikenal, tetapi terkenal di langit. Andaikan dia bersungguh-sungguh minta sesuatu kepada Allah, pasti Diaberi. Di bahu kirinya ada bekas belang sedikit. Hai Umar dan Ali, jika kamu kelak bertemu dengannya, maka mintalah dia membacakan istighfar untuk kalian.”

Sedangkan Syarah Syeikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:
Kalau perbuatan-perbuatan kita tidak didasarkan pada pengabdian yang rendah hati (tawadhu’) kepada Allah, maka perbuatan-perbuatan tersebut tidak akan menunjukkan hasilnya dan tidak terbebas dari kepalsuan serta kemusyrikan (menyekutkan Allah) secara halus.
Bila kita menginginkan reputasi atau penghargaan, maka buah dari perbuatan kita yang seperti itu akan asam dan busuk, karena sifat dunia yang selalu berubah.
Pencari spiritual yang sukses tidak mempedulikan apa yang muncul sebagai hasil akhir perbuatan, karena ia merasakan rahmat-Nya sejak awal penyerahan-dirnya kepada Allah SWT.

Hikmah 12

“Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi qalbu (hati), sebagaimana uzlah (menyendiri dari keramaian dengan niat tafakur billah) untuk masuk ke medan tafakkur.”



Ustadz Salim Bahreisy ra mensyarah:
Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan kawan yang tidak baik bagaikan tukang besi yang sedang membakar besi, jika engkau tidak terbakar oleh percikan apinya, maka akan terkena sengatan bau tidak sedapnya.”

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as :”Wahai putra Imran, waspadalah selalu dan pilihlah untuk dirimu sahabat, dan setiap sahabat yang tidak membantumu untuk berbuat taat kepada-Ku, maka ia adalah musuhmu.”

Demikian pula wahyu Allah kepada Nabi Daud as :”Hai Daud, mengapakah engkau menyendiri? Daud menjawab,’Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekat kepada-Mu.’ Maka Allah pun berfirman: ‘Hai Daud, waspadalah selalu, dan pilihlah sahabat untukmu, dan setiap yang tidak membantumu berbakti kepada-Ku, maka itu adalah musuhmu, karena dia akan menyebabkan keras hatimu, serta jauh dari-Ku.”

Nabi Isa as bersabda:”Jangan berkawan dengan orang-orang yang ‘mati’, niscaya mati hatimu. Ketika beliau ditanya:’Siapakah mereka yang ‘mati’ itu? Beliau menjawab: ‘Mereka yang rakus kepada dunia.”

Rasulullah saw bersabda: “Yang sangat aku khawatirkan terhadap umatku adalah (mereka) lemah dalam iman keyakinan.”

Nabi Isa as bersabda:”Berbahagialah orang yang perkataannya dzikir, dan diamnya tafakur serta pandangannya perhatian. Sesungguhnya orang yang sempurna akalnya ialah yang selalu muhasabah demi hari kemudian sesudah mati.”

Sahl bin Abdullah At-Tustary ra berkata: Kebaikan itu terhimpun dalam 4 perkara, dan dengan itu tercapai maqam wali (disamping memenuhi kewajiban syariat), yaitu:

1. Lapar

2. Diam

3. Uzlah

4. Bangun/terjaga di Malam Hari (untuk shalat, munazat, dan ibadah kepada Allah).

Sedangkan Syarah Syeikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:
Untuk kesehatan spiritual, kita harus berpaling dari keinginan-keinginan dan ambisi-ambisi, kebingungan-kebingungan, dan syirik. Hati memerlukan pengalaman uzlah(menyendiri), kemudian diisi kembali melalui tafakur dan peningkatan kesadaran kepada Tuhan. Kita harus menyeimbangkan pengalaman lahir dengan keadaan dan cahaya batin, sehingga pada waktunya nanti kita melihat seluruh perwujudan dan pengalaman yang berasal dari Zat Rabb Yang Maha Esa

Hikmah 13

“Bagaimana akan terang qalb(hati) seseorang yang gambar dunia terbayang jelas dalam cermin qalbnya. Atau bagaimana akan menuju Allah, padahal ia masih terikat (terbelenggu) oleh syahwat (cinta berlebihan pada materi). Atau bagaimana ia akan bisa masuk hadhirat Allah, sedangkan ia belum suci dari kelalaiannya, yang di sini diibaratkan sebagai janabat-nya. Atau bagaimana bisa berharap akan mengerti rahasia yang mendalam(daqaaiqal asroor), sedangkan ia belum bertaubat dari kekeliruan-kekeliruannya.”

Dalam terjemahnya, Ustadz Salim Bahreisy ra mensyarah sbb:
Barkumpulnya dua hal yang berlawanan dalam satu tempat dan masa adalah mustahil, sebagaimana berkumpulnya antara diam dengan gerak, antara terang dan gelap. Demikian pula nur iman berlawanan dengan kegelapan yang ditimbulkan karena selalu berharap/bersandar kepada selain Allah. Begitu pun bersuluk/berjalan menuju Allah juga harus bebas dari belenggu hawa nafsu dan syahwat supaya sampai kepada Allah.

Allah berfirman:
“..Bertakwalah kepada Allah, dan Allah yang akan mengajarkan ilmu kepadamu..” (QS. Al-Baqarah[2]:282)

Dan Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah diaketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diaketahui.”

Suatu saat, Ahmad bin Hambal ra. bertemu dengan Ahmad bin Abil-Hawari, berkata Ahmad bin Hambal ra.: Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang pernah kau dapatkan dari gurumu Abu Sulaiman ra.
Ibnu Abil-Hawari menjawab: Bacalah Subhanallah tetapi tanpa disertai rasa kekaguman. Setelah Ahmad bin Hambal membaca “Subhanallah” maka berkata Ibnu Abil-Hawari:
“Aku telah mendengar Abu Sulaiman ra. berkata: “Apabila qalb(hati) manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, niscaya akan terbang ke alam malakut, kemudian kembali dengan membawa berbagai ilmu hikmah dengan tanpa berhajat pada guru.”
Ahmad bin Hambal ra setelah mendengar keterangan itu langsung berdiri dan duduk di tempatnya sampai tiga kali, lalu berkata: ‘Belum pernah aku mendengar keterangan seperti ini sejak aku masuk Islam. Beliau sungguh merasa puas dan sangat gembira menerima keterangan itu, lalu beliau membaca hadits Rasulullah saw tentang ilmu seperti di atas.

Sedangkan Syarah Syeikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:

Qalb laksana cermin, yang memantulkan apa yang dihadapi dan diinginkannya. Cermin ini tertarik pada apa-apa yang diinginkannya dan menolak apa-apa yang ingin dihindarinya.Bila qalb yang ikhlas menghadap pada Nur Ilahi, maka ia memantulkan kebenaran yang mendalam, namun bila qalb menghadap pada dunia yang penuh perubahan dan perselisihan, maka ia akan memantulkan godaan-godaan dan realitas yang fana.

Qalb tidak bisa tercerahkan oleh penglihatan batin spiritual, jika ia tertutup dan ternoda oleh cinta-dunia, nafsu dan keinginan. Qalb harus dipersembahkan semata-mata untuk tujuan awalnya, yaitu jalan tauhid yang absolut. Allahu Ahad.

Hikmah 14

“Alam itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya al-Haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya nur ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini.”

