Selasa, 12 April 2011

Lanjutan

kesenangan duniawi untuk mencapai kecintaan pada Allah. Dalam pandangan al-Ghazali manusia memiliki kecenderungan untuk mengikuti hawa nafsunya yang ingin menguasai dunia dan berkuasa di dunia sehingga cinta manusia pada dunia menutupi cintanya kepada Allah. Dan ini merupakan dasar dari kehancuran moral (akhlak) manusia.6
Untuk mencapai kesempurnaannya ada beberapa langkah yang harus ditempuh
manusia menurut tasawuf, yakni:
1. Takhalli, yakni pengosongan diri dari semua bentuk kemaksiatan dan melenyapkan
dorongan hawa nafsu.

2. Tahalli, yakni upaya menghiasi diri dengan kebiasaan, sikap dan prilaku yang baik. Minimal ada 7 sikap harus menjadi hiasan bagi orang-orang yang menekuni jalan sufi, yakni: tobat, cemas dan harap pada Allah, zuhud, fakir7, sabar, rida, danmuraqabah8.

3. Tajalli. Tahap ini merupakan tahap tertinggi yakni pengisian rasa cinta dan rindu pada Allah yang dengan proses ini akan terbuka nur Ilahi pada hati seorang sufi.9 Tahap ini merupakan tahap lanjutan dari pencapaian akhlaq al-karimah saat seorang sufi telah mencapai kesempurnaan jiwa. Tanpa kesempurnaan kesucian jiwa maka tahap tajalli tidak akan dapat diraih. Setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan dalam tahap ini, yakni munajat dan zikir maut.
Tasawuf Amali

Tasawuf amali adalah jalan tasawuf yang harus dilakukan melalui bimbingan guru tasawuf. Hal ini mengingat bahwa untuk menjalani kehidupan tasawuf ada orang yang mampu melakukannya sendiri dan ada yang harus dibimbing oleh seorang ahli tasawuf. Dalam tasawuf amali dikenal strata yang antara lain adalah:

1. Murid. Yakni orang yang mencari pengetahuan dan bimbingan dalam melaksanakan amal ibadahnya, dengan memusatkan perhatian dan usahanya ke dalam tujuannya ini, serta menahan segala kemauannya dengan menggantungkan diri dan hidupnya kepada Iradah Allah.10 Dalam kalangan ini murid diklasifikasikan dalam tiga kategori: pemula, menengah dan tinggi.
6Abû Hâmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘ulûm al-Dîn, Jilid 3, (Beirut: Dâr al-Ma‘rifah,
tt), h. 201-211.
7Menurut al-Kalabazi, fakir adalah sikap merasa puas dan bahagia dengan apa yang dimiliki sehingga
tidak meminta yang lain walaupun yang lain itu belum dimilikinya. Lihat al-Kalabazi, Al-Ta‘aruf lî
mazhab Ahl al-Şûfiah, (Kairo: Maktab al-Kuliyah al- Azhariyah, 1969), h. 114.
8Muraqabah menurut Qamar Kailany adalah keadaan yang setiap saat selalu mengintrospeksi diri seberapa
jauh perintah Allah telah dilaksanakan dan seberapa banyak larangan Allah telah dijauhi. Lihat Qamar
Kailany, Fî al-Taşawuf al-Islâm, (Kairo: Dâr al-Ma‘arif, 1969), h.27.
9Qamar Kailany, Fî al-Taşawuf al-Islâm, (Kairo: Dâr al-Ma‘arif, 1969), h.61.
10al-Kalabazi, Al-Ta‘aruf lî mazhab Ahl al-Şûfiah, (Kairo: Maktab al-Kuliyah al- Azhariyah, 1969), h. 167.

0 komentar:

Posting Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.