Rabu, 06 April 2011

Peradaban yg hilang

Yang Hilang
Oleh :Andi Subarkah
"Orang-orang Eropa mendapatkan suatu cara yang baru dari bangsa Arab, yang
meletakan akal di atas kekuasaan serta menyeru untuk meneliti dan
bereksperimen dimana dua azas ini diutamakan dalam memutuskan sesuatu
pada abad pertengahan dan menjadi jembatan masa renaissance".
Pernyataan ini diungkapkan secara gamblang dan jujur sebagai sebuah
pengakuan dari Bernard Lewis, seorang yang sangat membenci Islam dan
bangsa Arab. Akan tetapi, ia tidak bias menyembunyikan kebenaran bahwa ada
suatu fase yang besar dan menakjubkan yang dilakukan peradaban Islam
terhadap orang-orang barat dimana pada fase itu kesungguhan penelaahan ilmu
dan penelitian yang dilakukan oleh kaum muslimin mampu menyingkap dan
membentangkan cara berpikir manusia sehingga menciptakan sebuah
kebangkitan Islam dalam pentas sejarah peradaban manusia.
Lantas keliru sekali orang yang mengatakan bahwa kebangkitan bangsa Eropa
adalah murni hasil pemikiran dan usaha mereka. Akan tetapi lebih tepat
dikatakan mereka mengambil manfaat dari apa yang telah dilakukan bangsa
Arab. Hal ini pun dikuatkan dengan pengakuan Saidio (salah satu menteri
Perancis dahulu) dalam bukunya yang berjudul "Ringkasan Sejarah Bangsa
Arab". Ia berkata, "Dulu orang-orang Islam itu terkucil dengan ilmunya pada
kurun awal, kemudian mereka menyebarkannya dan menginjak wilayah Eropa
sehingga kemudian menjadi sebab keluarnya bangsa Eropa dari kegelapan".
Bagaimana pun juga perkataan orang-orang Barat tentang peradaban Islam dan
pengaruhnya terhadap peradaban bangsa Eropa tetap akan tertuju pada satu
muara yaitu kalaulah bukan karena peradaban Islam, tidak akan ada peradaban
bangsa barat kendati terlambat kemunculannya beberapa kurun tentunya tanpa
kita harus bertakabbur dan bereuforia.
Satu hal lagi, pembuktian secara fakta dan ilmiah bahwa nama-nama ulama
Islam terdahulu tidak asing ditelinga bangsa Eropa, seperti; Al-Jahizd, AnChoirul,
2009 2
Nizdom, Al-Ghozaly, Alkindi, Al-Biruni, Al-Farabi (950 M), Ar-Rozi, Ibnu Sina
(980-1037 M), dan lain sebagainya. Pemikiran para ulama Islam ini banyak
mempengaruhi pemikiran para Filosof barat seperti Descartes, Roger Bacoon
(1561-1626 M), maupun Aristoteles. Salah satu contohnya, apa yang digulirkan
Bacoon tentang keharusan manusia berpikir tanpa bersandar kepada hukumhukum
orang-orang terdahulu karena mungkin mereka tidak memeriksanya
secara sempurna. Akan tetapi, harus berlindung kepada penelitian dan
eksperimen serta menyimpulkannya secara umum. Hal ini digulirkan Roger tiga
abad lalu, sementara Al-Jahizd telah menggelindingkannya sejak sebelas abad
lalu atau yang dikenal dengan teori al mu'ayanah wa tajribah.
Sebagaimana pula Descartes (1596-1650M) menggulirkan tentang teori
skeptisisme dalam berpikir untuk sampai kepada yang namanya yakin. Ia
mengatakan, "Jangan engkau membenarkan sesuatu kecuali yang telah jelas
benarnya, karena kejelasan itu sesuatu yang menjadi dasar dalam sebuah
keyakinan, maka tidak ada suatu kekuatan pun yang tampak dan yang layak
menguasai kebebasan berpikir manusia…… "
Ungkapan ini jelas menjadi dasar berpikir skeptis untuk sampai kepada yakin
dalam tataran berpikir dan bereksperimen. Tapi betapa samanya ungkapan ini
dengan ucapan Al-Jahizd yang mengatakan, "Aku tidak memperlakukan sama
sesuatu yang boleh (syak) dengan sesuatu yang dalil telah menetapkannya
(yakin) dengan alasanalasan yang jelas dan tidak mungkin untuk dinafikan…".
Kemudian muncul Al-Khawarzamy salah satu ulama ilmu pasti yang hidup pada
masa khalifah Al-Makmun di Baghdad. Beliau dianggap ilmuwan terbesar pada
masanya, juga merupakan salah satu ilmuwan termasyhur di dunia dalam ilmu
pasti. Kitab-kitabnya dan penemuannya sampai ke Eropa pada abad XII M serta
mempengaruhi pemikiran dan pola pikir orang-orang Eropa sampai sekarang.
Salah satu kitabnya adalah "Risalah Manhaj Ilmu Pasti" diterjemahkan ke dalam
bahasa latin. Kitab tersebut sampai saat ini terjaga di perpustakaan Cambridge
dengan naskah aslinya dan menjadi dasar teori logaritma yang terkenal sampai
sekarang. Kemudian juga Al-Farghany peletak pertama ilmu falak dengan
kitabnya "Kitab Gerak Benda-Benda Langit dan Kumpulan Ilmu-Ilmu Bintang"
Choirul, 2009 3
yang diterjemahkan pula ke dalam bahasa latin pada abad ke XII M. Setelah itu,
tersebar pula teori "Pasang Surut"nya Alkindi yang menjadi dasar penelitian
ilmiah dan eksperimen. Kemudian pula hidup Al-Biruni, seorang ilmuwan yang
luas pengetahuannya dari berbagai bidang disiplin ilmu, seperti; ilmu pasti,
gravitasi, geografi, dan disiplin ilmu lainnya yang membuka jalan kemudahan
bagi para peneliti dan ilmuwan yang datang setelah beliau.
Kemudian terus bermunculan para ilmuwan muslim yang pada masanya
membumikan budaya meneliti, bereksperimen, dan menciptakan karya-karya
monumental yang dikenal seantero jagad raya serta menjadi rujukan para
ilmuwan Eropa pada abad-abad setelah mereka sehingga Eropa keluar dari
kegelapan menuju kemajuan dan era kebangkitan dengan mengambil manfaat
dari orang-orang Arab.
Demikianlah, peradaban Islam telah mewarnai budaya berpikir manusia dalam
sejarah peradaban dunia yang saat sekarang ini boleh dikata hilang bahkan
terenggut oleh orang-orang barat. Mereka menafikan jerih payah kaum muslimin
dalam membentangkan ilmu dan cara berpikir yang menjadi dasar dalam
menciptakan suatu disiplin ilmu. Maka, akankah datang lagi budaya berpikir,
meneliti dan bereksperimen pada kaum muslimin sekarang sehingga mampu
menciptakan kembali titian jalan menuju cita-cita dan harapan yang dulu pernah
terwujudkan dan sempat direnggut. Akankah bermunculan Al-Jahidz, Al-Biruny,
Ibnu Sina dan Al-Ghazaly baru?
Semuanya akan terpulang kepada kaum muslimin sendiri sejauh mana usaha
untuk membudayakan teori-teori yang dulu telah dibentangkan oleh para
pendahulu kita?
Wallahu a'lam
Penulis adalah Almuni Pesantren Pajagalan Bandung.

0 komentar:

Poskan Komentar

copyrigt; Juned Topan.. Diberdayakan oleh Blogger.