Ustadz Salim Bahreisy dalam syarahnya menulis:
Alam semesta yang mulanya tidak ada (adam) memang gelap, sedang yang mendhohirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yang melihat sesuatu benda di alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang terang, lalu ia mengira tidak ada sumber cahya lain yang juga merupakan sumber nyala cahaya yang dilhatnya tersebut. Padahal sebenarnya alam seisinya ini pada hakikatnya terlihat semata-mata karena cahaya Allah semata.

Sedangkan Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:
Meskipun seluruh alam ini diciptakan dari nur ilahi, tetapi semua wujudnya tampil sebagai cahaya dan bayang-bayang, baik dan buruk, siang dan malam. Jika seorang pencari spiritual tidak melihat Allah yang memancarkan nur-Nya di balik semua ini, berarti ia sedang diliputi kebingungan terhadap permainan bayang-bayang eksistensial dan awan-awan realitas yang berubah-ubah. Penciptaan manusia mempunyai makna dan tujuannya sendiri, yang berasal dari nur azali, yakni sebab yang selalu ada di balik perubahan-perubahan fenomena duniawi yang tampak.

______________

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari dengan Ibn Taymiyah

Dialog Ibn Athaillah Al Sakandari (w.709 H) dengan Ibn Taymiyah (w. 728 H). Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha'illah Al-Sakandari: "The Debate with Ibn Taymiyah Ditranslasi dari buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani's The repudiation of "Salafi" Innovations (Kazi, 1996)Bismillahi ar rahmani ar rahiim

Abu Fadl Ibn Athaillah Al Sakandari (wafat 709), salah seorang imam sufi terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang muhaddits, muballigh sekaligus ahli fiqih Maliki, adalah penulsi karya-karya berikut: Al Hikam, Miftah ul Falah, Al Qasdul al Mujarrad fi Makrifat al ism al-Mufrad, Taj al-Arus al-Hawi li tadhhib al-nufus, Unwan al-Taufiq fi al Adad al-Thariq, sebuah biografi: Al-Lataif fi manaqib Abi al Abbas al Mursi wa sayykhihi Abi al Hasan, dan lain-lain. Beliau adalah murid Abu al Abbas Al-Musrsi (wafat 686) dan generasi penerus kedua dari pendiri tarekat Sadziliyah: Imam Abu Al Hasan Al Sadzili.

Ibn Athaillah adalah salah seorang yang membantah Ibn Taymiyah atas serangannya yang berlebihan terhadap kaum sufi yang tidak sefaham dengannya. Ibn Athaillah tak pernah menyebut Ibn Taymiyah dalam setiap karyanya, namun jelaslah bahwa yang disinggungnya adalah Ibn Taymiyah saat ia mengatakan dalam Lataif: sebagai "cendekiawan ilmu lahiriyah".Satu Halaman berikut ini merupakan terjemahan Inggris pertama atas dialog bersejarah antara kedua tokoh tersebut.

Naskah Dialog :

Dari Usul al-Wusul karya Muhammad Zaki Ibrahim Ibn Katsir, Ibn Al Athir, dan penulis biografi serta kamus biografi, kami memperoleh naskah dialog bersejarah yang otentik. Naskah tersebut memberikan ilham tentang etika berdebat di antara kaum terpelajar. Di samping itu, ia juga merekam kontroversi antara pribadi yang bepengaruh dalam tsawuf: Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al Sakandari, dan tokoh yang tak kalah pentingnya dalam gerakan "Salafi": Syaikh Ahmad Ibn Abd Al Halim Ibn Taymiyah selama era Mamluk di Mesir yang berada dibawah pemerintahan Sulthan Muhammad Ibn Qalawun (Al Malik Al Nasir).

Kesaksian Ibn Taymiyah kepada Ibn Athaillah

Ibn Taymiyah ditahan di Alexandria. Ketika sultan memberikan ampunan, ia kembali ke Kairo. Menjelang malam, ia menuju masjid Al Ahzar untuk sholat maghrib yang diimami Syaikh ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taymiyah sedang berdoa dibelakangnya. Dengan senyuman, sang syaikh sufi menyambut ramah kedatangan Ibn Taymiyah di Kairo seraya berkata: Assalamualaykum, selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamu cendekianya ini.

IBN ATHAILLAH: "Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat Isya di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku! Allah menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?"

IBN TAYMIYAH: "Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apapun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang berbuat buruk terhadapku"

IBN ATHAILLAH: Apa yang anda ketahui tentang aku, syaikh Ibn Taymiyah?

IBN TAYMIYAH: Aku tahu anda adalah seorang yg saleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah atau lebih patuh atas perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (istighatsah)?

IBN ATHAILLAH: Tentu saja, rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.

IBN TAYMIYAH: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat. Dalam ayat al Qur'an juga disebutkan: "Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji (Q.S Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali ra wafat, Rasulullah berdoa pada Allah di kuburnya: "Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun".

Inilah syafaat yang dimiliki rasulullah saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.

IBN ATHAILLAH: Semoga Allah mengaruniakanmu keberhasilan, wahai faqih! Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda," Adakah muslim yang beriman pada Allah dan rasulNya yang berpendapat ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkanNya berkenaan dengan dirinya sendiri?"

" Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah? Disamping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimiliknya dari Allah, sebagaimana jika anda mengatakan: "Makanan ini memuaskan seleraku". Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah yang memberikan kepuasan melalui makanan?

Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain DiriNya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah? Ayat Al quran yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangaka bertawasul atau mengambil perantara, atas keutamaan (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasulNya.

Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan minuman keras, dan mengebiri laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zina.

(Kedua syaikh tertawa atas komentar terakhir ini).

Lalu IBN ATHAILLAH melanjutkan: "Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya "prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan" yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.

Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).

Ketika syaikh al islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah swt atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.

Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. "Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib?"

IBN TAYMIYAH: Dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda: "Saya adalah kota ilmu dan Ali lah pintunya". Sayyidina Ali adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

IBN ATHAILLAH: Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh dimanapun mereka ditemukan?

IBN TAYMIYAH: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.

IBN ATHAILLAH: Dan Imam Ahmad- semoga Allah meridoinya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimanapun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis para penyanyi, dan menyerang msayarakat di jalan.

Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?

Dengan demikian, Syaikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Apakah anda tidak memahami hal ini?

IBN TAYMIYAH: "Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya malaikat jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum "papa".

IBN ATHAILLAH: "Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?

IBN TAYMIYAH: "Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar."

IBN ATHAILLAH: "Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah ( Risalatul Qusyairiyah ).

Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.

Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah dan rasul-NYA. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.

Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.

IBN TAYMIYAH: "Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syaikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau menyatu denganNya (ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syaikh anda: semuanya jelas perilaku ateis dan kafir".

IBN ATHAILLAH: "Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorabg Zahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama sama apa-apa yang tersembunyi. Agar anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-quran dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang."

Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syaikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja.

Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah. Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:"(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya"; dan Ia mengutuk dalam firmanNya: "(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya". Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: "Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya".

Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.

Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah dengan mematuhiNya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).

Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai "ahli fiqih basa-basi wanita". Semoga Allah mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa:"Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkab bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati." "Adakah pernyataan yang seindah ini?"

IBN TAYMIYAH: "Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan."

*Diterjemahkan dari On Tasawuf Ibn Atha'illah Al-Sakandari: "The Debate with Ibn Taymiyah, dalam buku karya Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani's The repudiation of "Salafi" Innovations (Kazi, 1996) h. 367-379.

