Kamis, 07 April 2011

Bab VII.AGAMA YAHUDI

teori agama Tao,
beberapa penganut agama Tao bahkan menyembah Kong Hu Chu
sebagai Dewa. Kombinasi tiga agama ini secara aneh digambarkan
oleh Dr. Carpenter:
“Pada awal abad ke enam, seorang pendeta Buddha yang
terkenal ditanya oleh Kaisar, “Apakah Anda seorang Buddhis?”,
dan dia menunjuk kopiah Tao-nya, “Apakah Anda pemeluk agama
Tao?”, dan dia menunjuk sepatu Kong Hu Chunya, “Apakah Anda
pengikut Kong Hu Chu?”, dan dia memakai jubah pendeta
Buddha.”4
4 Dr. Carpenter, The Panaroma of Religions.
BAB VII
AGAMA YAHUDI
Sejarah Bani Israil dimulai saat Abad Perunggu, di mana
orang-orang Semit pindah dari peradaban yang menonjol di
Lembah Efrata, mengikuti hancurnya kota tua Ur, dan menetap di
negeri perbukitan yang terpisah di Kanaan Tengah dan Kanaan
Selatan di tepi Laut Tengah. Pemimpin dari keluarga ini adalah
seorang laki-laki, Abram (belakang disebut Ibrahim), yang tegak
berhadapan melawan agama purba serta berhala rakyat dan dengan
mengikuti wahyu Ilahi, telah mulai percaya kepada ketauhidan
yang teratur. Karena keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan hidupnya yang saleh, Ibrahim dijanjikan bahwa keturunannya
yang tulus akan menjadi sumber rahmat yang lestari bagi bangsabangsa
di muka bumi ini.
Risalah Ibrahim a.s. terhadap Tuhan selanjutnya diteruskan
oleh putera-puteranya, Ismail dan Ishak, dan setelah itu oleh
Ya’qub yang mengalami peristiwa ajaib di mana dia bergulat
dengan salah satu malaikat, yang kemudian dinamakan Israel, suatu
istilah yang berarti kampiun Tuhan. Ya’qub mempunyai duabelas
putera yang menjadi cikal-bakal dari duabelas suku yang beberapa
waktu kemudian membentuk Bani Israil. Melalui rangkaian
peristiwa dan keadaan, maka Yusuf salah seorang putera Ya’qub
bangkit dari perbudakan, dan menjadi Gubernur di Mesir yang pada
saat itu diperintah oleh Hyksos, seorang Semit keturunan asing
yang dekat hubungannya dengan Yahudi. Setelah itu, Bani Israil
pindah secara besar-besaran ke Mesir dan dalam jangka waktu yang
lama mereka menikmati keuntungan dan pengaruh yang besar di
sana. Tetapi karena bangkitnya nasionalisme bangsa Mesir di
bawah Pangeran dari Thebes dan dijatuhkannya Hyksos oleh
AGAMA YAHUDI 131
Aahmes sekitar tahun 1580 SM, maka Bani Israil merosot menjadi
budak belian. “Maka sekarang bangkitlah”, kata Alkitab, “seorang
raja baru di tanah Mesir yang tidak mengenal Yusuf … dan
memper-lakukan Bani Israil dengan buas dan kejam. Dan mereka
membuat kehidupannya penuh dengan kerja paksa membuat
keramik, batu bata, dan segala macam kerja bercocok tanam di
ladang: semua yang mereka kerjakan dan pelayanannya adalah
penuh kekejaman”.1
Ketika nasib Bani Israil menjadi benar-benar tak tertahankan
lagi di bawah Fir’aun Ramses II, Tuhan membangkitkan seorang
pemimpin besar bernama Musa untuk mengangkat mereka dari
penderitaannya dan mempersatukan mereka dalam satu bangsa.
Musa dibesarkan dan diangkat oleh salah seorang ratu Mesir. Tetapi
ketika beranjak dewasa, dia terpaksa melarikan diri dari negeri itu
ke tanah berpadang rumput, Midian, di sana beliau bekerja,
menikah dan selama beberapa tahun bekerja sebagai penggembala.
Pada suatu hari, ketika beliau sedang menggembalakan ternaknya
di Gunung Sinai sampailah di bukit Horeb, dan di sana tampak
pancaran sinar yang menakjubkan di semak padang pasir yang
pekat, dan beliau mendengar suara Tuhan yang menyeru agar
kembali ke Mesir untuk mengangkat saudara-saudaranya dari
penderitaan, dan memimpin mereka ke Tanah Yang Dijanjikan.
Mengikuti seruan itu, Musa kembali ke Mesir dan berkali-kali
membujuk Bani Israil untuk berangkat bersamanya. Mereka dikejar
Fir’aun dan bala tentaranya. Bani Israil tertolong oleh apa yang
dinamakan mukjizat, yakni campur tangan Tuhan dengan
menyeberangi Laut Merah di suatu tempat dekat Suez, sedangkan
orang-orang Mesir itu ditenggelamkan. “Demikianlah Tuhan
menyelamatkan Bani Israil pada hari itu dari kejaran orang-orang
Mesir, dan Bani Israil melihat orang-orang Mesir itu mati dari
seberangnya pantai. Dan Bani Israil melihat karya besar yang
1 Keluaran, Bab 1
132 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
dilakukan Tuhan terhadap orang Mesir, dan orang-orang itu pun
takut kepada Tuhan, dan percaya kepada Tuhan serta hambaNya
Musa.”2
Di padang gersang Gurun Sinai di mana Bani Israil tiba setelah
melarikan diri dari Mesir, Musa menerima Sepuluh Perintah dan
tercantum dalam Taurat melalui sejumlah Wahyu Ilahi. Tetapi
ketika beliau sedang pergi, Bani Israil melupakan Yahweh
(Yehovah), Tuhan Yang Esa, dan mulai menyembah sapi emas.
Karena penyelewengannya ini mereka terpaksa menderita dan
mengem-bara di padang gurun selama empatpuluh tahun. Musa,
Nabi Besar Bani Israil wafat sebelum beliau dapat memimpin
bangsanya ke Tanah Yang Dijanjikan. Mengutip seorang pengarang
Yahudi, “Bani Israil belum siap untuk masuk ke Tanah itu, begitu
pula Tanah itu belum siap menerima mereka.”
Akhirnya Bani Israil memasuki Kanaan (Palestina) setelah
menyeberangi Sungai Yordan dekat Laut Mati di bawah pimpinan
Yoshua. Setelah mengalami pertempuran pahit dan lama dari
serangan orang-orang Arab setempat yang telah menghuninya
bertahun-tahun, mereka dapat menguasai bagian terbesar dan
tersubur dari tanah itu. Segera setelah Yoshua wafat, Bani Israil
mengingkari lagi ketauhidannya yang murni sebagaimana telah
diajarkan oleh Musa a.s. dengan Wahyu Nya, dan mulai
menyembah dewa-dewa setempat seperti Baals dan Astertes. “Bani
Israil sungguh-sungguh tergoda”, tulis Pendeta Allan Menzies,
“untuk memakai apa yang mereka peroleh dari orang-orang
Kanaan. Tempat-tempat suci yang lama, tidak mau mereka
pergunakan. Mereka berfikir adalah sungguh aneh jika sebagai
petani mereka tidak mengadakan pesta panen dan lazimnya mereka
yang menghormati Baals dari Kanaan, sebagai tuhan tanah itu dan
pemberi kesuburan serta rasa syukur mereka atas hasil panen
dialamatkan kepadanya. Penyembahan mereka kepada Yehova
2 Ibid., 14 : 30-31
AGAMA YAHUDI 133
kelihatannya kurang dan tak berarti dibanding apa yang diberikan
oleh bangsa Kanaan kepada Baals, karena itu mereka juga
mendirikan asheras dan batu-batu monumen serta Yehova sendiri
mereka buat patung-patungnya. Salah satu patung ini dihancurkan
oleh Hezekiah berbentuk seekor ular, di tempat lain Yehova
disembah dalam bentuk seekor beruang. Di mana patung tersebut
dipelihara, di situ orang dapat berkonsultasi perihal nasib dengan
berbagai cara. Perahu atau zirah disimpan dalam kuil-kuilnya, dan
benda itu dibawanya nanti kalau berperang.”3
Namun demikian, tidaklah berarti praktik keberhalaan ini tidak
mendapat tantangan. Pemimpin-pemimpin yang berani yang
disebut ‘Hakim-Hakim”, sekitar duabelas orang menentang praktik
dan kepercayaan yang menghancurkan jiwa ini, dan munculah
peran sebagai pembebas terhadap penindasan. Mereka menyeru
ummat ke arah penyembahan murni kepada Yahweh. Tetapi
Hakim-Hakim itu bukanlah para pahlawan nasional. Mereka hanya
pahlawan suku dan pengaruhnya tidak dapat mengatasi krisis
tersebut
Pada masa Samuel, yakni akhir para Hakim-Hakim, telah lahir
praktik-praktik tersebut ke seluruh Kanaan dan mereka pun
terpecah belah. Namun bahaya baru pun muncul kepada Bani Israil
dalam bentuk serangan bangsa Palestina yang membinasakan
banyak kota-kota Israil dan menduduki kota Ark. Maka bangkit
seruan di kalangan Bani Israil untuk seorang raja yang dapat
mempersatukan mereka sebagai suatu bangsa di bawah satu
pemerintah pusat yang kuat dan yang akan memimpin mereka
dalam peperangan melawan musuh-musuh mereka. Orang yang
terpilih sebagai Raja pertama dari Bani Israil adalah Saul. Tetapi
hanya beberapa waktu, setelah itu dipimpin oleh Raja kedua, Daud
(1012 – 972 s.M), maka Bani Israil mencapai puncak kekuasaan
dan kemuliaan. Daud mempersatukan seluruh suku bangsa dalam
3 Allan Menzies, History of Religion, p. 180 (John Murray, London, 1895)
134 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
satu negara yang kuat dan memenangkan beberapa penaklukan
yang gemilang di medan perang, dengan demikian memperluas
tapal batas Israil. Beliau menaklukkan Yerusalem, dan
menjadikannya sebagai ibukota kerajaannya. Beliau membersihkan
agama Yahudi dari anasir-anasir purba dan mengorganisir kembali
upacara-upacara agama di tempat-tempat ibadah. Pemerintahannya
sungguh merupakan abad keemasan bagi Bani Israil.
Kebijakasanaan Daud a.s. dalam memusatkan kekuasaan
politik dan keagamaan diteruskan oleh putranya, Sulaiman, yang
membangun satu Kanisah mengagumkan di Yerusalem dan
menjadikan satu-satunya rumah ibadah yang mengatasi tempattempat
ibadah lainnya di seluruh negeri. Pemerintahan Sulaiman
adalah masa damai yang tiada taranya bagi Israil. Hal ini juga
ditandai dengan kemajuan baik material maupun kultural. Armada
niaga Sulaiman mengarungi samudera sampai ke negeri yang jauhjauh,
dan kembali ke Israil membawa kekayaan dari berbagai
bangsa. Kesenian dan ilmu pengetahuhan berkembang pesat.
Sulaiman sendiri melaksanakan kebijaksanaan, keahlian,
kecermelangan, dan menghasilkan karya tulis yang sangat
berlimpah demi perkembangannya.
Kesatuan Israil secara politis maupun agama tidak berlangsung
lama. Setelah wafat Sulaiman a.s. mereka terpecah menjadi dua
kerajaan. Sepuluh suku bangsa di Utara membentuk kerajaan Israil
dengan ibukota Samaria dan Jeroboam sebagai raja pertamanya;
dan dua suku bangsa di Selatan, yakni suku Yudah dan Benyamin
membentuk kerajaan Yudea dengan ibu kotanya tetap di
Yerusalem.
