Kamis, 07 April 2011

Bab V.AGAMA KHONG HU CU

AGAMA MAJUSI (ZOROASTER) 93
BAB V
AGAMA KONG HU CHU
LATAR BELAKANG
China mempunyai sejarah yang panjang dan mulia tiada
tandingannya. Legenda berlalu jauh ke masa purba, dan
menceritakan dengan samar-samar kedatangan bangsa China dari
Barat, dan awal kebangkitannya, memberikan pola kepada semua
pewarisnya, yakni menangani rakyatnya sebagai anak-anaknya, dan
menciptakan kesenian di mana kehidupan China bergantung. Ketika
sejarah mereka dimulai sekitar 2700 SM, watak, sifat, dan lembagalembaga
di China telah mapan. Mereka telah berbudaya, dan telah
mempunyai agama yang terorganisir, tetapi tak seorang pun yang
dapat menceritakannya. Petikan-petikan kuno yang terdapat dalam
Shi Ching (Buku Sajak Pujian) dan Shu Ching (Buku Sejarah)
memberi kesan bahwa orang China purba adalah monoteis. Nama –
nama yang diberikan mereka kepada Tuhan Yang Esa adalah
Shangti (Yang Maha Kuasa) dan Tien (Langit). Mereka tidak
mempunyai berhala.
Dengan berlalunya waktu, maka agama China telah merosot
ke penyembahan hantu dan roh dari alam ditambahkan kepada
keimanan Shang-ti. Di setiap rumah ada ruangan tempat nenek
moyang, di mana penyembahan dan pengorbanan disajikan kepada
para arwah. Tetapi tidak hanya dalam keluarga saja arwah itu
dipuja. Kaisar pun melakukan pengorbanan dalam kapasitas publik
terhadap semua raja-raja sebelumnya dalam upacara-upacara yang
melelahkan dan seringkali ada hantu-hantu untuk sesajen. Namun
demikian, agama tidaklah terpisah dari kehidupan. Tidak ada
golongan pendeta yang khusus untuk menanganinya, setiap orang
98 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
harus ikut dalam upacara sesaji yang dibebankan kepadanya.
Upacara agama itu ditentukan oleh adat dengan rinciannya, dan
bilamana seseorang menghadirinya, berarti dia telah melaksanakan
kewajibannya. Agama adalah suatu rangkaian tindakan yang
dikerjakan dengan cocok dan tepat, orang yang cocok selalu
berkorban demi tujuan yang tepat dengan cara yang tepat pula.
Sekitar abad keenam sebelum Masehi tampak ada keadaan
tanpa hukum yang besar pengaruhnya di China. Baik kehidupan
politik, maupun keagamaan menjadi rusak dan merosot dari
kemuliannya yang semula. Peradaban besar yang ditegakkan di
China oleh penguasa dinasti Chou hanya tinggal bayangan saja.
Dalam keadaan semacam inilah, dua agama China yang besar,
yakni Kong Hu Chu dan Tao lahir. Dari segenap agama-agama di
China, maka Kong Hu Chu telah meninggalkan kesan yang kuat
dalam kehidupan dan kebudayaan China. Untuk hampir 25 abad,
Kong Hu Chu dianggap oleh China sebagai Guru yang pertama
tidak karena ketiadaan Guru sebelum beliau, tetapi karena beliau
mengatasi mereka dalam derajatnya.
KEHIDUPAN KONG HU CHU
Confusius adalah nama Latin dari nama K’ung Fu-Tzu atau
Tuan K’ung. Beliau dilahirkan pada tahun 551 sM di daerah Lu
yang sekarang dikenal sebagai provinsi Shantung. Beberapa
peristiwa mukjizat, impian-impian, dan kejadian lainnya
dihubungkan dengan peristiwa kelahirannya seperti halnya dengan
guru-guru agama yang lain. Beliau dilahirkan dari keluarga
terpandang tetapi miskin dan memperoleh sukses atas hasil
usahanya sendiri. Sejak muda dia bercita-cita untuk bekerja di
pemerintahan, tetapi dia tidak mendapatkannya segera pada masa
pergolakkan tersebut. Dia memulai kariernya sebagai seorang
pegawai gudang gandum di daerah kelahirannya dan seringkali
ditempatkan untuk melayani rakyat.
AGAMA KONG HU CHU 99
Pada tahun 528 sM, Kong Hu Chu melepaskan jabatannya di
pemerintahan karena berkabung atas kematian ibunya. Selama
berduka dalam jangka tiga tahun, dia mengabdikan diri dengan
belajar dan bermeditasi. Kadang-kadang dia muncul dari
pengasingannya sebagai guru di masyarakat dan cepat menarik
segolongan besar murid muridnya yang berbakti. Kemasyhurannya
meningkat, tetapi sebelum berumur 50 tahun, dia belum memasuki
kehidupan umum. Beliau ditunjuk sebagai Hakim Ketua dari kota
Chung-tu dan segera dipromosikan pada kedudukan Menteri
Tenaga Kerja dan Kehakiman. Jadi dia mendapatkan kesempatan
untuk mempraktekkan ajaran-ajarannya dan membangun suatu
model administrasi. Beliau mendatangkan perdamaian di seluruh
negeri, menghilangkan penindasan, dan memberi keadilan tanpa
bayaran. Pelanggaran kesusilaan dan kejahatan hampir-hampir
lenyap. Di dalam segenap kehidupan pribadinya beliau disiplin
untuk meneliti peraturan-peraturan yang telah diajarkannya.
Suatu kebijaksanaan yang betul-betul menjunjung keadilan
semacam ini, pasti mendatangkan musuh, dan musuh Kong Hu Chu
bekerja hati-hati untuk menggeser kedudukannya.