Foot Note:
1. Ibn Atha'illah, Lata'if al minan fi manaqib Abi al Abbas. Pada bagian Lata'if al-minan wa al akhlaq, karya Sya'rani (Kairo, 1357) 2:17-18.
2. Lihat Ibn Al Imad, Shadharat al dzahab (1350/1931) 6:20; Al Zirikly, al A'lam (1405/1984) 1:221; Ibn Hajar, al Dhurrar al Kamina (1348/1929) 1:148-273; Al Maqrizi, Kitab al Suluk (1934-1958) 2:40-94; Ibn Kathir, al Bidayah wa al Nihayah (1351/1932) 14:45; Subki, Tabaqat al Shafi'iyyah (1324/1906) 5:177. dan 9:23; Suyuti, Husn al Muhadara fi Akhbar misr wa al qahira (1299/) 1:301; Al Dawadari, al Durr al fakhir fi sirat Al Malik Al Nasir (1960) hal 200; Al Yafi'I, Mi'rat Al Janan (1337/1918) 4:246; Sya'rani, Al Tabaqat al Kubra (1355/1936) 2:19; Al Nabhani, jami' karamat al awliya (1381/1962) 2:25.

Ibn Arabi Tokoh Kontroversial

Menarik sekali membahas tokoh yang satu ini, yang sejak dahulu selalu menuai kontroversi. Tulisan ini hanya merangkum dari berbagai nara sumber, hanya untuk mengetahui siapakah sebenarnya tokoh yang satu ini, yang sering mendapat tuduhan murtad, dan penganut agama lainnya.

Ibn Arabi – nama lengkapnya Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Muhammad Ibn Arabi Al Thai Al Hatimi – adalah seorang tokoh sufi – filsuf kontroversial dari Andalusia, lahir 560 H/1165 M – 638H/1240M. Karya-karyanya dikenal memadukan antara syariat, rasio dan intuisi (dzauq). Diantaranya Futuhat Al Makiyyah (Penyingkapan Mekah), buku yang berisi 560 bab, berisi ajaran dari banyak topik, Fushus Al Hikam (Permata Kebijaksanaan) – berisi tentang sabda kenabian – keragaman – kesempurnaan yang mewujud pada masing-masing 27 nabi besar, Al Tadbirat al Illahiyah Fi Ishlah al Mamlakah al Insaniyah (Menata diri Dengan Tadbir Ilahi), Kunh Mala Budda Al Murid (Selamat Sampai Tujuan), Risalah al Anwar fi ma Yumnah Shahib Al Kalwah Min Al Asrar (Risalah Kemesraan, berisi panduan menjalani khalwat), Ruh al Quds (Jiwa Yang Suci), Al Durrat al Fakhrah (Butiran Permata Keagungan).

Ibn Arabi dipandang sebagai tokoh terbesar muslim dalam menyusun doktrin-doktrin metafisis, sehingga disebut sebagai Syeikhul Akbar yang artinya Syekh Yang Agung. Ada juga yang menyebutnya sebagai “Belerang Merah” (al Kabrit Al Ahmar) sebuah term kimiawi yang mengandung pengertian bahwa Ibn Arabi mampu mencipta suatu pengetahuan terlepas dari ketidak tahuannya sebagai belerang yang mampu membentuk kuning emas dari sebuah timah.

Tuduhan Murtad

Banyak kaum salafi yang menuduh bahwa dirinya adalah murtad dan pengikut Nasrani, apakah benar demikian? Lalu, kenapa sampai bisa dtuduh sedemikian rupa, adakah alasannya?

Tulisan Ibn Arabi banyak yang mengandung pengertian ganda, dan berapa corak kemusyrikan telah ditemukan didalam pemikirannya yang melahirkan bentuk keyakinan yang berlebihan. Karenanya, ia sering dituduh sebagai orang pantheisme. Hanya saja disini ada keanehan, andai kata saja ada kesalahan dalam pemikirannya Ibn Arabi, tetapi para pengikutnya mempertahankan dan tetap mempraktekannya, bahkan menolak untuk kompromi.

Tuduhan bahwa dia adalah penganut Nasrani karena konsep kesatuan hakikat agama. Menurutnya hakikat agama adalah sama atau satu, hanya saja bentuk luarannya yang berbeda-beda. Ia menjelaskan panjang lebar tentang hal itu, yang mana pada posisi tersebut ia memiliki sifat-sifat sebagaimana yang dimiliki Yesus.

Didalam syairnya pada kitab “Tarjuman Al Asywaq”, Ibn Arabi mengungkapkan sebagai berikut :

Hatiku terbuka untuk segala macam bentuk;

ia bagaikan padang rumput untuk kawanan rusa, dan bagaikan biara bagi pendeta-pendeta Kristen,

Bagaikan candi untuk sebuah berhala, dan sebagai Ka’bah untuk menjalankan perjalanan haji,

bagaikan lembaran Taurat dan sekaligus kitab suci Al Quran.

Milikku adalah agama cinta, kemanapun kabilah Allah bergerak, agama cinta akan tetap menjadi

agama dan keyakinanku.


Rasanya, syair di atas lah yang dijadikan rekomendasi oleh kalangan para Salafi, untuk menuduh bahwa Ibn Arabi adalah Nasrani.

Lalu, bagaimana dan alasan apa sampai dituduh bahwa Ibn Arabi itu SESAT dan Menyesatkan, terutama dengan konsep Kesatuan wujudnya (wahdatul wujud)?

Ibn Arabi merumuskan tentang konsep kesatuan wujud atau non dualitas, yang merupakan konsep Islam tentang Advaita Vedanta dan semakna dengang konsep Tao. Konsep itu menyatakan bahwa tidak ada satupun eksistensi yang terwujud melainkan hanya Allah.

Ajaran Ibn Arabi tentang wahdatul wujud ini meluas, dan menjadikan ajaran wahdatul wujud ini sebagai ajaran metafisika sufisme, pada masanya ajaran ini menyebar di mana saja, bahkan sampai ke Indonesia.

Setelah Ibn Arabi memunculkan konsep Wahdatul Wujud, kemudian diikuti oleh beberapa sufi lainnya yang terlibat dalam meng-estafetkan ajaran ini, sehingga seolah-olah Ibn Arabi ini menjadikan penghubung antara tradisi Sufi Spanyol-Maroko dengan tradisi sufi timur Mesir –Siria melalui muridnya Shadr Al Din Al Qunawi (1210). Di Persia atau Iran ajaran Ibn Arabi ditebarkan melalui Qutb Al Din Asy-Syaerazi, sehingga mempengaruhi tasawuf Persia secara umum. Ajaran sufi ini dilanjutkan oleh Abdul Karim Al Jilli, seorang pemimpin tharekat Al Syadzili, dan oleh Jalaluddin Rumi. Nah, pada jaman kemajuan pemikiran intelektualitas Islam ini, ajaran ini merebak sampai Aceh – Indonesia, nama Ibn Arabi dengan muridnya Ibn Athaillah cukup dikenali dengan baik. Menurut saya, ajaran Ibn Arabi ini ke Indonesia merebak melalui Tharekat Al Sadziliyah, yang mana Tharekat ini didirikan oleh Imam Syadzili, dan dilanjutkan oleh Ibn Athaillah(W.1309), putra salah seorang seorang sufi. Ibn Athaillah ini semula seorang fuqoha pengikut mazhab Malikiyah, dia seorang pengajar di Al Azhar Kairo, dan perguruan Al Manshuriyah tetapi waaupu dia putra seorang sufi tapi justru fikirannya berlawanan, bahkan memerangi tasawuf, terutama ditujukan kepada sufi Abu Abbas Al Mursi (w. 1288), tetapi pada tahun 1276 M, Ibn Athaillah mendatangi Al Mursi, dan menyatakan dirinya menjadi murid tharekat Al Shadziliyyah, bahkan Ibn Athaillah menulis sebuah karya besar dalam bidang Tashawuf, yakni Kitab Al Hikam yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran spiritual di kalangan murid-murid tasawuf. Kitab Al Hikam ini sangat populer di kalangan pecinta tasawuf di Indonesia.