Tetapi Bani Israil menyeleweng dari agama monoteisme yang
bermoral ajaran Musa dan para Nabi yang lain. Di bawah
pemerintahan Ahab beserta istrinya yang berasal dari luar negeri
dan sangat mendominasi, Yezebel, maka pengabdian kepada
Yahweh, yakni Tuhan Yang Esa dan Sejati, digeser dengan
AGAMA YAHUDI 135
penyembahan kepada Baals, yakni tuhannya bangsa Tyrus berikut
upacara-upacara pesta panen serta korban manusia. Nabi Ilyas
bangkit di tengah-tengah mereka untuk memperingatkan Bani Israil
atas kemerosotan agama dan akhlak mereka. Beliau diikuti oleh
Nabi Amos yang mengutuk kemewahan dan korupsi di zamannya.
Beliau mendakwahkan bahwa Tuhan tidak meridhoi hari-hari pesta
dan sesaji korban, tetapi Dia meridhoi bila kita bersikap tulus dan
berlaku adil. Namun peringatan para Nabi ini hanya masuk ke
telinga orang-orang yang benar-benar sudah tuli, sehingga akhirnya
Tuhan mengutus Nabi Hosea untuk menyelamatkan mereka dari
ancaman siksa. Taubat kepada Tuhan dan kembali ke jalan yang
benar rupa-rupanya sudah tidak dapat diharapkan lagi, sehingga
azab yang paling pahit pun tiba kepada Bani Israil, yakni mereka
ditaklukkan dan dibuang akibat dosa dan kejahilan mereka sendiri.
Pada tahun 738 s.M, seluruh tentara raja Assyria, Tiglath-Pilesar III
menghancurkan kerajaan Israil dan menjadikannya sebagai jajahan
dan miskin. Pada tahun 721 SM, Sargon II melihat tanda-tanda
pembangkangan dan pemberontakan di kalangan Bani Israil, dan
menghukum mereka dengan memindahkan hampir seluruh
penduduk ke bagian-bagian yang terjauh dari kekaisarannya yang
luas itu. Demikianlah maka kerajaan Israil pun lenyap dari sejarah.
Pada masa kerajaan Yudea, dinasti yang didirikan Daud
tersebut tetap berlangsung tanpa gangguan untuk beberapa waktu.
Beberapa raja yang awalnya beriman kepada agama Musa, tetapi
ketika Yehoram naik tahta maka terjadi kerusakan. Istri Yehoram
yang saudara perempuan Jezebel telah mempengaruhinya, dan ia
menganjurkan penyembahan Baals tuhan bangsa Tyrus yang
merupakan penyebab kehancuran kerajaan Israil. Kini kerusakan
agama dan dekadensi moral jadi merata di Israil.
Tetapi tidak semua raja mereka rusak. Ketika Hezekiel menjadi
raja, beliau mencoba sekuat tenaga melenyapkan praktik-praktik
keberhalaan dan membentuk kembali agama Musa. Dalam hal ini,
136 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
dia dibantu oleh Nabi Isaiah dan Micah. Dengan misi yang sama
dengan para penduhulunya, yakni nabi Amos dan Hosea, mereka
menyerang kerusakan moral dan kemewahan yang melemahkan
dan berkembang biak di Yudea itu. Mereka berdua menekankan
bahwa sesaji itu betapun sangat terinci cara menghidangkannya,
tidaklah dapat menggantikan keadilan dan ketulusan. Mereka
memperingatkan bahwa Yerusalem akan mengikuti nasib Samaria,
kecuali kalau kaum itu mau bertobat dan merombak cara hidup
mereka.
Raja yang mulia lainnya adalah Yosiah yang naik tahta pada
tahun 640 s.M. Kitab Raja-Raja menceritakan kepada kita bahwa
pada tahun 621 s.M, Hilkiah kepala pendeta mengirim suatu catatan
kepada raja Yosiah bahwa dia telah menemukan Kitab sejati dari
syariat Musa di rumah Yahweh. Kebanyakan kritikus beranggapan
bahwa buku ini sebagiannya sama dengan Kitab Kejadian yang ada
sekarang. Dinyatakan bahwa ini adalah syariat Musa a.s. yang
diberikan kepada Bani Israil lebih dari 800 tahun sebelumnya.
Dengan bersenjatakan Kitab ini, Yosiah mengadakan perombakkan
yang drastis mengenai agama di Yudea. Penyembahan yang bersifat
politeisme dilarang, berhala-berhala dibinasakan, pelacuran yang
berkedok kesucian dan korban manusia dihapuskan, begitu pula di
kuil-kuil lokal. Tetapi kira-kira pada saat itu, terjadilah peristiwa
yang menggoncangkan dunia, sehingga hancurlah harapan
perombakan yang dilakukan Yosiah. Kekaisaran Assyria berakhir
secara mendadak, Mesir dan Babylonia segera terlibat perang besar
untuk mengisi tempat yang ditinggalkan kosong di Asia Barat itu.
Yudea menjadi korban persaingan antara dua adikuasa ini. Nabi
Yeremiah bangkit pada saat itu untuk melawan kebodohan dan
kejahatan di kalangan rakyat Yudah, serta memperingatkan mereka
terhadap keruntuhan yang ditimpakan di atas kepala mereka.
Peringatan dan petuahnya tidak digubris. Pada tahun 586 s.M.
Nebuchadnezzar, raja Babilonia menyerang Yerusalem. Ia
AGAMA YAHUDI 137
menghancurkannya menjadi puing-puing berserakan, dan ia lalu
memindahkan kaum Yudea ke Babilonia. Demikianlah maka Yudea
pun mengalami nasib yang serupa seperti sepuluh suku Israil yang
ditawan dan dihinakan. Tetapi walaupun suku-suku Bani Israil
lainnya lenyap dan terpencar kemana-mana di berbagai negeri,
hanya Yudah sendiri yang masih bertahan. Yudaisme berasal nama
suku Yudah dan para pengikutnya yang kemudian dikenal sebagai
orang Yahudi.
Pada tahun 535 .s.M., Cyrus, raja Persia yang besar menjadi
penguasa Babilone. Bani Israil mulai merasakan hubungan yang
lebih akrab dari penguasa sebelumnya. Salah satu keputusan Cyrus
yang pertama kali adalah memperbolehkan mereka kembali ke
Yudea sebagaimana mereka kehendaki, lalu beberapa ribu orang
mendapat izin tersebut. Di bawah seorang Pangeran bernama
Zerubbabel dan ditemani Yoshua sebagai kepala pendeta, para
pengungsi kembali. Setelah tertunda beberapa lama, mereka pun
berhasil membangun kuil dan menegakkan peribadatan kembali.
Para nabi, Haggai, Zehariah, dan seterusnya, Malachi (di tangan dia
nubuwwat Ibrani berakhir) muncul di kalangan mereka untuk
membangkitkan dan menegakkan kembali agama yang benar.
Pada tahun 458 s.M. Ezra si Penulis datang ke Yeruzalem
dengan dilengkapi wewenang kerajaan yang diperoleh dari raja
Artexerxes I Longimanus, untuk memperkenalkan dan mewajibkan
suatu Hukum Kependetaan yang berkembang di Babilonia. Ezra
mengobarkan bentrokkan yang berkepanjangan, melawan
perkawinan campuran, dan dengan pertolongan para pendeta serta
penulis, menyusun dan memberi bentuk akhir pada kitab
Pentateuch atau Lima Kitab yang dinisbahkan kepada Musa a.s.
dalam Alkitab sekarang. Periode ini ditandai dengan adanya
pemerintahan para pendeta dan bangkitnya negara teokratis di
Yudea di bawah perwalian Persia.
138 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
Kekuasaan Persia berakhir di Yudea pada tahun 333 s.M.
ketika Iskandar yang Agung, si penakluk segera menguasai Asia
dengan mudahnya dan menaklukkan Palestina. Missi Iskandar yang
Agung adalah menyebarluaskan peradaban dan idea Hellenisme,
tetapi dia tidak percaya atas digunakannya kekerasaan. Dia
membiarkan bangsa Yahudi bebas memeluk agama dan tata cara
hidupnya. Ketika Iskandar mangkat, Palestina untuk pertama
kalinya jatuh ke tangan raja-raja Yunani dari Mesir, yakni
Ptolomieus yang pemerintahannya sebagian besar halus dan toleran.
Namun belakangan raja Seleucid dari Syria memegang tampuk
kekuasaan dan dibawah dinasti ini ada seorang tiran namun
cekatan, Antiochus IV. Dia membuat sejarah baru dengan
memasukkan kebudayaan Hellenisme untuk membuat beradab
orang-orang Yahudi dari Yudea. Demi tercapainya maksud ini, dia
menekan praktik agama Yahudi dan meruntuhkan kanisah-kanisah,
serta membakar kitab-kitab sucinya, sambil menganiaya
barangsiapa yang merintangi usaha mereka. Tentunya dia juga
memperoleh sekutu dari kalangan bangsa Yahudi. Segolongan
besar menganggap bahwa kemajuan peradaban ditandai dengan
mampu berbahasa Yunani dan memakai nama Yunani, serta
memperoleh kedudukkan yang tinggi dalam kependetaan. Akhirnya
kaum Yahudi ortodoks bangkit dalam revolusi melawan tiran ini,
dan di bawah pimpinan Mathatiahs serta putranya Maccabees,
memperoleh kemenangan yang mengejutkan. Tiga tahun setelah
dipecahbelah rumah-rumah ibadahnynya, mereka dapat
memperbaiki dan memurnikan kembali. Antichous mangkat di kota
Tabae Persia, dan panglimanya Lyaisas memberikan toleransi
kepada bangsa Yahudi.
Beberapa kelompok Yahudi sudah merasa puas dengan
diperolehnya kebebasan beragama, tetapi yang lain ingin
menyingkirkan sama sekali penguasa Selecuid sehingga dapat
diperoleh pula kebebasan berpolitik, dan ini mengakibatkan korban
AGAMA YAHUDI 139
atas Maccabean bersaudara. Akhirnya pada tahun 143 s.M. Simon
sebagai Maccabean yang terakhir dan tersisa dapat mengusir
penguasa Syria dari Yeruzalem. Simon terpilih sebagai Pendeta
Tinggi yang pertama merangkap sebagai Kepala Negara dengan
pangkat Nasi, dan negara Yahudi baru pun dibentuk.
Putera Simon yang bernama John Hyrcanus yang menjadi
penguasa berikutnya adalah seorang yang penuh ambisi dan dia
mulai bertempur dengan negeri-negeri tetangganya untuk
membentuk kekaisaran dirinya. Dalam nasionalisme yang agresif,
John Hyrcanus dilawan dengan kuat oleh kaum Farisi yang bersama
kaum Saduki membentuk dua golongan utama yang muncul sejak
saat itu. Kaum Saduki mendukung dia sepenuhnya.
Dengan berlalunya waktu negara Yahudi semakin lemah,
karena pertentangan dalam tubuhnya sendiri dan peperangan. Ada
dua orang yang mengangkat diri sebagai raja dan keduanya
meminta bantuan Romawi. Pompey menjawab seruan itu, mereka
maju ke ibu kota, menguasai dan menaklukkannya pada tahun 63
s.M. Yudea sekarang berada di bawah kekuasaan Romawi dan
dijadikan propinsi di bawah pimpinan Hyracanus III, yakni salah
seorang yang meminta bantuannya dan diangkat sebagai Pendeta
Tinggi namun tanpa jabatan raja lagi. Ketika Caesar menjadi
penguasa di Roma, dia menunjuk Antipater seorang yang baru
masuk agama Yahudi sebagai pelindung Yudea. Antipater lalu
menunjuk Herodes sebagai Gubernur Galilea. Pada tahun 39 s.M.
Herodes dijadikan raja Yudea oleh Senat Romawi. Meskipun
nampaknya merdeka, namun sesungguhnya Yudea terikat kepada
Romawi. Herodes adalah seorang yang cakap, dan dia telah berbuat
banyak bagi negeri dan rakyat di bawah kekuasaannya. Namun
bangsa Yahudi masih tetap merasa dia sebagai boneka Romawi dan
yang pasti dia tetap menempatkan kepentingan Romawi di atas
segalanya.
