Rabu, 06 April 2011

Peradaban yang hilang

PERADABAN ISLAM YANG HILANG
Posted on Juli 16, 2009 by KAMMI Kepri

(Antara Masa Lalu dan Masa Depan)

Oleh : M. Redha Helmi
Sekretaris Umum KAMMI Daerah Kepulauan Riau/ Aktivis LDK STAI-MU Tanjungpinang

Islam adalah suatu agama yang memilki segudang sejarah peradaban yang cemerlang dan menggegerkan dunia, hanya dalam jangka wktu 23 tahun Islam mampu menyebar keplosok dunia, imperium romawi tak kuasa menahan lajunya perkembangan Islam. ¼ dunia dapat dikuasai dan takluk dibawah kepemimpinan Islam. Dunia barat tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan peradaban Islam. Sejarah telah membuktikan dan mencatat sendiri bahwa dunia barat mengadopsi ilmu yang telah di temukan para ilmuan muslim. Bahkan telah keluar dari mulut seseorang yang sangat benci dengan islam sebuah perkataan tentang ketakjubannya terhadap Islam.

Dia adalah Bernard Lewis, dia mengatakan bahwa “Orang-orang Eropa mendapatkan suatu cara yang baru dari bangsa Arab, yang meletakan akal di atas kekuasaan serta menyeru untuk meneliti dan bereksperimen dimana dua azas ini diutamakan dalam memutuskan sesuatu pada abad pertengahan dan menjadi jembatan masa renaissance”.

Meski sebenarnya dia benci kepada orang Islam, tetapi, ia tidak bisa menyembunyikan kebenaran bahwa ada suatu fase yang besar dan menakjubkan yang dilakukan peradaban Islam terhadap orang-orang barat dimana pada fase itu kesungguhan penelaahan ilmu dan penelitian yang dilakukan oleh kaum muslimin mampu menyingkap dan membentangkan cara berpikir manusia sehingga menciptakan sebuah kebangkitan Islam dalam pentas sejarah peradaban manusia. Lantas keliru sekali orang yang mengatakan bahwa kebangkitan bangsa Eropa adalah murni hasil pemikiran dan usaha mereka. Akan tetapi lebih tepat dikatakan mereka mengambil manfaat dari apa yang telah dilakukan bangsa Arab.

Hal ini pun dikuatkan dengan pengakuan Saidio (salah satu menteri Perancis dahulu) dalam bukunya yang berjudul “Ringkasan Sejarah Bangsa Arab”. Ia berkata, “Dulu orang- orang Islam itu terkucil dengan ilmunya pada kurun awal, kemudian mereka menyebarkannya dan menginjak wilayah Eropa sehingga kemudian menjadi sebab keluarnya bangsa Eropa dari kegelapan”. Bagaimana pun juga perkataan orang-orang Barat tentang peradaban Islam dan pengaruhnya terhadap peradaban bangsa Eropa tetap akan tertuju pada satu muara yaitu kalaulah bukan karena peradaban Islam, tidak akan ada peradaban bangsa barat kendati terlambat kemunculannya beberapa kurun tentunya tanpa kita harus bertakabbur dan bereuforia.

Satu hal lagi, pembuktian secara fakta dan ilmiah bahwa nama-nama ulama Islam terdahulu tidak asing ditelinga bangsa Eropa, seperti; Al-Jahizd, An- Nizdom, Al- Ghozaly, Alkindi, Al-Biruni, Al-Farabi (950 M), Ar-Rozi, Ibnu Sina (980-1037 M), dan lain sebagainya. Pemikiran para ulama
Islam ini banyak mempengaruhi pemikiran para Filosof barat seperti Descartes, Roger Bacoon (1561-1626 M), maupun Aristoteles. Salah satu contohnya, apa yang digulirkan Bacoon tentang keharusan manusia berpikir tanpa bersandar kepada hukum-hukum orang-orang terdahulu karena mungkin mereka tidak memeriksanya secara sempurna. Akan tetapi, harus berlindung kepada penelitian dan eksperimen serta menyimpulkannya secara umum. Hal ini digulirkan Roger tiga abad lalu, sementara Al-Jahizd telah menggelindingkannya sejak sebelas abad lalu atau yang dikenal dengan teori al mu’ayanah wa tajribah. Sebagaimana pula Descartes (1596-1650M) menggulirkan tentang teori skeptisisme dalam berpikir untuk sampai kepada yang namanya yakin. Ia mengatakan, “Jangan engkau membenarkan sesuatu kecuali yang telah jelas benarnya, karena kejelasan itu sesuatu yang menjadi dasar dalam sebuah keyakinan, maka tidak ada suatu kekuatan pun yang tampak dan yang layak menguasai kebebasan berpikir manusia…… “