Jadi benar, semula Ibn Athaillah melawan ajaran tasawuf tetapi selanjutnya dia justru berbalik, bahkan menjadi pecinta tasawuf dan mengembangkannya melalui berbagai karya tulisnya.


Kesimpulan :

Tuduhan para fuqoha (ahli fiqih), kaum salafi yang memegang teguh ajaran ajaran nabi hanya Al Quran dan al Hadits, dan kalangan Wahabi yang tidak mengakui keabsahan otoritas pandangan dan praktek setelah tabiin dan menganggapnya inovasi (bid’ah) yang tidak mendasar secara teoretis, walaupun dalam praktis tidak demikian, yang menjelaskan bahwa ajaran Ibn Arabi adalah sesat dan menyesatkan, tetap tidak terpecahkan, dalam arti kata masing masing memiliki ajarannya. Kalau boleh dimisalkan, itu seperti minyak dan air dalam satu wadah, walaupun tidak akan bersatu tetapi sebenarnya satu dan saling melengkapi, bisa jadi tasawuf dengan keaneka ragamananya adalah kekayaan Islam di ranah spiritual.

Adapun tentang wahdatul wujud, adalah merupakan ekpressi sufistik yang bisa dijangkau atau dipahami secara transendental yang umumnya tidak sembarangan dipaparkan di kalangan awam, biasanya pengajaran ini melalui suatu tharekat yang mengajarkan tahap demi tahap (maqamat) sampai memahami dan merasakan (dzauq). Untuk memahami ilmu hakikat, biasanya di awali dari Syariat, Tharikat, Hakikat sampai memahami akan makrifat (gnostik).

Tataran wahdatul wujud ini sudah masuk ke pemahaman makrifat, yang mana sudah tidak lagi menggunakan nalar atau akal fikiran, tetapi melalui peningkatan kesadaran. Kalau di ibaratkan, nalar adalah bumi, sementara makrifat adalah langit, tentunya membahas suatu langit kita harus berimijinasi dan berempathi tentang langit terlebih dulu, tidak semerta-merta menolak karena langit bukanlah bumi, atau mudah memurtadkan orang karena itu adalah kepicikan diri yang tak mampu mencerap, karena hakikat kebenaran adalah milik Yang Haq, dan yang memiliki hak prerogatif itu adalah Sang Haq itu sendiri.

Tetapi memahami Wahdatul Wujud ini memang sulit karena akan menjerumuskan di kalangan awam, banyak martir yang digantung oleh karenanya, tengoklah Al Hallaj di Baghdad atau Syekh Siti Jenar dengan konsep Manunggaling Kawula Gustinya di Nusantara ini.


Salam

Nasehat Ibnu Athailah tentang Dzikrullah

Nasehat Ibnu Athailah tentang Dzikrullah

Posted by orgawam pada Maret 27, 2011

“Jangan engkau tinggalkan zikir kepada Allah, sebab lalaimu terhadap Allah tanpa adanya zikir adalah lebih berbahaya daripada lalaimu kepada Allah dengan masih tertinggal zikir di hatinya. Mudah-mudahan Allah mengingat kamu untuk berzikir dari suka melalaikan kepada sadar melaksanakan zikir. Dari zikir yang sadar meniadi zikir yang penuh kehadiran hati. Dari zikir dengan hadimya hati kepada zikir yang masuk kepada kegaiban. Tidaklah ada kesukaran bagi Allah tentang hal-hal seperti itu.”

.

Zikir itu sebenarnya tidak hanya dengan lisan. Setiap perilaku, tindakan untuk mengingatAllah boleh disebut zikir. Ada zikir dengan hati, ada dengan lisan, ada dengan pikiran dan ada dengan perbualgn. Boleh zikir dengan berjalan, dengan duduk, dengan bekerja, dengan berbaring, atau zikir dengan tegak, duduk, dan beberapa cara sehrnatidakbertentangan dengan sunah Nabi Muhammad Saw. Dijelaskan hal ini dalam surat Ali Imran ayat 191,

“Mereka adalah orang’orang yang mengingat Allah sambil berdiri duduk di waktu berbaring, sambil memikirkan terciptanya langit dan bumi …”

Zikir adalah jalan menuju Allah yang rahman, untuk mendalami wujud- Nya dengan mengingat dan menyebut sifat-sifat-Nya. Zikir dengan bermacam-macam cara, menghendaki agar zikir itu dilakukan dengan kehendak yang kuat, untuk mencari kekuatan yang dapat memberi ketenangan bagi manusia. Atau dapat menjadi’obat dan penawar bagi kesejukan hati sanubari. Allah Ta’ala menyebut zikir ini dalam Al Qur’an,

-Ingatlah akan Aku, tentu Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah pada-Ku dan jangan kamu ingkar. ” Allah Ta’ala berfirman
“Adapun orang-orang yang beriman hati mereka manjadi tenang dengan zikrullah, karena dengan zikrullah itu hati manusia menjadi tenang tnteram.”(QS. A” Ra’du: 29)

Ingat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi jiwa dan hati, akan membentuk manusia yang tenang, dan hamba Allah yang istiqamah, dengan hidup yang tertempa, serta banyak lagi fadilah zikir yang akan diperoleh dan dirasakan oleh hamba yang suka berzikir (mengingat terus menerus). Maqam tertinggi yang diperoleh oleh hamba yang berzikir, adalah zikir yang hidup dengan sendirinya di dalam dirinya, yang sudah menjadi satu di sekujur anggota badannya. Setiap gerakannya adalah zikir, setiap ucapannya adalah zikir, senyum dan kerdipan mata, naikf turunnya napas adalah zikir. Antara Allah Ta’ala dengan hamba-Nya yang berzikir tidak ada batasnya, tidak dibatasi waktu, masa, jarak, antara si hamba dengan Allah Jalla Jalaluh.

Dalam suatu hadis Qudsi, Allah Swt. mengingatkan hamba-hamba-Nya yang berzikir:

“Aku (Allah) selalu mentiruti sangkaan para hamba terhadap- Ku. Aku (Allah) selalu menyertainya, bila ia ingat (zikir) kepada-Ku. Bila ia zikir dalam hatinya, maka Aku ingat kepadanya dalam zat-Ku. Bila ia zikir kepada-Ku di tempat ramai, niscaya Aku akan ingat kepadanya di tempat yanq Iebih ramai, dan lebih baik lagi ingatan-Ku kepadanya. Demikian iuga, apabila hamba-Ku mendekati Aku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Bila ia dekat-dekat kepada-Ku satu hasta, Aku akan lebih dekat lagi kepadanya, satu depa. Jikalau ia datang kepada-Ku dengan berialan maka Aku akan dating kepadanya dengan berlari.”

Ibnu Abbas ra. berkata,

“Apabila Allah Ta’ala menetapkan suafu kewajiban kepada hamba-hamba-Nya, niscaya dibebankan kepadanya pula agar selalu ingat kepadaAllah pada setiap waktu dan ketika apa pun, seperti diingatkan Allah Ta’ala agar selalu ingat kepada Allah terus menerus, di wakfu duduk, berdiri, sedang tiduran, atau di wakfu malam dan siang, kEtika berada di darat atau di laut, bepergian atau tinggal di rumah. Demikian juga oleh omng kaya atau orang miskin, di wakhr sehat atau wakhr sakif secara diam- diam atau terang-terangan, ringkasnya pada segala waktu.”