140 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
Selama periode ini, kaum Yahudi terbagi dalam berbagai
golongan dan sekte. Yang pertama adalah kaum Saduki, yakni
kelompok yang memihak Romawi dan dipimpin oleh pendeta
Yerusalem. Mungkin saja mereka bukan merupakan partai besar,
dan hanya terdiri dari pamong Yerusalem dan juga mereka yang
secara langsung berkepentingan dengan mereka, yakni kaum
bangsawan dan para petani. Kaum Saduki menganggap enteng pada
kewajiban agamanya, dan sangat bersungguh hati dalam masalah
politik. Mereka tidak percaya akan adanya kehidupan sesudah mati,
dan sangat condong kepada urusan duniawi, selalu menghindari
kesulitan dan berambisi untuk kaya raya. .
Sebaliknya, kaum Farisi merupakan partai yang popular dan
condong pada masalah agama dari politik. Isu politik utama yang
sangat menjadi sorotan mereka adalah kebebasan beragama, dam
mereka menyongsong kemerdekaan nasionalnya tetapi tidak dengan
jalan revolusi, tetapi dengan melalui datangnya Putera Daud,
seorang Juru Selamat (Almasih) yang bukan Tuhan tetapi akan
menerima dari Dia wewenang untuk memerintah negeri ini. Mereka
sangat cermat dalam penafsirannya, dan dalam mengikuti syariat
Yahudi seringkali sombong dan kikir.
Perbedaan utama antara kaum Saduki dan Farisi adalah (1)
Kaum Farisi percaya hidup sesudah mati, sorga dan neraka,
kebangkitan kembali secara umum, dan Kerajaan Almasih; kaum
Saduki menolak seluruh ajaran ini dan menganggpnya sebagai
bid’ah, (2) Kaum Saduki hanya percaya pada apa yang tertulis
dalam Taurat, sedangkan kaum Farisi juga percaya kepada riwayat
lisan dan tafsir kaum ulama yang dianggap mereka telah banyak
mendapat ilham Ilahi, dan lebih beriman sebagaimana tertulis
dalam Taurat, (3) kaum Saduki memegang teguh ajaran Yunani
tentang kehendak bebas, sedangkan kaum Farisi berpendapat bahwa
kehendak bebas itu dibatasi oleh takdir Tuhan.
AGAMA YAHUDI 141
Dengan dihancurkannya Kanisah pada tahun 70 M. peranan
kaum Saduki diakhiri, dan mereka lenyap, tetapi kaum Farisi yang
tidak lagi membutuhkan Kanisah dan memusatkan diri ke Sinagog
yang berkembang dan menjadi dasar bagi tradisi kerahiban yang
sampai sekarang terus berlangsung dalam agama Yahudi modern.
Sekte yang lain, Zealot, telah memisahkan diri dari kaum Farisi
karena mereka beranggapan bahwa golongan tersebut kurang cukup
mengabdi kepada tujuan kemerdekaan nasional. Kaum Zealot
adalah patriot sejati yang menggabungkan kecintaan mendalam
pada negaranya sebagai kebaktian kepada Taurat dan bersedia
untuk bertempur dan mati untuk kedua tujuan itu. Bagi mereka
Tuhan adalah Tuhan Penguasa Negeri Israil, dan Bani Israil adalah
ummat yang terpilih dan negerinya adalah tanah Nya, akibatnya
mereka beranggapan bahwa apa yang sekarang terjadi di atasnya
adalah kekejian. Mereka menganggap adalah berdosa secara moral
bagi seorang putera Israil untuk tunduk kepada Romawi dan
mengakui kerajaannya. Mereka berusaha dengan gerakan militer
untuk membebaskan Palestina.
Ada juga golongan keagamaan Yahudi lainnya, yang disebut
Kaum Essene. Penemuan akhir-akhir ini dari Gulungan Laut Mati
(The Dead Sea Scrolls) di lembah Qumran, Yordania, menunjukkan
keterangan baru mengenai adat kebiasaan golongan ini.4 Kaum
Essene walaupun perbandingannya hanya sedikit dalam jumlah
pengikut, tetapi mencirikan dirinya tidak saja sebagai pemegang
peran yang menonjol dalam sejarah, tetapi bahkan memiliki
kedudukan kunci dalam seluruh drama alam ini. Kaum Yahudi
adalah ummat terpilih dari Tuhan, dan dengan siapa Dia
mempunyai perjanjian khusus. Namun tidak semua kaum Yahudi
memegang teguh perjanjian ini sebagaimana disinyalir oleh kaum
4 (i) Edmund Wilson, The Scrolls from the Dead Sea, (Fontana Books, 1957)
(ii) A. Powell Davies, The Meaning of the Dead Sea Scrolls (Mentor Books, New York,
1956)
142 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
Essene. Bahkan mereka tidak mengerti dengan sebenarnya tentang
rahmat yang terkandung dari perintah perjanjian ini. Karena itu
melalui golongan khusus dari ummat yang terpilih inilah Tuhan
akan mempergunakannya “untuk melapangkan jalan dari kejahilan
ke arah tatanan dunia baru”, yang akan diberikannya melalui
Almasih penguasa yang ditunjuk Tuhan bagi Bani Israil, dan
melalui Israil ke seluruh ummat manusia. Untuk maksud ini, maka
kaum Essene berbai’at bersama dalam “Perjanjian Baru” di
Damsyik. Ini adalah suatu perjanjian untuk kembali kepada ajaran
murni dari Musa a.s. dan para nabi lainnya dengan dibimbing oleh
seorang Guru Ketulusan. Siapakah Guru Kebenaran dan Ketulusan
jni? Sayangnya tidak ada jawaban yang pasti untuk mengenalinya,
dan usaha-usaha ke arah ini sebegitu jauh hanya mendorong ke arah
pertentangan saja. Beberapa cendekiawan telah berpendapat bahwa
Guru Ketulusan ini tiada lain adalah Yesus sendiri.5 A. Powell
Davies dalam bukunya The Dead Sea Scrolls telah menarik
perhatian atau persamaan yang erat antara kaum Essene dengan
masyarakat Kristen permulaan.
Kaum Essene menghindari korban binatang dan menganggap
fikiran yang tentram sebagai “satu-satunya pengorbanan sejati”,
melibatkan diri dalam pertanian dan kesenian yang penuh
kedamaian serta sangat anti perbudakan. Mereka tidak memiliki
waktu untuk berdiskusi tentang filsafat, kecuali kalau ilmu tersebut
menyangkut masalah etika. Mereka mengajarkan kasih sayang
Tuhan, kemuliaan akhlak dan kasih sayang kepada sesamanya.
Angota-anggota kelompok ini sangat menonjol rasa kasih
sayangnya, kebersamaannya, dan ketidakacuhan mereka terhadap
uang dan kesenangan serta tujuan-tujuan duniawi lainnya. Mereka
hidup dalam kelompok-kelompok di mana mereka memiliki gudang
bersama, harta milik bersama, yang masing-masing menyimpan
5 Lihatlah dalam kaitan ini, Dr. J.L. Teicher, The Dead Sea Fragments, the Literary
Supplement of The Times, London , March 21, 1958
AGAMA YAHUDI 143
hasil pendapatannya dan dari sana mereka mengeluarkan derma
untuk seluruh warganya. Anggota utama tidak menikah, tetapi
mengangkat anak-anak orang lain, mengajarkan mereka dengan
ajaran dan praktik Essene.
Kaum Yahudi menunggu kedatangan Almasih seorang
keturunan raja besar Daud, yang akan mengangkat mereka dari
penjajah Romawi dan mengembalikan abad keemasan Israil. Tetapi
ketika Sang Juru Selamat datang mereka tidak dapat mengenalinya.
Isa a.s. yang mendakwahkan dirinya sebagai Almasih, menyatakan
bahwa beliau datang untuk membebaskan mereka tidak saja dari
penjajah Romawi, melainkan juga dari perbuatan dosa dan
kejahilan, dan misinya adalah membimbing mereka tidak kepada
kerajaan duniawi tetapi kerajaan langit. Kaum Yahudi menolak dan
bahkan menyerahkan beliau kepada penguasa Romawi agar
dianiaya sebagai pemberontak. Pengkhianatan mereka ini cukup
untuk menurunkan kemurkaan Tuhan. Sebagai kelanjutan
pemberontakan yang dipimpinan Zealots pada tahun 70 M,
balatentara Romawi yang dikepalai oleh Titus dengan brutalnya
membinasakan kaum Yahudi. Kanisah dibakar dan negara Yahudi
dihancurkan.
Mula-mula kaum Yahudi terhenyak, mereka tidak mengira
untuk hidup tak bernegara dan tanpa tempat ibadah. Namun para
Rabbi tetap mencoba mempersatukan dan memberi sedikit cita-cita
di kalangan mereka dengan mendirikan Akademi Sanhedran,
pertama di Jabneh, dan setelah dianiaya oleh Hadrian pindah ke
Galilee. Di sanalah, Rabbi yang besar, Judas Sang Pangeran
berkembang. Dia mengedit dn mengumpulkan tradisi lisan kaum
Yahudi dalam bentuk Mishnah.
Dengan berlalunya waktu, kaum Yahudi terpencar ke seluruh
dunia, tetapi di mana pun mereka hidup, maka mereka tetap bersatu
dalam loyalitas terhadap Taurat dan tradisi pendahulunya, serta
menghindari pembauran dengan masyarakat sekitarnya dengan
144 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
melalui ibadah yang ketat dan hukum mereka yang aneh. Di
negara-negara Kristen sering mereka dipaksa untuk tinggal dalam
keadaan yang tidak layak, dalam Ghetto (perkampungan orang
Yahudi), dan harta milik mereka sering dirampok dan mereka
dianiaya secara brutal. Hanya di negeri-negeri Islam, termasuk
kaum Muslimin di Spanyol, mereka dapat menghirup udara segar
kebebasan dan kebanggaan hidup. Di mana mereka memiliki
kesempatan, mereka menyumbang arti penting bagi kehidupan
intelektual dan kultural kepada rakyat di mana mereka tinggal.
Mengenai hal ini, Lewis Browne menulis dalam kata pengantar
bukunya The Wisdom of Israel:
“Harus diakui bahwa kaum Yahudi adalah pelajar dan
sekaligus pengajar dalam pengembaraannya. Mereka belajar dari
orang-orang Mesir, Kanaan, Babylonia, Yunani, Parthian, Romawi,
dan Arab serta kepada setiap ummat, baik dalam keadaan mesra
maupun dalam keadaan duka derita. Di manapun mereka selalu
berkembang tinggi, kadang-kadang naik turun atau merata
tergantung hubungan mereka dengan para tetangganya. Bila
hubungan mereka ramah, perkembangannya cepat dan meningkat,
bila mereka sedang dibenci perkembangannya lambat dan
menyakitkan. Sungguh kontras, misalnya bagaimana kebijaksanaan
bangsa Yahudi berkembang pesat selama kejayaan Islam yang
penuh toleransi, dan betapa merosotnya dalam gelap gulitanya
masa-masa Abad Kristen Pertengahan.”6
Penyair Yahudi yang besar, seperti Soloman ibn Ganirol, Judah
Halevi, dan Moses ibn Ezra; filosof terkemuka seperti Saadiya ben
Joseph, Bachya ben Joseph ibn Pakuda, Abraham ibn Daud, dan
yang terkenal Musa ibn Maimun (Maimonides); negarawan Yahudi
yang terkemuka seperti Hasdai ibn Sharprut, Perdana Menteri dan
dokter istana dari Khalifah Spanyol Abd al-Rahman III, dan Samuel
ibn Nagdela, Wazir utama dari Granada, semuanya ini dan banyak
6 Lewis Browne (editor), The Wisdom of Israel, p. 11 (Four Square Books, London, 1962)
AGAMA YAHUDI 145
lagi dilahirkan dan besar dalam udara bebas Dunia Islam. Dalam
kata-kata Isodore Epstein ditulis:
Demikianlah nasib kaum Yahudi mulai berubah di mana bulan
sabit berkuasa. Perubahan ini ditandai di Negeri Palestina dan
Mesir, di mana penguasa Kristen Byzantium telah campur tangan
tidak saja dalam kehidupan sosial-ekonomi kaum Yahudi, juga
dalam masalah internal seperti peribadatan dan synagog. Namun
gejala ini tidak menunjukkan kecerahan yang kuat selain di
Spanyol, di mana kaum Yahudi telah menetap selama berabadabad.