Kong Hu Chu mendakwahkan “ Pada usia 50 tahun saya
menerima risalah Tuhan”. Maka pada tahun 497 sM dengan segera
ia mengikuti panggilan Ilahi, dan selama empat belas tahun
bersama sekelompok kecil muridnya yang berbakti, dia pergi dari
satu tempat ke tempat lain, seringkali dalam ancaman bahaya maut,
diremehkan, dan kesengsaraan. Akhirnya ia diizinkan untuk
kembali ke tanah kelahirannya, yakni Lu, dia sudah berusia lanjut
68 tahun. Beliau menghabiskan sisa akhir hayatnya dalam
menyiarkan risalah-risalah wahyunya, dan menerbitkan buku-buku
klasik China. Dia menyadari bahwa gagasan-gagasannya jauh lebih
penting daripada langsung dicobakan secara mendadak dalam
praktek. Beliau wafat pada tahun 479 sM. Suatu gambaran yang
sangat berkesan dari kepribadian dan cara hidupnya, tampak dalam
100 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
riwayat-riwayat yang diceritakan oleh murid-muridnya, termasuk di
dalamnya Lun Yu (Cerita dari Kong Hu Chu). Di sana ditulis:
“Dalam saat-saat senggangnya, Tuan kelihatan ramah dalam
bersikap, dan berseri-seri wajahnya (7:4) Tuan sangat lemah
lembut, namun ketat (disiplin), anggun tetapi tidak sombong, sangat
dihormati walaupun rendah hati. Bilamana Tuan berada di antara
penduduk desanya, beliau tampak sederhana dan tulus seolah-olah
dia awam dalam berbicara. Namun bilamana beliau dalam kuil
kuno atau dalam majelis, maka beliau berbicara dengan hati-hati.
Dalam majelis ketika beliau berbicara dengan pejabat yang lebih
tinggi, maka beliau berbicara penuh keakraban dan tepat. Bila
dihadapan Pangeran, beliau menghormat dalam gerakan yang
tenang dan tepat (10:2) Bilamana seorang temannya meninggal
dunia sedangkan dia tidak berkeluarga, maka beliau akan berkata
“Biarkan saya yang akan mengurus pemakamannya” Atas hadiah
dari seorang teman, bahkan meskipun hadiahnya berupa sebuah
kereta ataupun kuda, beliau tidak akan membungkuk kecuali kalau
hadiah itu dimaksudkan sebagai pengorbanan.”(10:15)1
AJARAN KONG HU CHU
Kong Hu Chu menghindarkan diskusi mengenai hal-hal yang
metafisik dan abstrak. Seorang muridnya, Chung Yun, suatu kali
bertanya kepada Tuannya tentang roh. Kong Hu Chu menjawab:
“Bilamana engkau tidak dapat mengenal manusia, bagaimana
engkau dapat mengenal roh?” Ketika beliau ditanya mengenai
kematian, jawabnya: “Bilamana engkau tidak mengenal kehidupan,
bagaimana engkau bisa mengetahui kematian?” Juga dikatakan
tentang beliau: “Tuan tidak pernah berbicara tentang hal-hal yang
menyimpang dari hukum, adu kekuatan, pemberontakan, atau pun
1 James R. Ware (translator), The Saying of Confucius. (Mentor Religious Classic, New
York, 1955)
AGAMA KONG HU CHU 101
dewa-dewa”. Meskipun demikian, tidak dapat disangsikan lagi akan
kenyataan bahwa Kong Hu Chu percaya kepada Tuhan dan seorang
yang ketat bertauhid. Beliau mendakwahkan bahwa Kehendak
Tuhan telah diwahyukan kepadanya adalah missinya agar kehendak
Nya itu unggul di muka bumi. Di sini ada beberapa kata ucapannya:
“Dia yang menyakitkan Tuhan, maka tiada satu pun yang
dapat menerima doanya” (Analects, 3:13).
“Ada tiga perkara yang harus ditakuti oleh seorang yang
mulia: perintah – perintah Tuhan, alim ulama, dan kata-kata hikmah
orang dahulu. Orang picik adalah orang yang tidak tahu menahu
akan perintah Tuhan, tidak merasa takut pada Nya, tidak
menghormati alim-ulama, mengejek kata-kata hikmah orang
dahulu. “ (Analects, 16:8)
“ Tuhan telah menugaskan kepada saya suatu risalah
Ketuhanan. Apa yang dapat dilakukan oleh Huan T’uei (seorang
perwira militer yang menggesernya) kepadaku?” (Analects, 7:23)
“Bila sudah menjadi Kehendak Tuhan, bahwa sistem Ilahi
diabaikan, maka anak cucu kita tidak akan mendapat lagi bagian
dari ilmu keimanan ini. Tetapi dengan Kehendak Tuhan, sistem ini
tidak tersia-sia, apakah yang dapat dilakukan orang-orang Kuang
terhadapku.” (Analects, 9:5)
Kong Hu Chu percaya bahwa dunia ini dibangun berdasarkan
landasan moral. Bilamana manusia dan negara menjadi rusak
akhlaknya, maka tata-susunan alam akan terganggu. Akan ada
bencana peperangan, banjir, gempa bumi, paceklik yang panjang,
dan wabah penyakit. “Jadi”, tulis Alfred Doeblin, “berlawanan
dengan arus pemikiran kita yang materialistis dan menjadikan
manusia itu objek tak berdaya dalam mengadapi arus peristiwa
yang bebas serta tanpa arti, maka tingkah laku kita itu dapat
mempengaruhi dan sesungguhnya telah mempengaruhi peristiwaperistiwa
dunia, karena kita ini memiliki kekuatan rohani yang
mempengaruhi kekuatan rohani dunia, dan suatu pilihan nasib
102 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
manusia yang tidak tergantung kepada Langit itu tidak mungkin,
seperti tidak mungkinnya alur peristiwa di dunia ini tidak
tergantung kepada manusia. Kesengsaraan, kegagalan peristiwaperistiwa
yang mengerikan adalah jeritan peringatan dunia yang
menderita, yang menjerit menyeru manusia untuk mengembalikan
tata susunan dan kembali ke jalan yang benar. Jadi Kong Hu Chu
dan ajaran orthodoksnya meningkatkan pengertian kita. Kita
mengembangkan suatu kewajiban yang mendalam agar bertindak
wajar dan tidak ditujukan untuk takut hukuman. Kong Hu Chu
menjadikan kita para penjamin tata dunia yang teratur, dan jangan
melalaikan kewajiban kita sekejap pun, karena suatu gerakan itu
diikuti oleh gerakan yang lain, dan hanya suatu perniagaan
kontanlah yang berlaku.”2
Kong Hu Chu menaruh penghargaan yang tinggi kepada
ummat manusia, percaya bahwa manusia itu dianugrahi suatu
Cahaya Ilahi. Beliau berkata: “Manusia yang membuat tata susunan
ini besar, dan bukan sistemnya yang membuat manusia itu besar.”