Abu Qasim Al Qusairy mengingatkan,

“Zikir itu akan meningkatkan martabat iman dan mendekatkan kepada Allah, lambang kewalian, pelita penemng kalbu, jiwa dari semua amal, karena tujuannya untuk taqarrub kepada Allah.”

Dalam salah satu hadits Qudsi disebutkan,

“Aku (Allah) selalu mangikuti dugaan hamba-Ku terhadap diri-Ku dan Aku selalu menyertainya di waktu ia berzikir.”

Zikir itu berjalan sepanjang masa tanpa batas wakfu atau halangan, sebab ia diperbolehkan pada semua waktu.

wallahu a’lam.

.

sumber: Syaikh Ibn Athailah, Al Hikam, syarah syaikh Muhammad ibn Ibrahim Ibn ‘Ibad, versi terjemahan, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.

Nasehat Ibnu Athailah tentang Dzikrullah

Nasehat Ibnu Athailah tentang Dzikrullah

Posted by orgawam pada Maret 27, 2011

“Jangan engkau tinggalkan zikir kepada Allah, sebab lalaimu terhadap Allah tanpa adanya zikir adalah lebih berbahaya daripada lalaimu kepada Allah dengan masih tertinggal zikir di hatinya. Mudah-mudahan Allah mengingat kamu untuk berzikir dari suka melalaikan kepada sadar melaksanakan zikir. Dari zikir yang sadar meniadi zikir yang penuh kehadiran hati. Dari zikir dengan hadimya hati kepada zikir yang masuk kepada kegaiban. Tidaklah ada kesukaran bagi Allah tentang hal-hal seperti itu.”

.

Zikir itu sebenarnya tidak hanya dengan lisan. Setiap perilaku, tindakan untuk mengingatAllah boleh disebut zikir. Ada zikir dengan hati, ada dengan lisan, ada dengan pikiran dan ada dengan perbualgn. Boleh zikir dengan berjalan, dengan duduk, dengan bekerja, dengan berbaring, atau zikir dengan tegak, duduk, dan beberapa cara sehrnatidakbertentangan dengan sunah Nabi Muhammad Saw. Dijelaskan hal ini dalam surat Ali Imran ayat 191,

“Mereka adalah orang’orang yang mengingat Allah sambil berdiri duduk di waktu berbaring, sambil memikirkan terciptanya langit dan bumi …”

Zikir adalah jalan menuju Allah yang rahman, untuk mendalami wujud- Nya dengan mengingat dan menyebut sifat-sifat-Nya. Zikir dengan bermacam-macam cara, menghendaki agar zikir itu dilakukan dengan kehendak yang kuat, untuk mencari kekuatan yang dapat memberi ketenangan bagi manusia. Atau dapat menjadi’obat dan penawar bagi kesejukan hati sanubari. Allah Ta’ala menyebut zikir ini dalam Al Qur’an,

-Ingatlah akan Aku, tentu Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah pada-Ku dan jangan kamu ingkar. ” Allah Ta’ala berfirman
“Adapun orang-orang yang beriman hati mereka manjadi tenang dengan zikrullah, karena dengan zikrullah itu hati manusia menjadi tenang tnteram.”(QS. A” Ra’du: 29)

Ingat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi jiwa dan hati, akan membentuk manusia yang tenang, dan hamba Allah yang istiqamah, dengan hidup yang tertempa, serta banyak lagi fadilah zikir yang akan diperoleh dan dirasakan oleh hamba yang suka berzikir (mengingat terus menerus). Maqam tertinggi yang diperoleh oleh hamba yang berzikir, adalah zikir yang hidup dengan sendirinya di dalam dirinya, yang sudah menjadi satu di sekujur anggota badannya. Setiap gerakannya adalah zikir, setiap ucapannya adalah zikir, senyum dan kerdipan mata, naikf turunnya napas adalah zikir. Antara Allah Ta’ala dengan hamba-Nya yang berzikir tidak ada batasnya, tidak dibatasi waktu, masa, jarak, antara si hamba dengan Allah Jalla Jalaluh.

Dalam suatu hadis Qudsi, Allah Swt. mengingatkan hamba-hamba-Nya yang berzikir:

“Aku (Allah) selalu mentiruti sangkaan para hamba terhadap- Ku. Aku (Allah) selalu menyertainya, bila ia ingat (zikir) kepada-Ku. Bila ia zikir dalam hatinya, maka Aku ingat kepadanya dalam zat-Ku. Bila ia zikir kepada-Ku di tempat ramai, niscaya Aku akan ingat kepadanya di tempat yanq Iebih ramai, dan lebih baik lagi ingatan-Ku kepadanya. Demikian iuga, apabila hamba-Ku mendekati Aku satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Bila ia dekat-dekat kepada-Ku satu hasta, Aku akan lebih dekat lagi kepadanya, satu depa. Jikalau ia datang kepada-Ku dengan berialan maka Aku akan dating kepadanya dengan berlari.”

Ibnu Abbas ra. berkata,

“Apabila Allah Ta’ala menetapkan suafu kewajiban kepada hamba-hamba-Nya, niscaya dibebankan kepadanya pula agar selalu ingat kepadaAllah pada setiap waktu dan ketika apa pun, seperti diingatkan Allah Ta’ala agar selalu ingat kepada Allah terus menerus, di wakfu duduk, berdiri, sedang tiduran, atau di wakfu malam dan siang, kEtika berada di darat atau di laut, bepergian atau tinggal di rumah. Demikian juga oleh omng kaya atau orang miskin, di wakhr sehat atau wakhr sakif secara diam- diam atau terang-terangan, ringkasnya pada segala waktu.”

Abu Qasim Al Qusairy mengingatkan,

“Zikir itu akan meningkatkan martabat iman dan mendekatkan kepada Allah, lambang kewalian, pelita penemng kalbu, jiwa dari semua amal, karena tujuannya untuk taqarrub kepada Allah.”

Dalam salah satu hadits Qudsi disebutkan,

“Aku (Allah) selalu mangikuti dugaan hamba-Ku terhadap diri-Ku dan Aku selalu menyertainya di waktu ia berzikir.”

Zikir itu berjalan sepanjang masa tanpa batas wakfu atau halangan, sebab ia diperbolehkan pada semua waktu.

wallahu a’lam.

.

sumber: Syaikh Ibn Athailah, Al Hikam, syarah syaikh Muhammad ibn Ibrahim Ibn ‘Ibad, versi terjemahan, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995.

Rabu, 11 Januari 2012

Islam Dalam Pandangan Kaum Rejeksioni


Oleh Sumanto Al Qurtuby*

“Kritik saya kepada kelompok “rejeksionis” ini selain alasan “standar ganda” tadi juga karena watak mereka yang suka menggeneralisir wawasan keislaman. Pandangan “Aristotelian” yang membelah dunia menjadi dua kategori: baik dan buruk, benar dan salah, dst sudah sangat kedaluwarsa terutama sejak ditemukan teori “fuzzy logic” (“logika kabur”) oleh fisikawan Iran, Luthfi Zadeh. Dalam kerangka teori “fuzzy logic” ini segala sesuatu harus dilihat secara jernih, teliti, komprehensif, dan akurat dengan pertimbangan yang matang dan mendalam. Sebuah objek tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, satu perspektif, dan satu sudut pandang melainkan harus dari berbagai dimensi sehingga menghasilkan kesimpulan yang akurat tidak bias, komprehensif tidak parsial. Pandangan kelompok “rejeksionis” yang berbau Aristotelian ini seperti ungkapan tradisional kita tentang “orang buta yang menilai gajah”. Penilaian mereka juga tidak akurat karena mereka “dibutakan” oleh “spirit kebencian” yang melandasi pemikiran mereka.”