Raja-raja Kristen Visigothic adalah orang yang tak kenal
belas kasihan, mereka kejam dan kasar. Tetapi pewarisnya, yakni
kaum Muslim tidak saja membebaskan kaum Yahudi dari
penindasan, melainkan juga menggalakkan suatu peradaban yang
kaya dan terbaik dapat disajikan di kalangan mereka pada masa
itu.”7
Dengan datangnya Abad Pencerahan di Eropah, kaum Yahudi
memperoleh beberapa wahana kebebasan dan rasa kemanusiaan di
negeri Barat. Pada masa itu, termasuk Moses Mendelssohn salah
seorang Yahudi terbesar pada zamannya. Tetapi setelah jatuhnya
Napoleon, maka timbul kembali semangat anti Yahudi dan kaum
ini dihadapkan dua pilihan “kembali ke perkampungan Yahudi atau
menjadi Kristen” Banyak yang memilih alternatif kedua, yang
lainnya hanya tunduk pada pembatasan yang ketat namun masih
tetap patuh pada agamanya. Pada masa inilah, yakni masa
penindasan gaya baru, maka ada gagasan untuk mengusahakan
Negara Yahudi di mana mereka dapat bebas menganut cara hidup
dan memerintah negara sendiri. Gagasan ini masuk pada alam
fikiran Theodore Herzel (1860 –1901). Mula-mula ide ini diterima
dengan penuh kecurigaan, tetapi belakangan menyebar bagaikan
kembang api di kalangan kaum Yahudi baik yang ortodoks maupun
7 Isidoew Epstein, Judaism, A Histrorical Presentation (Pelican Book), p. 181. Penguin
Books , 1959
146 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
di kalangan pembarunya, dan akhirnya mengkristal dalam politik
Zionisme modern. Inggris setelah Perang Dunia I menjadi penguasa
Palestina di bawah mandat Liga Bangsa-Bangsa, mengizinkan
pembentukkan negara nasional bangsa Yahudi dari seluruh dunia di
Palestina. Dengan mengikuti Deklarasi Balfour, ribuan kaum
Yahudi di seluruh Eropah mengalir ke Palestina, dan dengan
bantuan Inggris beserta sekutunya mengusir kaum Muslimin Arab
dari negerinya, dan membuang mereka sebagai pengungsi
tunawisma. Kemudian timbullah pembantaian terhadap kaum
Yahudi pada zaman Hitler di Jerman, dan perpindahan kaum
Yahudi ke Palestina mencapai jumlah yang tak terduga banyaknya.
Akhirnya pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa Bangsa yang
didominasi oleh negara-negara adikuasa, secara sewenang-wenang
dan tidak adil mengeluarkan suatu resolusi pembentukkan Negara
Israel dengan mengabaikan Palestina. Demikianlah kini kaum
Yahudi disediakan rumah dengan mengusir kaum Muslimin yang
telah menetap di sana sejak waktu yang tak terhitung, sebagai para
tunawisma. Ratusan ribu kaum Muslimin Arab ini, sejak itu hidup
dibawah kelayakan hidup manusia dalam tenda-tenda pengungsian
di negara-negara Arab tetangganya, yakni di Yordania, Syria,
Libanon, dan Irak. Kaum Yahudi tidak cukup puas dengan
kesewenang-wenangannya ini, dan tidak merahasiakan lagi
rencana-rencana perluasan negaranya, serta sungguh-sungguh
memperluas negerinya beberapa kali dari ukuran aslinya semula
sebagai hasil peperangan dengan negara-negara Arab.
Sungguh ajaib, bangsa Yahudi ini yang dahulu mereka menjadi
korban penindasan bertubi-tubi dan berlarut-larut, telah
menunjukkan kecenderungan untuk menganiaya dan membantai
kaum lainnya – tidak kepada kaum yang telah menganiaya mereka,
yakni bangsa Kristen di Barat – dan yang sungguh menyedihkan ia
membalasnya kepada kaum yang selalu menolong dan bersahabat
dengan mereka, yakni kaum Muslimin.
AGAMA YAHUDI 147
KITAB-KITAB SUCI AGAMA YAHUDI
Kitab-Kitab Suci agama Yahudi (Kisew Ha-Kosdesh) terdiri
dari semua kitab yang terdapat dalam apa yang disebut Perjanjian
Lama dari Alkitab Kristiani. Dalam Kanon Ibrani, kitab-kitab itu
disusun dalam tiga bagian sebagai berikut.
(1) Taurat (“Hukum”) –terdiri dari Pentateuch (“Lima Kitab”)
yang dinisbahkan kepada Musa a.s., yakni terdiri dari kitab
Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.
(2) Nebi’im (“Para Nabi”) – terdiri dari (a) Nebi’im Permulaan
(misalnya Joshua, Para Hakim, Samuel, dan Kitab Raja Raja); (b)
Nebi’im Terakhir terdiri dari Isaiah, Jeremiah, Ezekiel, dan
“Duabelas” (seperti Hosea, Joel, Amos, Abediah, Jonah, Micah,
Nahum, Habbakuk, Zephaniah, Haggai, Zechariah, dan Malachi).
(3) Kethubim (“Tulisan Suci”) terdiri dari (a) Mazmur, Amzal,
dan Ayub, (b) Lima Magilot, seperti Nyanyian Sulaiman, Ruth,
Ratapan, Pengkhotbah, dan Esther, dan (c) Daniel, Ezra-Nehemiah
dan Tawarikh.
Taurat itu dianggap oleh kaum Yahudi ortodoks maupun oleh
Kristen sebagai Kitab Musa a.s. yang diwahyukan kepadanya dari
Tuhan. Tetapi dengan membaca sepintas saja, kita sudah dapat
menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin. Musa, misalnya, tidak
mungkin dapat menuliskan peristiwa kematiannya sendiri seperti
terdapat dalam Ulangan pasal 34. Dalam bentuknya yang sekarang,
Taurat atau Pentateuch berasal dari lima abad sebelum kedatangan
Isa a.s. Adalah sulit untuk dikatakan bahwa bagian dari itu,
walaupun sedikit, sebagaimana yang diwahyukan oleh Tuhan
kepada Musa a.s. (yang hidup pada abad 15 s.M). Cendekiawan
modern telah membedakan setidaknya empat bagian utama dalam
Kitab Taurat: (i) Jalwestic aslinya berasal dari suku Ibrani yang
tinggal di Palestina Selatan sekitar abad ke sembilan s.M., dan
dinamakan demikian karena di kalangan mereka, Tuhan dikenal
148 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
sebagai Yahweh. Bagian ini menunjukkan jejak yang paling terang
dari agamanya yang utama dengan konsepsi ketuhanan yang
antrophormophic yang dikembangkan oleh suku itu ketika menetap
di gurun pasir. (ii) Elohist (E) berasal dari suku yang menetap di
Utara, di mana Tuhan itu dikenal sebagai Elohim (“Tuhan” atau
lebih harfiah tuhan-tuhan). Di sini merupakan daerah pertanian
yang lebih diutamakan dari peternakan, suku bangsa ini terpaksa
meninggalkan cara hidup gurun pasir berikut kepercayaan dan
pantangan mereka yang asli. (iii) Deuteronomic (D), suatu
kumpulan hukum yang jauh lebih maju dan diperkirakan dibawah
pengaruh Nabi-Nabi besar dan telah diketemukan oleh Hilkiah
Pendeta Tinggi pada tahun 621 s.M., ketika Yosiah menjadi raja
Yudah. Beberapa bagian daripadanya mungkin sungguh-sungguh
berasal dari Musa a.s. (iv) Priestly (P), jelas suatu kumpulan yang
lebih belakangan lagi yang mencerminkan pengaruh para pendeta
yang dikendalikan oleh Babylonia di tengah-tengah kaum Yudea
dalam tawanan setengah abad penuh. Undang – undang rakyat yang
sosial religius sebagian dari masa lampau dan sebagian lagi dari
masa-masa belakangan yang secara salah dinisbahkan kepada Musa
a.s. oleh para pendeta. Ini terdiri dari Kitab Lewi dan bagian besar
Kitab Kejadian, Keluaran, dan Bilangan dan dibawa ke Jerusalem
oleh Ezra pada tahun 458 s.M. Keanekaragaman inilah yang
menjelaskan perbedaan besar yang terdapat dalam Taurat, dan
merupakan kesulitan bagi mereka yang ingin menemukan
persamaan dalam perintah-perintahnya.
Para penulis dari J, E, D, dan P juga dapat ditelusuri dalam
Kitab Yoshua. Karena itu para kritikus seringkali bicara tentang
“Hexateuch” (“Enam Kitab”) yang menunjukkan bahwa suatu kali
Yoshua telah menyusun suatu karya tunggalnya dengan lima kitab
lainnya.
Semua kitab sejarah atau apa yang dinamakan Nebi’im
Permulaan terdiri dari rangkaian pengarang. Hakim-Hakim,
AGAMA YAHUDI 149
Samuel, dan Raja-Raja dalam bentuknya yang sekarang termasuk
masa-masa sesudah pembuangan yang permulaan. Gambaran
umum yang bisa ditarik didalamnya boleh dianggap sejarah.
Namun dalam kitab Samuel di dalamnya tercampur kisah-kisah
mengenai Samuel, Saul dan Daud a.s. sebagai tokoh utamanya.
Kini sampailah kita kepada Nebi’im Belakangan yakni
karyanya para Nabi Ibrani itu tidak seluruhnya merupakan tulisan
yang diwahyukan Ilahi kepada Nabi-Nabi yang disebutkan
namanya. Dalam Kitab Isaiah hanya enambelas dari enampuluh tiga
pasal yang dianggap para ahli Alkitab berasal dari tulisan Nabi
Isaiah. Fasal-fasal lainnya ditulis paling sedikit oleh dua orang
lainnya di masa masa belakangan dengan menyisipkan tulisan
tangannya sendiri dalam kitab Nabi Isaiah.
Kitab Yeremiah juga merupakan gabungan. Mungkin kitab itu
berisi banyak tulisan yang terilham dari Nabi Yeremiah, tetapi
semuanya ini tidak disusun hingga sesudah wafatnya, dan kitab itu
banyak dirobah-robah. Dalam kata-kata Archibald Robertson
ditulis:
“Sungguh disayangkan bahwa hasil karya Yeremiah, Nabi
yang paling manusiawi telah sampai ke tangan kita dalam keadaan
berkeping-keping dan membingungkan dengan susunan kronologis
yang sangat sedikit dan sudah banyak dirobah”.8
Kitab Ezekiel hingga akhir-akhir ini juga dianggap karya Nabi
yang bersangkutan, tetapi beberapa kritikus modern telah
menemukan di dalamnya paling sedikit dua tangan lain, dan
sebagian daripadanya dinisbahkan pada periode yang lebih awal
dari Ezekiel yang tradisional.