Ungkapan ini jelas menjadi dasar berpikir skeptis untuk sampai kepada yakin dalam tataran berpikir dan bereksperimen. Tapi betapa samanya ungkapan ini dengan ucapan Al-Jahizd yang mengatakan, “Aku tidak memperlakukan sama sesuatu yang boleh (syak) dengan sesuatu yang dalil telah menetapkannya (yakin) dengan alas an- alasan yang jelas dan tidak mungkin untuk dinafikan…”. Kemudian muncul Al-Khawarzamy salah satu ulama ilmu pasti yang hidup pada masa khalifah Al-Makmun di Baghdad. Beliau dianggap ilmuwan terbesar pada masanya, juga merupakan salah satu ilmuwan termasyhur di dunia dalam ilmu pasti. Kitab- kitabnya dan penemuannya sampai ke Eropa pada abad XII M serta mempengaruhi pemikiran dan pola pikir orang-orang Eropa sampai sekarang. Salah satu kitabnya adalah “Risalah Manhaj Ilmu Pasti” diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Kitabtersebut sampai saat ini terjaga diperpustakaan Cambridge dengan naskah aslinya dan menjadi dasar teori logaritma yang terkenal sampai sekarang. Kemudian juga Al-Farghany peletak pertama ilmu falak dengan kitabnya “Kitab Gerak
Benda-Benda Langit dan Kumpulan Ilmu- Ilmu Bintang” yang diterjemahkan pula ke dalam bahasa latin pada abad ke XII M. Setelah itu, tersebar pula teori “Pasang Surut”nya Alkindi yang menjadi dasar penelitian ilmiah dan eksperimen. Kemudian pula hidup Al-Biruni, seorang ilmuwan yang luas pengetahuannya dari berbagai bidang disiplin ilmu, seperti; ilmu pasti, gravitasi, geografi, dan disiplin ilmu lainnya yang membuka jalan kemudahan bagi para peneliti dan ilmuwan yang datang setelah beliau. Kemudian terus bermunculan para ilmuwan muslim yang pada masanya membumikan budaya meneliti, bereksperimen, dan menciptakan karya-karya monumental yang dikenal seantero jagad raya serta menjadi rujukan para ilmuwan Eropa pada abad- abad setelah mereka sehingga Eropa keluar dari kegelapan menuju kemajuan dan era kebangkitan dengan mengambil manfaat dari orang-orang Arab.

Demikianlah, peradaban Islam telah mewarnai budaya berpikir manusia dalam sejarah peradaban dunia yang saat sekarang ini boleh dikata hilang bahkan terenggut oleh orang-orang barat. Mereka menafikan jerih payah kaum muslimin dalam membentangkan ilmu dan cara berpikir yang menjadi dasar dalam menciptakan suatu disiplin ilmu. Maka, akankah datang lagi budaya berpikir, meneliti dan bereksperimen pada kaum muslimin sekarang sehingga mampu menciptakan kembali titian jalan menuju cita-cita dan harapan yang dulu pernah terwujudkan dan sempat direnggut. Akankah bermunculan Al-Jahidz, Al-Biruny, Ibnu Sina dan Al-Ghazaly baru? Semuanya akan terpulang kepada kaum muslimin sendiri sejauh mana usaha untuk membudayakan teori-teori yang dulu telah dibentangkan oleh para pendahulu kita?

Kejayaan peradaban yang di ukir oleh Islam tidak akan pernah bangkit pada masa yang akan dating jika umat ini tidak mampu berasatu dan berpikir untuk masa depan. Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Hari ini adalah milik kita, demi umat ini kita harus bersatu dan merebut kembali peradaban ynag pernah Berjaya selama 14 abad yang lalu demi masa depan yang selama ini di impikan oleh umat ini

Wallahu a’lam

0 komentar:

Poskan Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.