(Analects, 15:29). Dia percaya bahwa manusia itu fitrahnya baik
dan akan kembali kepada kemuliaan bila suatu contoh teladan
ditegakkan oleh atasan atau golongan penguasa. Dia tidak percaya
adanya beban gaib, dosa asal, atau dosa yang diwariskan. Beliau
adalah teman dari kehidupan dan manusia, seperti yang dikenal
dengan baik bahkan tanpa beban dari dosa asal ini sudah cukup
menderita dan senantiasa diancam oleh dua bahaya, yakni anasiranasir
perusak yang mencederainya dan penguasa yang jahat. Kong
Hu Chu membela manusia, bahkan seekor binatang ataupun
makhluk hina dianggap baik dalam fitrahnya, dan sangat cemas
kalau mereka dibinasakan. Beliau percaya bahwa manusia itu tidak
memerlukan juru selamat yang secara mukjizat akan menghapus
2 Alfred Doeblin, The Living Thoughts of Confucius, p.14 (The Living Thoughts Library,
Cassel and Company, London, 1942)
AGAMA KONG HU CHU 103
segala dosanya. Apa yang diperlukan manusia adalah seorang guru
ketulusan yang dengan sepenuhnya mempraktikkan ajaranajarannya
dapat menjadi contoh teladan bagi manusia lainnya.
Kong Hu Chu sendiri adalah Guru semacam itu yang dibangkitkan
oleh Tuhan.
Analects mengajarkan kepada kita kepercayaan atas evolusi
kemanusiaan yang sejati. Di sini digambarkannya kebenaran atau
kemuliaan manusia: “Dia yang mula pertama mempraktikkan apa
yang diajarkannya, dan kemudian mengajarkan apa yang
dipraktikkannya”. (Analects, 2:13) “ Orang yang mulia memahami
apa yang benar, dan orang yang rendah hanya mengenal apa yang
dapat dijual.” (Analects, 4: 16). “Orang yang mulia mencintai
jiwanya; orang yang rendah mencintai harta bendanya. Orang yang
mulia senantiasa ingat betapa ia dihukum karena kesalahankesalahannya;
orang yang rendah selalu mengingat hadiah-hadiah
apa yang diperolehnya” (4:11). Orang yang mulia itu berwibawa
dan ramah tamah serta tidak sombong, tetapi orang rendah itu
sombong dan tidak berwibawa (13:26). “ Orang mulia itu dapat
memahami pandangan orang lain tetapi tidak sepenuhnya
menyetujui, orang yang rendah itu setuju sepenuhnya dengan
pandangan orang lain tetapi tidak memahaminya.” (13:23) “Orang
besar mempunyai pandangan universal tanpa prasangka, orang
picik berprasangka dan tidak universal pandangannya” (2:14)
Dari segi etika, Kong Hu Chu menekankan pada senasib
sepenanggungan, atau timbal balik menyuburkan simpati dan kerja
sama yang harus dimulai dalam keluarga, kemudian diperluas
secara bertahap ke perkumpulan. Beliau menekankan pentingnya
lima hubungan kemanusiaan utama yang sudah menjadi adatistiadat
di antara bangsa China: (1) penguasa dengan rakyatnya, (2)
ayah dengan anaknya, (3) saudara tua dengan adiknya, (4) suami
dengan istrinya, dan (5) sahabat dengan temannya. Kong Hu Chu
melihat bahwa kekacauan yang timbul di China ketika raja tidak
104 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
bertingkah laku sebagai raja, rakyat tidak bertindak sebagai rakyat,
bapak tidak berbuat sebagai bapak, dan seterusnya. Maka dia
merasa bahwa langkah pertama ke arah perombakkan dunia yang
kacau, ialah dengan cara setiap orang harus menyadari dan
memenuhi kewajibannya sendiri dengan tepat.
Suatu kali, Kong Hu Chu ditanyai, “Adakah satu kata yang
dapat berlaku sebagai prinsip dalam hubungan hidup?” Dia
menjawab: “Barangkali kata ‘timbal balik’ adalah yang tepat.
Janganlah berbuat sesuatu kepada orang lain yang kalian sendiri
tidak ingin orang lain berbuat demikian terhadapmu.” (Analects,
15: 24)
Menurut Kong Hu Chu, kemuliaan yang harus disuburkan di
atas segalanya ialah kasih antara sesama manusia (Jen). Etikanya,
kebijakannya, cita-cita hidupnya, semuanya mengalir dari
kemuliaan yang utama ini. Jen berisi cita-cita Kong Hu Chu untuk
menyuburkan hubungan antara manusia, mengembangkan
kemampuan manusia, menggabungkan kepribadian seseorang, dan
memegang hak azasi manusia. Tzu Tang bertanya kepada beliau
tentang Jen, dan beliau menjawab: “Kemampuan untuk
melaksanakan lima sifat mulia di dunia membentuk Jen. Ketika
ditanya lagi apakah itu, beliau berkata: “Itu adalah kehormatan,
kedermawanan, ketulusan, ketekunan, dan kasih sayang.”
(Analects, 17 : 6). Beliau juga mengatakan bahwa Jen terdiri dari
“menyayangi sesama.”