Kitab yang disebut “Duabelas Nabi-Nabi Kecil” membentuk
satu gulungan tunggal dalam Kanon Ibrani, sebagian berisi wahyuwahyu
yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan, dan mungkin
8 Archibald Robertson, The Bible and its Background, vol. I, p. 35 (The Thinker’s
Library, London. 1942)
150 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
ditulis oleh mereka sendiri kecuali Jonah yang pasti tidak ditulis
olehnya sendiri. Namun tidak diragukan lagi, bahwa kitab-kitab ini
juga berisi banyak perobahan. Meskipun demikian, kitab dari para
Nabi ini bersama Yeremiah, Isaiah, dan Ezekiel berisi karya tulis
yang sangat tinggi nilainya yang telah ditulis manusia, dan banyak
dari halamannya penuh dengan kebencian terhadap penindasan dan
ketidakadilan. Secara gagasan yang dikemukakan oleh mereka
adalah sebagai berikut: (i) Tuhan memelihara semua ummat
manusia tidak hanya Bani Israil saja, (ii) Kepada Bani Israil, Dia
tidak akan memberikan rahmat yang khusus kecuali bila mereka
menunjukkan kerelaan yang khusus pula dalam mengikuti Jalan
Nya, (iii) JalanNya adalah jalan ketulusan dan jalan ini hanya dapat
diikuti dengan beramal saleh dan tidak semata-mata dengan
melakukan upacara-upacara saja, (iv) Kecuali sampai mereka
mengikutiNya, maka seketika Tuhan sendiri yang akan
menyerahkan tanah mereka.
Kitab Yonah yang ditulis kira-kira tahun 350 s.M. Pelajaran
kasih sayang dan rahmat yang diajarkan dalam kitab kecil ini
menjadikannya bernilai etis yang sangat tinggi.
Sampailah kita kepada Kitab Kethubim. Kitab Psalms
(Mazmur) berisi lima kumpulan hymne. Meskipun ada
kemungkinan bahwa sedikit dari nyanyian pujian ini ditulis Daud
a.s. (1012 – 972 s.M), kumpulan yang kita miliki sekarang hampir
seluruhnya setelah pengungsian, yakni pada abad keenam atau
kelima sebelum masehi.
Kitab Amsal juga merupakan gabungan seperti halnya Kitab
Mazmur, Sulaiman a.s., mungkin merupakan nyanyian di
dalamnya. Archibald Robertson menulis :
“Seperti juga semua hukum Yahudi itu dinisbahkan kepada
Nabi Musa, dan seluruh nyanyian suci kepada Nabi Daud, demikian
juga menjadi keyakinan untuk menisbahkan buku-buku
kebijaksanaan seperti Amsal kepada Sulaiman. Betapapun buku itu
AGAMA YAHUDI 151
adalah satu dari Perjanjian Lama yang paling akhir, dan menunjuk
ke suatu pengaruh dari alam fikiran Yunani.”9
Dua buku lainnya yang dinisbahkan kepada Sulaiman. Pertama
adalah Ecclesiates, yakni pada kenyataannya buku ini dari seorang
pesimis yang sinis disusun pada abad kedua sebelum masehi atau
800 tahun setelah Sulaiman. Dan buku kedua apa yang dinamakan
Nyanyian Sulaiman, ialah suatu mitologi lirik percintaan yang
dinyanyikan pada perayaan perkawinan. Menurut A.D. Howelu
Smith:
“Yang disebut Nyanyian Sulaiman bukanlah suatu syair
keagamaan . Ini adalah suatu kumpulan dari nyanyian-nyanyian
pengantin, mungkin semuanya belakangan dalam bentuk yang
sekarang. Menurut tradisi para pendeta Yahudi, kaum Yahudi
menyanyikan lagu-lagu ini dalam penginapan, dan hanya karena
setelah banyak perdebatan, maka buku ini dimasukkan dalan
Kanon.”10
Kitab Ratapan meskipun dinisbahkan kepada Jeremiah dalam
Alkitab, sesungguhnya bukan karyanya. Ini merupakan kumpulan
dari lima prosa, empat yang permulaan adalah dengan awalan kata
yang diulang-ulang. Bab kedua dan keempat mungkin termasuk
periode penaklukan Yeruzalem oleh Nebukadnezzar (586 s.M.),
sedangkan bab kesatu dan ketiga adalah belakangan dan bab kelima
akan cocok untuk beberapa periode kesedihan alami.
Kitab Ruth adalah cerita novel. Tujuan utamanya adalah
sejarah dari yang bersangkutan dengan penelusuran atas nenek
moyang Daud, merupakan kisah yang memikat dari ketaatan dan
kebajikan. Ini juga ingin mengajarkan kemanusiaan dari ummat
Yahudi dan kaum ningrat.
9 Archibald Robertson, The Bible and its Background, vol. I, p. 69-70 (The Thinker’s
Library, London. 1942)
10 A.D. Howell Smith, In Search of the Real Bible, p. 74 (The Thinker’s Library, London,
1943)
152 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
Kitab Ester yang mungkin merupakan karya tiga abad sebelum
masehi, adalah roman yang keras dan patriotik. Pengarangnya yang
tak dikenal meletakkan adegan kisahnya dalam istana Raja Persia,
Xerxes. “Kisah itu”, komentar Archibald Robertson,
“mengungkapkan diri dalam suasana Seribu Satu Malam, dan
penuh dengan hal-hal yang berlebihan serta khayal”.
Kitab Ayub adalah hasil puncak dari karya tulis Yahudi yang
genius. Dalam bentuknya, karya ini adalah drama perjuangan tragis
antara manusia dengan sang nasib. Tema sentralnya adalah problem
kejahatan, bagaimana bisa seorang yang tulus itu akan menderita,
sedangkan “mata si jahat selalu menyala dalam kenikmatan”. Ayub
watak sentral dari drama tersebut adalah seorang Nabi, dia disebut
Ezekiel sebagai orang tua yang adil dan benar dalam kiasan.
Namun dia ditimpa oleh bencana berturut-turut. Dia sampai pada
keyakinan, bahwa kesakitan dan penderitaan itu diperlukan untuk
menguji dan menyucikan orang tulus, dan belajar menerima hal itu
sebagai takdir Ilahi.
Kitab Daniel adalah suatu manifesto politik dalam bentuk
sejarah yang samar-samar dan wahyu, langsung ditujukan ke
Ariochus penguasa Seleucid dari Syria yang mencoba memaksakan
ide dan adat istiadat Yunani terhadap bangsa Yahudi. Kitab tersebut
ditulis pada tahun 165 s.M atas nama Nabi yang jauh lebih tua
untuk menutupi maksud tersembunyi dari penulis terhadap sorotan
penguasa.
Kitab Bilangan kelihatannya adalah karya seorang pendeta
yang bebas mengambil bahan-bahannya, dan seringkali
memalsukan sejarah. Kitab Ezra-Nehemiah (yang pernah suatu
waktu merupakan sebagian dari Kitab Bilangan), berisi kenangan
yang bagus sekali dari pembaharu ini, tetapi banyak peristiwa
berasal dari perawi yang telah membentuk opini yang dicocokkan
dengan konsepsinya tentang masa lampau.
AGAMA YAHUDI 153
Inilah apa yang ditulis pendeta Allan Menzies menulis perihal
keaslian dan nilai histroris dari kitab-kitab suci agama Yahudi:
“Karya tulis dari Perjanjian Lama telah mengalami kerusakan
hebat sebagaimana nasib yang telah ditakdirkan kepada setiap
bentuk Kitab Suci. Bahan-bahan baru dan bahan-bahan lama
bercampur aduk didalamnya, banyak karya-karya telah dirombak
oleh penyusun yang belakangan, dan demikian banyak perobahan
sehingga proses kritis yang banyak makan tenaga harus dibutuhkan
sebelum kitab-kitab itu dapat dipakai oleh ahli-ahli sejarah.”11
Setelah Kitab Suci (Kiswe Ha-Kodesty) datanglah Apocrypha
(bagian tidak asli-pent.). Kitab Aprocypha ini ditulis setelah Kanon
Yahudi ditutup. Betapun banyaknya kitab-kitab itu dinisbahkan
kepada tokoh-tokoh Ibrani yang sangat tua dan dihormati, misalnya
Nuh, Ibrahim, Sulaiman, Daniel, tetapi hal ini agaknya dikerjakan
supaya menjadikan karya-karya tulis itu tampak mulia dan
karenanya membutuhkan penellitian yang seksama. Kitab-kitab itu
dinyatakan sebagai wahyu, dan mengungkapkan kata-kata yang
berapi-api tentang ‘Hari Kiamat’, ‘Pengadilan Akhir’, ‘Akhir
Zaman’, dan segala macam mukjizat ketuhanan lainnya yang
berlebihan. Kitab-kitab ini sebagian terbentuk dari versi Yunani
permulaan dari Alkitab Ibrani yang dinamakan Septuagint, dan
disediakan bagi ummat Yahudi yang ada di perantauan. Kitab-kitab
itu tetap termasuk dalam Alkitab Katolik Roma di antara Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru, namun telah dihapus dari Alkitab
Kristen Protestan.
Yang lebih penting dalam pandangan kaum Yahudi dari
Apocrypha adalah Talmud. Penafsiran Taurat dan penyajian
hukum-hukum serta perintah-perintah baru telah berlangsung terus
sejak zaman Ezra. Hal ini mula-mula tidak dituliskan tetapi
diturunkan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Sebagai akibatnya, para ulama Yahudi menyusun
11 Allan Menzies, History of Religion, p. 175 (John Murray, London, 1895)
154 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
keaslian tradisi lisan ini hingga ke masa-masa yang sangat jauh di
masa purba, dan mendakwahkan bahwa Taurat dalam bentuk lisan
seperti halnya Taurat yang tertulis berasal dari Musa. “Taurat dari
Tuhan”, tulis Allan Unterman, “adalah tidak sama dengan teks
Pentateuch, walaupun keseluruhannya ditulis dalam kitab Ibrani
(juga disebut Perjanjian Lama), yang dianggap sebagai wahyu Ilahi,
tetapi termasuk di dalamnya ajaran lisan bangsa Yahudi, yang
ditelusuri kembali ke wahyu Musa.”12 Pirke Abot (Kebijaksanaan
Kaum Tua) adalah Kitab Penting dari Talmud, dibuka dengan katakata
sebagai berikut:
“Musa menerima Taurat (secara lisan) dari Sinai dan
meneruskannya kepada Joshua, dan Joshua kepada Hakim-Hakim,
dan Hakim-Hakim kepada Nabi, dan para Nabi menurunkannya
kepada orang-orang dari Dewan Agung. Mereka mengatakan tiga
perkara, adil dalam menghakimi, menumbuhkan banyak murid, dan
membuat perlindungan terhadap Taurat.”13
Setelah orang-orang dari Dewan Agung, maka tradisi lisan ini
diteruskan kepada Kaum Tua yang kata-katanya terdapat dalam
Pirke Abot, dan dari Kaum Tua kepada para Rabbi. Kemudian
tibalah krisis pada tahun 70 Masehi, ketika kota suci mereka,
Yerusalem, dilindas oleh Romawi dan kaum Yahudi menjadi
tunawisma baik pribadi maupun rumah ibadahnya. Pada saat inilah
para Rabbi memutuskan untuk membukukan tradisi lisan dalam
karya tulis. Demikianlah mereka menciptakan Talmud, dan dengan
ini kaum Yahudi merasa terlindungi tidak hanya dalam bertahan
sebagai suatu kaum, melainkan untuk ketiga-tiga maksud di atas.