Islam, agama yang agung ini, selalu dilihat dan diinterpretasikan secara berlainan oleh berbagai aliran pemikiran dan kelompok keagamaan. Pandangan keislaman kaum liberal tentu berbeda dengan kelompok konsevatif-fundamentalis. Kaum radikal agama memiliki tafsir keislaman sendiri yang tentu saja akan berbeda dengan wacana keagamaan yang dikembangkan kelompok moderat-progresif misalnya, demikian seterusnya.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengemukakan pandangan keislaman yang dilontarkan oleh orang atau kelompok apa yang saya sebut sebagai “kaum rejeksionis.” Sebagian dari kelompok ini telah membentuk sebuah wadah, organisasi atau jaringan global maya (misalnya, “faith freedom,” freeman, dlsb) tetapi sebagian yang lain bergerak secara individu dan independen sebagai “pemikir bebas” (free thinkers). Yang dimaksud “kaum rejeksionis” disini mengacu pada kelompok yang menolak total dimensi positif Islam. Mereka berpandangan Islam tidak lebih dari “agama penjajah dan biadab” yang menebarkan kebencian dan mengajarkan perilaku barbarism, terrorism, intolerance, dll.

Nabi Muhammad SAW, dalam pandangan kelompok ini digambarkan sebagai pemimpin bengal dan penakluk ambisius yang mengaku-aku sebagai nabi yang mendapat mandat Tuhan untuk memperdayai suku-suku Arab supaya takluk di bawah otoritas politik Suku Quraisy. Nabi Muhammad, lagi menurut mereka, adalah penjahat kemanusiaan yang membunuh ratusan Yahudi Bani Quraizha di Madinah, menghabisi orang-orang Kristen dan pengikut agama dan tradisi lain; sementara Al-Qur’an bukanlah wahyu Tuhan yang selama ini diyakini umat Islam melainkan mereka anggap sebagai “dokumen sekuler” yang merangkum ajaran-ajaran Bible, Injil, dan tradisi Arab lain, dan perangkum dan arsiteknya tidak lain dan tidak bukan adalah Muhammad sendiri.


***

Ada banyak kelompok yang saya sebut sebagai “kaum rejeksionis” ini, baik non-Muslim maupun mantan Muslim. Akan tetapi karena keterbatasan ruang, saya hanya mengemukakan pemikiran sejumlah nama saja. Misalnya Anwar Shaikh, seorang bekas Muslim kelahiran Gujarat (1928) yang sejak 1956 tinggal di Britain karena diancam hukuman bunuh di negeri asalnya, Pakistan. Dengan meminjam ide Nietzsche tentang “Will to Power”, Anwar Shaikh yang dibesarkan dalam keluarga terdidik dan agamis ini menganggap Islam adalah produk kejeniusan Muhammad yang dengan lihai memanipulasi dan mengeksploitasi gagasan kuno kenabian Timur Tengah demi mengejar ambisi politiknya dan sukunya (baca, Quraisy) (lihat selanjutnya di http://freeman.org).

Anwar Shaikh ini adalah penulis buku-buku miring tentang Islam, antara lain, Faith and Deception (1996); Islam: The Arab Imperialism (1998); dan Islam, Sex, and Violence (1999). Semua karya-karya Shaikh yang masa kecilnya bernama Muhammad Anwar ini sangat keras mengkritik Nabi Muhammad, Al-Qur’an, Hadis, dan doktrin-doktrin Islam secara umum. Buku Faith and Deception misalnya berisi tentang kritik Shaikh terhadap Al-Qur’an yang ia anggap penuh dengan inkonsistensi gagasan. Karena ketidakkonsistenan antara satu ayat dengan lainnya ini, Shaikh mengklaim bahwa Al-Qur’an bukanlah “produk ilahi” (baca, wahyu Tuhan) melainkan “akal-akalan Nabi Muhammad.”

Sementara itu buku Islam: The Arab Imperialism mengulas tentang sejarah politik-kekuasaan Nabi Muhammad, dan dengan demikian sejarah politik keislaman. Dalam buku ini Shaikh mengklaim bahwa Nabi Muhammad telah menjadikan Islam sebagai kendaraan politiknya untuk menguasai kawasan Arab dan dunia. Nabi Muhammad digambarkan sebagai sosok yang cerdas tapi rakus dan haus kekuasaan. Untuk dapat menguasai dunia, kata Shaikh, Nabi Muhammad telah melakukan sejumlah langkah-langkah politik dan budaya yang bertumpu pada “prinsip pecah-belah dan jajahlah” (the principle of divide and rule) laiknya kaum kolonial.

Langkah politik pertama yang ditempuh Muhammad adalah menguasai Arab yang menurutnya hanyalah “sasaran antara” atau jembatan untuk menguasai dunia, baik secara politik maupun kebudayaan. Untuk bisa mengusasi kawasan Arab, maka Nabi Muhammad membuat sejumlah “aturan wajib” antara lain Islam itu bertumpu pada Al-Qur’an sementara kitab ini menggunakan bahasa Arab yang tidak dimengerti oleh suku-bangsa lain, Allah diklaim berbahasa Arab (dengan demikian Allah adalah sosok yang “pro-Arab”), para pemimpin Islam dan rezim Muslim harus dari Suku Quraisy, yaitu sukunya Nabi Muhammad, begitu seterusnya. Untuk meyakinkan bahwa masyarakat non-Arab mengakui bangsa Arab sebagai “guru intelektual dan spiritual” mereka, maka ia membuat Mekah sebagai pusat kesucian Islam. Di Mekah inilah dibangun ka’bah yang tidak hanya simbol kesakralan umat Islam tetapi juga sebagai kiblat kaum Muslim di seluruh penjuru dunia. Semua itu oleh Shaikh dianggap sebagai salah satu bentuk kerakusan dan kesombongan Nabi Muhammad karena ia telah berusaha menyamakan statusnya dengan Allah. “I have no doubt the Prophet (Muhammad) wanted to raise himself to the same status as Allah,” tuding Shaikh.

Nama lain yang tidak kalah garangnya dalam mengkritik Islam, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an adalah Ibnu Waraq. Lahir di Rajkot, India, pada tahun 1946 kemudian hijrah ke Pakistan, Ibnu Waraq adalah nama samaran yang secara tradisional diadopsi dari para dissident authors (“para penulis pembangkang”) dalam sejarah Islam. Dia belajar di University of Edinburgh di bawah otoritas intelektual Montgomery Watt. Ibnu Warraq telah menulis dan mengedit sejumlah buku—yang semuanya “menghabisi” Islam, Muhammad dan Al-Qur’an, antara lain, Why I am not a Muslim (1995), Quest for the Historical Muhammad (2000), Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book (1998), dan Leaving Islam: Apostates Speak Out (2003). Dalam salah satu tulisannya Ibnu Warraq mendefinisikan Islam sebagai “a totalitarian ideology that aims to control the religious, social, and political life of mankind in all aspects” (Spencer 2005: 13).