Kong Hu Chu menginginkan kemajuan manusia sepanjang
:Jalan peradaban yang benar”, yang dijamin oleh penguasa yang
baik , yang memimpin di depan dan menegakkan suatu contoh
teladan, serta para pembantunya yang baik menjalankan hukum
sesuai kerangka agama yang tertulis. Dia menginginkan agar
seluruh negeri disusun sebagai suatu lembaga pendidikan, kerja
keras harus dimulai, dan atau dengan para penguasa terlebih
dahulu, sebab bilamana penguasa memberi contoh buruk maka dia
AGAMA KONG HU CHU 105
akan menjerumuskan seluruh rakyat dalam kesengsaraan. Menurut
ajaran Kong Hu Chu tiada sedikit pun diragukan bahwa tujuan satusatunya
dari suatu negara adalah meningkatkan kesejahteraan
rakyat sesuai dengan hukum Tuhan.
“ Pemerintah hanyalah menempatkan segala perkara dengan
benar. Bila Anda sendiri memberi contoh teladan yang benar,
siapakah yang berani menyeleweng”. (Analects, 12 : 17)
“ Apabila penguasa sendiri berbuat apa yang benar, dia akan
mempunyai pengaruh terhadap rakyat, bahkan tanpa memberi
perintah-perintah, dan bilamana penguasa sendiri tidak
melaksanakan apa yang benar, segala perintahnya akan sia-sia
tanpa guna.” (13 : 6)
“ Bilamana penguasa menepati kewajibannya sendiri,
memerintah adalah suatu yang sangat mudah, dan jika dia tidak
menepati kewajibannya, bagaimana dia dapat menyuruh orang lain
menepatinya?” (13 : 13)
“ Pimpinlah rakyat itu dengan alat-alat kekuasaan dan awasi
serta aturlah mereka dengan ancaman hukuman, dan rakyat akan
mencoba keluar dari penjara, namun mereka tidak akan punya rasa
hormat atau pun rasa malu. Bimbinglah rakyat dengan akhlak
mulia, dan awasi serta aturlah dengan aturan-aturan kebenaran,
maka rakyat akan menaruh rasa hormat serta patuh.” (2 : 3)
AJARAN KONG HU CHU SEPENINGGALNYA
Ajaran Kong Hu Chu berkembang dan menyebar tidak lama
setelah wafatnya. Sehabis berduka cita atas kematian Tuannya,
maka para murid itu mulai memencar dan berkelana sendiri-sendiri
untuk membawakan karya-karya serta mengembangkan risalahrisalahnya.
Meskipun para murid itu semuanya menghormati katakata
Tuan mereka, adalah wajar bila masing-masing menekankan
aspek-aspek tertentu dari ajaran Kong Hu Chu tersebut. Dengan
berlalunya waktu, perbedaan-perbeaan itu semakin melebar segera
106 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
setelah mereka mengembangkan system berfikir masing-masing
untuk menyelaraskan dengan kepentingan dan keyakinan mereka
masing-masing. Akibatnya, menurut sebuah sumber tidak kurang
dari delapan aliran yang berbeda dari agama Kong Hu Chu telah
timbul.
Yang paling penting dari aliran-aliran ini berasal dari
penuturan ajaran Kong Hu Chu dari Tseng Ts’an, cabang mata
tombak yang paling tulus dalam menekankan pemupukan akhlak
dari pada ketelitian upacara agama sebagai dasar dan cita-cita
manusia. Dia adalah pengarang beberapa buku yang terkenal,
termasuk Classic of Filial Piety dan Great Learning. Cendikiawan
besar lainnya dari aliran ini adalah cucu Kong Hu Chu, Tzu-ssu
(Kung Chieh). Dia adalah penulis salah satu dari kitab suci Kong
Hu Chu, the Doctrine of the Mean. Ini terdiri dari kumpulan katakata
Kong Hu Chu bersama-sama dengan penafsiran Tzu-ssu
tentang hal yang sama. Tafsir itu menjadi sangat indah pada akhir
karyanya, yakni ketika dia memperbincangkan tentang realitas
Tuhan (cheng) dan kesejatian manusia: “Adalah jalan Tuhan yang
merupakan kenyataan itu. Adalah jalan manusia untuk mencapai
kenyataan itu. Mengikuti kenyataan berarti memikul pengertian
tanpa usaha, memilikinya tanpa melatih fikiran, dan memusatkan
diri pada jalan dengan kebahagian yang wajar, ini adalah kisah
zaman dahulu. Untuk mencapai realitas Tuhan haruslah memiliki
kebajikan dan berpegang teguh padanya. Ini melibatkan pengkajian
mendalam mengenai apa yang benar, bertanya-tanya secara luas
tentang hal itu, merenungkan hal itu dengan hati-hati, membuatnya
terang melalui tantangan, dan dengan tekun menjalankannya
melalui praktik.”3 Khususnya buku itu menekankan ‘kesejatian
umat manusia dan ketulusan dalam bertindak’, dan kemampuan
3 Chu Chai and Winberg Chai (penterjemah), Essential Works of Confucianism, Part VI.
P. 315 (Bantam Book, New York, 1965)
AGAMA KONG HU CHU 107
untuk merombak serta menyerahkan perkembangan sepenuhnya
pada fitrah manusia.
Sekitar dua ratus tahun terakhir dari dinasti Chou, terlibat
dalam peperangan antara negara. Ini masa kekacauan politik,
ketiadaan hukum, dan pertumpahan darah. Penguasa kerajaan Chou
ditantang oleh beberapa pangeran feodal yang bahkan mengangkat
dirinya dengan jabatan raja. Maka timbullah tujuh negara besar
yang terus menerus terlibat dalam peperangan satu sama lainnya.
Di atas puing-puing kota yang jatuh, dan mayat-mayat
bergelimpangan, maka tumbuhlah para politisi yang licik dan
jenderal yang kejam ke tampuk kekuasaan serta menjadi penguasa
tiran yang semuanya serakah menumpuk kekayaan di atas
pengorbanan rakyat banyak. Ketika para raja dan pejabat dari
negeri yang saling berperang itu memuaskan hawa nafsu dan selera
mereka semaunya, maka sebaliknya para petani benar-benar
terinjak di bawah tiga beban, yakni peperangan, pajak, dan kerja
paksa.