Proyek tersebut dimulai dengan sekelompok buku-buku catatan
yang terpisah dan berisi beberapa peraturan baru yang tak terhitung
banyaknya, dan berasal dari ‘penafsiran’ terhadap 613 bagian asli
12 John R. Hinnells (editor), A Handbook of Living Religions: the chapter on “Judaism”
by Allan Unterman, p,29 (Penguin Books, Harmodsworth, 1985)
13 The Living Talmud – The Wisdom of the Fathers, edited and translated by Judah Goldin
(Mentor Religious Classic New York, 1957)
AGAMA YAHUDI 155
yang digariskan dalam Taurat lama. Tidak dapat dipastikan, baik
dalam lingkup maupun pengarangnya, dan juga sangat bercerai
berai buku-buku catatan ini, yang akhirnya disusun sekitar tahun
200 Masehi. - - dalam suatu kesimpulan umum yang dikenal
sebagai Mishnah, atau “Ulangan” yang terdiri dari enam jilid yang
tersusun baik, terdiri dari sekitar 4.000 putusan-putusan yang
menyangkut setiap fase dari kehidupan bangsa Yahudi.
Namun tidak lama sesudah Mishnah selesai disusun, maka
sebaliknya hal ini menjadi bahan ‘penafsiran’ yang diperlukan,
maka timbullah karya yang disebut Gemara . Ketika Gemara ini
akhirnya menjadi karya tulis sekitar tahun 500 Masehi, kitab ini
digabung dengan Mishnah dan disebut Talmud. Ada dua macam
versi dari Talmud, yakni versi Yerusalem dan versi Babylonia.
Karena Talmud itu bersumber dari Taurat lisan dan oleh kaum
Yahudi ortodoks dianggap lebih banyak terilham dari Ilahi
dibandingkan dengan Tauratnya sendiri yang ditulis mereka.
Tetapi hal ini tidak mengakhiri kemampuan para Rabi. Talmud
di samping ke aneka ragamannya, pada dasarnya merupakan
antalogi resmi. Para penyusunnya berusaha keras untuk
mencantumkan di dalamnya karya diskusi mereka dan sedikit
banyak langsung berkenaan dengan peraturan dan adat istiadat yang
harus dilakukan oleh seorang Yahudi dalam hidup kesehariannya.
Hal ini menimbulkan debat akademik dengan sifat yang lebih luas
dan lebih beranekaragam. Misalnya legenda dan hikayat yang ingin
dimasukkan para Rabi untuk mengatur diri mereka sendiri, di mana
mereka mengajarkan perumpamaan-perumpamaan yang dikarang
oleh mereka sendiri dari kekayaan berupa berita-berita aneh dan
kebijaksanaan dalam hal-hal tertentu, dan ini diteruskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Seketika setelah Talmud
dilengkapi bahan-bahan yang lain ini ditumpukkan menjadi satu,
dan serangkaian karya ini muncul yang disebut Midrashim
(Perjanjian). Kitab-kitab itu biasanya disusun dalam bentuk tafsir156
AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
tafsir setempat dalam bermacam-macam kitab dan halamanhalaman
dalam Alkitab.
INTISARI AGAMA YAHUDI
Intisari agama Yahudi terdapat dalam Decalogue yang
termasyur atau Sepuluh Perintah yang diwahyukan kepada Musa
a.s. dari Tuhan. Dalam kitab kedua yang dinisbahkan kepada Musa
a.s. disebut Keluaran, perintah ini tersusun sebagai berikut::
“Akulah Tuhan Allahmu yang membawa engkau keluar dari
tanah Mesir dan tempat perbudakan. Janganlah ada padamu Allah
lain dihadapanKu.”
“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun
yang ada di langit, atau yang ada di bumi, atau yang ada di dalam
air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau
beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan Allahmu adalah Allah
yang cemburu dan membalaskan kesalahan bapak kepada anakanaknya,
kepada keturunan yang ketiga, keempat, dan orang-orang
yang membenci Aku. Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada
beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan
berpegang pada perintah-perintahKu.”
“Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan,
sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama
Nya dengan sembarangan.”
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya
engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari
ke tujuh adalah hari Sabat Tuhan Allahmu, maka jangan melakukan
sesuatu pekerjaan engkau atau anakmu laki-laki atau anakmu
perempuan atau hambamu laki-laki atau hambamu perempuan atau
hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Enam hari
lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi laut dan segala isinya,
dan berhenti pada hari ketujuh, itulah sebabnya Tuhan memberkati
hari Sabat dan mengkuduskannya.”
AGAMA YAHUDI 157
“Hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah
yang diberikan Tuhan Allah kepadamu.”
“Janganlah membunuh..
“Janganlah berzinah..
“Janganlah mencuri.
“Janganlah mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
“Jangan menginginkan rumah sesamamu, jangan mengingini
isterinya, atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan atau
lembunya atau keledainya atau apa pun yang dipunyai sesamamu”.
(Keluaran, 20 : 2 – 17)
Juga ada perintah selanjutnya dalam Imamat:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (19 : 18)
UMMAT PILIHAN
Kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai umat pilihan
Tuhan. Terbukti mereka bertindak lebih jauh dengan menganggap
Tuhan dengan perasaan khusus adalah milik mereka, dan menyebut
Dia sebagai “Tuhan Raja Israil”. Dia telah mewahyukan agama Nya
yang sejati hanya kepada mereka sendiri. Dengan mengutip
pengarang Yahudi modern :
“Kunci yang benar dalam memahami agama Yahudi dalam
tafsiran mereka sendiri didapati dalam konsepsi mereka tentang
“ummat pilihan”. Ajaran “pilihan” ini adalah suatu misteri ... dan
suatu skandal. Hal itu merupakan misteri dalam Alkitab itu sendiri
yang menetapkan pilihan Tuhan tidak kepada sifat-sifat mulia yang
tertanam pada bangsa Yahudi, tetapi kepada kehendak yang tak
dikenal Tuhan. Segera hal ini terbentuk, tetapi tetap sebagai suatu
skandal pada orang-orang kebanyakan, dan bahkan bagi beberapa
banyak orang Yahudi.”14
14 Arthur Hertzberg (editor), Judaism, Introduction p. xv (Washington Square Press
Book, New York, 1963).
158 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
Menurut Alkitab Yahweh, Tuhan Yang Esa dan Sejati
mengadakan perjanjian dengan Bani Israil yang menjadikan Dia
Tuhan dari Israil, dan Israil sebagai ummat Yahweh. Mereka
disebut “anak Tuhan” dan dinyatakan lebih unggul dari bangsabangsa
lain:
“Kamulah anak-anak Tuhan Allahmu … sebab engkau ummat
yang kudus bagi Tuhan Allahmu, dan engkau dipilih Tuhan untuk
menjadi ummat kesayangan Nya dari antara segala bangsa yang ada
di atas muka bumi” (Ulangan, 14 : 1-2)
“Dan bangsa manakah di bumi seperti umatmu Israil yang
Allahnya pergi membebaskannya menjadi ummat Nya untuk
mendapat nama bagimu dengan perbuatan-perbuatan besar yang
dasyat.dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan ummatmu
yang telah Kau bebaskan dari Mesir. Engkau telah membuat
ummatmu Israil menjadi ummatmu untuk selama-lamanya, dan
Engkau ya Tuhan menjadi Allah mereka” (Tawarich, 17 : 21-22)
Bahkan tanah yang diberikan Tuhan kepada Bani Israil, tanah
Kanaan (Palestina) dinyatakan tidak ada tanah yang lebih seperti itu
di permukaan bumi:
“Maka janganlah najiskan negeri tempat kedudukanmu yang
ditengah-tengahnya Aku diam, sebab Aku Tuhan diam di tengahtengah
orang Israil” (Bilangan, 35 : 34)
Dalam Talmud ditulis:
“Barangsiapa yang tinggal di Tanah Israil, dianggap percaya
kepada Tuhan. Barangsiapa yang tinggal di luar Tanah itu dianggap
sebagai golongan orang penyembah berhala .…Barang siapa yang
hidup di Tanah Israil menjalani kehidupan tiada berdosa
sebagaimana telah tersurat dalam Alkitab: ‘Orang-orang yang
tinggal di sana akan diampuni atas kesalahannya’ (Isaiah, 33:34)
Barang siapa yang dikuburkan di Tanah Israil dianggap seolah-olah
dia dikuburkan di bawah Altar ... .Barang siapa yang berjalan
AGAMA YAHUDI 159
sejauh empat meter di Tanah Israil dijamin satu tempat di dunia
mendatang” (Mishah, Ketubot, 110a –111a)
Dasar perjanjian Tuhan dengan Israil di Sinai adalah ajakan
Tuhan, “Dan kamu akan menjadi bagi Ku kerajaan iman dan
bangsa yang kudus” (Keluaran, 19:6). Namun tidak bisa diingkari
bahwa kaum Yahudi selalu menganggap bahwa Perjanjian ini
mengikat mereka hanya sebagai ikatan ras belaka. Akibatnya tidak
saja mereka gagal untuk mengajarkan agama Yahudi kepada orang
lain, bahkan mereka tidak menginginkan orang lain sebagai
pengikutnya. Bila seorang asing mau menjadi penganutnya (hampir
dapat dipastikan disebabkan perkawinan, maka hukum Yahudi
tidak mengenal perkawinan antara penganut agama Yahudi dengan
bukan Yahudi), itikadnya selalu dicurigai. Sifat agama Yahudi yang
rasialis dan kebangsaan yang picik tampak jelas dalam kenyataan
bahwa kaum Yahudi mengeluarkan kaum Samaria dari masyarakat
Yahudi meskipun mereka sama-sama yakin kepada Taurat, hanya
disebabkan karena mereka dianggap bersalah memperbolehkan
perkawinan dengan kaum non Yahudi. Sebaliknya, orang Yahudi
menganggap seorang yang dilahirkan oleh orang tua Yahudi itu,
selalu beragama Yahudi bahkan meskipun dia (baik lelaki maupun
perempuan) telah menjadi ateis ataupun telah membuang semua
kepercayaan dan peribadatan Yahudi.
KONSEPSI TENTANG TUHAN
Akidah agama Yahudi dikenal sebagai Shema, terurai sebagai
berikut:
“Dengarlah hai orang Israil, Tuhan itu Allah kita Tuhan yang
Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan, 6:4-
5)
Agama Yahudi berlandaskan dua ajaran yang luas, keyakinan
atas keesaan Tuhan dan terpilihnya Israil sebagai pembawa
160 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
kepercayaan ini. Kedua ajaran ini telah mendapatkan rumusannya
yang klasik dalam Shema. “Apapun yang disini telah ditetapkan”,
tulis Isidore Epstein, yakni (i) bahwa tiada Tuhan kecuali Yang Esa
dan tiada sekutu di sisi Nya, dan (ii) bahwa Tuhan Yang Esa dan
Satu-Satunya itu adalah yang diakui dan disembah oleh Bani Israil.
Penolakan terhadap Tuhan lain adalah sekuat dan seteguh
penerimaan terhadap Satu Tuhan. Mereka menolak segala
perwujudan dan perlambang dari Dzat yang betapa pun disucikan
dan dimuliakan menutup ‘Tuhan Yang Esa dan Satu-Satunya dari
Israil. Jadi mereka menolak tidak hanya Tuhan yang dualistis
ataupun kepercayaan politeis, tetapi juga Trinitas dari Kristen yang
betapun hal itu ditafsirkan sedemikian rupa seolah-olah itu menjadi
Satu Tuhan dalam pengertian kiasan, tetapi tetap merupakan suatu
pengingkaran langsung terhadap Satu-Satunya Tuhan yang sejak
awalnya telah dipilih oleh Bani Israil untuk disembahnya.”15
Selanjutnya, di samping ajaran tentang Keesaan Nya adalah
juga ke Maha Kuasaan Nya dalam istilah Talmud “Yang Maha
Kuasa dan Maha Perkasa. Kekuasaan Nya tidak terbatas oleh
Kehendak Nya. Agama Yahudi juga menekankan kekuasaan Tuhan
tetapi hal ini tidak berarti Dia identik dengan kekuasaan dunia atau
dibatasi olehnya. Segala ajaran panteisme yang akan mengenalkan
Tuhan atau mempersamakan Tuhan dengan alam ditolaknya.