***

Ibnu Warraq dan Anwar Shaikh hanyalah contoh kecil saja dari “kaum rejeksionis” ini. Selain mereka, ada banyak pendukung pandangan-pandangan miring tentang Nabi Muhammad, Al-Qur’an, dan Islam, baik dari kalangan orientalis maupun bekas Muslim. Di antara mereka terdapat sejumlah nama populer seperti Robert Spencer, Daniel Pipes, Ali Sina, Abul Kasem, Faisal Muhammad, Husain Ahmed, Syed K. Mirza, Taner Edis, Muhammad Bin Abdulla, Samia Labidi, Irfan Khawaja, Denis Giron, William Muir, Ignaz Goldziher, Arthur Jeffery, John Wansbrough, Margoliouth, Bat Ye’or, dan masih banyak lagi.

Ada banyak alasan, motivasi, dan tendensi mengapa mereka menyerang Islam demikian keras: dari alasan-alasan yang bersifat akademik-ilmiah (scholarly) sampai “black-campaign” untuk menghancurkan citra umat Islam di mata publik internasional. Ada yang menulis karena dilatari spirit kesarjanaan dan intelektualitas untuk menyelidiki lebih jauh tentang Islam. Tetapi ada pula yang menulis karena didasari pada “spirit kebencian” terhadap Islam yang muncul baik karena faktor “sentimen keagamaan” maupun hasil dari pengalaman traumatik penulis setelah menyaksikan perilaku “barbarian” para tentara Islam di sejumlah negara. Apa yang dilakukan oleh Robert Spencer atau Daniel Pipes atau kaum agitator dan propagandis semisal Jerry Falwell, Billy Graham, Pat Robertson, dll, adalah potret dari kelompok rejeksionis yang menolak Islam karena lebih banyak didasari pada faktor “sentimen keagamaan” sebagaimana “diamanatkan” kitab suci mereka. Alasan maraknya pengeboman dan terorisme modern yang “dibiangkeroki” Osama Ben Laden hanyalah “embel-embel,” komplemen, dan pembenar belaka dari diktum kitab suci mereka. Hal ini berbeda dengan Ibnu Warraq, Ali Sina, atau Anwar Shaikh yang menolak Islam karena pengalaman horror mereka menyaksikan perilaku bengis kelompok Muslim radikal. Pengalaman traumatik mereka itu kemudian ditumpahkan dalam berbagai tulisan dan buku, antara lain, Leaving Islam: Apostates Speak Out yang diedit Ibnu Warraq.


***

Dalam beberapa hal kritik kelompok rejeksionis benar adanya. Banyak orang-orang Islam yang masuk “perangkap” elit-elit Muslim (baik elit agama maupun elit politik) dan selanjutnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mereka mau mengorbankan diri sebagai “martir” dengan menjadi pengebom bunuh diri dan bersedia membunuh siapa saja yang dianggap sebagai “musuh-musuh Islam” demi membela apa yang mereka klaim sebagai “kedaulatan Islam”. Karena itu saya bisa “memahami” sikap kelompok “rejeksionis” tadi kenapa begitu emosional terhadap Islam. Sekali lagi kata “Islam” disini tidak mengacu pada pengertian spesifik, misalnya, “Islam yang tampil dalam wajah kaum militan-fundamentalis,” melainkan Islam dalam pengertian semuanya: pengikutnya, ajarannya, kitab sucinya, peradabannya, dlsb.

Tetapi justru lantaran watak mereka yang “hantam kromo” inilah yang membuat saya tidak menyetujui sepenuhnya dengan pandangan-pandangan kaum rejeksionis ini. Benar bahwa ada sejarah hitam yang tampil dalam sejarah umat Islam sejak era Nabi Muhammad hingga dewasa ini tetapi juga harap diingat ada banyak peristiwa positif dalam panggung sejarah peradaban Islam. Dengan kata lain, selain sejarah kebiadaban juga ada sejarah keberadaban dalam panggung keislaman baik klasik, medieval, maupun kontemporer. Memang benar ada teks-teks keislaman baik dalam Al-Qur’an, Hadis, dan sumber-sumber keislaman lain yang memuat wawasan intoleran, kekerasan, ketidakadilan, bias gender, dll akan tetapi juga harap dicatat ada banyak teks-teks keislaman yang berisi spirit dan etos kebebasan, demokrasi, pluralism, feminisme, dan dimensi kemanusiaan lain yang sangat berguna untuk merekonstruksi masa depan peradaban dunia yang lebih manusiawi.

Saya juga bisa “mengerti” kritik tajam yang dilontarkan kaum orientalis-rejeksionis dan saya berterima kasih atas segala kritik mereka tetapi pandangan mereka yang “standar ganda” membuat saya kurang simpatik terhadap mereka. Dalam Inside Islam: A Guide for Catholics, Robert Spencer misalnya menganggap Islam sebagai “backward and savage religion” tidak layak untuk kaum Katolik yang berbasis ajaran cinta-kasih. Dia lupa abad pertengahan, rezim Katolik di Eropa membunuh jutaan orang-orang Protestan yang mereka anggap sebagai pembangkang, inkarnasi setan, murtad, anti-Kristus, dlsb—sebuah peristiwa historis yang menyebabkan jutaan orang-orang Protestan hengkang dari Eropa untuk mencari suaka baru yang aman untuk mempraktekkan ajaran baru mereka. Amerika Serikat menjadi salah satu tempat asylum yang favorit, maka tidak heran jika Protestan menjadi agama mayoritas di AS. Contoh lain adalah Francesco Gabrieli dalam masterwork-nya Muhammad and the Conquests of Islam. Mengomentari peristiwa eksekusi Muhammad atas kaum Yahudi Bani Quraizha, dia mengatakan bahwa peristiwa itu bertentangan dengan wawasan dan spirit kekristenan yang menjunjung perdamaian global. Dia lupa bahwa Kristen juga pernah mengalami sejarah gelap terutama sejak Augustine memproklamirkan Kristen sebagai agama resmi Romawi. Sejak itu atas nama penegakan “Salib Kristus” mereka menaklukkan negara demi negara dengan korban jutaan jiwa.

Jadi kritik saya kepada kelompok “rejeksionis” ini selain alasan “standar ganda” tadi juga karena watak mereka yang suka menggeneralisir wawasan keislaman. Pandangan “Aristotelian” yang membelah dunia menjadi dua kategori: baik dan buruk, benar dan salah, dst sudah sangat kedaluwarsa terutama sejak ditemukan teori “fuzzy logic” (“logika kabur”) oleh fisikawan Iran, Luthfi Zadeh. Dalam kerangka teori “fuzzy logic” ini segala sesuatu harus dilihat secara jernih, teliti, komprehensif, dan akurat dengan pertimbangan yang matang dan mendalam. Sebuah objek tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, satu perspektif, dan satu sudut pandang melainkan harus dari berbagai dimensi sehingga menghasilkan kesimpulan yang akurat tidak bias, komprehensif tidak parsial. Pandangan kelompok “rejeksionis” yang berbau Aristotelian ini seperti ungkapan tradisional kita tentang “orang buta yang menilai gajah”. Penilaian mereka juga tidak akurat karena mereka “dibutakan” oleh “spirit kebencian” yang melandasi pemikiran mereka.