Namun dalam masa peperangan antara negara itu, maka
menonjol hal kebebasan berfikir. Masa itu kita menyaksikan
bangkitnya apa yang dinamakan ‘Seratus Aliran’ dalam filsafat dan
agama yang saling bersaing dengan ajaran Kong Hu Chu untuk
mendapat pengakuan dari rakyat. Jika tidak muncul seorang yang
bernama Mencius pastilah agama Kong Hu Chu telah
ditenggelamkan oleh para saingannya. Generasi berikut sudah
pantas menghormati Mencius sebagai perawi kedua yang hanya
setingkat di bawah Tuan yang mulia itu sendiri.
AJARAN MENCIUS
Mencius (Meng Ko) berasal dari nama Meng Tzu, atau Tuan
Meng. Ia hidup pada abad ke empat sM. Dengan keelokkan,
keberanian moral, keyakinan yang dalam, dia menyebarluaskan
agama Kong Hu Chu. Dia mendapat kehormatan besar di antara
108 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
para raja dan pangeran. Dia mengunjungi beberapa negeri dan ke
mana pun dia pergi disambut dengan kehormatan dan kebaktian.
Nasehat-nasehatnya sangat diharapkan dan bahkan sekali atau dua
menganutnya.
Sumbangan Men Tzu terhadap agama Kong Hu Chu terletak
dalam penekannya atas kebaikan yang mendasar dalam fitrah
manusia. Menurut dia manusia mewarisi empat sifat mulia: hati
manusia (Jen), ketulusan (Yi), sopan santun (Li), dan kebijaksanaan
(Chih). Dia berkata:
“ Dengan memuliakan sifat-sifat dasarnya, maka manusia
dapat dianggap baik. Itulah sebabnya kukatakan bahwa sifat-sifat
dasar manusia itu baik. Bilamana ia menjadi jahat, hal itu bukanlah
kesalahan sifat-sifat dasarnya. Perasaan kasih sayang itu sudah
biasa bagi segenap manusia, perasaan malu itu sudah biasa bagi
setiap orang, rasa hormat itu sudah biasa bagi semua orang,
perasaan benar atau keduanya membentuk kearifan. Rasa
kemanusiaan, ketulusan, keselarasan, dan kearifan itu tidak
diajarkan, hal itu sudah tertanam dalam fitrah kita.”4
Namun sifat manusia itu dapat menjadi rusak akibat
berhubungan dengan kehidupan yang kasar. “Seorang ksatria”, kata
Mencius, “adalah seseorang yang tidak kehilangan hati nuraninya,
seperti anak kecil telanjang bulat.” Hati seorang bayi, katakanlah,
adalah suatu lambang yang serupa dengan sumber semua kebajikan
dalam fitrah kita yang kita harus pegang teguh. Namun ironinya,
kita seperti ketika anjing atau ayam yang tersasar, kita bersusah
payah mencarinya, dan sangat sedikit di antara kita yang tertarik
untuk menemukan kembali kebajikan fitriah kita.”
Masalah selanjutnya yang menjadi perhatian Mencius ialah
pemerintahan yang baik. Mengikuti tradisi aliran Kong Hu Chu, dia
4 Chu Chai and Winberg Chai (penterjemah), Essential works of Confucianism, Part II:
Meng Tzu, p.96 (Bantam Book, New York, 1965)
AGAMA KONG HU CHU 109
tetap berpendirian bahwa pemerintah yang baik tidaklah tergantung
kepada kekuatan kekerasan, namun harus dengan contoh teladan
yang ditegakkan oleh para penguasa:
“Segenap manusia mempunyai hati-nurani yang tidak tega
melihat penderitaan orang lain. Raja-raja zaman dahulu memiliki
kalbu yang penyayang, dan karena itu mereka mempunyai suatu
pemerintahan yang penyayang. Setelah itu memerintah dunia
adalah sama mudahnya dengan membalik telapak tangan.”
Tumbuh dari konsep “pemerintahan berperikemanusiaan”
adalah pengenalan Mencius terhadap peranan rakyat dalam
pemerintahan:
“ Rakyat memiliki tingkat kedudukan yang tinggi dalam
negara, roh bumi dan biji-bijian datang kemudian, dan penguasa
adalah perkara yang penghabisan.”
Pemerintahan yang baik harus tumbuh berakar dari rakyat dan
tidak ditentukan dari atas. Rakyat tidak saja menjadi pokok
melainkan juga pengadilan terakhir dari penguasa. Tujuan
pemerintah adalah mendidik dan memperkaya serta memperbaiki
kesejahteraan mereka secara menyeluruh.
AJARAN HSUN TZU
Segera setelah Mencius, muncullah seorang kampiun yang
besar dari agama Kong Hu Chu. Namanya Hsun Tzu; dia pada
waktu yang sama adalah seorang eksponen yang tekun pada
prinsip-prinsip ajaran Kong Hu Chu, dan seorang kritikus terhadap
Mencius. Bila Mencius dianggap sebagai mewakili sayap idealistik
Kong Hu Chu, maka Hsun Tzu dapat dikatakan mewakili sayap
realistis.
Berbeda dengan Kong Hu Chu, Mencius, dan banyak lainnya,
Hsun adalah seorang agnostic (kurang percaya akan barang gaib,
pent. ) Dia tidak percaya pada Tien (Langit) sebagai Dzat Pribadi
Ilahi Yang Esa. Tien tidak lebih dari keberagaman hukum alam,
110 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
dan segala perobahan alam semesta, pergerakan bintang, pergeseran
matahari dan rembulan, pergantian musim dan lain sebagainya
adalah berlakunya hukum yang besar. Hsun Tzu berkata, bahwa
manusia itu sendirilah dan bukanlah Tien yang bertanggung jawab
terhadap kehidupannya sendiri bagi tujuan keberuntungan atau pun
bencana yang menimpa dirinya.