Berhubungan erat dengan ide transendental dari Tuhan, ialah tak
terbandingkannya keilahian. Dia adalah Roh Suci, bebas dari segala
batas kebendaan dan kelemahan daging. Nama-nama Tuhan yang
ditekankan oleh agama Yahudi yakni yang tak terbatas
kekuasaanNya, keadilanNya, dan rahmat karuniaNya. Selanjutnya
Dia adalah “Hidup dan Abadi selamanya”. Karena itu dalam agama
Yahudi tak ada tempat bagi ajaran inkarnasi serta kematian dan
kebangkitan kembali Tuhan.
15 Isodore Epstein, Judaism: A Historical Presentation, p. 134 (Penguin Books, 1959)
AGAMA YAHUDI 161
Namun haruslah ditunjukkan di sini, bahwa konsepsi
ketuhanan yang utuh tidak terdapat dengan seragam di buku-buku
Alkitab. Dalam kitab yang awal, Yahweh digambarkan tidak lebih
dari Tuhan suatu suku bangsa saja. Dia adalah Tuhan dari bangsa
Ibrani saja, bangsa-bangsa lain mempunyai tuhan-tuhannya sendiri
(elohim). Adanya tuhan-tuhan lain ini tidak diingkari meskipun
Yahweh dianggap yang paling berkuasa di antara mereka:
“Siapakah di antara Elohim ini seperti Engkau, o
Yahweh?”(Mazmur) Politeisme juga merasuk teks semacam ini
dalam Alkitab seperti “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi
salah satu dari kami, untuk mengetahui yang baik dan yang jahat”
(Kejadian, 3:22)
Konsepsi tentang Tuhan dalam banyak teks dari Alkitab ialah
antropomorfis. Dia adalalah menurut istilah Matthew Arnold,
“seseorang yang gagah perkasa dan tidak seperti orang biasa.” Dia
tidak beristeri dan beranak, tetapi hidup di langit dengan makhluk
lain yang lebih rendah dari dirinya yang disebut juga tuhan-tuhan
atau Elohim (Keluaran 15: 11, Mazmur 86:8, Mazmur 97: 7-9).
Seringkali dia berjalan-jalan di muka bumi untuk menikmati senja
yang sejuk (Kejadian, 3:8), turun untuk membuktikan desas desus
yang telah didengarnya (Kejadian, 11:5; 18:20,21), makan dan
minum dengan orang-orang dan bicara dengan isteri-isteri mereka.
(Kejadian, 18: 1-5), memperoleh kekalahan dalam pertandingan
adu gulat, hingga dia bisa menemukan siasat yang licik terhadap
lawannya (Kejadian, 32:24-40), menujukkan punggungnya kepada
Musa karena wajahnya menyebabkan kematian (Keluaran, 33:20-
23), dapat dibujuk untuk tidak membalas dendam dengan pujian
atas kekuatan dan kewibawaannya (Keluaran, 32: 10-14), suka
minum minuman keras (Hakim-Hakim, 9:13), suka cemburu
(Keluaran, 20:5), suka membalas dendam (Kejadian, 32:42),
menyesal atas apa yang telah diperbuatnya ataupun yang
diniatkannya untuk dilakukan (Kejadian, 6:6; Keluaran, 32:14)
162 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
DOKTRIN DASAR LAINNYA
Salah satu aspek yang penting dalam agama Yahudi adalah
keyakinan bahwa Tuhan berkomunikasi kepada manusia melalui
perantaraan ramalan. Ia menjaga hubungan dengan manusia melalui
wahyu Nya dan hukum Nya kepada ciptaan yang disayangi Nya.
Untuk maksud tersebut, Dia memilih Putra Israil dan
membangkitkan nabi-nabi Nya hanya dari kalangan mereka.
Ummat Yahudi percaya bahwa Musa a.s. adalah nabi terbesar dari
segala nabi yang Tuhan berkomunikasi langsung dengan cara Nya,
yang keseluruhannya ada dalam Torah (yakni Pentateuch) telah
diwahyukan kepada Musa a.s. oleh Tuhan; dan Torah tidak akan
mengalami perubahan atau menggantikan dengan wahyu lain dari
Tuhan.
Manusia, menurut ajaran Yahudi, diciptakan dari citra Tuhan.
Ia dapat jatuh ke dalam sekali, tetapi ia tidak oleh dosa yang tidak
dapat diampuni. Dosa adalah melawan kehendak Tuhan, tetapi
lebih serius lagi menurunkan derajat manusia. Tobat seseorang
akan mengembalikan kesuciannya. Tuhan Maha Pengasih dan
memaafkan dosa-dosa orang yang bertaubat.
Agama Yahudi percaya bahwa Tuhan mengetahui setiap
perbuatan manusia dan semua yang difikirkannya. Ia mengganjar
siapa-siapa yang memegang Perintah Nya dan menghukum siapasiapa
yang melanggar Perintah Nya. Dalam Alkitab sendiri
dikatakan tempat manusia hidup adalah di dunia. Tetapi ajaran
Yahudi datang pada suatu kepercayaan bahwa setelah kebangkitan
dari kematian, akan ada kehidupan di sorga dan di neraka.
Doktrin dasar lainnnya adalah tentang kedatangan Messiah
(atau seorang yang dijanjikan), turunan langsung dari garis Daud,
siapa yang akan menerima masa Mesiah ini akan melihat Bani Israil
AGAMA YAHUDI 163
dikumpulkan kembali ke tanah Israil. Beberapa kalangan yakin
bahwa Messiah akan datang sebagai hasil katalisasi dan mukjizat
alam. Tetapi lainnya berpandangan lebih realistik. Mereka percaya
bahwa Messiah ketika datang, musuh-musuh Tuhan dan hamba
Nya terkalahkan, takhta kekuasan Daud dibangkitkan dan juga
kedaulatan Putra Israil, tetapi hal itu tidak akan ada perubahan
radikal atau mengejutkan dalam tatanan ciptaan.
ETIKA AGAMA YAHUDI
Dasar agama Yahudi sebagai suatu sistem keagamaan dan
hukum moral adalah kesucian yang mengandung dua aspek: negatif
dan positif. Kesucian agama meminta dalam arti negatif menolak
semua penyembahan berhala, dan dalam arti positif dijalankannya
suatu sistem dalam upacara yang dianggap bangsa Yahudi telah
diwahyukan kepada mereka dari Tuhan. Dalam segi moral kesucian
meminta, dalam arti negatif, terhadap setiap desakan nafsu yang
membuat manusia itu mementingkan diri sendiri dengan
mengorbankan orang lain merupakan nilai pokok kehidupan
kemanusiaan. Dan dalam segi positif, ketaatan kepada suatu etika
yang menempatkan pelayanan kepada sesama manusia sebagai titik
pusat dari sistemnya. Dasar dari hukum moral tentang kesucian
adalah dua prinsip keadilan dan ketulusan. Keadilan sebagai aspek
negatif kesucian, dan ketulusan sebagai aspek positifnya.
Mengenai keadilan, Taurat berkata:
“Janganlah memutarbalikan keadilan, jangan memandang bulu,
dan jangan menerima suap, sebab suap membuat mata buta orang
bijak, dan memutarbalikan perkataan orang akan menjauhkan
ketulusan. Semata-mata keadilan itulah yang harus kau kejar,
supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan
kepadamu oleh Tuhan Allahmu” (Ulangan, 16:19-20)
164 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
Keadilan berarti pengakuan atas enam hak-hak azasi, yakni hak
untuk hidup, hak untuk memiliki, hak untuk bekerja, hak untuk
berbusana, hak untuk bertempat tinggal, dan hak pribadi.
Ketulusan membabarkan dirinya dalam penerimaan tugas
kewajiban terutama terhadap si miskin, si lemah, dan yang tak
berdaya. Aturan utamanya sebagai yang dirumuskan oleh Rabbi
Hilles sebagai berikut:
“Janganlah melakukan sesuatu kepada orang lain hal-hal yang
kau benci kalau orang lain berbuat demikian kepadamu”. Dan inilah
apa yang dapat kita baca dalam Gemara:
“Kebijaksanaan yang tertinggi ialah kasih sayang” (Berakot,
17a)
“Jika dua orang meminta tolong, sedangkan yang satu adalah
musuhmu, tolonglah dia terlebih dahulu” (Baba Metzia, 32 b)
“Pemberian zakat dan perbuatan mencintai sesamanya adalah
sama dengan seluruh perintah Torat, tetapi mencintai sesamanya
adalah lebih besar” (Sukkah, 49b)
“Barangsiapa yang mendermakan sekeping uang kepada
seorang yang miskin mendapatkan enam rahmat yang diberikan
kepadanya, tetapi dia yang mengucapkan suatu perkataan yang
lemah lembut kepadanya mendapat sebelas rahmat” (Baba Batra.
9b)
Kasih sayang tidak terbatas tidak hanya kepada sesama
manusia melainkan juga kepada binatang – binatang:
“Rabbi Judah berkata atas nama Rab: Seseorang dilarang
memakai sesuatu sebelum dia memberi makan binatang
peliharaannya” (Gittin, 62a)
HUKUM-HUKUM PERDATA DAN PIDANA
AGAMA YAHUDI 165
Taurat adalah kumpulan perintah-perintah yang diwahyukan
kepada Bani Israil oleh Tuhan. Sekelompok besar dari perintahperintah
ini adalah bersifat hukum-hukum perdata dan pidana.
Maksud dari para Penulis dan kaum Ulama, dialah yang boleh
memberi komentar atas Torat, terutama berkaitan dengan hukum
dan Talmud yang merupakan kumpulan dari peradilan-peradilan
umum (Halachoth) Jadi agama Yahudi menekankan sejak semula
sebagai agama hukum dan peradilan. Beberapa hukum-hukum
Yahudi dibandingkan dengan hukum peradaban tua lain-lainnya
jauh lebih menonjol kemanusiaannya. Misalnya, para majikan
dilarang untuk memeras para pekerjanya atau menunda pembayaran
upahnya bila sudah tiba saatnya. (Imamat, 19:13) Yang mempunyai
piutang tidak boleh menyerang kehormatan pribadi yang berhutang
dengan memasuki rumahnya untuk mengambil sumpah. (Ulangan,
24: 10-11) Dia tidak boleh berlaku kasar karena hal itu dilarang
oleh sistem hukumnya yang lain. Bahkan seorang budak pun, kalau
dia seorang Yahudi mempunyai hak pribadi dan tidak dianggap
sebagai suatu milik mutlak:
“Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah
dia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang
ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka dengan tidak
membayar tebusan apa pun. Jika ia datang seorang diri saja, maka
keluar pun ia seorang diri. Jika ia mempunyai istri, maka istrinya
itu diizinkan keluar bersama dengan dia. Jika tuannya memberikan
kepada dia seorang istri, dan perempuan itu melahirkan anak lelaki
atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap
menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar
seorang diri. Tetapi jika budak itu sungguh-sungguh berkata ‘Aku
cinta kepada tuanku, kepada istriku, dan kepada anak-anakku, aku
tidak mau keluar sebagai orang merdeka, maka haruslah tuannya itu
membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau
ke tiang pintu dan tuannya menusuk telinganya dengan penusuk,
166 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup”
(Keluaran, 21:2-6)
Dalam beberapa kasus, manfaat dari hukum kemanusiaan
hanya diperintahkan bagi kaum Yahudi saja, dan tidak mencakup
orang-orang bukan Yahudi ataupun orang awam. Sayangnya ada
ukuran ganda dalam kode hukum Yahudi – suatu hukum yang enak
bagi bangsa Yahudi, dan hukum yang lain lebih keras dalam
menyangkut hubungan dengan non Yahudi. Misalnya hukum utang
menggariskan perlakuan lemah lembut kepada budak itu hanya
diterapkan pada budak berbangsa Yahudi saja, budak yang bukan
Yahudi diperlakukan lebih kasar dan tetap sebagai budak untuk
seumur hidupnya (Lihat Imamat, 25: 44-46).Begitu pula halnya
hukum yang melarang riba itu hanya berlaku jika si peminjamnya
adalah orang Yahudi. Kode hukum Yahudi memperbolehkan kaum
Yahudi meminjamkan dengan bunga kepada orang-orang non
Yahudi:
“Dan orang-orang asing, engkau boleh memungut bunga, tetapi
kepada saudaramu janganlah engkau memungut bunga supaya
Tuhan Allahmu memberkati engkau dalam segala usahamu di
negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya’ (Ulangan, 23:
20)
Beberapa hukum agama Yahudi tampak berlebihan kerasnya.