Hal lain yang membuat saya kurang apresiatif terhadap kelompok “rejeksionis” terutama dari grup bekas Muslim di atas adalah watak serta tindakan provokasi dan agitasi mereka terhadap Islam dan mengajak kaum Muslim agar meninggalkan ajarannya. Ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan mereka yang tersebar di berbagai website (misalnya http://freeman.org, http://www.secularislam.org), atau aktivitas lembaga yang mereka dirikan seperti Faith Freedom Foundation yang didirikan Ali Sina atau Institute for the Secularization of Islamic Society yang diprakarsai Ibnu Warraq (presiden lembaga ini HA Muhammad, seorang aktivis HAM berdarah Amerika-Pakistan, sementara vice presiden dipegang bekas Muslim keturunan Kanada-Bangladesh, Hasan Mahmud). Usaha mereka meng-“getuk-tular”-kan pengalaman sejarah traumatik mereka adalah sah-sah saja akan tetapi jika upaya itu kemudian diiringi tindakan “pengomporan” maka itu tidak bisa dibenarkan.

Harap diingat tidak semua umat Islam memiliki pengalaman sejarah teologis-keislaman yang sama dengan mereka maka jangan paksakan pengalaman keagamaan pribadi kita kepada orang lain yang sama sekali berbeda. Dengan rumusan lain, setiap individu memiliki pengalaman “proses teologi” yang berlainan. Ide “process theology” ini dikembangkan oleh teolog-filsuf Charles Hartshorne, John B. Cobb dan David Ray Griffin yang merupakan bentuk pengembangan lebih lanjut dari “process philosophy” yang digagas seorang ahli matematika kelahiran Inggris Alfred North Whitehead (d. 1947).

Disinilah mengapa saya selalu menentang setiap upaya paksa misionarisme atau proselytizing baik dalam bentuk “islamisasi,” “kristenisasi,” “hinduisasi” dlsb. Pengalaman teologis yang kita alami adalah menjadi urusan pribadi kita kepada Tuhan penguasa jagat ini, bukan kaum pendeta, pastor, atau ulama. []


*PhD Candidate Departemen Antropologi, Boston University, Amerika Serikat

Senin, 19 Desember 2011

Para Penghina Islam

Gerakan pembaruan adalah kerja kenabian. Para pembaru, begitu juga para nabi, selamanya mendapat tantangan dari masyarakat yang hendak diperbaruinya.

Di dunia Islam, para pembaru dicurigai membawa misi melawan Islam. Pembaruan dianggap sebagai pelemahan terhadap Islam. Mereka dilecehkan. Pelecehan terbesar yang diterima para pembaru Islam adalah bahwa mereka dianggap menghina Islam. Proyek-proyek pembaruan dianggap sama dengan penghinaan. Pikiran-pikiran progressif dianggap sama dengan penghinaan.

Tidak sedikit ilmuan politik dan sosial menganggap Islam tidak cocok dengan demokrasi, pada akhirnya juga tidak cocok dengan semua gagasan tentang kemajuan. Demokrasi dianggap produk budaya Barat yang unik, barang asing di dunia Islam. Sangat populer dari Ernest Gellner dan Samuel P. Huntington mengenai benturan antar-peradaban. Peradaban Barat yang demokratis-individualis kemungkinan akan berbenturan dengan peradaban Timur (Islam dan Konghucu) yang kolektivis. Terang-terangan Huntington bahkan menyatakan bahwa masalah utama bagi masyarakat Barat bukanlah fundamentalisme Islam, melainkan Islam itu sendiri. Max Weber menulis tentang afinitas tak langsung antara semangat kapitalisme dan tradisi protestantisme. Karl Marx menganggap moda-moda produksi di Barat begitu unik dan tidak dimiliki dunia Islam. Komunisme hanya akan muncul di Barat. Pada pokoknya Islam dianggap tidak sesuai bahkan menghambat kemajuan.

Pandangan-pandangan ini sebetulnya menghina Islam secara ilmiah [saya menyadari bahwa kata “menghina” dalam dunia akademik sangat tidak relevan.] Mereka meremehkan potensi ummat Islam untuk mencapai taraf kehidupan masyarakat maju. Tapi, Asma Barlas, seorang muslimah feminis dan ilmuan politik, mengungkapkan bahwa sebetulnya “penghinaan” terhadap Islam jauh lebih banyak terjadi di dunia Islam sendiri daripada di luar dunia Islam.

Di dunia Islam, tumbuh subur corak penafsiran agama yang merendahkan Islam sendiri. Para ulama dan tokoh agama itu tak segan-segan mencari doktrin baru yang berimplikasi pada perendahan Islam. Doktrin-doktrin yang merendahkan itu adalah doktrin-doktrin tentang ajakan untuk membenci kelompok lain. Doktrin untuk hidup secara eksklusif dan tertutup adalah bentuk perendahan terhadap kebesaran peradaban Islam. Doktrin yang mendiskriminasi dan membatasi akses perempuan ke ruang publik adalah penghinaan terhadap Islam yang justru pro-pembebasan.

Doktrin bahwa perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki sama sekali tidak ada dalam al-Qur’an. Yang ada jutsru adalah penciptaan manusia dari jiwa yang satu. Doktrin itu muncul begitu saja dan dipopulerkan oleh mereka yang hendak merendahkan Islam. Sehingga selamanya Islam akan meminggirkan perempuan.

Islam juga dianggap sebagai penganjur poligami. Tapi tak satupun ayat dalam al-Qur’an yang bicara tentang anjuran itu. Ayat yang pada dasarnya menolak praktik poligami diputar balik sedemikian rupa sehingga seolah-olah mendukung nafsu mereka untuk kawin lagi. Ayat itu berbunyi: “Menikahlah dengan perempuan yang menyukaimu (bukan “yang engkau sukai” sebagaimana terjemahan selama ini) dua, tiga, atau empat…Kalau kamu tak mampu berlaku adil, maka satu saja.” Sudah terang benderang bahwa tidak ada manusia biasa yang mampu berlaku adil terhadap isteri yang lebih dari satu. Perintah ayat itu jelas. Menikahlah dengan satu isteri atau suami saja.

Para penghina Islam itu juga menyebar fitnah bahwa al-Qur’an melaknat sekelompok manusia yang sekarang dikenal sebagai kelompok LGBTIQ (lesbian / gay / bisexual / transgender / intersexed / questioning). Mereka menggunakan kisah nabi Luth atau kisah Sodom dan Gomorah. Menurut Ioanes Rakhmat, ahli kekristenan, tidak ada laknat bagi pelaku sodomi an sich pada kisah itu. Laknat itu muncul karena dua orang malaikat yang turun dalam bentuk pemuda dihinakan oleh masyarakat Nabi Luth dengan cara disodomi. Lalu Tuhanpun murka. Dalam perang, acapkali kita mendengar penghinaan terhadap lawan perang muncul dalam bentuk perkosaan. Kita mengecam dan melaknat perkosaan itu. Tapi tentu kita tidak melaknat praktik hubungan seksual lawan jenis di luar perkosaan. Adalah penghinaan terhadap agama, juga Tuhan, dengan menuduhnya melaknat orang-orang yang memiliki orientasi seksual tertentu yang mungkin berbeda dari orang kebanyakan.

Mental terkepung yang kemudian muncul dalam bentuk agressifitas menyerang siapa saja yang berbeda adalah perendahan terhadap Islam. Islam adalah agama yang besar. Beratus tahun Islam menjadi pusat peradaban dunia. Ia adalah pusat dan inspirasi ilmu pengetahuan dan seni. Sangat tidak pantas menghinakan Islam dengan meletakkan kepadanya segala atribut kejumudan, kekakuan, ketertutupan, dan kemunduran.

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.