“ Bilamana bahan makanan dan pakaian disediakan dengan
cukup dan digunakan secara ekonomis, maka Tien tidak dapat
memiskinkan negeri. Jikalau rakyat disantuni dengan cukup dan
enersi mereka diperkerjakan di musim tanam, Tien tidak dapat
mengganggu rakyat. Jika Tao diikuti dan tidak ada penyimpangan
dari hal itu, maka Tien tidak akan menurunkan kesengsaraan.”5
Hsun Tzu menolak segala macam takhayul seperti
pengeramatan, ramalan, serta pemujaan benda-benda. Dia juga
mempertanyakan manfaat doa: “Jika manusia berdoa minta hujan,
lalu turun hujan, bagaimana pengertiannya? Saya akan katakan:
Bukan perkara aneh. Hujan tokh akan tetap turun meskipun tidak
ada orang yang berdoa meminta hujan.”6
Gagasan aneh lainnya dari Hsun Tzu adalah bahwa fitrah
manusia pada dasarnya jahat sehingga manusia harus berusaha
mencari kebajikan. Dalam hubungan ini dia melancarkan serangan
langsung kepada Mencius, ia menuduhnya gagal dalam
membedakan apa yang menjadi bakat alami dan apa yang harus
diusahakan dalam diri manusia. Bilamana kemuliaan yang dianggap
Mencius sebagai yang terpenting untuk mengembangkan akhlak
manusia, yakni kasih sayang sesama manusia (Jen), dan ketulusan
(Yi), maka cara yang ditekankan sekali oleh Hsun Tzu adalah ritual
(Li) dan musik (Yeo). Dia berpendapat bahwa ritual dan musik
5 Chu Chai and Winberg Chai (penterjemah), Essential Work of Confucianism, part III:
Hsun Tzu, p. 226 (Bantam Book, New York, 1965)
6 Ibid, p. 230
AGAMA KONG HU CHU 111
adalah sarana yang paling efisien untuk menekan apa yang
dianggapnya sebagai sifat dasar manusia yang jahat.
SEJARAH AGAMA KONG HU CHU BELAKANGAN
Selama periode Chin (221 – 207 sM) ada gerakan yang tak
terelakkan terhadap kemerdekaan berfikir pada akhir tahun Chou,
yang ditandai dengan adanya ‘Seratus Aliran’. Dengan diilhami
oleh reaksi inilah, maka Kaisar Shih Huang Ti menginginkan
pengendalian aliran pemikiran dengan dekritnya yang terkenal
jelek, yakni membakar semua karya mereka tentang ketuhanan,
pengobatan, dan pertanian. Sebagai akibat dari dekrit ini, maka
sebagian besar buku-buku Kong Hu Chu dimusnahkan menjadi abu
dan tidak kurang dari 460 ahli-ahli fikir dihukum mati.
Namun dengan bangkitnya dinasti Han (206 sM – 220 M)
kebebasan berfikir muncul kembali di China. Tung Chun-shu yang
salah satu dari pembaharu terbesar pada awal dinasti Han,
mengusulkan kepada Kaisar bahwa kesatuan hanya dapat diperoleh
dalam kerajaan bilamana agama Kong Hu Chu diangkat mengatasi
aliran-aliran pemikiran yang lain. Universitas China pertama
didirikan di ibukota Han, yakni Chang-an untuk menyalurkan jalanjalan
kesucian dari penguasa-penguasa lama, dan meningkatkan
perkembangan moral serta intelektual dari Kerajaan”. Alat
pengukur lain yang penting untuk mengangkat ajaran Kong Hu Chu
ialah mulai diadakan sistem ujian yang berdasarkan lima Kitab
Klasik. Tujuan dari ujian-ujian ini ialah untuk menghasilkan
pegawai pemerintan yang memiliki integritas pendidikan dan moral
serta mengabdi kepada ajaran Kong Hu Chu.
Tung Chung-shu mencoba membangkitkan kembali ajaran
yang murni dari Kong Hu Chu tidak sekedar sebagai filsafat,
sebagaimana tampak pada perkembangannya belakangan,
melainkan juga sebagai agama yang sepenuhnya dengan aspekaspek
kerohanian akhlak dan budaya, bersangkut paut sebanyak
112 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
mungkin dengan kehausan jiwa manusia yang abadi untuk
keselamatan dan dengan jalan-jalan Tuhan dalam hubungan dengan
sesama manusia dan dengan alam semesta seperti juga dengan
prinsip-prinsip hubungan yang benar dan keadilan sosial. Dia
percaya atas keunggulan manusia bila dibandingkan dengan
makhluk-makhluk lainnya terletak dalam kemampuannya untuk
menerima Wahyu Ilahi dan meleburkan hubungan pribadi serta
wataknya sesuai dengan wahyu tersebut. Katanya:
“Manusia menerima ketentuan dari Tuhan dan karenanya dia
lebih unggul dari makhluk lainnya. Makhluk-makhluk lain
menderita kesukaran dan kesedihan serta tidak dapat
mempraktikkan Jen (kasih sayang) dan Yi (ketulusan), manusia
sendiri mempunyai kemampuan melaksanakannya.”7
Pandangan Tung terhadap fitrah manusia adalah seperti suatu
kompromi antara pandangan Mencius dan Hsun Tzu. Dia setuju
dengan Mencius bahwa sifat dasar manusia berisikan kemampuan
untuk berbuat kebajikan, namun dia beranggapan bahwa permulaan
ini tidaklah dengan sendirinya, bukti yang cukup bahwa sifat
manusia itu selamanya baik karena sifat dasar manusia itu tidak
hanya berisi bakatnya melainkan juga perasaannya. Manusia harus
menunjukkan kemauan, dan perasaannya kepada perintah-perintah
Tuhan agar dia menjadi baik.