Ambilah misalnya yang berikut ini:
“Siapa yang menghujat nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati
dan dilempari batu oleh seluruh jemaah itu. Baik itu orang asing
maupun orang Israil asli, bila dia menghujat nama Tuhan haruslah
ia dihukum mati.” (Imamat, 24:16)
“Bila seorang lelaki berzinah dengan istri orang lain, yakni
zinah dengan isteri sesama manusia, pastilah keduanya dihukum
mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.”
(Imamat, 20:10).
AGAMA YAHUDI 167
“Apabila ada seorang yang mengutuk ayah atau ibunya pastilah
ia dihukum mati: ia telah mengutuk ayahnya atau ibunya: maka
darahnya tertimpa kepadanya sendiri” (Imamat, 20:9)
“Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang
sudah bertunangan, jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di
kota dan tidur dengan dia, maka haruslah keduanya kamu bawa ke
luar pintu gerbang kota, dan kamu lempari dengan batu sehingga
mati, gadis itu karena di kota ia tidak berteriak-teriak, dan lelaki itu
karena telah memperkosa isteri sesama manusia. Demikianlah harus
kau hapus yang jahat itu dari tengah-tengahmu” (Ulangan, 22: 23-
24)
“Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan
hidup” (Keluaran, 22: 18)
“Apabila seorang lelaki atau perempuan dirasuk arwah atau roh
peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus
dilempari batu, dan darah mereka menimpa kepada mereka
sendiri.” (Imamat, 20:27)
Tetapi yang paling kejam dari seluruh hukum Yahudi ialah
yang berkenaan dengan peperangan dan perlakuan terhadap
tawanan perang musuh. Tertulis dalam Taurat:
“Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang
melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian
kepadanya . . . Dan jika kota itu tidak mau berdamai dengan
engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau,
maka engkau harus mengepungnya; dan ketika Tuhan Allahmu
menyerahkan ke dalam tanganmu maka haruslah engkau
membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata
pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada
di kota itu, yakni seluruh jarahan itu boleh kau rampas bagimu
sendiri, dan jarahan dari musuhmu ini yang diberikan kepadamu
oleh Tuhan Allahmu boleh kau pergunakan. Demikianlah harus kau
lakukan terhadap kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu,
168 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini. Tetapi dari
kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan Tuhan Allahmu
kepadamu sebagai pusaka, janganlah kau biarkan hidup apapun
yang bernafas melainkan kau tumpas sama sekali, yakni orang
Hittites, Armorites; Kanaan dan Farisi, Hevites, dan orang Jebus;
sebagaimana diperintahkan kepada Tuhan Allahmu (Ulangan, 20:
10-17).
BENTUK DAN TATA UPACARA
Pengorbanan mendapat tempat utama dalam Taurat, maupun
dalam pencatatan sejarah mereka. Pelayanan terhadap tempat
ibadah dipaparkan sebagai cita-cita yang besar dan tujuan dengan
mana Tuhan menciptakan bumi ini, menempatkan bangsa-bangsa di
dalamnya, dan menyebut Israil ummat Nya yang terpilih. Upacaraupacara
pengorbanan yang harus dilaksanakan sampai kepada
hancurnya Kanisah itu sendiri dapat dipelajari dalam Kitab
Keluaran dan Imamat. Kita baca perintah dan kelompok pendeta
yang mempersembahkan pengorbanan sehari-hari serta yang
lainnya, sesuai dengan aturan di mana sampai rincian sekecilkecilnya
diatur dengan sangat hati-hati. Berikut ini adalah
gambaran dari karya sebagian kecil upacara pengorbanan ini:
“Kemudian haruslah kau ambil domba jantan yang satu, dan
Harun beserta anaknya meletakkan tangannya atas kepala domba
jantan itu. Haruslah kau sembelih domba jantan itu dan kau ambil
darahnya dan kau siramkan pada altar sekitarnya. Haruslah kau
potong-potong domba jantan menurut bagian-bagian tertentu, kau
basuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kau taruh itu di atas
potong-potongan dan di atas kepalanya. Kemudian haruslah kau
bakar seluruh domba jantan itu di atas altar; itulah korban bakaran,
suatu persembahan yang harus bagi Tuhan, yakni suatu korban apiapian
bagi Tuhan” (Keluaran, 29: 15-18)
AGAMA YAHUDI 169
Bagi seorang pengamat luar, upacara pengorbanan agama
Yahudi tampak tidak banyak berbeda dengan yang dijalankan di
kalangan bangsa Yunani atau Romawi, hanya sudah pasti kaum
Yahudi menjalankannya dalam skala yang lebih besar. Apa yang
dimaksud atau dituju oleh upacara-upacara itu, tepatnya sukar
kiranya dikatakan oleh orang Yahudi sendiri. Hal itu dikerjakan ia
karena dinyatakan dalam hukum, dan hukum haruslah dipatuhi,
bahkan jika orang tersebut kurang faham atau awam yang
diperintahkan. Korban harian yang dipersembahkan setiap hari
dimaksudkan untuk menghilangkan hal-hal yang tidak suci dari
pengurus tempat ibadah, dan meyakinkan ummat bahwa rahmat
karunia Tuhan tetap turun kepada mereka. Banyak upacara-upacara
korban dimaksudkan untuk menghilangkan dosa-doasa tertentu,
rasa syukur juga dinyatakan di dalamnya, dan perasaan-perasan lain
juga dapat dipanjatkan melalui asap altar.
Dalam agama Yahudi, tekanan kesucian berhubungan erat
dengan ibadah. Segala sesuatu yang bersangkutpaut dengan upacara
korban - rumah ibadah, pendeta, kendaraan, dan korban itu sendiri
– direncanakan sebagai hal yang suci. Barang-barang dan orangorang
adalah suci yang semuanya itu milik Yahweh dan ditarik dari
pemakaian sehari-hari. Adalah berbahaya untuk menyinggungnya
dengan semena-mena. Yang bersangkut paut dengan tekanan atas
kesucian, yakni kemurnian. Dalam agama Persia yang sebagaimana
ditunjukkan oleh agama Majusi, pembedaan harus selalu diingat
oleh pemeluknya antara apa yang termasuk dalam roh baik dan apa
yang sudah jatuh ke bawah pengaruh roh jahat. Begitu pula dalam
kalangan agama Yahudi. Orang yang disebut suci harus terpisah,
dan orang lain hidup dalam ketakutan kalau-kalau menyentuh
sesuatu yang tidak suci, karena hal itu dia memisahkan kesuciannya
sendiri. Ada binatang yang dihalalkan, dan ada juga yang
diharamkan di mana dia tidak boleh memakannya, macam-macam
pencuci tangan dan perabotan rumah tangga diperlukan agar dia
170 AGAMA-AGAMA BESAR DUNIA
tetap dalam keadaan suci: banyak macam-macam perniagaan yang
karena harus berhubungan dengan berbagai golongan manusia yang
membuat tidak memungkinkannya tetap suci. Di atas segalanya
adalah terlarang untuk memakai masakan orang yang tidak seiman,
atau duduk satu meja bersama penyembah berhala. Karena itu
orang Yahudi teguh dalam kepercayaan, atau keunggulan dirinya
sendiri dari orang-orang lain dari ras yang berbeda, dan diharamkan
dengan berbagai hambatan untuk bercampur dengan mereka,
bahkan untuk menganggapnya sebagai saudara.
Setelah penghancuran Kanisahnya, maka upacara-upacara
korban harus dilepaskan dan tempatnya digantikan dengan ibadat
sehari-hari. Rukun ibadatnya meminta setiap orang Yahudi
bersembahyang tiga kali sehari, jika mungkin di Kanisah,
mengucapkan doa syukur sebelum dan sesudah makan, bersyukur
kepada Tuhan atas setiap kesenangan, seperti penglihatan yang
aneh, bau harum sekuntum bunga, atau diterimanya kabar baik,
memakai busana yang lepas di sekujur tubuh (tzitzith), membawa
jimat (tifillin) sewaktu sembahyang pagi. Selanjutnya sebagai suatu
lambang janji Tuhan kepada Nabi Ibrahim a.s. setiap anak Yahudi
laki-laki harus dikhitan ketika dia berumur delapan hari. Bila dia
telah mencapai usia tigabelas tahun, maka seorang anak lelaki
Yahudi memperoleh peresmiaan kedewasaannya (Bar Mitzvah) dan
terikat kepada kewajiban-kewajiban serta pribadinya dengan
memakai tifillin padanya, dan ‘dipanggil’ untuk membaca Taurat di
depan umum.
Gambaran umum yang penting dalam kehidupan keagamaan
kaum Yahudi ialah ‘Musim yang ditentukan’ - - - Pesta dan Puasa.
Yang utama dari hal ini ialah Sabbath, hari istirahat mingguan.
Sesuai dengan citra Rabbinic, manusia adalah mitra Tuhan dalam
penciptaanNya. Tuhan bekerja menciptakan dunia ini dalam enam
hari, dan kemudian Dia beristirahat, manusia pun bekerja
AGAMA YAHUDI 171
menjalankan tugasnya sehari-hari dan harus beristirahat. Taurat
memerintahkan istirahat penuh dari setiap pekerjaan.
Selain hari Sabbath, pada setiap minggu kaum Yahudi juga
merayakan tiga hari besar pada setiap tahun yang juga adalah hari
istirahat. Dihubungkan dengan musim panen dari Tanah Suci, pesta
festival ini dipercaya sebagai mengenang peristiwa-peristiwa
bersejarah dalam kehidupan bangsa Israil. Yang terdepan dari
peristiwa ini ialah Passover yang jatuh pada tanggal 19 Nisan
(Maret- April) yang berlangsung selama tujuh atau delapan hari.
Pada musim semi, yakni terakhir kembalinya Alam. Passover ialah
memperingati hari lahirnya Israil sebagai bangsa dan hijrahnya dari
perbudakan di Mesir.
Tujuh minggu setelah Passover, kaum Yahudi merayakan
Shavouth, yakni Pesta Mingguan atau festival panen gandum. Hal
ini bersangkut paut dengan panen bangsa Israil – yang disebut juga
Wahyu Ilahi kepada Musa a.s. di Bukit Sinai di mana beliau
menerima Sepuluh Perintah Tuhan. Pada zaman dahulu, hal ini
ditandai dengan membawa buah-buahan pertama dari hasil panen
ke rumah ibadah.
Festival ketiga yakni Sukkoth (sepatu) Pesta ini jatuh pada
tanggal 15 Tishri (September-Oktober) berlangsung tujuh hari dan
dirayakan pada akhir penutupan panen anggur. Hal ini
dimaksudkan untuk mengenang empat puluh tahun pengembaraan
kaum Yahudi di padang pasir..
Tahun baru agama Yahudi (Rosh Hashanah) yang jatuh pada
permulaan Tishri dianggap sebagai ulang tahun penciptaan.
Sepuluh hari dari Ros Hashanah melalui Yom Kippur (Hari
Penebusan), dikenal sebagai “Sepuluh Hari Pertobatan”. Ini hari
yang paling sunyi dari setahun, karena selama masa itu seluruh
dunia sedang diadili di hadapan Aras Tuhan di langit. Pada hari
Yom Kippur, maka kaum Yahudi tidak makan atau minum apa pun,

0 komentar:

Posting Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.