Dia juga menekankan hubungan antara tingkah laku manusia
dan alam semesta. Perbuatan manusia yang jahat ditunjukkannya
akan berakibat bencana dan penyimpangan:
“Mula-mula Tuhan mengirimkan peringatan dan bila setelah
diberi peringatan manusia masih belum mau mengerti, maka Dia
akan menakutinya dengan kegoncangan-kegoncangan. … Asal usul
7 Chu Chai dan Winberg Chai (penterjemah), Essential Works of Confucianism, Part VIII;
Chun Chiu Fan-lu, p. 366
AGAMA KONG HU CHU 113
dari segala bencana dan goncangan itu adalah akibat langsung dari
dosa-dosa yang ada dalam negeri itu.”8
Ketika kemenangan agama Kong Hu Chu hampir-hampir
terjamin pada masa-masa awal dinasti Han, timbullah pada saat
yang sama dalam barisan ahli fikir Kong Hu Chu suatu
pertentangan yang pahit tentang penafsiran Kitab Klasik dan status
pribadi Kong Hu Chu. Aliran Kitab Baru meningkatkan derajat
Kong Hu Chu sebagai Tuhan Juru Selamat. Berlawanan dengan
pandangan ini Aliran Kitab Lama tetap percaya bahwa Kong Hu
Chu hanyalah seorang Nabi dan pahlawan. Namun ternyata aliran
Kitab Baru memperoleh keunggulan selama masa itu. Pada tahun
59 suatu awal pemujaan terhadap Kong Hu Chu dimulai ketika
Kaisar Ming dari dinasti Han, yang belakangan memerintahkan
untuk beribadah kepada Kong Hu Chu, tadinya ditetapkan di
Klenteng Lu kemudian ke segenap pemerintahan di kota-kota . Ini
jelas menegakkan Kong Hu Chu menjadi dewa pendidik.
Setelah hancurnya dinasti Han, datanglah masa panjang dari
kekacauan moral dan politik di China, di mana ajaran Kong Hu Chu
seolah-olah kehilangan pegangan di antara para terpelajar.
Kebanyakan dari mereka lari ke agama Tao dan agama Buddha
untuk mencari ilham. Tetapi usaha untuk melipatgandakan
penuhanan kepada Kong Hu Chu semakin menjadi-jadi di kalangan
pengikutnya, mungkin ini sebagai kompetisi tajam menghadapi
agama-agama saingannya. Pada tahun 178 , patung Kong Hu Chu
digunakan untuk pertama kalinya di kelenteng sebagai ganti dari
ayat-ayat Kitab Suci. Selanjutnya hal ini diikuti dengan pembuatan
patung-patung kayunya pada tahun 505 M. Pada tahun yang sama,
kelenteng yang pertama untuk menghormati Kong Hu Chu
dibangun di kota Nanking. Ketika China dipersatukan kembali oleh
8 Ibid, p. 365
114 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
dinasti Tang pada abad ketujuh, pemujaan terhadap Kong Hu Chu
benar-benar telah tegak.
Masa dinasti Sung (960 – 1280) dan dinasti Ming (1368 –
1644) tercatat adanya kebangkitan dan perkembangan aliran Li
Hsueh Chia atau aliran penelaahan Li, yang biasa di Barat dikenal
sebagai “Neo Confucianism”. Namun pemberian nama tersebut
salah, karena tidak ada pemurnian kebangkitan agama Kong Hu
Chu. Para ahli Neo Confucianism tak diragukan lagi memang ahli
fikir Kong Hu Chu, namun aktivitas intelektual mereka diilhami
dan ditentukan oleh spekulasi atas keunggulan guru Ch’an (Zen).
Jadi Neo Confucianism adalah semacam penggabuangan atau revisi
dari etika, moral, dan kepercayaan masa lampau serta prinsipprinsip
Kong Hu Chu yang seluruhnya telah bercampur dengan
agama Buddha dan Tao. Tidak dipungkiri lagi ini adalah satu dan
sistem yang paling penting dikembangkan di China. Pengaruh
intelekktual yang telah terjadi di China pada masa lampau,
kebudayaan dan pemikiran yang telah diambil dari negeri-negeri
asing, semuanya membentuk kerangka falsafah ini dan mengkristal
di dalamnya.9
KITAB KITAB SUCI AGAMA KONG HU CHU
Kitab yang paling penting untuk memahami Kong Hu Chu
pribadi dan ajarannya, yakni Lun Yu (Kumpulan literature Kong Hu
Chu). Ini adalah himpunan dari ucapan-ucapan Kong Hu Chu yang
disusun oleh murid-muridnya beberapa waktu setelah wafatnya
junjungan mereka. Ada tiga versi dari buku ini; versi Lu, versi Sh’I,
dan versi Skripsi Kuno. Ketiga versi inti tidak seluruhnya sejalan,
baik dalam lingkup isinya, maupun susunannya dari teks tersebut.
9 Untuk lebih rinci lihatlah Lin Wu-chi, A Short History of Confucian Philosophy (Pelican
Book) bab 10 dan 11 (Penguin Books, 1955)
AGAMA KONG HU CHU 115
Versi yang terkenal saat ini ialah versi Lu yang dibagi dalam dua
puluh bab.
Sesudah Kitab Himpunan ini, maka kita menemukan enam
Kitab Klasik kaum Kong Hu Chu yang katanya ditulis atau
disunting oleh Kong Hu Chu. Kitab-kitab itu adalah:
1. Shu Ching (Kitab Sejarah). Aslinya berisi seratus dokumen
sejarah dari para dinasti kuno China dan meliputi suatu periode
panjang antara abad duapuluh empat hingga abad kedelapan
sebelum Masehi. Katanya Kong Hu Chu telah mengatur dokumendokumen
ini secara kronologis dan menulis kata pengantarnya pula.
Dokumen-dokumen ini mengalir bersama ajaran-ajaran keagamaan
dan moral. Kong Hu Chu menyunting dokumen-dokumen ini agar
para siswanya menjadi akrab dengan fakta-fakta berkenaan dengan
bangkit dan runtuhnya dinasti-dinasti tersebut. Dari seratus
dokumen yang telah disusun nya hanya duapulah delapan yang ada
dalam Kitab Sejarah.
2. Shih Ching (Buku Syair). Ini adalah kumpuluan sajak-sajak
yang popular dan ditulis selama limaratus tahun pertama dari
dinasti Chou. Maksud Kong Hu Chu dalam menyunting kitab ini
adalah menjadikan pengikutnya berbudaya dan ahli dalam
menggunakan kata-kata serta untuk menekankan nilai-nilai moral
dalam syair-syair tersebut. Beliau memilih 305 sajak dari lebih
3000 buah yang dikumpulkan.
3. Yi Ching (Kitab Perobahan). Buku ini menawarkan suatu
sistem filsafat yang sangat menarik. Kitab ini menerangi apa yang
disebut prinsip-prinsip dalam Yin (lelaki) dan Yang (wanita).
4. Li Chi (Kitab Upacara-Upacara). Kong Hu Chu menyetujui
beberapa upacara tradisional untuk mendisiplinkan rakyat dan akan
membawa perbaikan, kemuliaan, serta kekayaan terhadap sikap
sosial mereka. Beliau menerangkan asal usul dan pentingnya
upacara kuno dan menyebut bahwa li adalah penyebaran rasa hati.
Mengeritik praktik-praktik yang merendahkan pada masa
116 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
belakangan, beliau mengatakan bahwa li tanpa rasa hati tiada lain
pelecehan terhadap upacara-upacara keagamaan.
5. Yeo (Kitab Musik). Pada masa Kong Hu Chu, musik sangat
erat sangkut pautnya dengan sajak. Maka ketika beliau menyunting
puisi-puisi lama, beliau menyusun suatu pengaturan musik yang
mengiringi setiap sajak-sajaknya. Beliau kadang-kadang merevisi
nada yang lama atau menciptakan lagu baru. Sayang tak sebuah pun
dari musik-musik ini masih ada.
6. Ch’un Ch’iu (Kitab Bersambungnya Musim Semi dan
Musim Gugur). Ini adalah catatan kronologis dari peristiwaperistiwa
utama di negeri Lu dari tahun pertama pemerintahan
Pangeran Ai (481 sM). “Tema sentral dari buku ini”, tulis Chu
Chai, “adalah untuk membangun norma-norma pemerintahan yang
baik, membimbing pangeran pangeran yang menyeleweng kembali
ke tempatnya yang tepat, dan mengutuk menteri-menteri yang salah
urus sehingga dengan demikian akan mengokohkan persatuan dan
perdamaian dunia.”
Penting pula untuk memahami agama Kong Hu Chu, yakni
tiga Kitab lainnya yang berisi penyajian yang sangat awal dari
doktrin agama Kong Hu Chu. Ini adalah:
1. Ta Hsueh (Pelajaran Besar). Kitab ini secara tradisional
dinisbahkan kepada Tseng Tsan, satu dari murid-murid utama Kong
Hu Chu. Tema sentral buku ini adalah memupuk perkembangan
pribadi, yakni (a) manifestasi dari sifat-sifat mulia, (b) kasih sayang
sesama manusia, dan (c) tetap teguh dalam kebajikan yang
tertinggi. Delapan perkara etis politis (atau delapan “kawat-kawat
kecil”) yang mendorong perkembangan pribadi adalah: (i)
penyelidikan, (ii) memperluas pengetahuan, (iii) ketulusan dalam
fikiran, (iv) pensucian hati, (v) memperkaya pribadi (vi) tata krama
kekeluargaan, (vii) tata pemerintahan, (viii) jaminan perdamaian
dunia.
AGAMA KONG HU CHU 117
2. Chung Yung (Doktrin Jalan Tengah). Kitab ini ditulis oleh
cucu Kong Hu Chu, Tzu-ssu, adalah sajian sistematis dari doktrin
hakiki (Chung), dan kenyataan normal (Yung). Untuk menjamin
ketepatan hakekat dan kenyataan normal itu tidak cukup hanya
dengan mengeja suatu jalan tengah; hal ini lebih diartikan sebagai
keharmonisan dengan alam semesta. Jadi jalan kepada hakiki dan
kenyataan normal melibatkan rasa keadilan, semangat toleransi,
keadaan harmonis, dan doktrin persamaan manusia. Ini adalah suatu
cara bertindak yang mencegah seseorang menjadi ekstrim. Ini juga
suatu keadaan fikiran di mana akal budi manusia dan perasaan
mencapai keharmonisan yang sempurna.
3. Hsiao Ching (Buku klasik tentang kewajiban untuk taat).
Buku ini adalah bentuk percakapan antara Tsung Tzu dan Kong Hu
Chu. Beliau menerangkan pandangan bahwa “tugas untuk taat
adalah dasar dan sifat yang mulia serta sumber budaya.” Menurut
beliau tugas ketaatan itu tidak hanya suatu kemuliaan di dalam
rumah tangga saja, melainkan juga memancarkan pengaruhnya ke
segenap tingkah laku hidupnya, baik moral, politik, maupun sosial.
Konsep itu berasal dari ikatan kekeluargaan biasa dan meluas ke
pada hubungan-hubungan lain, hingga akhirnya mencapai tingkat
Jen yang berarti kasih sayang penuh manusia terhadap segenap
ummat
Untuk penyajian agama Kong Hu Chu yang belakangan,
marilah kita tengok tiga kitabnya yang lain:
1. Kitab Mencius. Ini terdiri dari tiga ceramah di mana
Mencius berhadapan dengan pangeran-pangeran feodal, para
menteri, para sahabat, dan murid-muridnya. Ini termasuk satu dari
empat kitab suci agama Kong Hu Chu. Tiga lainnya adalah
Himpunan dari Kong Hu Chu, Pelajaran yang Besar, dan Ajaran
Hakiki.
2. Buku dari Hsun Tzu. Aslinya terdiri dari tigaratus dan
duapuluh dua artikel tetapi setelah disunting dan disarikan
118 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
karangan-karangan tersebut dalam edisi standar sekarang bisa
diperolah dalam tigapuluh dua bagian.
3. Ch’un Ch’iu Fan-lu (Aneka ragam embun di musim semi
dan gugur). Kitab ini ditulis pada permulaan dinasti Han oleh Tung
Chung-shu, yang membangkitkan dan menegakkan agama Kong
Hu Chu sebagai Agama Negara sepenuhnya. Buku ini berisi
beberapa ceramah yang penuh renungan tentang sifat manusia,
falsafah, sejarah, dan ilmu tentang bencana alam , serta keadaankeadaan
yang tidak wajar.

0 komentar:

Posting Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.